Apakah Ibu dengan Kardiomiopati Peripartum dapat menyusui? Oleh : dr. Erika Agustianti PENDAHULUAN Kardiomiopati Peripartum (KMPP) , sejenis kardiomiopati dilatasi yang penyebab pastinya belum diketahui,biasanya terjadi pada wanita yang sebelumnya sehat di akhir bulan kehamilan dan sampai 5 bulan setelah melahirkan. Meski kejadiannya rendah yaitu kurang dari 0,1% kehamilan, tetapi tingkat morbiditas dan mortalitasnya tinggi yaitu 5% sampai 32%. Hasil akhir kardiomiopati peripartum juga sangat bervariasi. Bagi beberapa wanita, status klinis dan ekokardiografi dapat membaik dan kadang-kadang kembali normal, sedangkan untuk orang lain, penyakit ini berlanjut sampai gagal jantung dan bisa menyebabkan kematian jantung mendadak. Epidemiologi Kejadian KMPP yang dilaporkan bervariasi. Kejadian dilaporkan berkisar 1 dari 299 kelahiran hidup di Haiti, 1 dari 2229 kelahiran hidup di California Selatan, 1 dari 4000 kelahiran hidup di Amerika Serikat. Beberapa faktor risiko mempengaruhi wanita dengan KMPP yaitu meningkatnya usia ibu, multiparitas, kehamilan multipel , dan kehamilan yang dipersulit oleh preeklampsia dan hipertensi gestasional. Etiologi KMPP dapat dibedakan dari bentuk lain kardiomiopati karena terjadinya saat hamil. Penyebab pasti belum diketahui. Diduga disebabkan oleh; virus miokarditis, respon imun abnormal terhadap kehamilan, respon maladaptif hemodinamik terhadap kehamilan, stress-activated cytokines, ekskresi prolaktin berlebihan, dan tokolisis berkepanjangan. Manifestasi klinis dan Diagnosis Gambar 1. Penilaian Kardiomiopati Peripartum Gambar 2. Diagnosa Kerdiomiopati Peripartum Pengobatan Pengobatan untuk KMPP didasarkan pada pedoman standar Pengobatan Gagal Jantung, termasuk ACE-inhibitor, ARBs, beta-bloker, spironolakton, digoksin, diuretik, vasodilator dan inotrop jika dibutuhkan. Tabel 1. Keamanan Obat Gagal Jantung Pada Kehamilan dan Menyusui Tabel 2. Strategi yang diusulkan untuk terapi obat gagal jantung pada pasien kardiomiopati peripartum setelah maupun sebelum melahirkan dan sesudah pemulihan lengkap struktur dan fungsi ventrikel kiri. *Menurut pedoman ESC, intruksi produsen terutama didasarkan pada fakta bahwa obat-obatan tidak diuji pada saat hamil dan menyusui. Untuk ini dan untuk alasan hukum, obat-obatan sering dianggap dilarang selama kehamilan dan menyusui. Pada pasien dengan risiko rendah untuk gagal jantung dan dengan fungsi ventrikel normal, diperlukan observasi singkat beberapa jam sampai 48 jam setelah melahirkan. Menyusui dibolehkan pada pasien penyakit jantung, meski beberapa obat merupakan kontraindikasi bagi ibu menyusui. Hal ini dapat menurunkan toleransi kerja atau resiko mastitis dan bakteremia pada sebagian ibu menyusui. Penggunaan diuretik dapat mengganggu produksi asi. Pada periode post partum beta-blocker harus dilanjutkan dan ACEI dosis rendah harus diberikan dengan peningkatan titrasi sesuai dosis toleransi bahkan untuk wanita menyusui sekalipun. Pasien dengan KMPP dapat memilih untuk menyusui setelah melahirkan, tetapi hal ini harus didiskusikan dengan dokter. ACEI, beta-bloker dan diuretik umumnya dianggap aman. REFERENSI Coyle, L.J., Jensen, L., and Sobey, A., 2012, Peripartum Cardiomyopathy: Review and Practice Guidelance, American Jounal of Critical-Care, Vol. 12, No. 