Simple Frenotomy dan Suplementasi pada Bayi Tongue Tie dengan Gagal Tumbuh

Ditulis oleh : dr. Reica Aprilyana

 

Bayi A merupakan anak ke-4 dari pasangan Ny.SM dan Tn.S yang lahir secara spontan di RS Swasta di daerah Tangerang pada tanggal 28 maret 2021. ibu memiliki 3 orang anak yang disusui secara eksklusif selama 6 bulan dan lanjut hinga 2 tahun.  Selama ini, bayi selalu dibawa kontrol ke Bidan, namun ternyata saat usia bayi 1 bulan, berat badan bayi tidak bertambah melainkan turun dibanding berat badan lahir. Selama ini ibu menyusui langsung dan bayi juga mendapatkan susu formula tambahan melalui dot karena menurut ibu bayi menyusu lama seperti tidak pernah kenyang dan rewel sekali setelah disusui oleh ibu. Sehigga ibu selalu rutin perah setelah bayi menyusu karena payudara terasa tidak kosong dan bayi diberikan susu formula sebanyak 2-3x dengan volume 30-60 cc sejak bulan April 2021. Kemudian ibu dirujuk oleh salah satu puskesmas di depok untuk ke klinik laktasi agar dapat dievaluasi proses menyusuinya dan penyebab berat badan bayi yang tidak naik melainkan turun dari berat badan lahir. Ibu merupakan ibu bekerja yang sangat ingin menyusui bayinya hingga 2 tahun karena ingin sekali seperti anak-anak ibu yang lain.

Pada kunjungan pertama ke poli laktasi tanggal 25 Mei 2021 di salah satu RS Swasta di depok, usia bayi saat itu 1 bulan 28 hari, berat badan bayi saat lahir adalah 3000 gr, sedangkan saat bayi datang ke poli laktasi  yaitu 2640 gr, kurang 360 gram dari berat lahir bayi dengan status gizi bayi yaitu gizi buruk, dengan batas -3SD 3533 gram.

Saat dilakukan pemeriksaaan fisik oleh dokter laktasi ditemukan bayi memiliki tongue tie tipe submucosa dan lip tiegrade 4, bayi tidak memiliki refleks hisap yang baik. Payudara ibu ditemukan dalam batas normal dan supply asi ibu juga masih dalam batas normal cenderung banyak. Dari observasi menyusui dengan posisi menyusu cradle hold kiri bayi cenderung menyusu di puting kiri tidak dapat melekat ke payudara dengan baik.

Dari hasil anamnesa dan pemeriksaan fisik, dokter laktasi menjelaskan penyebab sulitnya berat badan bayi naik dan sulitnya bayi melekat ke payudara. Kemudian dijelaskan prosedur dan tindakan simple frenotomy kepada orang tua bayi, orang tua bayi pun setuju untuk dilakukan tindakan.

Setelah dilakukan tindakan simple frenotomy oleh dokter laktasi, bayi langsung menyusu ke payudara ibu dan dipasangkan juga alat suplementasi yaitu SNS yang berisi susu formula dengan protein terhidrolisis parsial, ibu mengatakan hisapan lebih kuat dan lembut, bayi juga melekat ke areola dengan baik dan susu yang ada di alat suplementasi habis 70 cc. dokter laktasi juga memperagakan cara senam lidah dan bibir 5x sehari sampai dengan 3 minggu ke depan, orang tua juga diminta untuk rutin melakukan tummy time pada bayi dan mengoleskan gel lidah buaya di bawah lidah dan bibir yang telah dilakukan tindakan simple frenotomy. Dan ibu juga menggunakan SNS yang berisi susu formula sebanyak 6×70 cc, selebihnya menyusu langsung tanpa SNS. Kemudian diminta kontrol minggu depan ke DSA yang pro menyusui.

