Frenotomy, Supplementasi dan MPASI Dini pada Bayi Gizi Kurang Ditulis oleh: dr. Dira Firzanti. – Dokter Laktasi, Bekasi. Bayi RC adalah anak ketiga dari pasangan Ny. S dan Tn. I, bayi perempuan yang lahir secara normal di usia kehamilan 37-38 minggu dibantu oleh bidan di Puskesmas Beji, Depok, Jawa Barat pada tanggal 10 September 2022. By. RC merupakan bayi cukup bulan (NCB), sesuai masa kehamilan (SMK) dengan berat lahir 3000 gram dan panjang 48 cm. Bayi lahir dengan menangis kuat dan langsung dilakukan IMD selama 20-30menit di ruang bersalin, kemudian Ibu langsung di rujuk ke RS karena plasenta belum turun. Selama Ibu dirawat di RS, bayi sempat diberi susu formula dalam botol oleh kakak Tn. I karena bayi terpisah dengan Ibunya. Ibu dirawat selama 24 jam. Setelah pulang kerumah bayi menyusu langsung di payudara tapi Ibu merasa ASI keluar sedikit-sedikit. Saat menyusui Ibu merasa sakit pada payudara kiri, tapi dikarenakan bayi adalah anak ketiganya, Ny. S merasa tidak perlu mencari tahu penyebab dan pertolongan. Selama kehamilan Ibu rajin memeriksakan kehamilannya di bidan Puskesmas dan mendapat edukasi laktasi selama kehamilan. Ibu memiliki 3 orang anak. Anak pertama 6 tahun 9 bulan, laki-laki menyusu selama 2 tahun 4 bulan, anak kedua laki-laki menyusu selama 2 tahun. Ibu berkeinginan kuat agar anak ketiganya juga mendapatkan ASI selama 2 tahun. Ibu tidak bekerja dan Ayah bekerja di restoran. Ibu tidak memiliki pengasuh ataupun asisten rumah tangga dan mengurus sendiri bayi dan anak-anaknya di rumah. Kontrol setelah lahir ke Puskesmas saat usia 1 hari untuk diberikan imunisasi pertama, dan pada hari ke 5 Ibu membawa by. RC untuk kontrol ke karena bayi tampak kuning. Saat dilakukan pengukuran, berat badan bayi 3000 gram dan saran dari bidan bayi lebih sering disusui dan dijemur pagi hari. Pada 30 September 2022, Ibu membawa by. RC untuk kontrol ke DSA di Lembaga Kesehatan Cuma-cuma (LKC) Dompet Dhuafa untuk mendapatkan imunisasi di usia 18 hari dengan berat badan 3333 gram. Ibu mengeluhkan selama menyusui bayi sering lepas-lepas, kedua payudara bengkak dan sakit, Ibu demam selama 4 hari dan puting kiri Ibu sempat berdarah. Ibu meminum obat warung Paracetamol 3x sehari 1 tablet selama 7 hari, dan Ibu memompa payudara yang sakit. Ibu juga mengeluh BAK bayi sedikit dan bayi kuning. Di Poli DSA LKC Ibu bertemu dengan dokter Spesialis Anak IBCLC dan dilakukan tindakan double frenotomy karena didapatkan Tongue Tie Submucosa dan liptie gr 4. Setelah tindakan, bayi langsung menyusu dan Ibu diajarkan senam lidah dan senam bibir untuk dilakukan setiap hari di rumah sebanyak 5 kali per hari. Menyusu semau bayi, siang dan malam. Dan Ibu dilarang memompa payudara. Ibu datang kontrol menemui DSA konsultan laktasi yang sama di RSPC pada tanggal 5 Oktober 2022, saat bayi berusia 23 hari, berat badan bayi 3275 gram. Ibu merasa menetek lebih baik dan tidak sakit. Hisapan bayi pada payudara terasa dalam dan banyak. Ibu merasa produksi ASI banyak tetapi dalam beberapa hari, frekuensi bayi menyusunya berkurang,dan Ibu mengeluh BAK bayi sedikit-sedikit dan lebih sering rewel saat malam hari. Pada pemeriksaan fisik ditemukan bayi tidak kuning, tetapi karena berat badan bayi tidak ada peningkatan, turun 58 gram dalam 7 hari maka DSA menyarankan penambahan supplementasi penggunaan SNS (Supplemental Nursing System) berisi berisi susu formula dengan protein terhidrolisa partial sebanyak 5 x 60 cc/hari. Selebihnya menyusu langsung tanpa SNS dengan frekuensi semau bayi. 10 Oktober 2022 pada usia bayi 1 bulan 8 hari Ibu membawa bayi kontrol ke DSA konsultan laktasi yang sama di RSPD karena posisi RS lebih dekat dari tempat tinggalnya. Ibu mengaku lupa salah satu gerakan senam bibir. Berat badan bayi naik 6,3 gram/hari menjadi 3370 gram. Status gizi bayi masuk dalam status gizi kurang (BB/U –2SD). Pada pemeriksaan fisik didapatkan reattachment pada bibir bagian atas. Selanjutnya dilakukan re-frenotomy liptie. Ibu disarankan melanjutkan penggunaan SNS dengan jumlah yang sama. Ibu dirujuk