Frenotomy, Suplementasi, dan MPASI Dini pada Bayi dengan Gizi Buruk Penulis: dr. Anggita Dewati Putri KASUS Bayi RSD adalah anak ke-2 dari pasangan Ny AW dan Tn D, lahir di usia kehamilan 36-37 minggu dengan sectio caesarean atas indikasi Hipertensi dalam kehamilan dan riwayat SC pada anak pertama. Operasi dilakukan di RS swasta di kota D pada tanggal 12 Maret 2022. Bayi langsung menangis dengan berat badan lahir 2500 gram. Ibu dan bayi dirawat 2 hari, kemudian diperbolehkan pulang. Saat usia 5 hari, Ibu membawa bayi kontrol ke DSA karena bayi tampak kuning. Saat dilakukan pengukuran, berat badan bayi 2330 gram (turun 6.8%), dan hasil pemeriksaan bilirubin total 30.5. Bayi dirawat untuk mendapat fototerapi selama 2 hari. Ibu memiliki 2 orang anak. Anak pertama menyusu secara eksklusif selama 6 bulan dan lanjut hingga 2 tahun. Ibu tidak bekerja dan tahu manfaat menyusui secara langsung ke payudara, sehingga Ibu ingin bisa menyusui anak kedua sampai 2 tahun. Ibu rutin membawa bayi periksa ke Posyandu, namun ditemukan peningkatan berat badan bayi lambat. Selama ini bayi menyusu hanya ASI secara langsung pada payudara Ibu. Namun Ibu merasa saat bayi menyusu perlekatan sering terlepas dan durasi menyusu lama seperti tidak pernah kenyang. Ibu juga merasakan nyeri di daerah puting saat menyusui. Ibu juga mendengar bunyi berdecak saat bayi menyusu. Kemudian Ibu dirujuk dari Puskesmas ke Klinik Laktasi di RS P di Kota D agar dapat dievaluasi proses menyusuinya dan penyebab kenaikan berat badan yang tidak sesuai. Kunjungan pertama ke poli laktasi tanggal 2 Juni 2022 saat bayi berusia 2 bulan 22 hari dengan berat badan 3580 gram, yang berarti kenaikan berat badan adalah 17.4 gram/hari. Berdasarkan kurva pertumbuhan standar menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), berat badan Bayi R menunjukkan kondisi gagal tumbuh (Failure to Thrive) dengan gizi buruk dengan batas -3SD adalah 4240 gram. Saat dilakukan pemeriksaan fisik oleh dokter laktasi ditemukan bayi memiliki tongue tie anterior dan lip tie grade 4. Dari observasi proses menyusui dengan posisi cradle hold pada payudara kiri, bayi tidak bisa menghisap dengan baik dan kesulitan melekat pada payudara. Payudara ibu dalam batas normal dan produksi ASI baik. Dokter laktasi menjelaskan tongue tie dan lip tie menjadi penyebab bayi sulit menyusu pada payudara ibu, sehingga berat badan bayi sulit naik. Dokter menjelaskan prosedur tindakan simple frenotomy kepada orang tua bayi dan kemudian setuju untuk dilakukan tindakan. Setelah dilakukan tindakan di klinik laktasi, bayi langsung menyusu di payudara ibu. Perdarahan bekas luka frenotomy langsung teratasi sesaat setelah menyusu. Ibu merasa bayi menyusu lebih kuat dan lembut, dan ibu tidak merasakan nyeri di puting seperti sebelumnya. Ibu dipasang alat SNS (Supplemental Nursing System) yang berisi susu formula dengan protein terhidrolisis parsial. Bayi menyusu melekat ke areola dengan baik, dan susu di alat suplementasi habis 30 ml. Sehingga ibu disarankan menggunakan SNS dengan dosis 6×30 ml, selebihnya menyusu langsung tanpa SNS dengan frekuensi semau bayi. Dokter laktasi memperagakan cara senam lidah