Laporan Kasus: Relaktasi pada bayi baru lahir prematur dengan pertambahan berat badan yang lambat, tongue tie, lip tie, dan bingung puting parsial

Ditulis oleh dr. Inke Prasetyowati
Tangerang

KASUS
Bayi AS adalah bayi prematur baru lahir, berusia 27 hari pada kunjungan pertama ke klinik laktasi, lahir pada 3 November 2023 di rumah sakit pemerintah di Jakarta Timur. Dia adalah anak kedua dan satu-satunya anak yang masih hidup dari pasangan Tn. A dan Ny. S. Bayi AS lahir melalui operasi caesar pada usia kehamilan 33 minggu, atas indikasi pecah ketuban dini. Segera setelah lahir, bayi AS tidak mendapat kesempatan untuk melakukan inisiasi menyusu dini, karena harus segera dirawat di unit perinatologi. Bayi AS lahir dengan berat badan lahir 2280 gram, sesuai dengan usia kehamilan. Sejak awal kelahiran, bayi AS tidak pernah disusui langsung oleh ibunya dan hanya diberikan susu formula dan ASI perah ibunya dengan menggunakan botol dot. Ny. S tidak memompa payudara secara teratur saat bayinya diberi minum melalui botol karena kurangnya edukasi laktasi di rumah sakit. Setelah pulang dari rumah sakit, Ny. S mencoba untuk menyusui bayi AS secara langsung dari payudara selama tiga hari berturut-turut tetapi bayi AS tidak dapat melekat dengan baik, proses menyusu hanya berlangsung selama beberapa menit karena dia sering tertidur di tengah sesi menyusu, bayi selalu tampak tidak kenyang setelah sesi menyusu selesai, dan ibu merasa payudaranya masih kencang setelah bayi selesai menyusu. Setelah tiga hari, bayi AS menolak payudara ibunya sama sekali dan memilih botol dot. Ny. S mulai memompa payudara rutin setelah bayi menolak menyusu.

Kunjungan pertama bayi AS ke klinik laktasi adalah pada tanggal 30 November 2023, atas rekomendasi dari salah kerabat mereka. Ny. S, yang bekerja sebagai guru TPA, datang bersama dengan suaminya, Tn. A, yang bekerja sebagai konsultan pajak. Keluhan utamanya adalah bayi menolak untuk menyusu secara langsung, bayi menyusu terus-menerus dan tampak tidak kenyang setelah sesi menyusu selesai, dan ketidakmampuan bayi AS untuk melekat dengan baik pada payudara. Karena ini, Ny. S harus memompa payudara secara teratur, tetapi ASI yang diperah tidak cukup, pertambahan berat badan bayinya lambat, dan dia masih harus memberi bayi AS susu formula untuk bayi prematur.

Pada usia 27 hari, berat badan bayi AS mencapai 2400 gram. Status gizi bayi dikategorikan sebagai gizi buruk (<-3 SD) menurut usia kronologis dan gizi kurang (<-2 SD) berdasarkan usia koreksi, dengan kenaikan berat badan 4,4 gram per hari, yang menunjukkan pertambahan berat badan yang lambat (slow weight gain / SWG). Pada pemeriksaan fisik oleh dokter anak dan konsultan laktasi, ditemukan bahwa bayi AS memiliki tongue tie medial dan lip tie kelas III berdasarkan klasifikasi Kotlow. Pergerakan lidahnya terbatas; dia tidak dapat mempertahankan pelekatan pada jari pemeriksa dan pada payudara, dan bibir atasnya terlipat ke dalam selama proses menyusui berlangsung. Payudara Ny. S simetris dan berukuran normal; puting payudaranya menonjol keluar dan lentur. Suplai ASI ibu normal.

Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, konsultan laktasi menjelaskan bahwa penyebab pertambahan berat badan bayi yang lambat adalah karena refleks isap bayi yang buruk dan ketidakmampuan untuk melekat pada payudara. Refleks mengisap yang buruk disebabkan oleh adanya tongue tie dan lip tie serta bingung puting parsial akibat penggunaan botol dot. Berdasarkan skala penilaian Carole Dobrich Frenotomy Decision Tool for Breastfeeding Dyads, bayi AS mendapat skor 9/10, mengindikasikan kemungkinan diperlukan tindakan frenotomi lidah, dan 8/10, mengindikasikan kemungkinan diperlukan tindakan frenotomi bibir.

BANNER 728 x 90

Tindakan frenotomi lidah dilakukan di klinik laktasi tersebut pada tanggal 30 November 2024. Kemudian orang tua dimotivasi untuk menyusui bayi selama dua tahun, untuk berhenti menggunakan botol dot dan untuk menjalani program relaksasi menggunakan Metode Relaktasi Praborini. Bayi AS dan Ny. S dirawat gabung di sebuah rumah sakit swasta di Depok untuk menjalani program relaktasi ini. Selama program relaksasi ini berlangsung, bayi AS diletakkan di dada ibunya selama 24 jam menggunakan gendongan bayi. Bayi AS diberi obat sedasi (CTM atau chlorpheniramine maleate) tiga kali sehari. Laktagog juga diberikan kepada Ny. S dua kali sehari. Dengan menggunakan alat suplementer (Supplemental Nursing System atau SNS), susu formula diberikan melalui SNS dengan dosis 6x30ml. Penggunaan SNS hanya untuk di pagi hingga sore hari. Menyusui langsung tanpa SNS di malam hari dilakukan mengikuti kemauan bayi. Latihan otomotor dan pijat bayi dilakukan tiga kali sehari. Gel lidah buaya diaplikasikan tiga kali sehari ke area bekas insisi setelah sesi senam lidah dan bibir selesai.

Selama 24 jam pertama perawatan di rumah sakit, kontak kulit ke kulit dilakukan terus menerus kecuali saat ibu mandi. Tindakan frenotomi bibir dilakukan oleh konselor laktasi yang bertugas kunjungan di malam hari, dan bayi AS segera disusui di payudara kiri ibunya, menggunakan SNS. Pelekatan yang didapat tampak lebih dalam, bayi AS menyusu dengan kuat dan terdengar bunyi menelan.

Pada hari perawatan kedua di rumah sakit, berat badan bayi AS naik ke 2415 gram, dengan kenaikan berat 15 gram per hari. Dari pengamatan yang dilakukan oleh konselor laktasi yang bertugas hari itu, Ny. S dan bayi AS tidur bersama; dia tampak tenang dan tidur dengan nyenyak. Pada kunjungan laktasi berikutnya, bayi AS sedang menyusu di payudara kanan ibunya menggunakan SNS. Latihan oromotor dan pijat bayi dilakukan kemudian. Kemudian bayi AS dan Ny. S diperbolehkan pulang dan dijadwalkan untuk kontrol ke klinik pada tanggal 5 Desember 2023.

Sepanjang proses relaksasi, bayi AS mengalami kenaikan berat badan secara signifikan, sekitar 27 hingga 35 gram per hari. Pada usia 3 bulan, berat badan bayi AS mencapai 4145 gram. Status gizi bayi dikategorikan sebagai gizi kurang (<-2 SD) menurut usia kronologis dan gizi baik (-1 SD dan median) menurut usia koreksi, dengan kenaikan berat badan 28,6 gram per hari. Tetapi dua minggu kemudian, berat badan bayi AS hanya mencapai 4265 gram, dengan 8,5 gram per hari, meskipun proses menyusu langsung sudah baik. Status gizinya dikategorikan sebagai gizi kurang (<-2 SD) menurut usia kronologis dan gizi baik (-2 SD dan -1 SD) menurut usia koreksi. Sehingga bayi AS dijadwalkan untuk mulai MPASI dini di usia 4 bulan, menurut rekomendasi WHO.

