Relaktasi pada Bayi Bingung Puting dengan Tongue Tie dan Lip Tie Ditulis oleh : dr. Patricia – Dokter Laktasi, Karawang Bayi C adalah seorang anak laki-laki, lahir pada tanggal 11 September 2024. Ia adalah putra pertama dari pasangan Ny. C dan Tn. S yang menanti kehamilan ini selama 5 tahun. Bayi C lahir melalui persalinan normal, lahir cukup bulan yaitu pada usia kehamilan 37 minggu 5 hari di klinik bersalin daerah Jakarta Timur. Berat Badan Lahir 3420 gram dan Panjang badan 49 cm. Segera setelah bayi C lahir, Ibu dan bayi dilakukan IMD (Inisiasi Menyusu Dini) selama 1 jam. Setelah itu bayi rawat gabung dengan ibu. Ibu diajarkan cara menyusui dan sangat yakin dapat menyusui bayinya. Usia 7 hari, Ibu membawa bayi C kontrol ke Dokter Spesialis Anak. Dari hasil pemeriksaan, Berat Badan (BB) bayi 3.150 gram (belum kembali ke Berat Badan lahir dan Berat Badan turun 7.8%). Dokter meminta untuk terus menyusui dan kontrol kembali saat bayi usia 1 bulan. Saat kontrol usia 1 bulan, BB bayi 3.770 gram (BB naik tidak optimal). Selama 1 bulan pertama, bayi C hanya menyusu langsung pada Ibu tanpa tambahan lain. Saat pemeriksaan, Bayi C terlihat kuning hingga bagian kaki. Hasil laboratorium kadar bilirubin dalam darah 22 mg/dl dan disarankan dokter untuk fototherapy 2×24 jam. Selama perawatan di Rumah Sakit, Ibu rutin perah Air Susu Ibu (ASI). Saat visitasi, dokter mengatakan kepada Ibu, kalau kenaikan BB bayi C tidak mencapai target (target dari dokter, bayi harus naik BB 250 gram per minggu). Dokter meminta Ibu untuk perah ASI dan menargetkan bayi minum ASI perah 750 ml per hari (minum 8 kali 90 ml) melalui botol dot. Namun, saat itu hasil pumping Ibu sekitar 60-80 ml. Sehingga dokter menyarankan bila ASI Ibu tidak cukup memenuhi kebutuhan minum bayi, sebaiknya Ibu memberikan bayi tambahan susu formula sebanyak 90 ml per kali minum. Sejak itu, Ibu merasa down, sangat khawatir dan takut jika produksi ASI tidak cukup untuk bayi pada saat itu. Sehingga Ibu melakukan segala cara untuk meningkatkan produksi ASI dengan pijat laktasi, perah ASI setiap 2-3 jam, dan berusaha menyusui langsung dalam waktu bersamaan. Bila bayi masih terlihat rewel, Ibu memberikan tambahan susu formula menggunakan botol dot. Namun saat itu Ibu kewalahan karena harus menyusui, memerah, sekaligus memberi susu melalui botol dot secara bersamaan. Pada saat ini Ibu juga merasa frustasi karena melihat hasil pompa tidak kunjung meningkat. Setelah beberapa hari berlalu, Ibu merasa hisapan bayi mulai berubah, menyusu lepas-lepas, banyak ASI yang keluar dari sisi mulut bayi, terdengar bunyi berdecak dan bayi terlihat tidak pernah puas menyusu. Sesekali Ibu merasa nyeri saat menyusui bayi. Ibu disarankan doula untuk memeriksakan kondisi bayi ke poli laktasi bertemu Dokter Spesialis Anak (Sp.A) konsultan laktasi Internasional karena curiga adanya tali bibir (lip tie) pada bayi. Pada tanggal 22 Oktober 2024, Ayah menemani Ibu bertemu dokter anak konsultan laktasi di Rumah Sakit daerah Depok. Saat itu bayi C berusia 1 bulan 11 hari, berat badan 4525 gr, kenaikan berat badan 26,95 gr/hari, kenaikan BB lamban. Status gizi > -2 SD (Standar Deviasi), gizi baik. Hasil pemeriksaan fisik, Bayi C terlihat memiliki tongue tie posterior dan lip tie grade 3. Saat menetek, Bayi C terlihat lepas-lepas, bunyi berdecak, sulit melekat, dan rewel. Setelah pemeriksaan, dokter memberikan edukasi manfaat menyusui, perintah menyusui sesuai perintah agama dan anjuran WHO, bahaya penggunaan botol dot dan susu formula, penjelasan dari hasil pemeriksaan dan rencana tindakan. Setelah mendengar penjelasan dokter, keinginan Ny. C untuk menyusui 2 tahun semakin kuat dan didukung oleh suami. Orangtua bayi C menyetujui untuk dilakukan tindakan frenotomi tongue tie. Setelah tindakan, bayi langsung menetek di PD Ibu dan disarankan untuk menjalani rawat inap relaktasi dengan metode Praborini dan rencana frenotomi lip tie saat di ruang perawatan. Saat perawatan, Bayi C disarankan untuk melakukan skin to skin contact selama 2×24 jam, diberikan puyer CTM 0.4 