SIMPLE FRENOTOMY DAN SUPLEMENTASI PADA BAYI YANG MENGALAMI KENAIKAN BERAT BADAN LAMBAT

PRABORINI LACTATION TEAM

ON MARCH 23, 2023

Penulis: dr. Mellati Zastia Putri

JAKARTA SELATAN

KASUS

By. AA merupakan anak pertama dari pasangan Ny. M dan Tn. A. Ibu sebagai seorang Bidan dan ayah sebagai anggota TNI AL. By. AA lahir dengan persalinan normal pada tanggal 17 Desember 2022 dengan usia kehamilan 39 minggu dibantu oleh Bidan dengan berat badan lahir 3000 gram. Setelah dilahirkan By. AA diletakkan diatas badan Ny. M kurang lebih selama 30 menit, setelah itu bayi mencari puting dan segera menyusu.

Di Usia 3 hari By. AA dibawa kontrol ke Bidan dengan keluhan wajah tampak kuning, kemudian berat badan ditimbang turun menjadi 2800 gram. Ny. M khawatir ASI tidak cukup sehingga melakukan pumping dan memberikan ASI perah menggunakan botol dot hingga kuning di wajah bayi menghilang di usia 1 minggu. Setelah itu Ny. M berhenti pumping dan melanjutkan menyusui langsung di payudara. Selama menyusui Ny. M mengalami nyeri dan lecet pada puting, bayi menyusu sangat lama dan seperti tidak puas setelah menyusu. Saat dibawa ke Bidan di usia 1 bulan, berat badan ditimbang naik 1000 gram menjadi 3800 gram. Di Usia 2 bulan, By. AA dibawa kembali ke Bidan dan didapatkan berat badan naik hanya 300 gram menjadi 4100 gram. Oleh Bidan dicurigai adanya tongue tie kemudian disarankan untuk diperiksakan ke dokter spesialis anak konsultan laktasi.

Kunjungan pertama tanggal 21 Februari 2023, Ny. M datang ke Poli dokter spesialis anak konsultan laktasi ke RS swasta di Depok bersama suami dan By.AA. Ibu mengeluhkan bahwa bayi menyusu sangat lama hingga berjam-jam, terkesan tidak puas setelah menyusu, dan berat badan naik tidak sesuai. Selain itu puting Ny. M terasa sakit selama menyusui dan sering mengalami puting lecet. Saat ini By. AA berusia 2 bulan 6 hari dengan BB bayi 3925 gram, status gizi bayi termasuk dalam kategori status gizi kurang (<-2SD) mendekati status gizi buruk (<-3SD), kenaikan BB 14,01 gr/hari dari BB lahir bayi, sehingga termasuk dalam kategori kenaikan berat badan lambat (Slow Weight Gain).

Saat dilakukan pemeriksaan fisik oleh dokter ditemukan bayi memiliki tongue tie medial dan lip tie grade 4, bayi tidak memiliki refleks hisap yang baik. Payudara ibu ditemukan dalam batas normal dan supply ASI ibu juga dalam batas normal. Dari observasi menyusui dengan posisi cradle hold, bayi cenderung menyusu di puting dan tidak dapat melekat ke payudara dengan baik.

Setelah dijelaskan mengenai perintah menyusui sesuai anjuran agama dan WHO, keinginan Ny. M untuk menyusui hingga 2 tahun semakin kuat dan hal ini didukung oleh Tn.A. DSA menjelaskan tongue tie dan lip tie menjadi penyebab bayi sulit menyusu pada payudara ibu, sehingga bayi mengalami kenaikan berat badan lambat. DSA menjelaskan prosedur tindakan simple frenotomy kepada orang tua By. AA dan kemudian orang tua menyetujui untuk dilakukan tindakan tersebut.

Setelah dilakukan tindakan simple frenotomy oleh DSA di Poli anak konsultan laktasi, bayi langsung menyusu di payudara ibu. Perdarahan bekas luka frenotomy langsung teratasi sesaat setelah menyusu. Ibu merasa bayi menyusu lebih dalam, lebih kuat dan lembut, serta tidak merasakan nyeri di puting seperti sebelumnya. Dokter memperagakan cara senam lidah dan bibir untuk dilakukan 5 kali sehari oleh orang tua kepada bayi selama 3 minggu ke depan. Orang tua diminta untuk rutin melakukan tummy time pada bayi dan mengoleskan gel tanaman lidah buaya tiga kali sehari di bawah lidah dan bibir yang telah dilakukan tindakan frenotomy. DSA menyarankan untuk dipasangkan alat suplementasi yaitu SNS (Supplemental Nursing System) dan diajarkan tata cara pemasangan dan sterilisasi SNS. Suplementasi SNS berisi susu formula sebanyak  6×60 cc, DSA juga memberikan piracetam 2×40 mg untuk bayi dan laktogog 2×2 untuk ibu, serta menjadwalkan untuk kontrol kembali tanggal 23 Februari 2023.