dan bibir 5x sehari untuk dilakukan setiap hari oleh orangtua kepada bayi selama 3 minggu ke depan. Orang tua diminta agar bayi rutin tummy time dan oleskan gel lidah buaya dibawah lidah dan bibir yang telah dilakukan tindakan simple frenotomy. Kemudian dijadwalkan kontrol 5 hari ke DSA yang pro menyusui. Kunjungan kedua pada tanggal 7 Juni 2022 ke poli DSA, usia bayi 2 bulan 27 hari. Berat badan bayi naik 15 gram/hari menjadi 3655 gram. Saat ini bayi masih dalam status gizi buruk. Luka post tindakan frenotomy baik. Di rumah ibu memberi SNS 5×30 ml setiap hari. Ibu diminta untuk selanjutnya menggunakan SNS 5×45 ml, DSA meresepkan Piracetam 2x40mg dan menyarankan untuk datang kembali 2 minggu kemudian. Kunjungan ketiga pada tanggal 21 Juni 2022, usia bayi 3 bulan 11 hari. Berat badan bayi naik 35 gram/hari menjadi 4145 gram, status gizi bayi masih gizi buruk. Luka post frenotomy baik. DSA menyarankan dosis SNS dinaikkan menjadi 5x60ml dan senam lidah dihentikan setelah 3 minggu, kontrol kembali 5 Juli 2022. Ibu dan bayi datang kunjungan keempat pada 12 Juli 2022 saat berusia 4 bulan 2 hari. Saat itu ada keluhan batuk pada bayi, namun tidak ada demam. Berat badan bayi naik 25.4 gram per hari menjadi 4680 gram. Kenaikan berat badan bayi bagus namun masih dalam status gizi buruk. DSA memberi resep puyer batuk dan Piracetam 2x50mg. Bayi dikonsulkan ke dokter laktasi untuk mulai MPASI dini dan tetap melanjutkan SNS 5x60ml. Pasien dijadwalkan kontrol kembali 26 Juli 2022. Kunjungan kelima 26 Juli 2022, usia bayi 4 bulan 16 hari. Berat badan naik 25 gram/hari menjadi 5030 gram. Berdasarkan usia kronologis, berat badan bayi masih kurang dari -3SD, dan berdasarkan usia koreksi (3 bulan 25 hari), status gizi bayi sudah mulai masuk dalam range gizi kurang (<-2SD). DSA merekomendasikan bayi untuk memberikan MPASI tinggi lemak dengan penambahan santan dan minyak, dan melanjutkan SNS 5x60ml. Kunjungan keenam pada tanggal 12 Agustus 2022 usia bayi 5 bulan 0 hari. Berat badan naik 16.4 gram/hari menjadi 5260 gram. Ibu mengatakan bayi lahap makan dan SNS diberikan 3-4×60 ml/hari. Berdasarkan usia kronologis BB bayi kurang dari -3SD (gizi buruk), pada usia koreksi BB kurang dari -2SD (gizi kurang). DSA menurunkan dosis SNS menjadi 3-4x30ml dan menambahkan suplemen zat besi dan vitamin D3. Kunjungan ketujuh pada 26 Agustus 2022 usia 5 bulan 17 hari. Berat badan naik 13.2 gram/hari menjadi 5485 gram. Berdasarkan usia kronologis BB bayi kurang dari -3SD (gizi buruk), pada usia koreksi BB kurang dari -2SD (gizi kurang). Supply ASI ibu banyak dan anak lahap makan sehingga SNS dihentikan oleh DSA dan MPASI dilanjutkan. Pasien disarankan kontrol 3 minggu kemudian. Suplemen zat besi dan vit D3 dilanjutkan, dan piracetam diberikan 2x55mg. Kunjungan ke delapan tanggal 16 September 2022 usia 6 bulan 8 hari. Bayi makan lahap dan menyusui langsung ke payudara ibu tanpa penggunaan SNS. Peningkatan berat badan baik yaitu 22.4 gram/hari menjadi 5955 gram. Status gizi naik menjadi <-2SD pada usia kronologis maupun usia koreksi. DSA meresepkan piracetam 2x60mg, menyarankan untuk vaksin di Puskesmas dan kontrol ke DSA pada 14 Oktober 2022. Bayi