Frenotomi Bertahap dan Pemberian Suplementasi pada Bayi dengan Slow Weight Gain (SWG) dan Pendekatan pada Ibu Bekerja Ditulis oleh: dr. Eno Yuniar – Dokter Laktasi, Yogyakarta KASUS Bayi S adalah seorang anak laki-laki, lahir pada tanggal 7 Juni 2025. Bayi S adalah anak pertama dari pasangan Ny. D dan Tn. R, lahir melalui persalinan normal di rumah sakit di daerah Depok. Bayi lahir cukup bulan pada usia 38 minggu, sesuai masa kehamilan dengan berat badan lahir 2765 gram dan panjang badan 46 cm. Awalnya Ny. D curiga ada tongue tie pada by. S karena ada keluhan menyusui, yaitu mulut bayi sering terlepas dari payudara ketika menyusu, bayi menyusu dalam durasi yang lama, bayi tampak tidak puas setelah menyusu, dan puting ibu terasa nyeri karena lecet. Bayi lebih sering menyusu pada payudara kanan saja karena ibu merasa puting kiri lebih pendek sehingga bayi kesulitan untuk menyusu. Saat usia 1 minggu, By. S mulai minum menggunakan botol dot berisi ASI perah (ASIP). Ny. D rutin perah per 3 jam sekali. By. S sesekali masih menyusu langsung pada Ny. D. Pada tanggal 13 Juni, saat by. S berusia 6 hari, Ny. D bertanya kepada dokter anak yg menangani By. S saat lahir dan dikatakan ada tongue tie. Ny. D dirujuk untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke dokter anak lain yang fokus di bagian laktasi di rumah sakit di Depok dengan diagnosa ankyloglossia. Tanggal 3 Juli 2025, saat by. S berusia 26 hari, Ny. D dan Tn. R bertemu dengan dokter anak konsultan laktasi di rumah sakit di Depok. Saat usia anak 26 hari, berat badan bayi 3795 gram. Status gizi bayi dikategorikan sebagai gizi baik (>-2 SD). Saat dilakukan anamnesis lebih lanjut diketahui bahwa bayi menyusu sering lepas-lepas, terdengar bunyi klik-klik, durasi menyusu yang lama, dan mudah tertidur. Selain itu, puting ibu juga terasa sakit saat menyusui. Saat diperiksa by. S ditemukan mempunyai tongue tie medial dan lip tie grade 3. Pada saat dilakukan observasi proses menyusu, bayi tampak kesulitan menyusu pada payudara. Produksi ASI ibu kesan normal. Dokter menjelaskan kepada orang tua untuk dilakukan tindakan pada by. S agar proses menyusui baik dan berat badan bayi bertambah optimal. Dokter menyarankan untuk dilakukan tindakan frenotomi secara bertahap, yaitu dimulai dari frenotomi tongue tie terlebih dahulu. Setelah dilakukan persetujuan, dokter melakukan tindakan frenotomi lingualis dan bayi langsung disusukan kembali pada payudara ibu. Setelah tindakan, by. S dirujuk ke poli laktasi untuk diajarkan cara melakukan senam lidah sebanyak 5 kali sehari secara mandiri di rumah dan diberikan gel lidah buaya pada luka bekas insisi. Ny. D dan By. S diajarkan cara melakukan skin-to-skin contact selama di rumah dan pemasangan alat bantu Supplemental Nursing System (SNS). SNS berisi ASIperah (ASIP) digunakan sebanyak 2 kali perhari dengan dosis 60 ml per sekali minum. Ny. D dan Tn. R diajarkan cara pemasangan dan perawatan SNS mandiri di rumah. Ny. D dan Tn. R adalah karyawan di salah satu perusahaan BUMN. Ny. D mendapatkan cuti melahirkan selama 3 bulan. Masa cuti melahirkan akan berakhir pada tanggal 27 Juli 2025 (sisa 24 hari lagi dari saat Ny. D datang ke dokter anak konsultan laktasi). Ny. D diberikan surat keterangan perpanjangan cuti oleh dokter anak selama 1 bulan