LAPORAN KASUS: Frenotomi, Suplementasi, dan Makanan Pendamping ASI (MPASI) Dini Pada Bayi Gizi Buruk Oleh: dr. Putu Herlin Oktavianti – Dokter Laktasi, Bekasi Bayi R adalah anak kedua dari Tn. I (29 tahun) dan Ny. I (29 tahun) lahir pada usia kehamilan 37-38 minggu secara normal di klinik bersalin pada tanggal 17 April 2025. Bayi R merupakan neonatus cukup bulan (NCB), sesuai masa kehamilan (SMK) dengan berat lahir 2900 gram, panjang badan 49cm, saat lahir Bayi R dikatakan menangis kencang. Setelah lahir Bayi K tidak dilakukan IMD (Inisiasi Menyusu Dini). Setelah selesai persalinan, bayi rawat gabung dengan ibu.Ibu memiliki 2 orang anak. Anak pertama 5 tahun, laki-laki, riwayat insisi tongue tie (TT) dengan DSA Konsultan Laktasi saat usia 1 bulan 17 hari dan berhasil menyusu selama 3 tahun. Ibu tahu manfaat menyusu langsung ke payudara sehingga ibu berkeinginan menyusui anak keduanya selama 2 tahun. Ibu tidak bekerja dan Ayah bekerja sebagai operator di sekolah SD.Bayi R bisa menyusu diawal persalinan, namun ibu merasakan payudara nyeri, puting lecet saat menyusui, bayi juga menyusu lepas-lepas, bunyi “click” dan menyusu lama. Ibu juga memperhatikan bentuk lidah Bayi R tampak seperti hati tiap kali menangis. Berdasarkan riwayat menyusui anak pertama, ibu curiga bayi R memiliki TT, ibu mengkonsulkan keluhan ini ke DSA di Rumah Sakit Swasta daerah Bogor dan disarankan observasi dahulu selama beberapa pekan. Setelah observasi selama 3 minggu, berat badan bayi R belum kembali ke berat lahir sehingga bayi R dirujuk ke Dokter Spesialis Bedah Anak untuk insisi TT. Sebelum insisi, jaringan TT Bayi R diberi obat bius, hal ini menyebabkan Bayi R susah menyusu sesaat setelah tindakan dikarenakan lidahnya masih kaku efek dari obat bius. Setelah insisi ibu rutin melakukan skin to skin 1 jam per hari, senam lidah, dan tummy time sesering mungkin. Hasilnya BB By.R tetap tidak naik signifikan. Ibu berusaha mencari solusi mengenai kondisi bayi R dengan berkonsultasi online ke dokter konsultan laktasi kemudian ibu dirujuk ke dokter spesialis anak konsultan laktasi, yang dulu melakukan frenotomi pada anak pertama (kakak Bayi R)10 Juni 2025 Ibu bertemu dengan dokter anak konsultan laktasi di Rumah Sakit swasta di Depok saat kontrol usia By. R 1 bulan 24 hari, berat badan 3530 gram, kenaikan berat badan 11gr/hari. Berdasarkan kurva pertumbuhan standar menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), berat badan Bayi R menunjukkan kondisi gagal tumbuh (Failure to Thrive) dengan gizi buruk dengan batas -3SD 3620 gr. Saat dilakukan pemeriksaan fisik ditemukan terdapat sisa jaringan tongue tie dan lip tie grade 4. Dari observasi proses menyusui dengan posisi cradle hold pada payudara kiri, bayi tidak bisa menghisap dengan baik dan kesulitan melekat pada payudara. Payudara ibu dalam batas normal dan produksi ASI baik.Dokter menjelaskan Bayi R perlu dilakukan insisi ulang tongue tie & insisi lip tie yang menjadi penyebab kenaikan berat badan Bayi R tidak adekuat. Setelah dilakukan tindakan di poli, bayi langsung menyusu di payudara ibu. Perdarahan bekas luka insisi langsung teratasi sesaat setelah menyusu. Ibu merasa bayi menyusu lebih kuat dan lembut, dan ibu tidak merasakan nyeri di puting seperti sebelumnya. Ibu disarankan menggunakan SNS (Supplemental Nursing System) yang berisi susu formula rasa tawar dosis 5×45-60ml selebihnya menyusu langsung di payudara semau bayi. Ibu juga diajarkan senam lidah dan bibir untuk dilakukan 5 kali sehari oleh orangtua kepada bayi selama 