dan Ibu datang kunjungan ke sembilan pada tanggal 20 Oktober 2022, usia bayi 7 bulan 10 hari. Berat badan bayi 6560 gram, yang berarti terdapat penambahan berat badan 16 gram/ hari. Bayi diberi MPASI 4 bintang oleh ibu, dan direct breastfeeding semau bayi. Saat ini, status gizi bayi pada usia kronologis adalah <-2SD (gizi kurang), dan pada usia koreksi adalah -2SD (gizi baik). DSA menyarankan untuk melanjutkan pola makan dan menyusui, suplementasi zat besi, vit D3, dan piracetam. Pasien kontrol kembali 1 bulan yang akan datang. Gambar 1. Grafik Pertumbuhan Berat Badan terhadap Usia (BB/U) Bayi RDS (WHO) Bayi RDS usia 0 hari2500 gram (-2SD = gizi baik) Bayi RDS usia 2 bulan 22 hari3580 gram (<-3SD = gizi buruk) Bayi RDS usia 5 bulan 0 hari5260 gram (<-2SD = gizi kurang) Bayi RDS usia 7 bulan 10 hari6560 gram (-2SD = gizi baik) DISKUSI Ny. AW sangat paham mengenai manfaat ASI dan menyusui secara langsung untuk dirinya dan anak-anaknya, sehingga Ia memiliki tekad yang kuat untuk bisa menyusui secara eksklusif bahkan sampai bayi usia 2 tahun. Ia mendapat dukungan penuh dari suami dan keluarga sehingga Ia merasa terbantu dalam menjalani seluruh rangkaian terapi. Pada awal kelahiran Ibu merasa saat menyusui mulut bayi sering terlepas dari payudara dan durasi menyusu lama seperti tidak pernah kenyang. Ibu merasa bayi menyusu terus namun penambahan berat badan tidak optimal. Ikterus (kuning) pada bayi baru lahir juga merupakan salah satu tanda kurangnya asupan makanan (ASI) pada bayi sehingga bilirubin sisa pemecahan hemoglobin tidak terbuang secara optimal bersama feses.1 Kunjungan pertama ke poli laktasi saat bayi berusia 2 bulan 22 hari dengan berat badan 3580 gram. Berdasarkan kurva pertumbuhan standar menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), berat badan Bayi R menunjukkan kondisi gagal tumbuh (Failure to Thrive) dengan gizi buruk. Failure to thrive (FTT) didefinisikan sebagai bayi dengan berat badan dibawah persentil ke-3 atau Z-score <-2, dan terjadi FTT ketika berat badan bayi terus menerus menurun setelah 10 hari dan tidak kembali ke berat lahir pada usia 3 minggu atau tetap di bawah persentil ke-10 pada akhir bulan pertama.2 Hal-hal tersebut disebabkan adanya Ankyloglossia, yaitu tongue tie (tali lidah) dan lip tie (tali bibir) pada Bayi RSD. Ankyloglossia dapat mengganggu perlekatan mulut bayi ke payudara sehingga menyebabkan masalah seperti puting lecet, payudara bengkak, suplai asi sedikit, sehingga bayi tidak mendapatkan ASI yang adekuat dan menyebabkan kenaikan berat badan yang lambat bahkan gagal tumbuh.2 Ankyloglossia yang tidak dilakukan tindakan akan memberikan pengaruh pada gangguan menyusu, gangguan menelan (makan) dan gangguan bicara.3 Sehingga semakin awal frenotomy dilakukan akan memberikan outcome yang lebih baik. Frenotomy adalah tindakan melakukan sayatan sederhana pada tali lidah atau tali bibir atas dengan menggunakan gunting steril. Bebapa penelitian telah menunjukkan peningkatan kualitas menyusui pada ibu dan bayi yang mengalami masalah menyusui. Perlekatan menyusu bayi pada ibu akan menjadi lebih baik sehingga transfer ASI lebih optimal, Ibu merasa lebih