Frenotomy dan Pemberian Suplementasi pada Bayi dengan Ankyloglossia dan Gizi Kurang Ditulis oleh: drg. Nayu Nur A.S. Dokter Gigi & Konselor Laktasi Kab.Malang Bayi N adalah seorang anak laki-laki lahir pada tanggal 23 Desember 2025 melalui operasi sectio caesarea (SC) di sebuah rumah sakit di daerah Depok. Bayi N merupakan anak pertama dari pasangan Ny. F dan Tn. I. Bayi lahir dengan berat badan 3140 gram dan dirawat gabung bersama ibu. Ny. F bekerja di bidang riset dengan sistem kerja work from home (WFH). Pada saat kasus ini berlangsung, Ny. F sedang menjalani cuti melahirkan hingga tanggal 9 Maret 2026 Pada tanggal 24 Desember 2025, saat bayi berusia 1 hari, ibu mendapatkan kunjungan oleh dokter laktasi di ruang perawatan. Saat anamnesis, ibu menyampaikan bahwa bayi aktif menyusu, namun ibu merasa produksi ASI (Air Susu Ibu) masih sedikit. Pada pemeriksaan didapatkan kondisi payudara ibu tampak dalam batas normal dengan puting menonjol dan lentur serta tampak kolostrum sudah keluar. Saat dilakukan observasi menyusui, bayi masih tampak kesulitan melakukan pelekatan. Pada posisi sidelying di payudara kiri, bayi cenderung sulit melekat dan sering terlepas. Pada posisi cradle, bayi hanya melekat pada ujung puting. Setelah dicoba posisi football hold, bayi dapat melakukan pelekatan yang lebih dalam dan stabil. Bayi tampak menyusu tanpa nyeri pada ibu dan kemudian melepaskan payudara dengan kesan sudah kenyang. Pada kunjungan ini ibu diberikan edukasi mengenai pentingnya menyusui langsung pada kedua payudara, manfaat menyusui, serta penjelasan mengenai bahaya penggunaan susu formula, dot, dan empeng. Selain itu juga diberikan edukasi mengenai kemungkinan adanya tongue tie dan lip tie pada bayi serta rencana evaluasi lanjutan. Pada tanggal 2 Januari 2026, saat bayi berusia 10 hari, Ny. F datang ke poli laktasi karena adanya masalah menyusui. Ibu menyampaikan bahwa bayi menyusu dalam durasi yang lama, lebih dari 30 menit, dan tampak seperti tidak pernah kenyang. Dalam satu sesi menyusu ibu sering bergantian payudara. Ibu juga merasa ASI yang keluar tampak encer. Riwayat buang air besar bayi terakhir beberapa hari sebelumnya dengan warna hitam kehijauan. Pada pemeriksaan didapatkan payudara ibu tampak dalam batas normal dengan puting menonjol dan lentur. Produksi ASI terkesan Normal Low milk Supply. Pada pemeriksaan rongga mulut bayi ditemukan adanya tongue tie anterior dan lip tie grade 3. Berat badan bayi saat itu 2610 gram, mengalami penurunan sekitar 16,7% dari berat lahir. Kondisi ini mengarah pada excessive weight loss. Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut bayi didiagnosis mengalami breastfeeding problem akibat ankyloglossia. Setelah dilakukan edukasi kepada orang tua dan mendapatkan persetujuan tindakan, kemudian dilakukan tindakan frenotomi pada tongue tie dan lip tie. Prosedur dilakukan dengan perdarahan minimal dan terkontrol. Setelah tindakan, bayi langsung disusukan kembali kepada ibu. Ibu merasakan bahwa hisapan bayi menjadi lebih dalam, bibir bayi tampak lebih terbuka, dan terdengar suara menelan saat menyusu. Setelah tindakan frenotomi, ibu diajarkan melakukan latihan lidah dan bibir pada bayi sebanyak 5 kali sehari. Luka bekas insisi diberikan perawatan dengan mengoleskan gel lidah buaya. Ibu dianjurkan untuk tetap menyusui langsung pada kedua payudara. Kontrol selanjutnya dijadwalkan pada tanggal 6 Januari 2026. Pada tanggal 6 Januari 2026, saat bayi berusia 14 hari, pasien datang kontrol ke poli anak karena terdapat kekhawatiran mengenai kenaikan berat badan. Ibu menyampaikanbahwa setelah frenotomi proses menyusui terasa lebih nyaman dan bayi tampak lebih mudah menyusu. Ibu juga memiliki keinginan kuat untuk dapat menyusui bayi hingga usia 2 tahun. Pada pemeriksaan didapatkan berat badan bayi 2645 