mg diminum bila perlu, mengoleskan gel lidah buaya pada luka insisi, dan dipasang alat suplementasi SNS (Supplemental Nursing System) yang berisi ASI Perah (ASIP) Ibu. Saat kunjungan dokter laktasi pertama, terlihat bayi C dapat menetek di kedua payudara Ibu dengan nyaman dengan bantuan SNS. Saat kunjungan dokter laktasi kedua, dokter memeriksa dan dilakukan tindakan frenotomi lip tie. Setelah itu bayi sedikit rewel saat menetek. Ibu memasang SNS dan bayi terlihat mulai menghisap dalam, melekat dan menetek dengan baik pada payudara Ibu. Pada hari perawatan kedua, bayi C menetek lebih baik dan saat ditimbang BB Bayi C bertambah 80 gram sehingga bayi dan Ibu diperbolehkan pulang. Di rumah bayi dan ibu disarankan untuk meneruskan skin to skin contact, mengoleskan gel lidah buaya pada luka insisi, melakukan senam lidah 3 kali sehari dan pemasangan SNS bila perlu. Pada tanggal 25 Oktober 2024, kontrol pasca rawat relaktasi, Bayi C usia 1 bulan 14 hari dinyatakan relaktasi berhasil karena dari hasil pemeriksaan, BB bayi C naik 40 gram/hari tanpa menggunakan alat SNS. Bayi C terlihat melekat di payudara Ibu dengan baik. Bayi C dan Ibu tetap disarankan melanjutkan skin to skin contact dan melakukan senam lidah 3 kali per hari. 1 minggu kemudian, kontrol kedua pasca perawatan, 31 Oktober 2024, BB bayi C 4.860 gram, gizi baik, naik BB 36 gram/hari dan dari hasil pemeriksaan, tidak terdapat sisa jaringan pada bekas luka insisi. Bayi semakin pintar menetek dan Ibu merasa nyaman saat menyusui bayi C. Ibu disarankan tetap rutin melakukan senam lidah hingga genap 3 minggu pasca insisi. Grafik 1. Grafik Kenaikan Berat Badan Gambar 1. Kurva pertumbuhan berat badan bayi C dalam status gizi baik TanggalUsiaBerat Badan (gr)Status GiziTindakan11 September 2024Bayi Lahir3420 22 Oktober 20241 Bulan 11 hari4525-1SD sd +1SD (BB Normal)frenotomi Tongue TieSkin to skin contactSNS semau bayi isi ASIPGel lidah buaya 3x/hariSenam lidah22 Oktober 20241 Bulan 11 hari4525-1SD sd +1SD (BB Normal)frenotomi Lip TieLain-lain tetap dilanjutkan24 Oktober 20241 Bulan 13 hari4605-1SD sd +1SD (BB Normal)Boleh pulangLain-lain tetap dilanjutkan25 Oktober 20241 Bulan 14 Hari4645-1SD sd +1SD (BB Normal)Ibu menyusui on demand tanpa supplementer (SNS)Lain-lain tetap dilanjutkan31 Oktober 20241 Bulan 20 Hari4860-1SD sd +1SD (BB Normal)Ibu menyusui bayi on demandSkin to skin contact partialSenam lidah Tabel 1. Pertumbuhan Berat Badan dan Status Gizi pada bayi C DISKUSI Keberhasilan menyusui tergantung pada posisi dan pelekatan menyusui yang tepat. Pelekatan yang baik membuat transfer ASI lebih optimal, Ibu merasa lebih nyaman saat menyusui dan supply ASI pada payudara meningkat. Bila bayi tidak melekat dengan baik dan menghisap puting, maka Ibu kesakitan. Selain itu, ini dapat membuat seorang Ibu tampak seolah-olah tidak menghasilkan cukup ASI. Dengan kata lain, Ibu kelihatannya memiliki pasokan ASI yang kurang. Kemudian, bila situasi ini berlanjut, payudara Ibu mungkin benar-benar menghasilkan ASI lebih sedikit. Pada keadaan lain dapat mengakibatkan kenaikan Berat Badan bayi yang kurang atau kegagalan menyusui.[1] Tongue tie / Lip tie merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kesulitan menyusui yang ditandai dengan nyeri saat menyusui, lepas-lepas, menyusui lama, bunyi “click” yang kemudian dapat berdampak pada kenaikan berat badan bayi yang tidak optimal. Bila ada tali lidah dan tali bibir, dan bayi sulit melekat terus menerus, tindakan yang terbaik adalah frenotomi (insisi/pengguntingan tali lidah dan tali bibir) tujuannya adalah membuat proses menyusui antara ibu dan bayi lebih baik. Namun tidak semua bayi langsung pintar menyusu setelah frenotomi, terutama bila bayi tersebut sudah dikenalkan dengan media lain seperti dot. Bayi tersebut perlu belajar cara menyusu kembali ke payudara. Bila bayi belum pintar, yang perlu dilakukan adalah kontak kulit ke kulit 24 jam sampai bayi pintar menyusu, senam lidah, dan senam bibir dengan rutin.