nyaman saat menyusui, dan supply ASI pada payudara Ibu meningkat.3 Setelah dilakukan frenotomy pada tongue tie dan lip tie Bayi RDS, perlekatan mulut bayi pada payudara ibu menjadi lebih baik dan bisa menyusu optimal. Perlekatan menyusu efektif ditandai dengan mulut bayi yang terbuka lebar, bibir melengkung ke luar (dower), bayi bisa memasukkan lebih banyak bagian areola ke dalam mulutnya. Posisi bibir yang dower dibutuhkan dalam proses menyusu agar mulut bayi dapat membuat vakum atau tekanan negatif tinggi sehingga bayi dapat menghisap dengan baik dan transfer asi bisa optimal. Bayi RDS diberikan suplementasi dengan tetap menyusu pada payudara ibu sehingga supply ASI pada ibu meningkat. Saat usia Bayi RDS memasuki 4 bulan, diberikan MPASI dini dengan tujuan untuk membantu meningkatkan status gizi bayi. Kekurangan gizi pada tahun pertama kehidupan sangat berpengaruh terhadap perkembangan otak dan mengganggu perkembangan intelektual sehingga harus ditangani dengan baik.2 Sesuai dengan rekomendasi WHO bahwa MPASI bisa diberikan mulai usia bayi 4-6 bulan. Diberikan pada usia 4 bulan apabila berat badan bayi tidak meningkat adekuat walaupun sudah menyusu dengan baik.4 Bayi RDS direkomendasikan untuk diberikan MPASI dini sesuai standar WHO dengan tujuan menurunkan dosis suplementasi dan meningkatkan berat badan bayi. Bayi RDS mulai diberikan MPASI dini pada usia 4 bulan, kemudian dosis suplementasi pun berangsur turun dan kenaikan berat badan bayi naik dengan baik sehingga mencapai status gizi baik. Bayi telah disapih dari alat suplementasi di usia 5 bulan 17 hari, saat ini hanya menetek ke ibu dan makan, status gizi baik. KESIMPULAN Bayi dengan gizi buruk harus diberikan tatalaksana sejak dini dan secara holistik karena kekurangan gizi pada awal kehidupan sangat berpengaruh terhadap perkembangan otak dan fungsi organ tubuh di usia selanjutnya. Adanya Ankyloglossia pada bayi menjadi penyulit untuk bisa mendapatkan ASI secara optimal dari ibu, sehingga diperlukan tindakan frenotomy untuk memperbaiki proses menyusu. Diperlukan juga suplementasi dengan tetap menyusu langsung pada payudara ibu agar bayi mendapat asupan ganda dari ASI dan SNS sehingga pertumbuhan bayi meningkat dengan baik dan supply ASI tetap terjaga. Saat usia 4 bulan dosis SNS diturunkan dan bayi mulai diberikan MPASI dini sesuai standar WHO dan melanjutkan direct breastfeeding agar bayi mendapatkan gizi yang optimal dari ASI dan MPASI sehingga dapat segera mencapai status gizi baik. Hal ini dapat terlaksana dengan baik bila ibu yakin bahwa ASI dan direct breastfeeding adalah yang terbaik untuk ibu dan bayi, dan berada di keluarga dan fasilitas kesehatan yang mendukung proses menyusui. DAFTAR PUSTAKA https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/air-susu-ibu-dan-ikterusPraborini A, et al. 2018. A Holistic Supplementation Regimen for Tongue-Tied Babies With Slow Weight Gain and Failure to Thrive. Clinical Lactation Vol 9 Issue 2, DOI: 10.1891/2158-0782.9.2.78.Forlenza, et al, Ankyloglossia, Exclusive Breastfeeding and Failure to Thrive, 2010. World Health Organization. (2000). Complementary feeding family foods for breastfed children.