karena kondisi bayi dan ibu saat ini belum stabil untuk menyusui. Ny. D dan By. S dijadwalkan untuk kontrol 1 hari kemudian. Kunjungan kedua, 1 hari setelah dilakukan frenotomi tongue tie, yaitu tanggal 4 Juli 2025 usia anak 27 hari, berat badan 3805 gram, terjadi kenaikan berat badan sebanyak 10 gram per hari. Status gizi anak dikategorikan sebagai gizi baik. Dokter menyarankan untuk dilakukan frenotomi selanjutnya pada lip tie. Setelah orang tua setuju, dokter melakukan tindakan frenotomi lip tie. Selanjutnya Ny. D dan By. S dirujuk kembali ke poli laktasi untuk diajarkan cara melakukan senam bibir sebanyak 5 kali sehari. Kontrol selanjutnya dijadwalkan pada tanggal 10 Juli 2025. Kunjungan ketiga, 7 hari setelah dilakukan frenotomi tongue tie dan 6 hari setelah dilakukan frenotomi lip tie, yaitu tanggal 10 Juli 2025, usia anak 1 bulan 3 hari, didapatkan berat badan 3875 gram. Terjadi kenaikan berat badan sebanyak 11,7 gram per hari. Status gizi anak dikategorikan sebagai gizi baik. Ny. D mengatakan bahwa bayi sudah bisa menyusu dengan baik meskipun tanpa menggunakan SNS. Selain itu, Ny. D juga merasa bahwa produksi ASI sudah meningkat. Frekuensi senam lidah dan bibir diturunkan dari 5 kali per hari menjadi 3 kali per hari. Penggunaan SNS dihentikan. Kontrol selanjutnya dijadwalkan 1 minggu kemudian yaitu pada tanggal 17 Juli 2025. Kunjungan keempat, 14 hari setelah dilakukan frenotomi tongue tie dan 13 hari setelah dilakukan frenotomi lip tie, yaitu tanggal 17 Juli 2025, usia anak 1 bulan 10 hari, didapatkan berat badan 4305 gram. Terjadi kenaikan berat badan sebanyak 61,4 gram per hari. Status gizi anak dikategorikan sebagai gizi baik. Frekuensi senam lidah dan bibir diturunkan dari 3 kali per hari menjadi 2 kali per hari. Ny. D dan Tn. R diberikan konsultasi khusus untuk persiapan masuk bekerja kembali, yaitu cara memerah ASI menggunakan tangan, cara pemberian ASI perah menggunakan gelas sloki oleh pengasuhselama ibu bekerja, dan lain-lain. Ny. D dan Tn. R sudah berencana jika Ny. D masuk kerja kembali, By. S akan dirawat oleh tante dari By. S (adik dari Ny. D). Tante dari By. S juga ikut berkonsultasi dan diajarkan langsung cara memberikan ASIP menggunakan gelas sloki. By. S bisa minum ASIP menggunakan gelas sloki sampai habis. DISKUSIMenyusui adalah hal yang alami, namun demikian terkadang ibu menemui banyak kesulitan selama perjalanan menyusui. Orang tua harus memiliki pemahaman yang mendalam mengenai menyusui baik secara teori maupun praktek. Untuk mendapatkan proses menyusui yang baik, badan bayi harus diposisikan dengan benar pada tubuh ibu dan mulut bayi mendapatkan pelekatan yang baik pada payudara. Bayi baru lahir dikatakan mendapatkan pelekatan yang baik di payudara jika dagu bayi menyentuh payudara, banyak bagian areola yang masuk ke dalam mulut bayi, bibir bayi terputar keluar atau dower, dan mulut bayi terbuka lebar sebesar 130-160 derajat. Selama menghisap, mulut bayi bekerja seperti vakum dengan tekanan negatif yang mengosongkan payudara. Tekanan negatif pada mulut bayi dipengaruhi oleh bibir yang terputar keluar, lidah bayi dapat terjulur keluar melewati gusi bawah, dan pipi bayi berbentuk cembung ketika menyusu. Jika vakum ini terbentuk dengan baik, hisapan akan baik, dan bayi akan mengosongkan payudara dengan optimal. Ibu akan merasa payudara menjadi lebih lembut dan tidak bengkak setelah menyusui. 