Pada kunjungan berikutnya ke poli anak, di usia 4 bulan 5 hari, bayi AS sudah mulai makan selama 5 hari dengan menu lengkap sebanyak tiga kali per hari dan tetap menyusu langsung sambil menggunakan SNS. Berat badan bayi AS mencapai 4630 gram, dengan kenaikan berat badan 21 gram per hari. Status gizi bayi dikategorikan sebagai gizi kurang (<-2 SD) menurut usia kronologis dan gizi baik (-2 SD dan -1 SD) menurut usia koreksi. Tiga minggu kemudian bayi kontrol kembali ke poli anak, di usia 4 bulan 26 hari, berat badan bayi AS mencapai 5470 gram, dengan kenaikan berat badan 40 gram per hari. Status gizi bayi dikategorikan sebagai gizi kurang (<2 SD) menurut usia kronologis dan gizi baik (-1 SD dan median) menurut usia koreksi. Oleh karena itu kemudian direncanakan untuk berhenti menggunakan SNS dan hanya lanjut menyusu langsung saja semau bayi, MPASI dilanjutkan dengan frekuensi, volume dan tekstur yang sesuai dengan usia.

Pada kunjungan terakhir ke poli anak di usia 6 bulan 16 hari, berat badan bayi AS mencapai 6780 gram. Status gizi baik (-1 SD dan median) menurut usia koreksi, dengan kenaikan berat badan 26,2 gram per hari. Bayi tetap disarankan untuk menyusu langsung semau bayi dan MPASI dilanjutkan dengan frekuensi, volume dan tekstur yang sesuai dengan usia.

Table 1. Pertumbuhan dan Status Gizi Bayi AS selama Proses Relaktasi

TanggalUsia KronologisBerat Badan (gram)Kenaikan Berat Badan atau  Penurunan Berat BadanStatus GiziDiagnosisi dan Rencana Perawatan
3 Nov 20230 hari2280 < -2SD (gizi kurang) menurut usia kronologis 
30 Nov 202327 hari  2400↑ 4,4 gr / hari< -3SD (gizi buruk) menurut usia kronologis <-2SD (gizi kurang) menurut usia koreksiPertambahan berat badan lambat (slow weight gain)Bingung puting parsialPasca frenotomi lidah Rencana : Metode Relaktasi PraboriniKontak kulit ke kulit 24 jamSNS : SF 6 x 30 mlCTM 3 x 0,2 mgGel lidah buaya 3x/hariLatihan oromotor
5 Des 20231 bulan, 2 hari (32 hari)2420↑ 4 gr / day< -3SD (gizi buruk) menurut usia kronologis <-2SD (gizi kurang) menurut usia koreksiRelaktasi berhasilPasca frenotomi bibir Rencana : SNS 5-6 x 60 mlLaktogog 2 x 1Latihan oromotorPijat bayi Kontrol : 15 Des 2023
15 Des 20231 bulan, 12 hari (42 hari)2730↑ 31 gr / hari< -3SD (gizi buruk) menurut usia kronologis -2SD (gizi baik) menurut usia koreksiRencana : SNS 5 x 60 mlLaktogog 2 x 1 Kontrol : 26 Des 2023
26 Des 20231 bulan, 23 hari (53 hari)3110↑ 35 gr / hari< -3SD (gizi buruk) menurut usia kronologis -1SD (gizi baik) menurut usia koreksiRencana : SNS 5 x 60 ml Laktogog  2 x 1 Kontrol : 11 Jan 2024
11 Jan 20242 bulan, 9 hari (69 hari)3545↑ 27,1 gr / hari< -3SD (gizi buruk) menurut usia kronologis median (gizi baik) menurut usia koreksiRencana :   SNS 5 x 60 mlLaktogog 2 x 1 Kontrol : 1 Feb 2024
1 Feb  20243 bulan (90 hari)4145↑ 28,6 gr / hari< -2SD (gizi kurang) menurut usia kronologis -1SD & median (gizi baik) menurut usia koreksiRencana : SNS 6 x 45 mlKonseling MPASI dini di usia 4 bulan sesuai rekomendasi WHO Kontrol : 15 Feb 2024
15 Feb 20243 bulan, 14 hari (104 hari)4265↑8,5 gr / hari< -2SD (gizi kurang) menurut usia kronologis -2SD & -1SD (gizi baik) menurut usia koreksiRencana : SNS 5 x 45 mlFe 2 x 2 tetesVit D3 1 x 1 tetes Kontrol : 7 Maret 2024
7 Mar 20244 bulan, 5 hari (125 hari)4630↑ 21 gr / hari< -2SD (gizi kurang) menurut usia kronologis -2SD & -1SD (gizi baik) menurut usia koreksiBayi sudah mulai makan Rencana : SNS 5 x 45mlFe 2 x 2 tetesVit D3 1 x 1 tetes Kontrol : 28 Maret 2024
28 Mar 20244 bulan, 26 hari (146 hari)5470↑ 40 gr / hari< -2SD (gizi kurang) menurut usia kronologis -1SD & median (gizi baik) menurut usia koreksiRencana : Stop SNSFe 2 x 2 tetesVit D3 1 x 1 tetesLanjut DBF tanpa SNS Kontrol :  30 April 2024
17 Mei 20246 bulan, 16 hari (196 hari)6780↑ 26,2 gr / hari-1SD & median (gizi baik) menurut usia koreksiRencana : DBF semau bayiMPASI dengan frekuensi, volume dan tekstur sesuai usiaFe 2 x 2 tetesVit D3 1 x 1 tetes Kontrol : 26 Juni 2024
DISKUSI
Efek ankyloglossia dalam proses menyusui telah menjadi masalah kontroversi selama 50 tahun terakhir. Dengan meningkatnya minat para ibu untuk menyusui, ankyloglossia sekali lagi menjadi masalah klinis yang penting. Sekitar 90% dokter spesialisanak dan 70% dokter spesialis THT percaya bahwa ankyloglossia jarang menyebabkan kesulitan makan; sekitar 69% dari konsultan laktasi percaya bahwa hal ini sering menyebabkan kesulitan makan; dan 30% tambahan percaya hal ini kadang-kadang menyebabkan masalah makan.[1]
 