3 minggu ke depan, orang tua diminta agar bayi rutin tummy time, diberikan gel lidah buaya pada luka insisi, piracetam 2x35mg dan ibu dianjurkan untuk membaca buku “Anti Stress Menyusui”.Satu minggu kemudian, tanggal 19 Juni 2025 usia Bayi R 2 bulan 3 hari dengan berat badan 3825gr mengalami kenaikan berat badan setelah insisi 32,7 status gizi masih gizi buruk namun kenaikan berat badan sangat baik, 3 kali lipat dari kunjungan awal. Terapi sebelumnya dilanjutkan dan vaksinasi di posyandu.Kunjungan berikutnya, tanggal 3 Juli 2025 usia bayi 2 bulan 17 hari, berat badan naik 16.6 gram/hari, status gizi menjadi gizi kurang (BB/U <-2SD). Dosis SNS dinaikkan menjadi 5x60cc perhari, suplemen zat besi dan vitamin D3 dengan fluoride. Dianjurkan untuk kontrol 2 minggu kemudian.Kontrol tanggal 17 Juli 2025, usia bayi 3 bulan 1 hari, berat badan bayi naik 395 gram (28,21 gram/hari). Status gizi masih gizi kurang (BB/U <-2SD). Dosis SNS diturunkan menjadi 4x60cc perhari. Ibu dianjurkan untuk mengikuti workshop Masak MPASI Yuk dan kontrol kembali tanggal 1 Agustus 2025.Kunjungan kelima pada tanggal 12 Agustus 2025 saat usia 3 bulan 26 hari, berat badan bayi 5030 gram, kenaikan berat badan 18,6 gram/hari BB/U -2SD 5520 gram, status gizi masih kurang. Saat ini bayi menetek dengan SNS 4x60cc rutin dan selalu habis. Bayi R dianjurkan untuk MPASI dini usia 4 bulan. Lalu Ny.I dan Bayi R di rujuk ke poli laktasi untuk edukasi makanan pendamping ASI (MPASI). Ibu diberikan edukasi pemberian MPASI pada usia 4 bulan diperbolehkan oleh WHO jika berat badan bayi tidak meningkat dengan baik. Ibu diedukasi cara mempersiapkan MPASI sesuai ketentuan WHO, MPASI 4 bintang, porsi makan bayi, frekuensi makan, tekstur, komposisi dan contoh menu MPASI dengan padat kalori dengan double/triple protein hewani, double sumber lemak seperti penggunaan santan, minyak dan mentega. SNS 4×60 cc dilanjutkan selebihnya meneteki langsung dan kontrol 2 minggu lagi.Kunjungan selanjutnya pada tanggal 26 Agustus 2025 saat usia 4 bulan 11 bari, berat badan bayi 5640 gram, kenaikan berat badan 27.4 gram/hari BB/U -2SD 5614 gram, saat ini status gizi bayi R menjadi gizi baik. MPASI lanjut, SNS diturunkan menjadi 3×45 cc per hari, dan kontrol pada tanggal 16 September 2025.Kunjungan ke tujuh pada tanggal 19 September 2025 saat usia 5 bulan, berat badan bayi 6345 gram, kenaikan berat badan 33,6 gram/hari, status gizi baik. SNS stop, suplementasi Fe dan Vit D dengan fluour dilanjutkan, dan kontrol Kembali pada tanggal 30 September 2025.Ibu dan bayi datang pada tanggal 2 Oktober 2025 saat usia 5 bulan 15 hari, berat badan bayi 6835 gram, kenaikan berat badan 30,6 gram/hari, BB -1SD gizi baik. DISKUSI Nutrisi pada 2 tahun awal kehidupan memiliki peranan penting terhadap morbilitas dan mortalitas jangka pendek maupun jangka panjang, mencegah penyakit kronis, dan perkembangan yang optimal.1 Menyusui langsung di payudara memberikan manfaat kesehatan yang signifikan bagi bayi, yaitu pada ASI terdapat kandungan nutrisi lengkap dan seimbang, memperkuat ikatan bathin ibu dan bayi melalui interaksi fisik dan emosional saat menyusui, dimana kontak kulit ke kulit dan pelepasan hormon oksitosin meningkatkan rasa kasih sayang dan kelekatan, membantu bayi merasa lebih aman dan ibu menjadi lebih peka terhadap kebutuhan bayinya. 