1Faktor anatomi menjadi peran penting dalam proses menyusu bayi. Adanya masalah pada anatomi lidah maupun bibir akan menyulitkan bayi untuk mendapatkan ASI secara optimal, contohnya pada frenulum lidah atau bibir yang terlalu tebal dan kaku. Hal ini dikenal dengan istilah tongue tie dan lip tie.2 Tongue tie diketahui dapat menghalangi mulut bayi melekat dengan baik di payudara, sehingga menyebabkan nyeri puting, kesulitan menyusu, menghalangi laju pertumbuhan berat badan, dan pada beberapa kasus dapat mempengaruhi produksi ASI ibu. 3Frenotomi adalah tindakan medis untuk menghilangkan frenulum lidah dan bibir dengan cara digunting. Tindakan ini terbukti dapat menunjukkan perbaikan proses menyusui pada ibu dan bayi yang sebelumnya mengalami kesulitan menyusui dikarenakan adanya tongue tie. Frenotomi dapat membantu meningkatkan berat badan bayi dengan tongue tie yang menyusu saja pada ibunya.3Pada kasus ini, By. S ditemukan memiliki tongue tie medial dan lip tie grade 3. By. S juga mengalami kesulitan dalam mendapatkan pelekatan yang baik sehingga mulut bayi sering terlepas dari payudara ketika menyusu, bayi menyusu dalam durasi yang lama, bayi tampak tidak puas setelah menyusu, dan puting ibu terasa nyeri karena lecet. Keluhan tersebut terjadi karena pengaruh adanya tongue tie dan lip tie pada bayi. By. S dilakukan frenotomi secara bertahap, yaitu dimulai dari frenotomi tongue tie terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan frenotomi lip tie di hari selanjutnya. Hal ini dilakukan untuk mengurangi tingkat nyeri pada bayi.Bayi yang mengalami kesulitan menyusu dapat mengalami pertumbuhan laju berat badan yang lambat atau slow weight gain (SWG). Slow weight gain didefinisikan sebagai: (a) bayi usia kurang dari 2 minggu dengan penurunan berat badan lebih dari 10% dari berat badan lahir atau (b) bayi usia 2 minggu hingga 3 bulan dengan penambahan berat badan kurang dari 20 gram per hari.2Pada kasus ini, saat usia 26 hari ke 27 hari, By. S mengalami kenaikan berat badan 10 gram/hari atau kurang dari 20 gram/hari sehingga dikategorikan sebagai slow weight gain. Meskipun saat ini stasus gizi By. S adalah gizi baik, namun jika kondisi slow weight gain tidak ditatalaksana maka dapat terjadi kekurangan gizi yang parah atau berkepanjangan.Suplementasi adalah pemberian nutrisi tambahan pada bayi yang menyusu dengan menghubungkan alat pada payudara. Suplementasi dapat dilakukan dengan menggunakan alat Supplemental Nursing System (SNS). Suplementasi dapat dipertimbangkan sebagai salah satu tatalaksana pada kasus bayi dengan slow weight gain. SNS digunakan sampai status gizi anak mencapai gizi baik. Frekuensi atau dosis ASI donor atau susu formula yang diberikan melalui SNS akan diturunkan perlahan. Jika target status gizi sudah tercapai, maka penggunaan SNS bisa dihentikan dan bayi menyusu pada payudara saja.4Pada kasus ini, By. S menggunakan SNS berisi ASIP selama 7 hari. Saat kunjungan ketiga, didapatkan bayi sudah bisa menetek dengan baik tanpa SNS sehingga penggunaan SNS dihentikan. Saat kunjungan keempat, bayi mengalami kenaikan berat badan sebesar 61,4 gr/hari dengan menetek saja tanpa menggunakan SNS sehingga membuktikan