Praborini Lactation Team Berbagi Pengalaman Klinis Indonesia di Pertemuan Tahunan Academy of Breastfeeding Medicine (ABM) 2026 di Toronto Peserta dan pembicara ABM dari berbagai negara Asia dalam pertemuan tahunan di Toronto. Toronto, Kanada — Praborini Lactation Team berpartisipasi dalam 31st Annual International Meeting of the Academy of Breastfeeding Medicine (ABM) pada 13–15 Oktober 2026. Forum ini mempertemukan dokter, peneliti, pendidik, dan praktisi dari berbagai negara untuk membahas perkembangan ilmiah serta tantangan pelayanan menyusui. ABM membedakan kategori keanggotaan dokter (Physician Membership) dan anggota afiliasi (Affiliate Membership). Partisipasi peserta non-medis dalam konferensi maupun keterlibatan dalam penulisan laporan kasus tidak serta-merta menunjukkan kualifikasi klinis, kewenangan profesional, ataupun pengakuan kompetensi dari ABM. Delegasi Praborini Lactation Team terdiri dari dr. Asti Praborini, Sp.A, IBCLC, FABM (dr. Rini); dr. Anjar Setiani, Sp.A, IBCLC; dr. Dyah Febriyanti, MD, IBCLC, FABM; serta dr. Willey Elliot, M.Kes, IBCLC. Keikutsertaan tim merupakan kesempatan untuk berbagi pengalaman klinis dari Indonesia sekaligus memperluas jejaring ilmiah. Pada sesi Case Presentations, dr. Rini dan dr. Dyah menyampaikan serial empat kasus berjudul “When Conventional Drainage Surgery Does Not Mean Weaning: A Case Series of Breastfeeding Preservation in Four Dyads With Lactational Breast Abscess.” Laporan ini menguraikan penanganan empat pasangan ibu dan bayi saat abses payudara memerlukan tindakan operasi insisi dan drainase. Salah satu kasus memiliki riwayat kekambuhan. Perawatan mencakup pengendalian infeksi, penanganan luka, evaluasi transfer ASI, kenyamanan ibu, dan kebutuhan bayi. Kasus-kasus tersebut menunjukkan pentingnya kerja sama dokter bedah, dokter spesialis anak, dan dokter IBCLC. Tindakan pembedahan bukan alasan otomatis untuk menghentikan menyusui; keputusan klinis perlu mempertimbangkan kondisi ibu dan bayi, keamanan serta keberlanjutan menyusui. “Penanganan penyakit ibu dan perlindungan proses menyusui merupakan bagian dari perawatan yang menyeluruh bagi ibu dan bayi.” Pemaparan case series pendekatan bedah dan perawatan laktasi yang terintegrasi pada sesi ilmiah ABM 2026 Program ABM 2026 menampilkan pembahasan mengenai fisiologi laktasi, praktik klinis, kesehatan mental, pendidikan dokter, hingga ketimpangan akses dukungan menyusui. Beberapa sorotan dari agenda resmi antara lain: Hiperlaktasi — Elizabeth Elsagga, Lena Edelstein, dan Ofri Hayosh mengulas definisi serta tantangan klinis hiperlaktasi. Suplementasi formula — Alison Mildon, Jessica Zimmer, dan Aunjrya Fleming menyoroti suplementasi formula yang tidak diperlukan di rumah sakit sebagai persoalan kesetaraan kesehatan. Pompa ASI — Anne Eglash membahas penggunaan pompa yang ditempatkan sesuai indikasi klinis. Skin-to-skin — Julie Grady, Louise Bastarache, dan Irena Zakarija-Grkovic membahas bukti Cochrane yang mendukung kontak kulit ke kulit setelah kelahiran. Ankiloglosia — Michal Mansovsky, Yvonne LeFort, Rima Strassman, dan Nadine Manson memaparkan Clinical Assessment Process for Treating Ankyloglossia (CAPTA). Obat dan imunologi — Essie Heinonen membahas terapi lithium pada pasien menyusui; Lori Feldman-Winter mengulas imunobiologi ASI. Dukungan komunitas — Ezura Madiana Monoto mengulas konseling sebaya, inovasi digital, dan keterlibatan keluarga dalam dukungan menyusui di Malaysia. Bersama La Leche League CanadaBersana Fiona Lang-Sharpe dari GOLD Learning. Sehari