Frenotomi Ankyloglossia pada bayi dengan PJB (Penyakit Jantung Bawaan)

Ditulis oleh dr. Maharani Aulia – dokter laktasi, Jakarta


Bayi Z adalah bayi laki-laki, anak ketiga dari pasangan NY R dan TN A. Ny R bekerja
sebagai ibu rumah tangga dan TN A adalah seorang wiraswasta. Anak pertama meninggal
karena penyakit jantung bawaan pada usia 2 tahun 4 bulan, menyusui selama 3 bulan, anak
kedua usia 3 tahun 1 bulan dan menyusui selama 21 bulan. Bayi Z lahir di praktek bidan E
pada tanggal 29 Januari 2024 melalui persalinan normal, lahir dengan BB (berat badan) 3400
gr dan PB (panjang badan) 50 cm. Ibu tidak pernah melakukan kunjungan laktasi saat hamil
atau ANC (antenatal care) laktasi ke dokter konselor laktasi.
Ketika bayi berusia 31 hari, pada tanggal 29 Februari 2024 ibu menemui dokter anak
konsultan laktasi sebagai rujukan dari bidan yang mengatakan terdapat tali bibir dan berat
badan bayi turun. Ibu mengeluhkan putingnya sakit sehingga ibu memompa asi dan
diberikan ke bayi menggunakan gelas atau pipet, ada bunyi clicking, bayi menetek lepaslepas, dan berat badan bayi turun. Saat ditimbang BB bayi 3195 gr. Berdasarkan kurva
pertumbuhan standar menurut WHO (World Health Organization), berat badan bayi Z
menunjukkan kondisi gagal tumbuh atau FTT (Failure to thrive) dimana batas -2 SD (standar
deviasi) adalah 3790 gr dan batas -3 SD adalah 3290 gr. Selama 31 hari bayi turun 205 gr,
atau 6,6 gr per hari (6,2 %).
Setelah dijelaskan mengenai perintah menyusui yang terdapat dalam AlQuran dan
sesuai perintah agama serta anjuran WHO, Ny R ingin menyusui hingga dua tahun dan
didukung oleh suami. Pada pemeriksaan fisik didapatkan bayi memiliki tounge tie posterior
dan lip tie grade 4 luas, dan saat bayi menyusu ke ibu merasa kesakitan.
Produksi ASI (Air susu ibu) dinilai normal. Dokter menjelaskan kepada orang tua bayi
untuk melakukan tindakan pada bayi Z agar proses menyusui dapat berjalan lancar, ibu tidak
kesakitan dan berat badan bayi bertambah secara optimal. Dokter menyarankan untuk
melakukan tindakan pada lip tie dan tongue tie.