Kunjungan kedua, 2 hari setelah dilakukan tindakan simple frenotomy, Ny. M datang untuk kontrol pada tanggal 23 Februari 2022, By. AA saat ini berusia 2 bulan 8 hari dengan berat badan naik 100 gr/hari menjadi 4125 gram. Saat ini bayi masih dalam status gizi kurang (<-2SD). Hasil pemeriksaan luka post tindakan frenotomy baik, tidak terdapat sisa jaringan. Pelekatan menyusui semakin baik dan ASI ibu tampak banyak. DSA menyarankan untuk melanjutkan suplementasi SNS 6×60 cc berisi susu formula, senam lidah dan bibir 5 kali sehari, laktogog 2×2 untuk ibu dan piracetam 2×40 mg untuk bayi, serta menjadwalkan kontrol kembali pada tanggal 2 Maret 2023.

Kunjungan ketiga pada tanggal 2 Maret 2023, saat ini bayi berusia 2 bulan 15 hari dengan berat badan naik 43,5 gr/hari menjadi 4430 gram. Status gizi bayi masih dalam kategori gizi kurang (<-2SD). Ibu mengatakan bayi menyusu semakin baik dan ASI semakin banyak. DSA menyarankan untuk melanjutkan suplementasi SNS 6×60 cc, senam lidah dikurangi menjadi 3 kali sehari, dan memberikan piracetam 2x45mg untuk bayi, serta menjadwalkan kontrol tanggal 23 Maret 2023.

Kunjungan keempat pada tanggal 23 Maret 2023, saat ini bayi berusia 3 bulan 6 hari, berat badan bayi naik 40 gr/hari menjadi 5270 gram. Status gizi bayi meningkat menjadi kategori gizi baik (>-2SD). DSA menyarankan untuk menurunkan dosis penggunaan SNS menjadi 6×30 cc karena kenaikan BB bayi baik, dan menggunakan selang ukuran medium berwarna putih, pemberian piracetam pada bayi dihentikan, senam lidah dihentikan, serta menjadwalkan untuk kontrol kembali tanggal 6 April 2023.

Kunjungan kelima pada tanggal 13 April 2023, bayi berusia 3 bulan 27 hari dengan kenaikan berat badan 27,6 gr/hari menjadi 5850 gr. Status gizi bayi masih berada dalam kategori gizi baik (>-2SD). Tujuan suplementasi berhasil, sehingga DSA menyarankan untuk menghentikan penggunaan SNS dan melanjutkan menyusui bayi on demand, serta menjadwalkan kontrol kembali tanggal 2 Mei 2023.

Pasien datang kembali pada tanggal 12 Mei 2023, saat ini bayi berusia 4 bulan 26 hari dengan kenaikan berat badan 26 gr/hari menjadi 6605 gr. Status gizi bayi bertahan dalam kategori gizi baik (>-1SD). DSA menyarankan untuk melanjutkan menyusui dan menunda pemberian MPASI hingga usia 6 bulan, serta menganjurkan pemberian suplemen zat besi dan vitamin D, namun tidak diberikan oleh Ibu karena terkendala biaya.

Kontrol terakhir tanggal 4 Juli 2023, By. AA telah berusia 6 bulan 19 hari dengan kenaikan berat badan 16,5 gr/hari menjadi 7465 gr. Status gizi tetap dalam kategori gizi baik (>-1SD). Saat ini By. AA sudah diberikan MPASI sejak berusia 6 bulan dan tetap mendapatkan ASI dengan menyusu langsung di payudara semau bayi. DSA menyarankan untuk melanjutkan menyusui hingga 2 tahun disertai dengan pemberian MPASI yang adekuat, dan tetap rutin memantau pertumbuhan dan perkembangan bayi setiap bulannya.

Gambar 1. Grafik Pertumbuhan Berat Badan terhadap Usia (BB/U) Bayi. AA (WHO)

            

DISKUSI

Ny. M sangat paham mengenai manfaat ASI dan menyusui secara langsung untuk dirinya dan anaknya sehingga Ny. M memiliki tekad yang kuat untuk bisa menyusui secara eksklusif, bahkan hingga By. AA berusia 2 tahun. Selama masa terapi Ny. M memiliki semangat yang positif untuk dapat terus menyusui By. AA. Ny. M mendapatkan dukungan penuh dari suami dan keluarga sehingga Ny. M merasa terbantu dalam menjalani seluruh rangkaian terapi.