setelah konferensi utama berakhir, ABM bersama Vida Maternal and Infant Health Alliance mengadakan Lactational Mastitis Research Summit pada Jumat, 16 Oktober 2026. Kegiatan setengah hari ini merupakan agenda pascakonferensi tersendiri yang berfokus pada kesenjangan bukti ilmiah dalam penanganan mastitis. dr. Anjar Setiani, Sp.A, IBCLC dalam sesi diskusi Lactational Mastitis Research Summit Berangkat dari perkembangan pemahaman spektrum mastitis, forum tersebut dirancang untuk mempertemukan dokter, peneliti, dan perspektif pasien dalam memetakan masalah yang belum terjawab: penyebab dan faktor risiko, ketepatan diagnosis, pilihan terapi, pencegahan, serta pengalaman pasien. Tujuannya adalah menyusun prioritas pertanyaan penelitian yang relevan dengan praktik, bukan sekadar mengulang rekomendasi yang sudah tersedia. Agenda resmi juga mencantumkan materi on-demand “Mastitis” oleh Monica Pina. Materi rekaman tersebut berbeda dari Lactational Mastitis Research Summit pada hari Jumat; daftar pembicara individual untuk summit tidak dirinci pada halaman program publik. Selain diskusi ilmiah, konferensi membuka ruang interaksi dengan rekan sejawat lintas negara, lembaga pendidikan, dan pimpinan profesi. Pertemuan-pertemuan ini memperkuat pentingnya pembelajaran berkelanjutan serta penerjemahan bukti ilmiah ke dalam kebutuhan nyata keluarga menyusui di Indonesia. Kiri-kanan: dr Willey Elliot, M.Kes, IBCLC, dr Anjar Setiani, Sp.A, IBCLC, dr. Asti Praborini, Sp.A, IBCLC, FABM, dr. Elien Rouw, FABM (Immediate Past President ABM), dr. Dyah Febriyanti, IBCLC, FABMPraborini Lactation Team bersama dr. Julie Ware, MD, MPH, IBCLC, FABM — President ABM. “Ketika menyusui bermasalah, jangan terburu-buru menyarankan penyapihan atau menjadikan pompa sebagai solusi utama dan akhir cerita. Kenali dan tangani akar masalahnya, bukan sekadar mengubah cara pemberian ASI. Bahkan ketika abses membutuhkan pembedahan, menyusui tetap perlu diupayakan selama aman bagi ibu dan bayi.” Bersama sejawat dalam rangkaian konferensi internasional ABM 2026. Lebih dari sebuah perjalanan Usai mengikuti 31st Annual International Meeting of the Academy of Breastfeeding Medicine (ABM) di Toronto pada 13–15 Oktober 2026, perjalanan rombongan Praborini Lactation Team berlanjut ke Provinsi Alberta, Kanada. Setelah beberapa hari diisi kegiatan ilmiah dan pertukaran pengalaman klinis, perjalanan ini menjadi kesempatan untuk menikmati waktu bersama di luar ruang konferensi. Salah satu tujuan kunjungan adalah Red Deer, tempat rombongan bersilaturahmi dengan saudara yang menetap di sana. Pertemuan keluarga menghadirkan suasana hangat sekaligus menjadi jeda yang menyenangkan setelah agenda konferensi yang padat. Perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi Calgary, Banff, dan Lake Louise. Panorama Pegunungan Rocky serta air danau yang berwarna biru kehijauan meninggalkan kesan tersendiri. Kunjungan ke Alberta bukan bagian dari agenda ilmiah ABM, tetapi menjadi penutup perjalanan yang bermakna—mempererat kebersamaan dan membawa pulang kenangan dari Kanada. Bersilaturahmi dengan keluarga di Red Deer, Alberta.Menikmati pemandangan Banff di Canadian Rockies. Kebersamaan di tepi Lake Louise dengan latar Pegunungan Rocky, Alberta. Dari kunjungan keluarga di Red Deer hingga lanskap pegunungan Banff, perjalanan ini menyisakan kenangan di luar kegiatan ilmiah. Di samping kesempatan berbagi ilmu dan membangun jejaring profesional, perjalanan ini memberi ruang bagi kebersamaan, persahabatan, dan pengalaman baru yang akan dikenang.