gram, masih mengalami penurunan sekitar 15,7% dari berat lahir dan berada di bawah -2 SD. Kondisi ini mengarah pada excessive weight loss dengan status gizi kurang mendekati gizi buruk. Pada pemeriksaan mulut masih ditemukan sisa jaringan tongue tie. Dokter kemudian melakukan tindakan dorong tumpul pada sisa jaringan frenulum. Selain itu dipasang alat bantu menyusui Supplemental Nursing System (SNS) untuk membantu pemberian suplementasi saat bayi menyusu langsung pada payudara. Suplementasi diberikan menggunakan susu formula rasa tawar melalui SNS. Selain itu bayi juga mendapatkan terapi tambahan berupa roborantia dan ibu mendapat laktogog. Ibu tetap dianjurkan untuk menyusui sesering mungkin semau bayi pada kedua payudara. Pada hari yang sama bayi juga mendapatkan edukasi lanjutan di poli laktasi mengenai penggunaan SNS dan teknik menyusui. Pada observasi menyusui dengan SNS, bayi dapat melakukan pelekatan dengan baik pada areola dan menghabiskan sekitar 10 cc susu formula kemudian tertidur. Kontrol selanjutnya dijadwalkan pada tanggal 13 Januari 2026. Pada tanggal 13 Januari 2026, saat bayi berusia 21 hari, ibu menyampaikan bahwa bayi menyusu lebih sering dan ibu merasa lebih nyaman saat menyusui. Namun ibu masih mengalami kesulitan saat menyusui pada payudara kiri. SNS digunakan sebanyak 6–7 kali sehari dengan volume sekitar 30–60 cc setiap kali pemberian. Pada pemeriksaan didapatkan berat badan bayi 3090 gram dengan kenaikan sekitar 63 gram per hari. Meskipun berat badan masih berada di bawah -2 SD, kondisi bayi menunjukkan perbaikan yang signifikan. Dokter menyarankan untuk melanjutkan penggunaan SNS dengan volume diturunkan menjadi 45 cc sebanyak 6 kali sehari. Selain itu ibu juga diberikan terapi tambahan berupa akupuntur laktasi dan dianjurkan mencoba posisi menyusui reclining untuk membantu kenyamanan menyusui. Kontrol selanjutnya dijadwalkan pada tanggal 22 Januari 2026. Pada tanggal 22 Januari 2026, saat bayi berusia 1 bulan, ibu menyampaikan bahwa bayi masih menggunakan SNS sekitar 4–5 kali sehari dengan volume sekitar 50 cc. Pada pemeriksaan didapatkan berat badan bayi 3490 gram dengan kenaikan sekitar 44 gram per hari. Status gizi bayi sudah masuk kategori gizi baik. Produksi ASI ibu masih terkesan Normal–Low Milk Supply. Dokter menyarankan untuk melanjutkan penggunaan SNS serta memberikan edukasi mengenai kemungkinan pemberian MPASI (Makanan Pendamping ASI) dini apabila diperlukan. Kontrol selanjutnya dijadwalkan pada tanggal 5 Februari 2026. Pada tanggal 5 Februari 2026, saat bayi berusia 1 bulan 14 hari, ibu menyampaikan bahwa penggunaan SNS mulai berkurang. Sebelumnya bayi menghabiskan sekitar 200–250 cc suplementasi per hari, namun dalam dua hari terakhir hanya sekitar 70 cc. Pada pemeriksaan didapatkan berat badan bayi 3860 gram dengan kenaikan sekitar 26,5 gram per hari. Produksi ASI ibu mulai meningkat dan status gizi bayi tetap berada pada kategori gizi baik. Dokter kemudian menyarankan untuk menghentikan penggunaan SNS secara bertahap. Kontrol selanjutnya dijadwalkan pada tanggal 19 Februari 2026. Pada tanggal 20 Februari 2026, saat bayi berusia 1 bulan 25 hari, ibu menyampaikan bahwa penggunaan SNS sudah dihentikan selama tiga hari terakhir. Pada pemeriksaan didapatkan berat badan bayi 4485 gram dengan kenaikan berat badan 41 gram per hari. Produksi ASI ibu dinilai banyak dan bayi dapat menyusu langsung dengan baik tanpa bantuan suplementasi. Pada kunjungan ini ibu juga mendapatkan surat perpanjangan cuti melahirkan hingga tanggal 9 Mei 2026 untuk mendukung keberhasilan menyusui sesuai dengan Undang- Undang Nomor 4 Tahun 2024 tentang Kesejahteraan Ibu dan Anak pada Fase Seribu Hari Pertama Kehidupan. Undang-undang ini mengatur cuti melahirkan hingga 6 bulan dalam kondisi tertentu untuk mendukung kesehatan ibu dan bayi serta keberhasilan menyusui. Diskusi Ankyloglossia merupakan kelainan kongenital yang ditandai dengan pelekatan frenulum lingual yang pendek atau kaku sehingga membatasi mobilitas lidah. Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan fungsi oral, terutama pada proses menyusu pada bayi baru lahir.1 Prevalensi ankyloglossia pada neonatus dilaporkan berkisar antara 4–10% dari populasi bayi baru lahir.2 Pada kasus ini, bayi mengalami kesulitan menyusu sejak awal kehidupan yang ditandai dengan pelekatan yang tidak efektif, durasi menyusu yang lama, serta penurunan berat badan yang signifikan hingga 16,7%. Kondisi tersebut sesuai dengan manifestasi klinis ankyloglossia yang sering dilaporkan pada bayi, yaitu kesulitan melekat ke payudara, proses menyusu yang tidak efektif, dan kegagalan mendapatkan asupan ASI yang adekuat.3 Penurunan berat badan pada bayi juga menjadi salah satu indikator penting adanya gangguan menyusu. Bayi dengan ankyloglossia yang mengalami keterlambatan penanganan memiliki risiko lebih tinggi mengalami penurunan berat badan lebih dari 10% setelah lahir.2 Hal ini sejalan dengan kondisi pada kasus ini, dimana bayi mengalami excessive weight loss serta kesulitan menyusu akibat keterbatasan pergerakan lidah. Frenotomy merupakan prosedur sederhana yang dilakukan untuk melepaskan frenulum lingual yang membatasi pergerakan lidah. Pada kasus ini, setelah dilakukan frenotomy, ibu melaporkan adanya perbaikan pada proses menyusui, dimana bayi tampak lebih nyaman menyusu dan hisapan menjadi lebih dalam. Temuan ini konsisten dengan berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa frenotomy dapat memperbaiki proses menyusui, meningkatkan kemampuan bayi melekat ke payudara, serta mengurangi nyeri pada ibu selama menyusui.3 sebuah studi juga menunjukkan bahwa sekitar 91% ibu melaporkan perbaikan dalam proses menyusui setelah dilakukan frenotomy, disertai peningkatan skor LATCH (alat penilaian yang digunakan untuk mengevaluasi efektivitas dan kualitas sesi menyusui) dan penurunan nyeri saat menyusui.4 Hasil tersebut memperkuat bahwa tindakan frenotomy dapat memberikan manfaat klinis pada bayi dengan ankyloglossia yang mengalami gangguan menyusu. Pada kasus ini, selain frenotomy juga diberikan intervensi tambahan berupa pemberian suplementasi dengan menggunakan Supplemental Nursing System (SNS) untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi bayi selama proses adaptasi menyusu. Pendekatan ini terbukti membantu peningkatan berat badan bayi secara bertahap hingga mencapai status gizi yang lebih baik pada usia sekitar satu bulan. Terapi tambahan juga dipertimbangkan untuk membantu meningkatkan produksi ASI, yaitu akupuntur laktasi. Sebuah studi kasus menunjukkan bahwa stimulasi pada titik-titik akupunktur tertentu dapat membantu meningkatkan produksi ASI pada ibu dengan produksi ASI yang rendah. 5 Peningkatan ini terlihat dari bertambahnya volume ASI setelah terapi dilakukan sehingga kebutuhan nutrisi bayi dapat terpenuhi dengan lebih baik. Mekanisme yang diduga berperan adalah stimulasi sistem hormonal, khususnya peningkatan kadar hormon prolaktin yang berperan penting dalam proses laktogenesis atau pembentukan ASI. Selain faktor medis, keberhasilan menyusui juga dipengaruhi oleh faktor sosial dan lingkungan, termasuk dukungan keluarga, edukasi laktasi, serta kebijakan cuti melahirkan. Cuti melahirkan merupakan salah satu faktor penting yang berperan dalam keberlanjutan menyusui. Masa cuti memberikan waktu bagi ibu untuk beradaptasi dengan proses menyusui, membangun ikatan dengan bayi, serta memulihkan kondisi fisik setelah persalinan.6 Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan positif antara durasi cuti melahirkan dengan keberhasilan menyusui. Ibu yang memiliki cuti melahirkan lebih dari