Bayi dengan Ankyloglossia dan Gagal Tumbuh serta Terinfeksi Virus COVID-19 Penulis : dr. Muthia Despi Utami Latar Belakang Sejak awal kehidupan, setiap anak berhak untuk mendapatkan nutrisi yang lengkap dan baik untuk mengoptimalkan tumbuh kembangnya. ASI telah diberikan oleh Tuhan guna memenuhi kebutuhan nutrisi bayinya. Kebutuhan ini disesuaikan dengan kebutuhan dan pertumbuhan setiap bayi. Menyusui merupakan cara terbaik dalam pemenuhan nutrisi bayi, dimana posisi dan perlekatan yang baik diperlukan supaya bayi dapat menyusu dengan optimal dan mendapatkan ASI yang sesuai dengan kebutuhannya sehingga kenaikan berat badannya juga baik. 1 Ankyloglossia atau Tongue Tie dan Lip Tie berhubungan dengan 25% – 60 % angka kejadian kesulitan menyusui; seperti puting lecet, payudara bengkak, suplai asi sedikit dan gagal tumbuh. Perlekatan yang tidak baik menjadi salah satu penyebab utama dari masalah- masalah menyusui tersebut. 2 Ankyloglossia dapat mengganggu isapan mulut bayi ke payudara dan menyebabkan perlekatan yang buruk sehingga bayi tidak mendapatkan ASI yang adekuat dan menyebabkan kenaikan berat badan yang lambat bahkan gagal tumbuh. 1 Laporan Kasus Ny. M datang pada 01 Juli 2021 ke Poli Laktasi RS Swasta di Depok bersama suami dan anaknya, bernama by.H yang berusia 17 hari. Ibu mengeluhkan bahwa by.H menyusu sering lepas lepas, lama dan banyak tertidur. By. H lahir dengan persalinan normal dibantu oleh Bidan pada usia kehamilan 38 minggu dan berat badan lahir 3450 gram. Setelah melahirkan, By. H diletakkan di atas badan Ny. M kurang dari 10 menit karena By. H dibawa ke ruang bayi untuk di observasi. Sejak awal, By. H menyusu tidak bisa membuka mulut lebar sehingga tidak dapat melahap semua puting Ny. M dan setelah menetek puting ibu terlihat gepeng. Saat By. H usia 1 minggu, Ny. M datang ke Dokter Spesialis Anak ditemukan bahwa BB bayi 2850 gr, turun 17,3% dari berat badan lahir bayi. Ibu disarankan untuk menyusui bayi tiap 2 jam dan ditambah dengan asi perah 40 ml tiap abis menyusu. Ibu menjadi rutin perah ASI dengan alat pompa setiap hari. Namun sekali perah dengan alat pompa ibu hanya dapat ASI 5cc di kedua payudara dan sering terasa perih selesai memerah. Pada kunjungan pertama di tanggal 01 Juli 2021, by. H berusia 17 hari dengan BB 2985 gram. Bayi H. belum mengalami kenaikan berat badan sama sekali justru turun sekitar 27,3 gr per hari. Berdasarkan kurva pertumbuhan standar menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), berat badan by H. menunjukkan kondisi gagal tumbuh (Failure to Thrive) dengan gizi baik (BB -2SD). Dari pemeriksaan fisik by. H, ditemukan adanya tali lindah pendek yang disebut ankyloglossia yaitu tongue tie anterior dan upper lip tie grade 4. Pada pemeriksaan payudara Ny. M, didapatkan bentuk payudara yang simetris mengisi, puting menonjol dan supply asi kesan normal. Saat By. H menyusu, terlihat bibir bayi terlipat kedalam dan hanya ujung puting yang masuk ke mulut bayi, menyusu lepas-lepas. Setelah dijelaskan mengenai perintah menyusui sesuai anjuran agama dan WHO, keinginan Ny. M untuk menyusui By. H sampai 2 tahun semakin kuat dan hal ini didukung oleh Tn. A. Kemudian dijelaskan juga mengenai kondisi by. H dan rencana terapi yang akan dijalankan kepada Ny. M, termasuk rencana tindakan frenotomi, penggunaan supplementer, serta terapi tambahan untuk ny. M. Setelah itu Ny. M dan Tn. A menyetujui untuk dilakukan tindakan frenotomi pada tongue tie dan lip tie By. H. Setelah dilakukan frenotomi, Ny. M langsung menyusui by. H dan tampak bibir lebih dower/terlipat keluar, menghisap kontinu dan hisapan terasa lebih kuat dan nyaman. Ny. M diajarkan juga untuk melakukan senam lidah dan bibir kepada By. H, yang dilakukan 5x/hari mengikuti waktu shalat, dilakukan selama 1 minggu kedepan dan dilanjutkan 3x sehari selama 2 minggu selanjutnya. Disarankan untuk stop perah perah ASI dan menetek langsung saja ke payudara ibu semau bayi. Namun Ny. M menolak penggunaan supplementer untuk terapi by H, ibu mau mencoba menyusu langsung saja. Lalu Ny.M disarankan untuk melakukan pijat oksitosin yang akan dikerjakan oleh Tn.A, bertujuan untuk membantu memperlancar keluarnya ASI. Selanjutnya ibu disarankan kontrol Kembali ke Poli minggu depan di tanggal 8 Juli 2021. Pada tanggal 9 Juli 2021 dikabarkan bahwa Ny. M sekeluarga terkena COVID-19 dan sedang melakukan isolasi mandiri dirumah. Pemantauan kondisi bayi dilakukan