Simple Frenotomy dan Suplementasi pada Bayi dengan Ankyloglossia serta Gagal Tumbuh Penulis : dr Indhi Vavirya Mestika Kasus Bayi RA, laki – laki, anak kedua dari pasangan Ny.N dan Tn.Y lahir cukup bulan secara sesar dengan administrasi BPJS atas indikasi ibu menderita Hipertensi dan Diabetes Melitus. Bayi RA lahir di salah satu RS Swasta di Kota Depok pada tanggal 25 Mei 2022 dengan berat lahir 2729 gram, lahir langsung menangis, langsung rawat gabung dan sangat didukung untuk meneteki langsung. Anak pertama Ny.N disusui secara eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan hingga 18 bulan. Keesokan harinya saat Ny.N sudah di perbolehkan pulang, bayi RA tidak diizinkan pulang di diagnosa dengan RDS (Respiratory Distress Syndrome) ec Pneumonia neonatal + Sepsis. Ibu sangat sedih tetapi tetap semangat dan berkemauan keras untuk memberi ASI. Ibu terus memompa dan mengantarkan ASI perah ke RS setiap hari. Saat di RS ibu juga dibantu oleh ASI donor untuk memenuhi kebutuhan Bayi RA. Bayi RA di rawat kurang lebih selama 2 minggu, pada tanggal 9 Juni 2022 Bayi RA diizinkan pulang dengan berat badan 2860 gram dan mendapatkan vaksin polio sebelumnya. Pada Tanggal 15 Juni 2022, saat bayi RA berusia 21 hari datang untuk kontrol ke DSA berat badan turun dari saat pulang menjadi 2800 gram, Ibu tidak menyusui langsung, bayi diberi ASIP dengan botol dot tiap 2 jam sebanyak 60ml. Pada saat pemeriksaan DSA mengatakan pada bayi terdapat tounge tie dan lip tie. Dan diminta kontrol 1 minggu kemudian. Pada tanggal 22 Juni 2022, bayi RA berusia 28 hari, berat badan 3020 gram. Naik 220gram dalam 7 hari. Tapi bayi belum mampu menetek secara baik, sehingga ibu tetap memberi dot dengan ASI donor. DSA mengatakan untuk terus mencoba meneteki tanpa bantuan botol dot. Dan ibu berkemauan untuk terus mencoba karena mengetahui manfaat meneteki yang besar. Bayi RA diminta kontrol 1 bulan kemudian untuk observasi lebih lanjut. Pada tanggal 22 Juli 2022, bayi RA berusia 1 bulan 28 hari, berat badan 3560 gram, naik 540 gram dalam 1 bulan. Yang dimana seharusnya kenaikan berat badan minimal bayi usia 1-3 bulan adalah 750gram. Ny N mengatakan menetek sering lepas-lepas, bunyi berdecak, dan sangat lama lebih dari 1 jam (Endless feeding). DSA mengatakan akan merujuk ibu dan bayi ke DSA konselor menyusui dengan diagnosa weight faltering + Liptie dan tounge tie. Pada kunjungan pertama ke poli laktasi tanggal 27 juli 2022 di salah satu RS Swasta di depok, bayi RA berusia 2 bulan 2 hari. Saat ditimbang, berat badannya 3830 gram. Berdasarkan kurva pertumbuhan standar menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), berat badan bayi RA menunjukan kondisi gagal tumbuh (Failure to Thrive) dan Gizi Buruk, dengan batas -3SD 4346 gram. Saat dilakukan pemeriksaan fisik oleh dokter laktasi ditemukan bayi memiliki tongue tie tipe posterior dan lip tie grade 3. Payudara ibu dalam batas normal dan produksi asi ibu menurun. Saat pemeriksaan proses menyusui bayi cenderung melekat hanya diputing ibu, terdengar bunyi berdecak, payudara gampang terlepas, bayi tidak dapat melekat ke payudara dengan baik. Dari hasil anamnesa dan pemeriksaan