ke poli laktasi. Dokter laktasi mengajarkan posisi cross cradlle kiri juga menganjurkan agar bayi sering tummy time. Senam bibir dilakukan 3x/hari agar tali bibir tidak menyatu kembali, dan susui semau bayi dan gunakan SNS 5 x 45 cc perharinya. Tanggal 28 Oktober 2022, usia bayi 1 bulan 16 hari, berat badan naik 280 gram, 35gram/hari menjadi 3650 gram, dengan status gizi kurang (BB/U –2SD). Bayi kontrol ke poli DSA konsultan laktasi kemudian didapatkan luka post frenotomy baik, ASI Ibu banyak, bayi melekat baik, dan disarankan untuk tetap melanjutkan SNS dititrasi menjadi 5 x 30-45 cc perhari dan menggunakan 1 selang SNS saja. Susui semau bayi dan disarankan kontrol 1 minggu selanjutnya. Pada tanggal 4 November 2022 Ny. S dan by. RC usia 1bulan 23 hari kembali kontrol. Dari pemeriksaan didapatkan kenaikan berat badan bayi 10 gram per hari. Naik 70 gram dalam 7 hari menjadi 3720 gram. Berdasarkan kurva pertumbuhan standar menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), berat badan by RC menunjukkan slow weight gain dengan gizi kurang (BB/U < -2SD). Menurut informasi Ibu pemberian susu pada SNS kadang tidak habis dalam 60 cc, jadi ibu mengurangi menjadi 45 cc. DSA konsultan laktasi menyarankan senam stop, SNS tetap menjadi 5 x 60cc perhari. Bayi disarankan kontrol 1 minggu selanjutnya. 17 November 2022 di usia 2 bulan 6 hari dengan berat badan 3765 gram terdapat peningkatan berat 3,5 gram/hari. Status gizi bayi masih masuk gizi kurang (BB/U < -2SD). By. RC tetap disusui semau bayi dan menggunakan SNS dengan dosis 5 x 60cc perharinya. Dan diberikan Piracetam 2 x 40mg perhari. Kunjungan berikutnya tanggal 1 Desember 2022, usia bayi 2 bulan 20 hari. Berat badan bayi 3930 gram, naik 11,8 gram/hari, sebanyak 165 gram dari kunjungan sebelumnya. Status gizi bayi masih gizi kurang (BB/U < -2SD). Menurut informasi Ibu, by. RC memberikan ASI donor dalam SNSnya karena mengeluh bayinya lebih cepat batuk pilek saat menggunakan susu formula. Pada pemeriksaan ASI ibu banyak dan DSA konsultan laktasi menyarankan menaikkan penggunaan SNS menjadi 6 x 60cc perharinya saat menggunakan ASI donor. Pulang kontrol di hari yg sama Ny. S membawa by RC ke UGD RS lain karena by RC terlihat sesak dan dilakukan penanganan dengan nebulizer. Tanggal 3 Desember 2022 bayi sempat sesak lagi dan sempat di nebu di klinik. Keesokan hari 4 Desember 2022 Karena tidak ada ruang PICU keesokan harinya by. RC dirujuk ke RS lain dan di rawat selama 1 hari dengan diagnosa Bronchiolitis. By. RC kembali kontrol pada tanggal 10 Januari 2023 pada usia 4 bulan. Berat badan by RC 4085 gram, naik 17,8 gram/hari. Status gizi bayi menjadi berada di gizi buruk (BB/U < -3SD). Bayi disarankan MPASI Dini, menggunaan SNS diturunkan menjadi 4 x 60cc perhari, Piracetam tetap diberikan dengan jumlah yang sama. Saat disarankan untuk MPASI Dini perasaan Ny. S sempat khawatir, tapi setelah dijelaskan dan diajarkan oleh dokter laktasi Ibu merasa lega dan tidak khawatir lagi. Tanggal 31 Januari 2023, pada usia 4 bulan 21 hari, by. RC kontrol didapatkan berat 5150 gram, terdapat peningkatan berat badan 50 gram/hari, status gizi masuk ke gizi kurang (BB/U -2SD). MPASI bayi dilanjutkan, Piracetam diberikan 2 x 50mg perhari, SNS diturunkan dosisnya menjadi 4 x 30cc perharinya. Kontrol selanjutnya tanggal 21 Februari 2023 pada usia 5 bulan 12 hari. Berat by RC mengalami peningkatan 51 gram/hari menjadi 6230 gram. Status gizi bayi masih gizi kurang (BB/U -2SD) kurang 30 gram dari gizi baik. ASI Ibu banyak, SNS Stop. Pemberian suplementasi zat besi, Ibu tetap meneteki semau bayi dan MPASI lanjutkan. Kemudian By. RC kontrol pada tanggal 9 Maret 2023 pada usia 6 bulan 28 hari. By.RC mengalami peningkatan berat badan sebanyak 27,5 gram/hari menjadi 6670 gram dari berat kontrol sebelumnya. Berdasarkan kurva pertumbuhan standar menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), berat badan by RC masuk kepada status gizi baik (BB/U -1 SD). Ibu tetap disarankan mempertahankan pemberian ASI dan MPASI adekuat kepada by. RC. Tabel 