Pada awal kelahiran, Ny. M merasa By. AA menyusu sangat lama hingga berjam-jam, setelah menyusu bayi tampak tidak puas dan gelisah. Ny. M juga merasakan nyeri selama menyusui hingga mengalami puting lecet berulang. Di usia 3 hari By. AA tampak kuning diwajah sehingga Ny. M berpikir bahwa ASI tidak cukup sehingga melakukan pumping dan memberikan ASI perah menggunakan botol dot hingga usia bayi 1 minggu dan kuning diwajah bayi menghilang, setelah itu dilanjutkan dengan menyusui langsung di payudara.

Pada kasus ini, kunjungan awal Ibu merasa bayi menyusu sangat lama, menyusui terasa sakit hingga mengalami puting lecet, dan bayi mengalami kenaikan BB yang lambat (Slow Weight Gain) sehingga status gizi berada dalam kategori gizi kurang mendekati gizi buruk. Disebut kenaikan berat badan lambat (Slow Weight Gain) apabila bayi berusia kurang dari 2 minggu mengalami penurunan berat badan lebih dari 10% berat badan lahir, atau kenaikan berat badan bayi berusia 2 minggu hingga 3 bulan kurang dari 20 gr/hari.1 Hal ini diakibatkan adanya Tongue Tie medial dan Lip Tie grade 4 pada By. AA, sehingga proses menyusui menjadi tidak efektif dan menyakitkan bagi Ibu.

Nutrisi anak dalam 2 tahun pertama kehidupan sangat penting, dengan nutrisi yang optimal dikaitkan dengan penurunan angka morbiditas dan mortilitas jangka panjang dan pendek, penurunan risiko penyakit kronis, dan perkembangan yang lebih baik secara keseluruhan. Gizi kurang diperkirakan terkait dengan 2,7 juta kematian anak setiap tahun, terhitung 45% dari semua kematian anak. Oleh karena itu, pemberian makan bayi dan anak merupakan hal yang penting untuk meningkatkan kelangsungan hidup anak dan mendorong pertumbuhan dan perkembangan yang sehat.4

Kondisi Ankyloglossia, yaitu  tongue tie (tali lidah) dan lip tie (tali bibir) pada By. AA dapat mengganggu pelekatan mulut bayi ke payudara sehingga menyebabkan masalah seperti puting lecet, payudara bengkak, supply ASI sedikit, sehingga bayi tidak mendapatkan ASI yang adekuat dan menyebabkan kenaikan berat badan yang lambat bahkan gagal tumbuh.1 Ankyloglossia yang tidak dilakukan tindakan akan memberikan pengaruh pada gangguan menyusu, gangguan menelan (makan) dan gangguan bicara.2 Sehingga semakin awal frenotomy dilakukan akan memberikan outcome yang lebih baik. 

Frenotomy merupakan tindakan melakukan sayatan sederhana pada tali lidah atau tali bibir atas dengan menggunakan gunting steril. Beberapa penelitian telah menunjukkan peningkatan kualitas menyusu pada bayi dengan tongue tie dan lip tie yang dilakukan frenotomy.1,2 Pelekatan menyusu bayi pada ibu akan menjadi lebih baik sehingga transfer ASI lebih optimal, Ibu merasa lebih nyaman saat menyusui, dan supply ASI pada payudara Ibu meningkat.2Setelah dilakukan frenotomy, dianjurkan untuk melakukan terapi kombinasi pada bayi dengan masalah status gizi dan ibu yang mengalami supply ASI rendah berupa suplementasi dengan lactation aid, domperidone dan akupuntur.1Suplementasi merupakan pemberian nutrisi tambahan pada bayi selain yang diperoleh dari menyusu langsung di payudara ibu. Suplementasi dapat berisi ASI perah, ASI donor, atau pengganti ASI (susu formula). Pemberian suplementasi diturunkan secara bertahap hingga dihentikan apabila supply ASI semakin meningkat.1

Setelah dilakukan frenotomy pada tongue tie dan lip tie By. AA, pelekatan mulut bayi pada payudara ibu menjadi lebih baik dan bisa menyusu optimal. Pelekatan menyusu efektif ditandai dengan mulut bayi yang terbuka lebar, bibir terlipat keluar, sebagian besar areola terutama bagian bawah masuk ke dalam mulut bayi, dagu bayi menempel ke payudara ibu, pipi bayi membulat, tidak terdengar bunyi berdecap dan ibu tidak merasa sakit selama menyusui.3 By. AA diberikan suplementasi menggunakan SNS dengan tetap menyusu pada payudara ibu dengan tujuan supply ASI meningkat dan membantu meningkatkan status gizi bayi. Di kunjungan keempat, status gizi bayi meningkat dari gizi kurang (<-2SD) menjadi gizi baik (>-2SD), bayi dapat menyusu dengan baik disertai ASI yang semakin banyak, sehingga dosis suplementasi diturunkan.