secara online, Ny.M disarankan untuk tetap menyusui bayi sesuai kebutuhan bayi, tidak perlu perah perah ASI. Di tanggal 13 Juli 2021 dilakukan konsultasi online dengan Ny.M, dikatakan saat ini by.H menyusu lebih lancar, tidak mudah lepas lepas. Keluhan bayi seperti flu dan nafas terdengar grok grok. BB bayi sudah mengalami peningkatan, naik 26 gr/hari menjadi 3300 gram. Pada konsultasi online berikutnya di tanggal 23 Juli 2021, Ny.M mengatakan kondisi by.H sehat dan tidak ada keluhan. Selama isolasi mandiri keluhan By.H hanya mengalami keluhan ringan sekitar 2 hari. Karena sering menyusu langsung ke payudara Ny.M, By.H yang paling pertama sembuh dan tidak ada keluhan diantara keluarga Ny.M. Saat itu BB by.H sudah naik menjadi 3700 gram, naik 40 gram/hari. Ny.M sekeluarga akan dilakukan pemeriksaan swab ulang esok hari. Setelah dinyatakan negatif dari hasil pemeriksaan swab, Ny.M datang ke RS bersama Tn.A untuk kontrol kondisi by.H. Disaat ditimbang BB by.H di tanggal 29 Juli 2021 didapatkan kenaikan BB 3860 gram, naik 31,2 gram/hari. Ny.M mengatakan akan resign daripekerjaanya agar dapat mengurus by. H dan bisa memberikan ASI Eksklusif sampai by.H berusia 2 tahun. Foto 1. Serial perkembangan By. H Diskusi Sepanjang masa terapi, Ny. M menunjukkan semangat positif untuk terus bisa menyusui bayi H. Ny. M juga mendapat dukungan penuh dari suami dan keluarga terdekat sehingga ia merasa terbantu dalam menjalani seluruh rangkaian terapi. Pada kasus ini, dikunjungan awal ibu merasa bayi menghisap lepas-lepas dan penambahan BB yang tidak optimal. Hal ini diakibatkan adanya tongue tie anterior dan lip tie grade 4 pada bayi H, sehingga proses menyusui menjadi tidak efektif. Setelah dilakukan tindakan frenotomy, ibu merasakan perbedaan yang signifikan dalam proses menyusui bayi H. Bayi H menghisap lebih baik, bibir tampak lebih terbuka lebar dan tidak ada rasa nyeri selama menyusui, sehingga proses menyusui berjalan nyaman bagi keduanya. Pada kunjungan berikutnya tampak peningkatan BB by.H secara signifikan dan proses menyusu yang lebih baik. Disaat Ny.M sekeluarga terinfeksi COVID-19, by.H tetap menyusu langsung ke payudara Ny.M, sesuai dengan anjuran menyusui dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNICEF. 3,4 Pada beberapa penelitian, sampai dengan saat ini penularan secara langsung COVID-19 antara ibu dan bayi disaat menyusui masih belum terbukti. Pada bayi, resiko penularan COVID-19 rendah dan biasanya memiliki gejala ringan atau tidak bergejala, sedangkan kerugian untuk tidak menyusui ke payudara ibu dan pemisahan antara ibu dan anak memiliki dampak kerugian yang besar. Berdasarkan beberapa bukti penelitian, WHO merekomendasikan untuk melakukan inisiasi menyusu dan melanjutkan menyusui langsung pada bayi dan anak, meskipun pada ibu-ibu yang dicurigai maupun terkonfirmasi COVID-19.3 Pada kasus ini dengan menyusui langsung, Ny.M dapat memberikan kekebalan alami kepada by.H melalui ASI sehingga keluhan ang dialami By.H hanya keluhan ringan selama 2 hari dan paling pertama sembuh diantara keluarganya yang lain. Ny.M juga merasakan tidak ada perubahan yang signifikan dari jumlah produksi ASI ketika terinfeksi COVID-19. Meskipun memiliki gejala virus corona, seperti demam atau batuk, ibu dapat tetap menyusui. Manfaat pemberian ASI jauh lebih banyak dibanding dengan risiko penularannya.3 Tetapi perlu untuk tetap menjaga kebersihan disaat menyusui seperti menggunakan masker, mencuci tangan dengan sabun sebelum maupun sesudah menyentuh bayi, mengelap dan mendesinfektan permukaan yang terpapar secara rutin. 4,5 Daftar Pustaka 1. Praborini A, et al. 2018. A Holistic Supplementation Regimen for Tongue-Tied Babies With Slow Weight Gain and Failure to Thrive. Clinical Lactation Vol 9 Issue 2, DOI: 10.1891/2158- 0782.9.2.78. 2. Segal LM, et al. 2007. Prevalence, diagnosis, and treatment of ankyloglossia. Can Fam Physician. 53(6): 1027–1033. 3. World Health Organization. Breastfeeding and COVID-19. Scientific brief 23 June 2020. https://www.who.int/publications/i/item/WHO-2019-nCoV-Sci_Brief-Breastfeeding- 2020.14. UNICEF. Breastfeeding during COVID-19. https://www.unicef.org/eap/breastfeeding- during-covid-195. Lubbe, W., Botha, E., Niela-Vilen, H., & Reimers, P. (2020). Breastfeeding during the COVID- 19 pandemic – a literature review for clinical practice. International breastfeeding journal,15(1), 82. https://doi.org/10.1186/s13006-020-00319-3