fisik, dokter laktasi menjelaskan penyebab sulitnya berat badan bayi naik dan sulitnya bayi melekat ke payudara. Kemudian dijelaskan prosedur dan tindakan simple frenotomy kepada Ny.N dan Tn.Y kedua orang tua bayi. Orang tua bayi pun setuju untuk dilakukan tindakan. Setelah dilakukan tindakan simple frenotomy oleh dokter laktasi, bayi langsung menyusu ke payudara ibu. Ibu mengatakan hisapan lebih kuat dan lembut, bayi juga melekat ke areola dengan baik. Dokter laktasi juga memperagakan dan langsung dipraktekkan oleh ibu bayi cara senam lidah dan bibir 5x sehari sampai dengan 3 minggu kedepan. Orang tua juga diminta untuk rutin tummy time pada bayi dan mengoleskan gel lidah buaya di bawah lidah dan bibir yang telah dilakukan tindakan simple frenotomy. Kemudian diminta kontrol minggu depan ke DSA yang pro menyusui. Kunjungan kedua, seminggu setelah tindakan simple frenotomy ke poli DSA pada tanggal 2 Agustus 2022, usia bayi 2 bulan 8 hari, berat badan bayi naik 18,6 gr/hari menjadi 3960 gram, saat ini bayi masih dalam status gizi buruk. DSA menyarankan untuk dipasangkan alat suplementasi yaitu SNS yang berisi susu formula dengan protein terhidrolisis parsial sebanyak 6 x 60cc. Bayi diberikan piracetam 2x40mg dan diminta kontrol kembali ke DSA tanggal 16 Agustus 2022. Kunjungan ketiga pada tanggal 19 Agustus 2022, usia bayi 2 bulan 25 hari, berat badan bayi naik 33,5gr/hari menjadi 4530 gram, saat ini status gizi sudah masuk ke gizi kurang (<-2SD). Dari pemeriksaan terlihahat asi ibu semakin banyak, DSA menyarankan untuk menurunkan dosis SNS menjadi 6 x 45cc, Piracetam 2x45mg. Kontrol kembali pada tanggal 2 September 2022. Pada kunjungan keempat tanggal 2 september 2022. Ibu merasa bayi RA semakin pintar menyusu, dan merasa asinya semakin banyak. Di kunjungan ini, umur bayi RA adalah 3 bulan 8 hari dengan berat badan 4955gram, meningkat sebanyak 30,4hr/hari. Status gizi masih dalam gizi kurang namun kenaikan berat badan bayi semakin membaik, dan ibu juga mengatakan bayi RA tertidur setelah menyusui, kesan puas. DSA menyarankan tetap lanjut menggunakan SNS dengan dosis 6 x 40cc, diberikan pula zat besi tetes. Di kunjungan kelima pada tanggal 23 September 2022, berat badan bayi 5575 gram dan meningkat sebanyak 30gr/hari. Saat ini diusia bayi RA 3 bulan 29 hari ia masih dalam status gizi kurang tetapi hanya kurang 20gram saja untuk menuju ke status gizi baik menurut kurva pertumbuhan standar WHO. DSA merekomendasikan bayi untuk diberikan MPASI dini di usia 4 bulan dan tetap menggunakan SNS dengan dosis 5 x 30cc, kemudian kontrol kembali 1 bulan kemudian. Kunjungan keenam pada tanggal 14 Oktober 2022, usia bayi 4 bulan 20 hari, berat badan bayi RA adalah 6030 dan meningkat sebanyak 21,6gr/hari. Berdasarkan kurva pertumbuhan standar WHO (berat badan > -2 SD) yang artinya status gizi bayi RA baik. Ibu mengatakan tidak pernah memakai SNS lagi karena bayi selalu kenyang sehabis menyusu. DSA menyarankan MPASI dilanjutkan dengan standar WHO dan bayi tetap menyusu tanpa menggunakan SNS lagi. Kontrol ke puskesmas untuk dilakukan vaksinasi DPT-polio-HiB dan hepatitis B. Diskusi dan Pembahasan Ny N memiliki keinginan yang kuat