Saat kontrol selanjutnya di usia bayi 3 bulan 27 hari, berat badan By.AA meningkat dengan baik dan status gizi menetap dalam kategori gizi baik. Pada kasus ini tujuan pemberian suplementasi tercapai dengan meningkatnya supply ASI disertai status gizi bayi yang meningkat menjadi gizi baik, sehingga DSA menghentikan suplementasi dan menyarankan Ibu untuk melanjutkan menyusui langsung di payudara serta menunda pemberian MPASI hingga usia bayi 6 bulan. Sesuai dengan rekomendasi WHO, MPASI dapat diberikan pada bayi usia 4-6 bulan, diberikan pada usia 4 bulan apabila berat badan bayi tidak meningkat adekuat walaupun sudah menyusu dengan baik.5 Dikarenakan berat badan bayi meningkat dengan baik dan status gizi bayi baik dengan hanya menyusu langsung di payudara Ibu, maka pemberian MPASI dapat ditunda hingga usia bayi 6 bulan. WHO dan IDAI menganjurkan, MPASI dibuat dengan bahan-bahan lokal yang mudah didapat dan bervariasi sehingga dapat memenuhi kebutuhan nutrisi makronutrien dan mikronutrien anak, serta memperhatikan kebersihan dan keamanan bahan-bahan yang digunakan. MPASI juga sebaiknya dibuat dengan menggunakan peralatan sederhana seperti panci, ulekan, saringan dan parutan lalu diberikan pada bayi tepat waktu, tepat jumlah dan frekuensi, menyesuaikan tekstur dengan usia, serta diberikan secara rensponsif dengan lingkungan yang menyenangkan dan menghindari distraksi.5,6 Pada kasus ini berat badan bayi meningkat baik dengan pemberian MPASI yang adekuat oleh Ibu sejak usia bayi 6 bulan serta tetap menyusu langsung di payudara semau bayi.

KESIMPULAN

Bayi dengan gizi kurang dan kenaikan berat badan lambat (Slow Weight Gain) harus diberikan tatalaksana sejak dini, karena kekurangan gizi terutama pada 2 tahun pertama kehidupan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak di usia selanjutnya. Adanya Ankyloglossia pada bayi menjadi penyulit bayi mendapatkan ASI secara optimal dari ibu, sehingga diperlukan tindakan frenotomy untuk memperbaiki proses menyusu. Selain itu diperlukan juga pemberian suplementasi dengan tetap menyusu langsung pada payudara ibu agar bayi mendapat asupan ganda dari ASI dan SNS, sehingga pertumbuhan bayi meningkat dengan baik dan supply ASI tetap terjaga. Ketika status gizi bayi telah meningkat menjadi gizi baik disertai supply ASI ibu yang meningkat, dosis SNS diturunkan bertahap hingga bayi dapat menyusu langsung di payudara tanpa menggunakan SNS. Hal ini dapat terlaksana dengan baik apabila ibu yakin bahwa ASI dan menyusui adalah yang terbaik untuk ibu dan bayi, serta didampingi oleh keluarga dan fasilitas kesehatan yang mendukung. Pada kasus ini, setelah frenotomy dan diberikan suplementasi, bayi dapat menyusu langsung di payudara dengan baik, status gizi bayi meningkat dari gizi kurang menjadi gizi baik dan diharapkan Ibu dapat menyusui bayi dengan nyaman hingga berusia 2 tahun disertai dengan pemberian MPASI yang adekuat sejak usia 6 bulan.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Praborini A, et al. 2018. A Holistic Supplementation Regimen for Tongue-Tied Babies With Slow Weight Gain and Failure to Thrive. Clinical Lactation Vol 9 Issue 2, DOI: 10.1891/2158-0782.9.2.78.
  2. Forlenza, et al, Ankyloglossia, Exclusive Breastfeeding and Failure to Thrive, 2010.
  3. Suradi R, 2013. Posisi dan Pelekatan Menyusui dan Menyusu yang Benar. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/posisi-dan-perlekatan-menyusui-dan-menyusu-yang-benar
  4. World Health Organization. 2016. Infant and young child feeding. Retrieved from http://www.wpro.who.int/nutrition_wpr/publications/infantchildfeeding.pdf
  5. World Health Organization. 2000. Complementary feeding family foods for breastfed children. Retrieved from https://www.who.int/publications/i/item/complementary-feeding-family-foods-for-breastfed-children
  6. IDAI. 2015. Rekomendasi Dokter Anak Indonesia, Rekomendasi Praktik Pemberian Makan Berbasis Bukti pada Bayi dan Batita di Indonesia Untuk Mencegah Malnutrisi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.