bahwa bayi sudah dapat menetek dengan efektif dan frenotomi berhasil.Di Indonesia, ibu bekerja berhak mendapatkan perpanjangan cuti melahirkan jika ada kondisi khusus. Hal ini tercantum dalam UU No. 4 Tahun 2024 tentang Kesejahteraan Ibu dan Anak Pada Fase Seribu Hari Pertama Kehidupan, yaitu ibu yang melahirkan berhak mendapatkan cuti melahirkan selama tiga bulan, dengan kemungkinan perpanjangan hingga enam bulan dalam kondisi tertentu. Cuti tambahan dapat diberikan jika ibu mengalami masalah kesehatan, gangguan kesehatan, atau komplikasi pasca persalinan, atau jika anak yang dilahirkan mengalami masalah kesehatan.5Pada kasus ini, dokter memberikan surat keterangan untuk memperpanjang cuti Ny. D karena By. S mengalami masalah kesehatan, yaitu pertambahan berat badan per hari yang lambat atau kurang optimal. Saat nanti ibu mulai masuk bekerja, pengasuh bayi bisa memberikan ASIP menggunakan sendok, gelas sloki, cupfeeder, atau spoonfeeder. Hal ini dilakukan agar bayi tidak menolak menyusu pada payudara ibu karena sudah terbiasa menggunakan media dot yang lebih mudah. Suami dan pengasuh bayi juga harus belajar mengenai manajemen ASI perah sehingga suami dan pengasuh bayi harus diajak untuk berkonsultasi langsung dengan dokter laktasi. KESIMPULAN Menyusui bukan hanya tugas seorang ibu saja. Peran keluarga, terutama suami, juga sangat penting untuk mendukung keberhasilan menyusui. Suami harus berperan aktif dalam melakukan pengasuhan anak dan membantu proses menyusui ibu. Tenaga kesehatan juga harus memiliki kompetensi yang memadai untuk membantu mengatasi permasalahan ibu menyusui, termasuk tatalaksana tongue tie dan lip tie, cara suplementasi menggunakan SNS, dan lain-lain. Selain itu, negara juga mengambil peran dalam membantu keberhasilan menyusui seorang ibu yaitu salah satunya dengan menjamin adanya kepastian hukum tentang aturan cuti melahirkan dan implementasinya. Pihak pemberi kerja juga harus mengikuti peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, salah satunya mengenai kesejahteraan ibu dan anak. Dengan demikian, menyusui bukanlah menjadi sebuah beban bagi seorang ibu melainkan tanggung jawab bersama demi menciptakan generasi bangsa yang maju dan berdaya. DAFTAR PUSTAKA Praborini, A. Wulandari, R. Nafiriana, O. 2023. Treatment modalities in breastfeeding babies with marasmus and kwashiorkor associated with ankyloglossia. Indonesian Journal of Perinatology (Perinasia) 2023, Volume 4, Number1: 1-6. Praborini, A. Setiani, A. Munandar, A. Wulandari, R. 2018. A Holistic Supplementation Regimen for Tongue-Tied Babies With Slow Weight Gain and Failure to Thrive. Clinical Lactation, 9(2). United States Lactation Consultant Association. Koento, T. Tamin, S. Hutahuruk, S. Praborini, A. Amouzegar, E. 2022.The Frenotomy Efficacy in Gaining Weight of Exclusively Breastfed Infant with Ankyloglossia. Indian Journal of Otology 28(2):p 116-118, Apr–Jun 2022. The Academy of Breastfeeding Medicine Protocol Committee. (2009). ABM clinical protocol #3: Hospital guidelines for the use of supplementary feedings in the healthy term breastfed neonate, Revised 2009. Breastfeeding Medicine, 4(3). Republik Indonesia. 2024. Undang-undang Nomor 24 Tahun 2024 tentang Kesejahteraan Ibu dan Anak Pada Fase Seribu Hari Pertama Kehidupan.