tiga bulan memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mempertahankan pemberian ASI dibandingkan ibu yang kembali bekerja lebih awal. Bahkan, ibu yang mendapatkan cuti hingga enam bulan memiliki peluang yang lebih besar untuk mempertahankan pemberian ASI eksklusif hingga usia enam bulan.6 Dalam kasus ini, keberhasilan proses menyusui juga dipengaruhi oleh adanya pendampingan yang baik dari fasilitas kesehatan yang menerapkan prinsip Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi (Baby-Friendly Hospital Initiative/BFHI). Deteksi dini terhadap kesulitan menyusu akibat ankyloglossia serta penanganan segera melalui tindakan frenotomy menunjukkan implementasi prinsip pelayanan yang responsif terhadap masalah menyusui. Penelitian menunjukkan bahwa bayi yang lahir di rumah sakit yang menerapkan program BFHI memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mendapatkan ASI eksklusif pada usia ≤3 bulan maupun 3–6 bulan dibandingkan dengan rumah sakit yang tidak menerapkan program tersebut.7 Hal ini menunjukkan bahwa dukungan sistem pelayanan kesehatan, termasuk konseling laktasi dan intervensi dini terhadap masalah menyusui, merupakan faktor penting dalam meningkatkan keberhasilan pemberian ASI. KesimpulanAnkyloglossia merupakan kelainan kongenital yang dapat menyebabkan keterbatasanpergerakan lidah sehingga mempengaruhi proses pelekatan dan efektivitas hisapan saatmenyusu. Pada kasus ini, ankyloglossia menyebabkan kesulitan menyusu yang berkontribusi terhadap penurunan berat badan bayi secara signifikan hingga menyebabkan status gizi bayi berada dalam kategori gizi kurang mendekati buruk. Tindakan frenotomy yang dilakukan terbukti membantu memperbaiki kemampuan bayi untuk melekat ke payudara sehingga kegiatan menyusu menjadi adekuat. Perbaikan ini juga didukung dengan pemberiansuplementasi dengan bantuan alat Supplemental Nursing System (SNS) untuk memastikan kecukupan nutrisi bayi selama masa adaptasi menyusui. Dengan perbaikan efektivitas menyusu dan terpenuhinya kebutuhan asupan nutrisi, bayi menunjukkan kenaikan berat badan yang adekuat sehingga status gizinya dapat kembali berada pada kategori gizi baik.Secara bertahap bayi mampu menyusu langsung ke payudara ibu secara efektif tanpamemerlukan tambahan suplementasi lagi. Hal ini menunjukkan bahwa deteksi dini masalahmenyusui serta tindakan penanganan segera dan tepat dapat mendukung keberhasilanmenyusui.Referensi1. Vancsa, C., Dima, V., & Vladareanu, S. (2021). Tongue-tie: Development, evolution and treatment. Romanian Medical Journal.2. Barberá-Pérez, P. M., Sierra-Colomina, M., Deyanova-Alyosheva, N., Plana- Fernández, M., & Lalaguna-Mallada, P. (2021). Prevalence of ankyloglossia in newborns and impact of frenotomy in a baby-friendly hospital. Boletín Médico del Hospital Infantil de México, 78(5), 418–423.3. Webb, A. N., Hao, W., & Hong, P. (2013). The effect of tongue-tie division on breastfeeding and speech articulation: A systematic review. International Journal of Pediatric Otorhinolaryngology, 77(5), 635–646.4. Muldoon, K., Gallagher, L., McGuinness, D., & Smith, V. (2017). Effect of frenotomy on breastfeeding variables in infants with ankyloglossia: A prospective before and aftercohort study.5. Pierdant, G., Westphal, K., Lange, A., & Usichenko, T. I. (2022). Stimulation of lactationusing acupuncture: A case study. Journal of Human Lactation, 38(3), 559–563.6. Navarro-Rosenblatt, D., & Garmendia, M. L. (2018). Maternity leave and its impact onbreastfeeding: A review of the literature. Breastfeeding Medicine, 13(9), 589–597.7. Fan, Y. W., Fan, H. S. L., Shing, J. S. Y., Ip, H. L., Fong, D. Y. T., & Lok, K. Y. W. (2025). Impact of baby-friendly hospital initiatives on breastfeeding outcomes: Systematic review and meta-analysis. Women and Birth, 38, 101881