Bayi Slow Weight Gain, Gizi Kurang dengan Tongue Tie dan Lip Tie

Ditulis oleh : dr. Putri Rahma Fanni – Dokter laktasi, Bandung

Bayi K adalah anak pertama dari pasangan Ny. D dan Tn. I , bayi perempuan lahir pervaginam di usia kehamilan 40 minggu di Klinik Bidan Mandiri Gunung Putri, Bogor pada tanggal 2 Oktober 2023. By. K merupakan bayi cukup bulan, SMK (Sesuai Masa Kehamilan) dengan berat lahir 2980 gr dan panjang 50 cm. Setelah lahir Bayi K tidak dilakukan IMD (Inisiasi Menyusu Dini). Setelah selesai persalinan, bayi rawat gabung dengan ibu. Hari pertama setelah melahirkan ibu mengatakan ASI (Air Susu Ibu) tidak keluar dan bayi sering menangis. Ibu sangat khawatir dengan kondisi tersebut. Hari ke 2 bidan menyarankan untuk memberi susu formula ke Bayi K dan ibu memberikannya dengan media sendok. Ibu berusaha menyusui langsung dengan di tambah susu formula. Tujuh hari setelah melahirkan ibu kontrol ke bidan karena payudara bengkak dan saat di periksa ASI banyak. Ibu memutuskan untuk stop susu formula dan mencoba hanya menyusui secara langsung.

Saat menyusui ibu merasakan payudara nyeri, puting lecet, bayi menyusu lepas-lepas, bunyi “click” dan menyusu lama.

Usia 1 bulan Bayi K kontrol ke bidan, kenaikan berat badan tidak baik. Usia 2 bulan berat badan berada di bawah garis merah, akhirnya ibu mulai mencari informasi karna merasa ada yang salah dengan proses menyusui nya dan akhirnya Ny.D di sarankan untuk konsultasi dengan dokter anak konsultan laktasi.

11 Januari 2024 Ibu bertemu dokter anak konsultan laktasi di Rumah Sakit di Depok saat kontrol usia By. K 3 bulan 11 hari, berat badan 4275gr, kenaikan berat badan 12,8 gr/hari, Status gizi Batas – 2 SD 4683 gr, gizi kurang mendekati buruk. Saat di periksa Bayi K mempunyai tongue tie medial dan lip tie grade 4, saat menyusui Ny. D tampak kesakitan. Kemudian di lakukan double frenotomy. Setelah tindakan Bayi K di saran kan untuk melakukan senam lidah dan bibir 5x sehari, Tummy Time dan di berikan gel lidah buaya pada luka insisi, roborantia dan di pasang SNS (Supplemental Nursing System) yang berisi susu formula dengan rasa tawar  dosis 6x60cc.

BANNER 728 x 90

Kunjungan kedua, 1 minggu setelah di lalukan double frenotomy pada tanggal 18 Januari 2024 usia Bayi K 3 bulan 18 hari, Berat badan bayi 4515 gr, kenaikan berat badan paska frenotomy 34,28 gr/hari BB/U – 2 SD 4800 gr, status gizi masih kurang namun kenaikan berat badan sangat baik, hampir 3x lipat dari kunjungan awal. Kemudian Ny. D diminta untuk menyusui Bayi K, saat itu menyusui sudah tidak sakit, tidak lepas-lepas dan ibu merasa jauh lebih nyaman. Ny. D mengatakan dalam sehari SNS 6×60 cc tidak habis, sehingga dosis diturunkan 5x 60cc dan kontrol kembali tgl 30/1/2024.

