Frenotomi pada Anak Gizi Kurang dekat Gizi Buruk dengan Tongue Tie , Lip Tie dan Tuberkulosis Paru Ditulis oleh : dr. Joyce Silalahi – Dokter laktasi, Medan KASUSAnak A adalah seorang anak perempuan, lahir pada tanggal 15 Agustus 2023. Anak A adalah anak ketiga dari pasangan Ny. S dan Tn. F, lahir melalui persalinan Sectio Secarea (SC) atas indikasi Riwayat SC 2 kali di Rumah Sakit area Depok . Bayi lahir cukup bulan, sesuai masa kehamilan dengan berat badan Lahir 2945 gram dan panjang badan 45 cm. Tanggal 27 Desember 2024 Ibu bertemu Dokter Anak Konsultan Laktasi di Rumah Sakit di Depok, dikonsulkan oleh Dokter Spesialis Anak dengan diagnosa GDD (Global Development Delay), Feeding Problem ec Ankyloglossia + Tuberkulosis Paru dalam terapi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) Fase Lanjutan bulan ke 3. Saat kontrol usia anak A 16 bulan 12 hari, berat badan 7260 gram. Status gizi anak dikategorikan sebagai gizi kurang (<-2 SD) mendekati gizi buruk. Saat anamnesis diketahui berat badan tidak naik sejak bayi usia 6 bulan. Selama menyusui, keluhan yang dirasakan ibu adalah bayi menyusu sering lepas-lepas, dengan bunyi “klik-klik” , menyusu lama, dan mudah tidur. Selain itu, puting Ny. S juga terasa sakit saat menyusui. Anak A sudah mulai makan sejak usia 6 bulan namun melepeh saat makan, saat ini sudah makan nasi tetapi lama mengunyah dan makanan lama habis. Untuk perkembangan bicara anak A mulai babbling usia 7-8 bulan, selanjutnya menunjuk dan mengerang bila ingin memberitahukan sesuatu. Saat tidur mulut anak A sering terbuka, sering terbangun dan juga gelisah. Untuk perilaku tidak ada kelainan yang spesifik. Saat diperiksa anak A mempunyai tongue tie posterior dan lip tie grade 4 dengan central diastema. Kemudian di lakukan frenotomI. Setelah tindakan anak A di sarankan untuk melakukan senam lidah dan bibir 5 kali sehari, OMT ( Orofacial myofunctional therapy ) dan diberikan gel lidah buaya pada luka insisi, dan dijadwalkan untuk kontrol kembali 2 minggu kemudian. Kunjungan kedua, 2 minggu setelah di lakukan frenotomi yaitu tanggal 9 Januari 2025, usia anak A 16 bulan 25 hari, berat badan 7155 gr, terjadi penurunan berat badan paska frenotomi sebesar 105 gr atau 8,07 gr/hari. Status gizi anak dikategorikan sebagai gizi kurang (<-2 SD) mendekati gizi buruk. Obat anti tuberkulosis diteruskan. Telah terjadi perbaikan pola makan dimana anak A sudah lebih mau makan, makan ayam masih dicincang namun potongan sudah lebih besar, untuk daun-daunan anak A belum mau. Selanjutnya Ny. S dan anak A dirujuk ke poli laktasi untuk OMT (Orofacial myofunctional therapy). Kontrol selanjutnya dijadwalkan 2 minggu lagi tanggal 23 Januari 2025. Kunjungan ketiga pada tanggal 23 Januari 2025 saat usia 17 bulan 8 hari , berat badan 7000 gr, terjadi penurunan berat badan sebesar 155 gr atau 11,07 gr/hari, status gizi buruk (<-3SD). Anak A disarankan pemeriksaan Echochardiography untuk mengetahui kondisi jantungnya dan dijadwalkan kontrol kembali tanggal 6 Februari 2025. Kunjungan keempat pada tanggal 13 Februari 2025 saat usia 17 bulan 28 hari, berat badan 7230 gr, terjadi kenaikan berat badan sebesar 230 gram atau 10,95 gr/hari, status gizi naik menjadi gizi kurang (<-2 SD). Hasil Echocardiography adalah Normal Heart. Anak A disarankan untuk makan telur puyuh minimal 5 butir sehari dan Obat Anti Tuberkulosis diteruskan. Pasien disarankan untuk kontrol kembali tanggal 4 Maret 2025. Kunjungan kelima pada tanggal 4 Maret 2025 saat usia 18 bulan 17 hari, berat badan 7450 gr, terjadi kenaikan berat badan sebesar 220 gram atau 11,57 gr/hari, status gizi kurang (<-2 SD). Anak A disarankan Fe syrup 1x 2 cc, makan telur puyuh minimal 5 butir sehari dan Obat Anti Tuberkulosis diteruskan. Grafik 1. Grafik Berat Badan Anak A Tabel 1. Tabel Berat Badan Anak A. Anak A.FotoTanggalUsiaBerat BadanPerubahan Berat BadanStatus GiziTindakan15 Agustus 20230 hari2900 gr 27 Desember 202416 bulan 12 hari7260 gr Gizi Kurang ( <-2SD mendekati -3SD)Frenotomi , Senam Lidah dan Bibir, OMT, OAT diteruskan9 Januari 202516 bulan 25 hari7155 grturun 8,07 gr/hariGizi Kurang ( <-2SD mendekati -3SD)OMT OAT diteruskan23 Januari 202517 bulan 8 hari7000 grturun 11,07 gr/hariGizi buruk (<-3SD)Pemeriksaan Echocardiography, OAT diteruskan13 Februari 202517 bulan 28 hari7230 grnaik 10,95 gr/hariGizi Kurang ( <-2SD )Hasil Echocardiography : Jantung Normal, Telur puyuh minimal 5 butir sehari, kontrol ulang 4 Maret 202518 bulan 17 hari7450 grnaik 11,57 gr/hariGizi Kurang ( <-2SD )Fe syrup 1x 2 cc, makan telur puyuh minimal 5 butir sehari , OAT diteruskan DISKUSI Tongue tie pada anak dapat berhubungan dengan kesulitan menelan pada saat makan, kesulitan berbicara, air liur yang berlebihan, masalah perilaku, kebersihan rongga mulut dan rasa malu serta rendah diri.