Setelah diminta persetujuan kepada orang tua, dokter melakukan frenotomi lip tie
dan tounge tie dan bayi langsung menyusu pada payudara ibu. Ibu merasa bayi lebih mudah
melekat dan rasa sakit sudah berkurang. Selanjutnya ibu dikirim ke dokter laktasi untuk
belajar melakukan senam lidah pada bayi 5x sehari, mengoles gel lidah buaya pada bagian
bawah lidah bayi, dan suplementasi dengan SNS (Supplemental Nursing System) 5×30 cc isi
ASIP (Air Susu Ibu Perah). Ibu disarankan kontrol kembali tanggal 7 Maret 2023.
Kontrol 1 tanggal 12 Maret 2024 usia bayi 1 bulan 13 hari, ibu sudah memakai SNS dengan
isi ASIP sebanyak 3x10cc. Karena ibu kesulitan untuk mengisi SNS dengan ASIP maka
pompa tidak dikerjakan rutin namun senam lidah dikerjakan rutin. Bayi Z ditimbang BB bayi
3280 gr, kenaikan BB 7 gr per hari. Status gizi bayi masuk dalam kondisi gizi buruk dengan
batas -2SD 3790 gr dan -3SD 3290 gr. Dilakukan titrasi SNS isi susu formula rasa tawar 60 cc
dengan posisi craddle. Dimana di payudara kiri, bayi latch baik di areola dan menghisap
habis 45 cc. Ibu tetap melakukan senam lidah 3x sehari, oles gel dan tetap menggunakan
SNS 5x45cc diisi ASIP 2 kali dan susu formula rasa tawar 3 kali. Selebihnya ibu meneteki
langsung dan satu tempat tidur dengan bayi.
Kontrol ke 2 tanggal 22 Maret 2024 usia bayi 1 bulan 23 hari, BB bayi 3530 gr, naik 335 gr
dalam 22 hari, kenaikan BB 15,3 gr per hari. Status gizi bayi masih dalam status gizi buruk
yaitu <-3SD. SNS 5x 45 cc sering tidak habis. Ibu merasa menyusui lebih nyaman, tidak nyeri
lagi di puting. Dokter menyarankan tetap menggunakan SNS, dirujuk ke Profesor Ahli
Jantung anak untuk melakukan tindakan echocardiography dan senam lidah distop. Diberi
roborantia dan kontrol kembali tanggal 5 April 2024.
Kontrol ke 3 tanggal 5 April 2024 usia bayi 2 bulan 7 hari, BB bayi 3790 gr, naik 260 gr dalam
14 hari, kenaikan BB 18,6 gr perhari. Status bayi gizi buruk dengan batas <-3SD. Dokter menyarankan untuk tetap SNS sebanyak 5×45 cc, diberikan roborantia, dan kontrol tanggal
19 April 2024. Dokter menyarankan untuk vaksinasi di bidan saja.
Kontrol ke 4 tanggal 19 April 2024 usia bayi 2 bln 21 hari, BB bayi 3980 gr, naik 190 gr dalam
14 hari, kenaikan BB 13,6 gr per hari. Status bayi gizi buruk dengan batas <-3SD. Hasil echo
terdapat Dextrocardia dan PDA (Patent Ductus Arteriosus) 2.3 mm dan Tetralogy Fallot.
Dokter menyarankan melanjutkan SNS 5×45 cc, diberikan roborantia dan vaksinasi di
posyandu, kontrol kembali tanggal 7 Mei 2024.
Kontrol ke 5 tanggal 11 Mei 2024 usia bayi 3 bln 9 hari, BB bayi 4490 gr, naik 510 gr dalam 18
hari, kenaikan BB 28,3 gr per hari. Status bayi gizi buruk dengan batas <-3SD, PJB tetralogy
Fallot, PDA dan dextrocardia. BB meningkat dengan baik, dokter menyarankan tetap SNS
5X45 cc, echo kembali bulan Juni, vaksinasi di bidan, diberikan roborantia. Pasien kontrol
kembali 21 Mei 2024.
Kontrol ke 6 tanggal 21 Mei 2024 usia bayi 3 bln 23 hari, BB bayi 4725 gr, naik 235 gr dalam
14 hari, kenaikan BB 16,8 gr per hari. Status bayi gizi buruk dengan batas< -3SD. Dokter
menyarankan tetap lanjut SNS 5×45 cc, diberikan suplemen zat besi 2×2 tetes, dan konsul
untuk MPASI (Makanan Pendamping ASI) dini. Kontrol kembali tanggal 4 Juni 2024.
Kontrol ke 7 tanggal 4 Juni 2024. usia bayi 4 bln 7 hari, BB bayi 4990 gr, naik 265 gr dalam 13
hari, kenaikan BB perhari 20,4 gr. Status bayi gizi buruk <-3SD sudah dekat <-2SD. Bayi sudah
diberi makan dan bayi mau makan, ibu sudah mengikuti seminar MPASI (Makanan
Pendamping ASI) sesuai WHO. Dokter menyarankan untuk tetap menyusui bayi dan lanjut
MPASI, roborantia diteruskan. Kontrol kembali tanggal 25 Juni 2024.
Kontrol ke 8 tanggal 25 Juni 2024. Usia bayi 4 bln 28 hari, BB bayi 5675 gr, naik 675 gr dalam
21 hari, kenaikan BB 32,14 gr per hari. Status bayi gizi kurang <-2SD. Dokter menyarankan
untuk tetap lanjut ASI dan MPASI, roborantia diteruskan. Kontrol kembali tanggal 23 Juli
2024.