[2] Pada kasus ini, setelah dilakukan frenotomi pada by. C, Ibu merasa lebih nyaman, tidak merasa sakit lagi saat menyusui. Namun karena bayi C sudah dikenalkan dengan dot, ini membuat perubahan pola isap bayi. Teknik mengisap ke payudara dan mengisap ke dot sangat jauh berbeda. Pada saat bayi mengisap ke payudara pipi bayi cembung, sementara bila mengisap ke dot pipi bayi akan cekung. Perubahan pola isap ini disebut bingung puting.[3,4] Sehingga, bayi C disarankan melakukan proses relaktasi (Ibu kembali menyusui dan bayi kembali menyusu setelah sebelumnya berhenti). Bayi melekat kulit ke kulit di dada ibu kemudian digendong dengan kain batik dan menggunakan piyama. Prosesnya tidak mudah, karena perlu perjuangan yang melibatkan emosi. Bayi yang sudah terbiasa dengan dot, mungkin tidak nyaman dalam posisi ini dan bisa terus menangis seperti ketagihan dengan dot karena bayi dipisahkan dengan kenikmatan botol dot. Ibu perlu sabar, memiliki niat dan keteguhan hati, hibur bayi dengan bernyanyi, berjalan ke sana kemari, atau bergoyang bersama bayi. Lakukan kontak kulit ke kulit dengan bayi selama 24 jam sampai bayi mau menyusu lagi. Setelah perawatan relaktasi, Ny. C merasa isapan bayi C terasa lebih kuat, dan kenaikan berat badan meningkat. Dukungan keluarga terutama Ayah, sangat penting. Pada kasus ini, Ayah bayi sangat mendukung proses menyusui istri dan bayinya. Gambar 2. Proses Kontak Kulit ke Kulit KESIMPULAN ASI adalah makanan yang terbaik bayi. ASI manusia mengandung komposisi paling tepat untuk manusia yang tumbuhnya paling lambat tetapi memiliki otak paling canggih diantara makhluk mamalia lainnya.[1] Menyusui langsung di payudara merupakan cara terbaik untuk memberi makan bayi, namun pemindahan ASI dan kenaikan berat badan bayi secara optimal tergantung pada pelekatan yang baik.[1] Menyusu dengan botol dot pada beberapa minggu awal dapat menghambat proses menyusui karena teknik menyusu pada botol dot sangat berbeda dengan teknik menyusu pada payudara Ibu.[2] Tali lidah dan tali bibir merupakan salah satu penyulit bayi untuk bisa menyusu langsung pada payudara Ibu dan juga merupakan penyulit ibu untuk dapat menyusui karena nyeri yang dirasa saat menyusui.[3] Terapi suplementasi diberikan dengan menggunakan alat bantu menyusui (SNS) agar bayi mendapat asupan yang memadai, bayi terus menghisap di payudara Ibu, sehingga meningkatkan produksi ASI.[3] Gambar 3. Ny. C Menggunakan Alat Bantu Menyusui SNS Penelitian menyebutkan bahwa semakin pendek jarak berhenti menyusui dengan proses relaktasi, semakin baik hasil relaktasi. Untuk mencapai keberhasilan menyusui, payudara harus sering dikosongkan, baik dengan menyusui langsung atau dengan memerah payudara secara manual, dan bayi harus disusui terus menerus, untuk menstimulasi produksi ASI di payudara.[5] Pada kasus ini, status gizi baik namun kenaikan berat badan naik lamban di awal usia karena adanya tali lidah dan tali bibir disertai bingung puting partial. Tindakan frenotomi dilakukan bertahap karena bayi mengalami bingung puting partial danuntuk mencegah terjadinya bayi menolak menyusu (nursing strike). Dengan relaktasi, bayi berhasil naik BB adekuat dengan DBF (direct breastfeeding) saja tanpa menggunakan alat bantu menyusui (SNS) atau susu tambahan apapun serta proses menyusui terasa lebih nyaman bagi Ibu dan bayi. Hal ini dapat terlaksana karena pasien ditangani oleh tim yang mumpuni dengan penanganan yang holistik. DAFTAR PUSTAKA Direktorat Gizi Masyarakat Ditjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pelatihan Konseling Menyusui. Jakarta. 2022.Praborini A, Wulandari RA. Anti Stres Menyusui. Kawan Pustaka. Jakarta. 2019Praborini A, et al. A Holistic Supplementation Regimen for Tongue-Tied Babies With Slow Weight Gain and Failure to Thrive. Clinical Lactation Vol 9 Issue 2. 2018. DOI: 10.1891/2158-0782.9.2.78.Lawrence RA. 4th . Breastfeeding: a guide for the medical profession. St. Louis, MO: Mosby; 1994.Tomar RPS. Initiation of relactation: an Army Hospital based study of 381 cases. Int J Contemp Pediatr. 2016;3:635-8. https://doi.org/10.18203/2349-3291.ijcp20161054.