(1) Ankyloglossia pada bayi dikaitkan dengan 25% hingga 60% insiden terjadinya kesulitan menyusui, seperti gagal tumbuh (failure to thrive), luka pada payudara ibu, nyeri pada payudara ibu, suplai ASI (Air Susu Ibu) yang rendah, payudara bengkak, dan bayi menolak payudara.[2] Populasi masyarakat dengan berat badan kurang akan memiliki kejadian Tuberkulosis yang lebih tinggi dibandingkan dengan populasi dengan berat badan normal, akibat kurangnya sistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh kekurangan gizi.(3) Saat balita mengalami gizi kurang atau buruk maka daya tahan tubuhnya akan menurun dan akan menyebabkan tubuh balita tersebut rentan menghadapi serangan Bakteri Tuberkulosis (Mycobacterium Tuberculosis) dibandingkan dengan anak yang status gizinya baik (4) Tindakan yang paling umum dilakukan untuk mengatasi ankyloglossia pada bayi adalah frenotomi sederhana. Frenotomi dilakukan dengan memotong beberapa milimeter ke dalam frenulum lidah. Prosedur ini relatif singkat dan biasanya hanya menyebabkan perdarahan minimal.[5) Pasca Frenotomi bayi perlu lebih aktif bergerak untuk meregangkan kembali otot-ototnya yang kaku.(1) Pada anak A didapatkan dari anamnesa bahwa telah terjadi penurunan berar badan sejak usia 6 bulan dan dalam terapi Obat Anti Tuberkulosis mulai usia 14 bulan dengan status gizi kurang mendekati buruk. Hal ini sesuai dengan penelitian dan teori yang menyatakan bahwa balita dengan gizi kurang memiliki resiko yang lebih besar untuk terkena Tuberkulosis. Setelah dilakukan frenotomi pada saat anak A berusia 16 bulan 12 hari menjadi tantangan tersendiri dikarenakan otot-otot mulut dan lidah yang kaku butuh waktu untuk belajar kembali cara mengunyah ditambah lagi dengan kondisi Tuberkulosis Paru pun menyebabkan berat badan turun, hal ini bersama-sama menyebabkan proses naiknya berat badan membutuhkan beberapa waktu, namun perbaikan dalam proses makan dan mengunyah sudah terlihat. Setelah 1 bulan 16 hari pasca frenotomi berat badan anak A kembali naik dengan penambahan 10,95 gr/hari. Pada kontrol berikutnya saat anak A usia 18 bulan 17 hari berat badan tetap naik dengan penambahan 11,57 gr/hari. KESIMPULAN Tongue tie dan lip tie pada bayi dapat menyebabkan kenaikan berat badan yang lambat dan pada anak berhubungan dengan kesulitan menelan saat makan serta kesulitan berbicara. Hal ini menyebabkan status gizi anak A kurang mendekati buruk. Dari penelitian diketahui bahwa balita dengan gizi kurang atau buruk lebih rentan terkena Tuberkulosis Paru dikarenakan daya tahan tubuh yang menurun. Keadaan ini pun terjadi pada anak A. Dengan melakukan frenotomi untuk melepaskan tongue tie dan Lip tie maka anak A dapat makan lebih baik, berat badan bertambah, status gizi meningkat sehingga diharapkan daya tahan tubuh pun lebih baik untuk melawan bakteri Tuberkulosis bersamaan dengan konsumsi teratur Obat Anti Tuberkulosis. DAFTAR PUSTAKA Praborini A, Wulandari RA. Anti Stres Menyusui. Kawan Pustaka. Jakarta. 2019 Messner A, Lalakea M. Ankyloglossia: controversies in management. Int J Pediatr Otorhinolaryngol. 2000;54(2):123-31. Su Hwan Cho,Hyun Lee, et al. Association of underweight status with the risk of tuberculosis: a nationwide population-based cohort study.Sientific Reports,nature search, 2022. Diani, A Setyanto, BD Nurhamzah, W. “Proporsi Infeksi Tuberkulosis dan Gambaran Faktor Resiko pada Balita yang Tinggal dalam Satu Rumah dengan Pasien Tuberkulosis Paru Dewasa.” Sari Pediatrik 13: 62–68. 2018 Segal LM, Stephenson R, Dawes M. Prevalence, diagnosis, and treatment of ankyloglossia. Can Fam Physician. 2007 Jun; 53(6): 1027-1033.