Kunjungan ketiga pada tanggal 30 Januari 2024 saat usia 4 bulan, berat badan bayi 4830 gr, kenaikan berat badan 26,3 gr/hari BB/U  -2 SD 5000 gr, status gizi masih kurang. Ny. D mengatakan Bayi K mengalami batuk pilek selama 2 hari. Saat ini Bayi K menetek dengan SNS lanjut 5 x 60 cc rutin dan habis. Bayi K di anjurkan untuk MPASI dini dan Bayi K di berikan roborantia, suplemen zat besi, dan vitamin D3 yang mengandung fluoride. Lalu Ny.D dan Bayi.K di rujuk ke poli laktasi untuk edukasi makanan pendamping ASI (MPASI). Ibu diberikan edukasi pemberian MPASI pada usia 4 bulan diperbolehkan oleh WHO jika berat badan bayi tidak meningkat dengan baik. Ibu diedukasi cara mempersiapkan MPASI sesuai ketentuan WHO, MPASI 4 bintang, porsi makan bayi, frekuensi makan, tekstur, komposisi dan contoh menu MPASI dengan padat kalori dengan double/triple protein hewani, double sumber lemak seperti penggunaan santan, minyak dan mentega. Ibu dianjurkan untuk membaca buku “Antiribet MPASI” , SNS 5×60 cc dilanjutkan selebihnya meneteki langsung dan kontrol 2 minggu lagi.

Kunjungan keempat pada tanggal 16 februari 2024 saat usia 4 bulan 17 hari, berat badan bayi 5165 gr, kenaikan berat badan 14,7 gr/hari BB/U  -2 SD 5226 gr, status gizi masih kurang. MPASI lanjut , SNS diturunkan menjadi 5×45 cc per hari. Roborantia, suplemen zat besi, dan vitamin D3 yang mengandung fluoride di lanjutkan.

Kunjungan berikutnya 5 April 2024 saat usia 6 bulan 6 hari, berat bada bayi 6235 gr, kenaikan berat badan 23,8 gr/ hari BB/U  -2 SD 5760 gr, saat ini status gizi Bayi.K sudah gizi baik, SNS dan roborantia sudah stop, suplemen zat besi dan vitamin D3 yang mengandung fluoride dilanjutkan

By. KTanggalUsiaBerat BadanPerubahan Berat BadanStatus GiziTindakan
 2 Oktober 2023hari2980 gram -1 SD 
 11 Januari 20243 Bulan 11 hari4275 gram12,8 gram/hari< -2 SD mendekati – 3 SD–  Double Frenotomy –  Senam Lidah dan bibir 5x sehari selama 3 minggu –  Tummy time –  Gel lidah buaya – Roborantia – SNS berisi susu formula rasa tawar 6×60 cc
 18 Januari 20243 Bulan 18 hari4515 gran34,28 gram/hari< -2 SDSNS diturunkan 5×60 ccRoborantiaKontrol kembali tgl 30/1/2024
 30 Januari 20244 Bulan4830 gram26,3 gram/hari< -2 SDImunisasi polioSNS 5×60 cc rutin dan habisMPASI Dini, Edukasi MPASI sesuai WHO, Edukasi MPASI padat kalorKontrol kembali 14/2/2024
 16 Februari 20244 Bulan 17 hari5156 gram14,7 gram/hari< – 2 SDSNS di turunkan 5×45 cc per hari Pemberian  roborantia, suplemen zat besi, vitamin D3 dengan fluorideKontrol kembali 12/3/2024
 5 April 20246 Bulan 6 hari6235 gram23,8 gram/hari– 2 SDSNS stopRoborantia stopSuplemen zat besi , vitamin D3 dengan fluoride lanjutKontrol 21/5/2024

DISKUSI

Pengetahuan ibu tentang menyusui terutama kebutuhan ASI dan kapasitas lambung bayi di usia awal kelahiran sangat penting. Oleh karena itu, WHO (World Health Organization) menganjurkan konsul dengan konselor laktasi sejak kehamilan 28 dan 36 minggu, atau disebut ANC (Antenatal  Care) laktasi.

Setelah bayi lahir dan ari-ari keluar, hormon yang menghalangi keluarnya ASI pelan-pelan turun, sehingga ASI awal atau kolostrum mulai keluar. ASI akan keluar sedikit demi sedikit lama kelamaan bertambah banyak sesuai dengan kapasitas lambung bayi yang semakin besar. Setelah lahir, pada hari pertama dan kedua kapasitas lambung bayi masih sebesar kelereng, kemudian membesar menjadi sebesar bola bekel pada hari ketiga, dan sebesar bola pingpong di hari ke sepuluh. 1

Tongue tie / Lip tie merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kesulitan menyusui yang di tandai dengan nyeri saat menyusui, lepas-lepas, menyusui lama, bunyi “click” yang kemudian dapat berdampak pada kenaikan berat badan bayi yang tidak optimal.