2 Proses menyusui merupakan kolaborasi antara ibu dan bayi, sehingga diperlukan dukungan optimal untuk ibu dan bayi. 2 Dukungan yang dibutuhkan meliputi dukungan dari keluarga, tenaga kesehatan, dan lingkungan sosial. Ibu perlu diberi edukasi mengenai tanda-tanda bayi lapar, cara menyusui yang benar, dan kendala-kendala yang mungkin terjadi pada saat proses menyusui. Posisi dan pelekatan menyusui yang benar berperan penting dalam kelancaran proses menyusui. Posisi yang tepat membuat bayi merasa aman dan memudahkan pelekatan, serta membuat menyusui nyaman bagi ibu dan bayi. Pelekatan yang benar terjadi ketika mulut bayi terbuka lebar, sebagian besar areola masuk ke dalam mulut bayi, dagu menempel pada payudara ibu, dan bibir atas dan bawah terlipat keluar. Bila pelekatan menyusui tidak benar, bayi akan sulit mendapat ASI secara optimal. 2 Tongue tie (TT) dan lip tie (LT) adalah kelainan anatomi bawaan pada bayi yang dapat menyebabkan kesulitan pelekatan menyusui.5 Kondisi ini terjadi karena frenulum (jaringan tipis di bawah lidah atau bibir) yang terlalu pendek dan ketat, sehingga membatasi gerakan lidah atau bibir bayi. Bayi jadi kesulitan menyusui yang ditandai sering melepaskan payudara, muncul suara “klik” saat menyusu, sesi menyusu menjadi lebih lama, bayi cenderung mengunyah payudara daripada menghisap dengan kuat, hal ini menyebabkan transfer ASI kurang optimal sehingga berat badan bayi sulit naik, bayi sering merasa lapar dan rewel. Pada beberapa kasus lidah bayi tampak seperti hati saat dijulurkan ke depan. Pelekatan yang tidak benar akibat TTLT ini dapat dapat mengakibatkan puting ibu menjadi lecet, ibu merasakan nyeri saat menyusui, infeksi payudara, penurunan produksi asi karena penggosongan yang kurang optimal. 2 Frenotomi adalah tindakan insisi (sayatan) pada TT atau LT dengan menggunakan gunting steril.5 Prosedur ini bertujuan untuk membebaskan membran frenulum sehingga lidah dan bibir dapat bergerak dengan bebas. TT atau LT akan digunting sedikit kemudian didorong dengan jari telunjuk sampai menyentuh otot lidah.6 Tindakan ini dapat dilakukan di klinik rawat jalan. Setelah tindakan bayi segera disusui ibu untuk menghentikan perdarahan. Penting dilakukan senam lidah dan senam bibir untuk mencegah tali lidah dan tali bibir melekat kembali. 2 Tindakan frenotomi yang tertunda akan berdampak pada status nutrisi bayi karena kurang optimalnya transfer ASI dari ibu ke bayi sehingga mengakibatkan pertumbuhan terhambat.5 Pelekatan bayi yang kurang optimal mengakibatkan keterlambatan kenaikan berat badan (Slow weight gain) atau bahkan gagal tumbuh (failure to thrive). Pertumbuhan berat badan dikatakan lambat jika bayi kurang dari 2 minggu mengalami penurunan 10% atau lebih pada usia 2 minggu atau bayi usia 2 minggu sampai 3 bulan dengan kenaikan kurang dari 20 gram per hari. Gagal tumbuh (failure to thrive) adalah bayi dengan berat badan dibawah -3 persentil atau z-score <-2SD dan jika berat badan bayi terus turun setelah hari ke 10 dan tidak kembali ke berat badan lahir pada usia 3 minggu atau berada dibawah presentil ke-10 pada akhir bulan pertama. 1 Gizi buruk pada awal kelahiran sangat dapat menyebabkan gangguan perkembangan otak, seperti gangguan kognitif (daya ingat, konsentrasi, belajar), perubahan struktur dan fungsi otak. Pemberian suplementasi diperlukan pada bayi gizi buruk setelah dilakukan tindakan frenotomi. Suplementasi adalah menyusu dengan menggunakan alat bantu yang berisi cairan nutrisi berupa ASI perah atau ASI donor atau susu formula, yang dihisap bayi melalui selang bersamaan dengan menyusu di payudara ibu. Alat bantu ini disebut Supplemental Nursing System (SNS). 