Diskusi
Salah satu kesulitan dalam menyusui pada bayi adalah terdapatnya tongue tie dan lip
tie yang ditemukan saat pemeriksaan fisik. Tongue tie atau Ankyloglossia merupakan
anomali perkembangan lidah yang ditandai oleh frenulum lingual yang pendek, tebal
sehingga pergerakan lidah menjadi terbatas1.
Prevalensi terjadinya ankyloglossia sekitar 4,2% – 10,7%, dimana sebanyak 25% kasus
mengalami kesulitan menyusui. Kesulitan ini dapat dievaluasi melalui konseling dari
seorang konsultan laktasi. Jika masih mengalami kesulitan setelah dilakukan konseling,
prosedur bedah yaitu frenotomi dapat dipertimbangkan2.
Ankyloglossia ini dapat membuat bayi sulit atau tidak bisa melekat dengan baik pada
payudara, dapat menyebabkan nyeri puting pada ibu yang pada akhirnya dapat menghambat kenaikan berat badan bayi karena jarang disusui secara langsung, sehingga
dapat menurunkan produksi ASI.
Bila ada tali lidah dan tali bibir, sehingga menyebabkan bayi sulit melekat pada payudara,
ibu merasakan sakit saat menyusui, adanya puting yang lecet maka tindakan yang bisa
dilakukan adalah frenotomi (insisi/pengguntingan tali lidah dan tali bibir). Hal ini tujuannya
agar proses menyusui dapat berjalan lancar dan tidak ada keluhan sakit yang dirasakan
pada ibu3.
Tindakan frenotomi adalah suatu prosedur bedah dimana frenulum digunting di garis tengah
atau di bagian bawah lidah menggunakan gunting tajam berujung tumpul. Saat melakukan
tindakan ini bayi dibedong dalam kain seperti selimut atau handuk, dan saat tindakan tidak
ada anestesi yang diberikan dan biasanya terdapat sedikit perdarahan setelah tindakan ini
yang dapat dihentikan saat bayi menyusu langsung ke ibu4.
Pada bayi yang sudah dilakukan tindakan frenotomi pada umumnya akan membuat bayi
dapat menyusu secara efektif sehingga transfer ASI dapat berjalan optimal, yang kemudian
dapat meningkatkan produksi ASI bagi bayi. Namun frenotomi yang dilakukan setelah hari
ke 8, dimana pada bayi Z dilakukan saat umur 31 hari dapat juga menyebabkan peningkatan
berat badan yang kurang optimal. Oleh karena itu sangat penting untuk mendiagnosa
adanya tongue tie dan lip tie pada hari-hari pertama bayi baru lahir agar dapat menjadikan
proses menyusui berjalan optimal5.
Pada kasus ini, berat badan bayi Z yang telah dilakukan frenotomi cenderung naik namun
tidak kunjung berada dalam status gizi kurang ataupun baik, dan masih dalam status gizi
buruk. Selain tindakan frenotomi yang terlambat dilakukan, kenaikan berat badan yang
terhambat juga bisa disebabkan adanya penyakit jantung bawaan yang diderita bayi Z yaitu
tetralogy Fallot dan PDA.
Tetralogy Fallot adalah penyakit jantung bawaan (congenital heart disease) akibat kelainan
struktural pada jantung yang disebabkan adanya malformasi. Hal ini merupakan kelainan
kongenital yang paling banyak terdapat pada bayi baru lahir, dimana sekitar 5%-7% dari CHD
yang terdapat pada bayi baru lahir adalah Tetralogy Fallot. Tetralogy Fallot merupakan penyakit jantung bawaan sianotik yang terdiri dari 4 kelainan yang terjadi pada jantung yaitu
defek septum ventrikel, stenosis pulmonal, perubahan posisi aorta dan hipertrofi ventrikel
kanan6.
Penyebab penyakit jantung bawaan ini umumnya tidak diketahui namun ada beberapa faktor
risiko yang dapat meningkatkan terjadinya PJB tetralogy fallot ini seperti infeksi rubella saat
kehamilan, kurangnya gizi ibu saat kehamilan, penggunaan alkohol, dan usia ibu yang lebih
dari 40 tahun6.

Patent Ductus Arteriosus (PDA) adalah kondisi medis yang terjadi pada bayi di mana
pembuluh darah ductus arteriosus gagal menutup setelah lahir. Ductus Arteriosus adalah
pembuluh yang menghubungkan arteri pulmonalis kiri dengan aorta desendens. Normalnya
ductus arteriosus akan menutup pada 12-24 jam setelah kelahiran. PDA merupakan jenis
penyakit jantung sianotik dan menduduki peringkat ke 3 dari seluruh kasus penyakit jantung
bawaan7.
PDA dapat menyebabkan gejala seperti kesulitan untuk bernapas, detak jantung
tidak normal, dan pertumbuhan yang terhambat. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan
risiko untuk terjadinya PDA adalah bayi prematur, faktor genetik, infeksi saat kehamilan, dan
banyak terjadi pada bayi perempuan7.

Bayi yang memiliki penyakit jantung bawaan merupakan faktor risiko untuk terjadinya
gangguan dalam tumbuh kembang anak. Anak dengan PJB sianotik maupun non sianotik
memiliki karakteristik klinis yang berbeda. Berdasarkan penelitian yang dilakukan tahun
2018 dengan responden pasien anak yang datang ke RSUP dr. Hasan Sadikin, pada 41 anak
usia 0-14 tahun ditemukan bahwa persentasi malnutrisi sangat besar yaitu 39.02%,
persentase stunting 70.73% pada anak usia 0-5 tahun dan persentase underweight 52%
pada usia 0-5 tahun8.