Frenotomy adalah tindakan melakukan sayatan sederhana pada tali lidah atau tali bibir atas dengan menggunakan gunting steril. Beberapa penelitian telah menunjukkan peningkatan kualitas menyusui pada ibu dan bayi yang mengalami masalah menyusui. Perlekatan yang baik membuat transfer ASI lebih optimal, ibu merasa lebih nyaman saat menyusui dan supply ASI pada payudara meningkat.

Setelah dilakukan frenotomy pada by. K ibu tidak sakit lagi saat menyusui, lebih nyaman dan hisapan bayi lebih kuat dan kenaikan berat badan by. K meningkat.

Saat Bayi. K berusia 4 bulan, diberikan MPASI dini dengan tujuan untuk membantu meningkatkan status gizi bayi. Kekurangan gizi pada tahun pertama kehidupan sangat berpengaruh terhadap perkembangan otak sehingga harus ditangani sebaik mungkin. Pemberian MPASI dini sesuai dengan anjuran WHO yang menyatakan pemberian makanan pendamping ASI dapat dimulai pada usia 4-6 bulan jika: kenaikan berat badan bayi tidak adekuat dengan hanya menyusui atau bayi sudah sering mendapatkan ASI tetapi masih menunjukkan rasa lapar sesaat setelah selesai menyusu. Pada kasus ini By. K mendapat MPASI pada usia 4 bulan dengan tujuan menurunkan suplementasi dan menaikkan berat badan.3

MPASI yang diberikan untuk Bayi. K sesuai dengan standar 4 bintang (protein hewani, protein nabati, lemak, karbohidrat, sayuran) dan mengikuti petunjuk 10 prinsip pemberian MPASI menurut WHO (1) Menyusui selama 6 bulan, kemudian beri MPASI sambil terus menyusui bayi. (2) Lanjutkan menyusu semau bayi sampai 2 tahun. (3) Terapkan active-responsive feeding (4) Perhatikan kebersihan makanan dan cara menyimpan makanan yang benar. (5) Mulai pemberiannya dengan jumlah sedikit lama-lama bertambah banyak. (6) Tingkatkan tekstur makanan sesuai pertumbuhan bayi. (7) Tingkatkan frekuensi makan sesuai pertumbuhan bayi. (8) Berikan berbagai variasi makanan untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi. (9) Gunakan makanan terfortifikasi atau suplemen sesuai indikasi. (10) Perhatikan cara pemberian makanan saat bayi sakit.4

KESIMPULAN

Pada kasus ini status gizi kurang dan kenaikan berat badan yang terhambat di awal usia karna adanya tali lidah dan tali bibir. Tali lidah dan tali bibir merupakan salah satu penyulit bayi untuk bisa menyusu langsung pada payudara ibu dan juga merupakan penyulit ibu untuk dapat menyusui karena nyeri yang dirasa saat menyusui. Dan juga penting sekali untuk ibu untuk mengetahui tentang kebutuhan ASI dan kapasitas lambung bayi di usia awal kelahiran.

Terapi suplementasi diberikan agar bayi mendapat asupan yang memadai dan meningkatkan produksi ASI karena bayi tetap menghisap di payudara ibu.  MPASI dianjurkan pada usia 4 bulan agar ibu bisa melepas suplementasi susu formula dan meningkatkan berat badan bayi hingga mencapai berat badan ideal. Terbukti setelah mendapat MPASI dini, bertahap dosis suplementer di turunkan  dan status gizi By. K menjadi gizi baik.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Praborini A, Wulandari RA. Anti Stres Menyusui. Kawan Pustaka. Jakarta. 2019
  2. Forlenza, et al, Ankyloglossia, Exclusive Breastfeeding and Failure to Thrive, 2010
  1. Praborini A, et al. 2018. A Holistic Supplementation Regimen for Tongue-Tied Babies With Slow Weight Gain and Failure to Thrive. Clinical Lactation Vol 9 Issue 2, DOI: 10.1891/2158-0782.9.2.78.
  2. Direktorat Gizi Masyarakat Ditjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Manajemen Makanan Pendamping ASI. 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published.