untuk tetap menyusui anaknya secara langsung, dan suami pun mendukung. Hal ini dapat dinilai dari ibu segera mengikuti arahan dari DSA sebelumnya untuk ke DSA konselor menyusui untuk mengevaluasi proses menyusui, selama masa perawatan ibu selalu ditemani oleh suami untuk kontrol dan terlihat suami selalu menyemangati ibu. Pada kasus By.RA berat badan tidak naik sesuai kurva, di usia 2 bulan 8 hari berat badan By.RA 3960gram dimana berat badan minimal anak seusianya di 4486gram. Kondisi ini disebut sebagai failure to thrive atau gagal tumbuh yang didefinisikan sebagai bayi dengan berat badan dibawah persentil ke-3 atau Z-score <-2, dan terjadi ketika berat badan bayi terus menerus menurun setelah 10 hari dan tidak kembali ke berat lahir pada usia 3 minggu atau tetap di bawah persentil ke-10 pada akhir bulan pertama.1 Berat badan bayi RA berada di bawah persentil ke-3. Hal ini disebabkan karena kurang efektifnya proses menyusu bayi ke payudara ibu akibat dari adanya tongue tie dan lip tie atau yang dikenal juga dengan ankyloglossia. Gejala yang ditimbulkan pada tongue tie tidak hanya muncul pada bayi, namun juga dapat muncul gejala pada ibu.Biasanya keluhan yang muncul pada ibu yang sedang menyusui anaknya dengan tongue tie adalah nyeri saat menyusui,puting lecet, pengosongan payudara yang tidak efektif, dan infeksi payudara. Gejala yang mungkin timbul pada bayi berupa berat badan yang tidak naik baik, tertidur saat menyusui (karena bayi dengan tongue tie akan membutuhkan energi ekstra untuk menyusu dibandingkan bayi tanpa tongue tie, sehingga dia menjadi mudah lelah), kualitas pelekatan yang buruk, reflux dan gejala kolik, gumming atau mengunyah puting, lip blisters, serta episode tidur yang sebentar.2,3,4 Selain tongue tie, masalah menyusui juga dapat disebabkan oleh lip tie. Lip tie adalah tali atau frenulum pada bagian atas bibir yang menempel pada rahang atas. Frenulum ini tidak memiliki otot dan hanya berupa membran saja. Bila frenulum ini menempel pada bagian tulang atau gusi atas maka bisa menyebabkan adanya gerakan yang terbatas untuk bibir saat menyusu. Posisi bibir yang dower dibutuhkan dalam proses menyusu agar mulut bayi dapat membuat vakum atau tekanan negatif tinggi sehingga bayi dapat menghisap dengan baik dan transfer asi bisa optimal. Bibir yang dower juga merangsang adanya rantai oksitosin yang menyebabkan keluarnya asi dari payudara ibu optimal. Bibir bayi yang tidak dower pada saat menyusu ke payudara dapat menimbulkan keluhan menyusui, seperti nyeri, dan puting lecet.5 Tongue tie dan lip tie dapat menyebabkan perlekatan yang tidak efektif, transfer asi yang buruk sehingga mengakibatkan slow weight gain (SWG) atau failure to thrive (FTT). Terapi holistik bayi tongue dan lip tie dengan SWG atau FTT terdiri dari frenotomy, suplementasi, laktogog, dan akupuntur menunjukan keberhasilan dalam memperbaiki status gizi bayi dan meningkatkan supply asi ibu. 1 Pada kasus ini bayi dilakukan simple frenotomy, frenotomy adalah melakukan sayatan yang sederhana di bagian lingual frenulum dengan menggunakan gunting. Berdasarkan penelitian dari Geddes et al menunjukan bahwa bayi yang menyusu langsung