Kesimpulan
Menyusui langsung di payudara merupakan cara terbaik dan paling benar untuk memberi
makan pada bayi, namun proses transfer ASI dan untuk mencapai kenaikan berat badan bayi
secara optimal sangat bergantung pada pelekatan bayi ke payudara ibu yang baik9.
Bayi Z memiliki tounge tie posterior dan lip tie grade 4 dan juga menderita kelainan jantung
bawaan yaitu tetralogy fallot dan patent ductus arteriosus. Dimana hal ini dapat
menyebakan hambatan dalam proses tumbuh kembang bayi Z. Adanya tounge tie dan lip tie
pada bayi Z juga dapat mengganggu proses menyusu bayi, dapat menimbulkan gejala
seperti puting lecet pada ibu dan berat badan bayi dapat turun. Setelah dilakukan tindakan
frenotomi, berat badan bayi cenderung naik walaupun masih dalam status gizi kurang.
Keluhan yang sebelumnya ibu rasakan yaitu puting lecet dan sakit saat menyusui sudah
tidak dirasakan lagi oleh ibu.
Dengan menyusui secara langsung dimana dalam ASI terdapat stem cells (sel punca) dapat
memperbaiki katup jantung yang terbuka tanpa tindakan operasi pada kasus PJB biasa. Pada
kasus ini, terdapat tetralogy Fallot, sehingga harus dilakukan operasi. Menyusui pada bayi Z
harus diteruskan, agar kelak durante dan pasca operasi, bayi Z dapat terhindar dari infeksi
yang berat. Karena ASI mengandung zat anti infeksi yang poten. Pada kakak bayi Z (anak
pertama) juga menderita tetralogy Fallot, kakak tidak menyusui dengan sempurna, sehingga
terus menderita infeksi (berulang), yang akhirnya tidak tertolong. Orang tua telah bertekad
bahwa bayi Z akan diteteki sampai 2 tahun sesuai perintah Allah10 , agar terhindar dari infeksi. Untuk tindakan echocardiography yang kedua belum dilaksanakan karena sesuatu dan lain hal. Untuk penatalaksanaan lebih lanjut penyakit jantung bawaan yang diderita bayi Z, dapat
dilakukan rujukan ke spesialis jantung anak. Adanya kerjasama secara holistik antara dokter laktasi, dokter spesialis anak konsultan laktasi, dan dokter spesialis jantung anak konsultan laktasi sangat diperlukan.

Daftar Pustaka

  1. Chaubal TV, Dixit MB. Ankyloglossia and its management. Journal of Indian Society
    of Periodontology 2011 Jul-Sep; 15(3): 270–272.
  2. Segal M, Stephenson R, Dawes M, Feldman P. 2007. Prevalence, diagnosis, and
    treatment of Ankyloglossia : methodologic review. National Librarty of Medicine.
    Jun;53 (6):1027-33.
  3. Praborini A, Wulandari RA. 2019. Anti Stres Menyusui. Kawan pustaka. Jakarta.
  4. Muldoon K, et al.2017. Effect of frenotomy on breastfeeding variables in infants with
    ankyloglossia (tongue-tie): a prospective before and after cohort study. BMC Birth
    and Child Birth doi: 10.1186/s12884-017-1561-8
  5. Praborini A, et al.2015. Early frenotomy improves Breastfeeding Outcome for Tounge
    Tied Baby. Clinical Lactation. Vol 6 issue 1.
  6. Friaz JD, Horenstein MS, Guillaume M. 2024. Tetralogy of Fallot. National Library
    Medicine. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK513288/.
  7. Mahajan K, Krakauer MG. 2023. Patent Ductus arteriosus. National Library Medicine.
    https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK430758/
  8. Cafrina G, Firman A, Nugraha GI. 2016. Nutritional Status of Tetralogy of Fallot
    Patients at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. Althea medical Journal.
    Volume 3(2):298-303.
  9. Praborini A, et al.2018.Holistic supplementation Regimen for Tounge Tied Babies
    With Slow Weight Gain and Failure to Thrive. Clinical Lactation. Vol 9 issue 2.
    10.Al Quran, Al Baqarah ayat 233, Luqman ayat 14, Al Ahqaf ayat 15 .

Leave a Reply

Your email address will not be published.