7 Ny.I dan Tn.I sadar dan mengerti akan pentingnya memberikan ASI kepada bayinya. Ny. I ingin menyusui bayi hingga 2 tahun, Tn.I pun mendukung. Namun, Ny. D mengalami kendala saat menyusui bayinya. Bayi menyusu tidak efektif sehingga kenaikan berat badan bayinya tidak adekuat. Saat usia 1 bulan 24 hari berat badan bayi R menunjukkan gizi buruk. Bayi didiagnosis dengan gagal tumbuh berat badan Bayi R 3530 gram, berat lahir 2900 gram, dimana berat minimal gizi baik pada usia 1 bulan 24 hari adalah 4120 gram dan berat badan minimal gizi kurang adalah 3620 gram. Setelah dilakukan insisi ulang pada jaringan sisa TT dan insisi LT pada By. R pelekatan mulut bayi pada payudara ibu menjadi lebih baik dan bisa menyusu optimal. Perawatan perbaikan gizi bayi dilakukan secara holistik dengan penggunaan SNS dengan dosis titrasi dan tetap menyusui semau bayi. Saat usia Bayi R memasuki 4 bulan, diberikan MPASI dini dengan tujuan untuk membantu meningkatkan status gizi bayi. Sesuai dengan rekomendasi WHO bahwa MPASI bisa diberikan mulai usia bayi 4-6 bulan.3,4 Diberikan pada usia 4 bulan apabila berat badan bayi tidak meningkat adekuat walaupun sudah menyusu dengan baik. Bayi R direkomendasikan untuk diberikan MPASI dini sesuai standar WHO dengan tujuan menurunkan dosis suplementasi dan meningkatkan berat badan bayi.3, 4 Bayi R mulai diberikan MPASI dini pada usia 4 bulan, kemudian dosis suplementasi pun berangsur turun dan kenaikan berat badan bayi naik dengan baik sehingga mencapai status gizi baik. Bayi telah disapih dari alat suplementasi di usia 5 bulan, saat ini hanya menyusu ke ibu dan makan, status gizi baik. KESIMPULAN Bayi dengan gizi buruk harus diberikan tatalaksana sejak dini dan secara holistik karena kekurangan gizi pada awal kehidupan sangat berpengaruh terhadap perkembangan otak dan fungsi organ tubuh di usia selanjutnya. Adanya tongue tie dan lip tie pada bayi menjadi penyulit untuk bisa mendapatkan ASI secara optimal dari ibu, sehingga diperlukan tindakan frenotomi untuk memperbaiki proses menyusu.2 Diperlukan juga suplementasi dengan tetap menyusu langsung pada payudara ibu agar bayi mendapat asupan ganda dari ASI dan SNS sehingga pertumbuhan bayi meningkat dengan baik dan supply ASI tetap terjaga.5 Saat usia 4 bulan dosis SNS diturunkan dan bayi mulai diberikan MPASI dini sesuai standar WHO dan melanjutkan menyusu langsung di payudara agar bayi mendapatkan gizi yang optimal dari ASI dan MPASI sehingga dapat segera mencapai status gizi baik. Hal ini dapat terlaksana dengan baik bila ibu yakin bahwa menyusu langsung di payudara adalah yang terbaik untuk ibu dan bayi, dan berada di keluarga dan fasilitas kesehatan yang mendukung proses menyusui. DAFTAR PUSTAKA World Health Organization. WHO Child Growth Standards: Weight-for-age. Geneva: WHO; 2006. Praborini A. Anti Stres Menyusui. Jakarta: Pustaka Bunda; 2020. World Health Organization. Guiding Principles for Complementary Feeding of the Breastfed Child. Geneva: WHO; 2003. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA). Jakarta: Direktorat Gizi Masyarakat; 2021. Coryllos E, Genna CW, Salloum AC. Congenital Tongue-tie and Its Impact on Breastfeeding. Section on Breastfeeding, American Academy of Pediatrics; 2004. Changes in Breastfeeding and of Breast before and after Babies’Surgeries for Ankyloglossia with Deviation of the Epiglottis and Larynx (ADEL) – Healthy Breastfeedin. Mukai, Susumu. Yamato: Health, 2016, Vol. 8. Academy of Breastfeeding Medicine Protocol Committee. ABM Clinical Protocol #1: Guidelines for Supplementation. Breastfeed Med. 2022;17(3):173–82.