yang mengalami kesulitan menyusu menunjukan adanya kemajuan setelah dilakukan frenotomy, gerakan lidah mulai membaik, pada pemeriksaan USG akan terlihat adanya peningkatan asupan ASI, transfer ASI, perlekatan dan perbaikan pada nyeri puting yang dialami oleh ibu.6 Bayi juga diberikan suplementasi dengan menggunakan alat suplementer sehingga supply ASI ibu tetap terjaga, berat badan bayi berangsur naik. WHO hanya merekomendasikan pemberian makanan pendamping asi saat usia bayi 4-6 bulan, jika : kenaikan berat badan bayi tidak adekuat dengan hanya menyusui atau bayi sering mendapatkan asi tetapi menunjukan rasa lapar sesaat setelah menyusui. 7 Bayi RA direkomendasikan untuk dilakukan MPASI dini pada usia bayi 4 bulan sesuai dengan standar WHO dengan tujuan menurunkan dosis suplementasi. Bayi RA menjalani MPASI dini pada usia 4 bulan dosis suplementasi pun berangsur turun dan kenaikan Berat badan bayi naik baik sehingga mencapai status gizi baik. Bayi RA 1 bulan, 3020 gram (<-2SD = gizi kurang) Bayi RA 2 bulan 8 hari, 3960 gram (<-3SD = gizi buruk) Bayi RA 4 bulan 22 hari, 6030 gram (-2SD = gizi baik) Grafik berat badan Bayi RA Kesimpulan Tongue tie atau ankyloglossia dapat menjadi salah satu penyulit pada bayi yang sedang menyusu langsung kepada ibu. Tongue tie dapat dikoreksi dengan simple frenotomy, prosedur yang sederhana setelah tindakan bayi dapat tetap menyusu langsung. Pada kasus dengan status gizi buruk perlu ditambahkan terapi suplementasi sehingga bayi mendapatkan asupan ganda, ASI dari payudara ibu dan susu yang diberikan dari alat suplementer, sehingga bayi tetap tumbuh dengan baik dan tetap dapat menyusu langsung kepada ibu dan supply ASI ibu juga tetap terjaga. Hal ini dapat terjadi karena ibu berbekal ilmu dan keyakinan bahwa ASI dan menyusui tetap yang terbaik bagi ibu dan bayi, didukung oleh keluarga terutama suami dan fasilitas serta tenaga kesehatan yang sangat mendukung menyusui. “Breastfeeding is not easy, but the bond it creates is unbreakable” Daftar Pustaka Praborini A, et al. 2018. A Holistic Supplementation Regimen for Tongue-Tied Babies With Slow Weight Gain and Failure to Thrive. Clinical Lactation Vol 9 Issue 2, DOI: 10.1891/2158-0782.9.2.78. 2. Geddes DT, et al. Frenulotomy for Breastfeeding Infants with Ankyloglossia: Effect on Milk Removal and Sucking Mechanism as Images by Ultrasound. 2008 July; American Academy of Pediatrics, vol 122: 188-194. 3. https://www.drghaheri.com/blog/2014/2/20/a-babys-weight-gain-is-not-the-only-marker-of-successful-breastfeeding. 4. Praborini A, Purnamasari H, Munandar A, Wulandari RA. Early Frenotomy Improves Breastfeeding Outcomes for Tongue-Tied Infant. United States Lactation Consultant 2015; 6(1): 9-15. 5. Cole M. Tongue and Lip Tie: A Comprehensive Approach to Assessment and Care. Powerpoint presentation. 2017. 6. Forlenza, et al, Ankyloglossia, Exclusive Breastfeeding and Failure to Thrive, 2010, diunduh dari: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/20498175/ 7. World Health Organization. (2000). Complementary feeding family foods for breastfed children. http://www.who.int/nutrition/publications/infantfeeding/WHO_NHD_00.1/ en/