1. Pertumbuhan Berat Badan dan Status Gizi Pada Bayi RC Gambar 1. Grafik Pertumbuhan Berat Badan terhadap Usia (BB/U) Bayi RC (WHO) DISKUSI Apa itu Frenotomy? Prosedur ini sudah ada sejak abad ke-18, ketika bidan membelah frenulum dengan alat sederhana dan merupakan praktik umum yang biasa dilakukan bidan. Penulis buku-buku kedokteran saat itu juga mulai merekomendasikannya untuk bayi dengan kesulitan menyusui. Masih ada kontroversi mengenai kapan frenotomi diindikasikan, tetapi tampaknya masuk akal jika semua dokter yang merawat bayi baru lahir terampil dalam melakukan prosedur sederhana ini. Bila diindikasikan, frenotomi pada periode bayi baru lahir dapat dengan cepat memperbaiki “pelekatan yang buruk” pada payudara, dan memperpanjang kemampuan dan keinginan Ibu untuk menyusui. 1 Karena dapat mempengaruhi perlekatan dan mengganggu proses menyusui, frenotomy berperan besar dalam kelangsungan masa pemberian ASI, karena kita tahu bahwa; 1. ASI adalah nutrisi terbaik bagi bayi, dan ASI tidak tergantikan. 2. Menyusui dapat membantu melindungi bayi dari beberapa penyakit dan penyakit jangka pendek dan jangka panjang. 3. ASI berbagi antibodi dari ibu ke bayinya. 4. Ibu dapat menyusui kapan saja dan dimana saja. 5. Menyusui dapat mengurangi risiko ibu terkena kanker payudara dan ovarium, diabetes tipe 2, dan tekanan darah tinggi.2 Mengapa ASI dikatakan nutrisi terbaik? Karena ASI disebut sebagai nutrisi sehat. Dibandingkan dengan susu formula, nutrisi dalam ASI lebih baik diserap dan digunakan oleh bayi. Ini termasuk gula (karbohidrat) dan protein. ASI memiliki nutrisi yang paling baik untuk pertumbuhan otak dan perkembangan sistem saraf bayi. Studi pada bayi yang disusui telah menemukan bahwa mereka lebih baik dalam tes kecerdasan ketika mereka bertambah tua. Mata bayi yang disusui juga bekerja lebih baik. Ini sebagian besar karena jenis lemak tertentu dalam ASI. ASI juga bisa mencegah infeksi. ASI memiliki banyak faktor untuk melawan penyakit. Mereka membantu mencegah infeksi ringan hingga berat dan rawat inap.3 KESIMPULAN Kesadaran penuh akan pentingnya ASI dalam perkembangan anak sangat disadari oleh Ny.S oleh karena itu keinginan yang kuat dalam pemberian ASI untuk by.RC sangatlah patut diperjuangkan. Permasalahan dari awal kelahiran tidak menyurutkan keinginan Ny.S untuk mengganti pemberian ASI dengan meneteki langsung. Walau dukungan keluarga berpengaruh besar, tekad dari Ny.S untuk memberikan ASI sangatlah kuat sehingga kesulitan2 selama terapi seakan tidak sulit dilaluinya. Pada prosesnya panjang perjalanan meneteki by.RC dirasakan tidak mudah, sejak awal payudara Ibu bengkak dan puting Ibu sempat berdarah. Penanganan cepat frenotomy pada Ankyloglossia by.RC di bulan awal kelahiran berperan besar dalam perjalanan pemberian ASI dan tumbuh kembangnya. Keberhasilan perbaikan status gizi pada by.RC dipengaruhi oleh keinginan kuat Ibu untuk menyusui anak ketiganya, peranan keluarga untuk membantu dan mendukung Ibu juga mempengaruhi tekad Ibu untuk menyusui. Kesabaran dalam menyusui meskipun sakit, ketekunan untuk kontrol rutin setiap waktu yang ditentukan merupakan perjuangan panjang yang sangat perlu diapresiasi. Ketelatenan dalam penggunaan SNS dan memberi MPASI dini merupakan hasil dari penjelasan dan penguatan dokter laktasi yang menghilangkan keraguan dan kecemasan dalam mendampingi Ny.S untuk memulai sesuatu yang tidak lazim dilakukan oleh Ibu dan Bayi pada umumnya. Oleh karena itu edukasi dini dan informed concent terhadap seluruh rencana rangkaian terapi, berpengaruh besar dalam keberhasilan perjalanan terapi by.RC. DAFTAR PUSTAKA https://med.stanford.edu/newborns/professional-education/frenotomy.htmlhttps://www.cdc.gov/nccdphp/dnpao/features/breastfeedingbenefits/index.html#:~:text=Breastfeeding%20can%20help%20protect%20babies,ear%2infections%20and%20stomach%20bugs.https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/breastfeeding-your-baby/breast-milk-is-thebestmilk#:~:text=Healthy%20nutrients,growth%20and%20nervous%20system%20development.