2, p.89,90,93 & 94. Sharma, Kavita & Russell, Stuart D., 2015, An Update on Peripartum Cardiomyopathy in the 21st Century, International Journal of Clinical Cardiology, p.4 & 5. Lewey, Jennifer & Haythe, Jennifer, 2014, Cardiomyopathy in Pregnancy, Seminars In Perinatology 38, Elsevier, p.315 & 316. Givertz, Michael M., 2013, Peripartum Cardiomyopathy, Cardiology Patient Page, American Heart Association, Inc., p.625. Hale, Thomas W. Hartman, 2012, Textbook of Medications & Mother’s Milk 15th Edition, Texas, Hale Publishing. Ilustrasi Kasus Nama : Ny. Y Usia : 40 tahun Riwayat kelahiran :P3A0 Nama bayi : Bayi Ny.Y1 (Perempuan) Bayi Ny. Y2 (Laki-laki) Riwayat kelahiran : Sectio Caesaria atas indikasi bayi kembar BB Lahir : Bayi Ny. Y1 2900 gram Bayi Ny. Y2 2900 gram Ny. Y usia 40 tahun melahirkan bayi kembar di RSSH melalui bedah caesar karena bayi kembar. Pada pemeriksaan fisik Bayi Ny. Y1 dan Ny.Y2 dalam keadaan baik. Ny.Y dengan lower – normo – milk supply. Pada observasi menyusui bayi Ny. Y1, perlekatan masih kurang dan pada hari pertama ibu masih kesulitan untuk menyusui bayinya karena kondisi setelah operasi merasakan nyeri di perutnya. Begitu juga dengan bayi Ny. Y2. Pada hari kedua Ny. Y sudah mencoba posisi menyusui football tetapi Ny. Y lebih nyaman untuk menyusui bayi satu per satu. Ny. Y pulang pada hari ketiga, terjadi penurunan berat badan bayi Ny. Y1 sebanyak 6,8% dari berat badan lahir. Begitu juga dengan bayi Ny. Y2 sebanyak 6,8% dari berat badan lahir. Sekitar 3 minggu kemudian Ny. Y datang ke UGD dengan keluhan sesak nafas dan jantung berdebar dan ketika pada malam hari tidak bisa tidur. Pada pemeriksaan fisik ditemukan bunyi jantung I-II irreguler dan edama pada tungkai kaki kiri dan kanan. Ny. Y didiagnosa dengan KMPP, lalu dikonsulkan ke dokter spesialis jantung dan di rawat inap. Selama perawatan Ny. Y mendapat terapi lasix, spironolacton, ramipril, concor, KSR (Kalium Klorida). Pada pemeriksaan radiologi ditemukan kesan pembesaran jantung ec efusi perikardial dan edema paru, efusi pleura. Pada pemeriksaan echokardiografi disimpulkan sesuai dengan gambar KMPP. Pasien juga sempat mengalami kejang yang diduga karena hipokalemi. Pada hari keempat pasien dibolehkan pulang dengan melanjutkan terapi oral yang telah diberikan. Selama perawatan ibu tidak menyusui bayi kembarnya, bayi diberikan susu formula memakai dot. Ketika ibu pulang dokter spesialis jantung menyarankan untuk tidak menyusui bayinya karena obat yang dipakai tidak aman untuk ibu yang menyusui. Diskusi Kasus : KMPP merupakan penyakit yang memiliki angka mortalitas dan morbiditas yang tinggi. Diagnosa dini dan diikuti dengan terapi yang berkelanjutan sangat bermanfaat bagi sejumlah pasien. Prinsip terapi KMPP tidak jauh berbeda dengan terapi gagal jantug dengan penyebab lainnya. ACEI, beta-bloker dan diuretik umumnya dianggap aman, namun diperlukan pemilihan obat yang lebih selektif supaya ibu tetap bisa menyusui sehingga dalam penanganannya diharapkan adanya kerjasama dengan dr Anak maupun dr konselor laktasi. Dari Thomas W. Hale, obat Ny. Y yaitu Lasik (L3), Spironollacton (L2), Ramipril (L3), Concor (Tidak diketahui), KSR (Kalium Klorida) (Tidak diketahui) sehingga dapat disimpulkan obat yang dikonsumsi relative aman untuk menyusui.