Kunjungan kedua pada tanggal 3 Juni 2021 ke poli DSA, usia bayi 2 bulan 7 hari, berat badan bayi naik 13.9 gr/ hari menjadi 2765 gram, saat ini bayi masih dalam status gizi buruk, ternyata ibu mengalami kendala saat menggunakan SNS, 2 hari ini ibu tdk menggunakan SNS karena selang SNS yang ukuran besar putus sehingga ibu menggunakan selang SNS ukuran kecil. Ibu masih suka perah setelah bayi menetek karena ibu merasa setelah bayi menyusu payudara masih terasa penuh, sehingga dalam pemakaian sns ibu menggunakan 4x SNS isi susu formula dan 2x SNS isi ASIP ibu. Ibu diminta oleh DSA untuk tetap menggunakan SNS 6×70 cc menggunakan selang ukuran besar dan cuti bekerja ibu juga ditambahkan, ibu dan bayi diminta kontrol Kembali ke DSA tanggal 15 Juni 2021.

Kunjungan ketiga pada tanggal 15 Juni 2021, usia bayi 2 bulan 19 hari berat badan bayi naik 24.5 gr/ hari menjadi 3060 gram, saat ini bayi masih dalam status gizi buruk namun sudah melewati berat badan lahir bayi. DSA tetap menyarankan ibu untuk menggunakan SNS 6×70 cc, senam lidah dihentikan dan kembali kontrol pada tanggal 29 Juni 2021.

Kunjungan keempat pada tanggal 29 Juni 2021, usia bayi 3 bulan 3 hari berat badan bayi naik 11.7 gr/hari menjadi 3215 gram, ibu menggunakan SNS hanya 4×40 cc dan menggunakan selang ukuran kecil, status gizi bayi masih gizi buruk, diminta oleh DSA untuk menggunakan selang besar dan SNS digunakan 6×60 cc, kontrol Kembali pada tanggal 9 Juli 2021.

Kunjungan kelima pada tanggal 9 Juli 2021, usia bayi 3 bulan 9 hari berat badan naik 28 gr/ hari menjadi 3495 gr,DSA menyarankan tetap lanjut menggunakan SNS dengan dosis 6×75 cc, ibu diberikan laktogog dengan dosis 2×1. Bayi disarankan untuk kontrol Kembali pada tanggal 22 Juli 2021.

Kunjungan keenam pada tanggal 22 Juli 2021, usia bayi 3 bulan 23 hari berat badan naik 27.3 gr/ hari menjadi 3850 gr. Status gizi masih dalam gizi buruk namun kenaikan berat badan bayi semakin hari semakin membaik. DSA merekomendasikan bayi untuk diberikan MPASI dini di usia 4 bulan dan tetap menggunakan SNS dengan dosis 5-6x 75 cc, kemudian kontrol Kembali tanggal 6 agustus 2021.

Kunjungan ketujuh pada tanggal 6 agustus 2021, usia bayi sudah 4 bulan 11 hari berat badan naik 35.3 gr/hari menjadi 4385 gr, saat ini bayi sudah mulai MPASI ibu mengatakan bayi lahap makan masih menggunakan SNS 4-5x 75 cc. bayi diberikan vaksin DPT-polio-HIB dan Hepatitis B.

Kunjungan kedelapan pada tanggal 27 agustus 2021, usia bayi 5 bulan 2 hari, SNS dihentikan oleh DSA dan supply asi ibu juga semakin banyak. Kenaikan berat badan 25.3 gr/ hari menjadi 4915 gr. Status gizi sudah masuk ke gizi kurang. DSA menyarakan untuk menghentikan SNS, terapi telur untuk meningkatkan berat badan, vitamin D 1×1 tetes, Fe 2×0.3 cc.  disarankan kontrol ulang untuk imunisasi pada tanggal 17/9/21.

Kunjungan kesembilan pada tanggal 17 september 2021, usia bayi 5 bulan 23 hari, bayi kontrol untuk imunisasi. Kenaikan berat badan bayi 36.6 gr/hari menjadi 5685 gr. Status gizi bayi sudah gizi baik. DSA melakukan vaksinasi DPT-Polio-HIB-Hep B, MPASI dilanjutkan sesuai dengan standar WHO dan bayi tetap menyusu tanpa SNS.

Leave a Reply

Your email address will not be published.