Ankyloglossia pada bayi dikaitkan dengan 25% hingga 60% insiden terjadinya  kesulitan menyusui, seperti gagal tumbuh (failure to thrive), luka pada payudara ibu, nyeri pada payudara ibu, suplai ASI yang rendah, payudara bengkak, dan bayi menolak payudara.[2] Hal ini juga dapat menyebabkan bayi kesulitan untuk melekat di payudara ibu, dan membuat ibu mungkin mengalami payudara nyeri, puting payudara berdarah dan bayi sering menyusu namun pertambahan berat badan bayi kurang baik. Prevalensi rasa nyeri persisten yang dialami ibu menyusui adalah hingga 80%; sekitar 25% mengalami rasa nyeri yang tidak dapat diatasi.[3] Studi telah menunjukkan bahwa, untuk setiap hari rasa nyeri dirasakan oleh ibu menyusui selama tiga minggu pertama menyusui, ada risiko 10% hingga 26% untuk mengalami kegagalan menyusui.[4] Ketidakmampuan yang disebabkan oleh ankyloglossia dapat menjadi salah satu penyebab utama dari semua masalah ini.[2] Ankyloglossia pada anak juga dapat menyebabkan berbagai masalah, seperti kesulitan makan, gangguan bicara, kebersihan mulut yang buruk, dan masalah gigi.[3]
 
Tindakan yang paling umum dilakukan untuk mengatasi ankyloglossia pada bayi adalah frenotomi sederhana. Frenotomi dilakukan dengan memotong beberapa milimeter ke dalam frenulum lidah. Prosedur ini relatif singkat dan biasanya hanya menyebabkan perdarahan minimal.[5] Kontrol perdarahan, jika perlukan, dapat dicapai dengan menyusui secara langsung; menyusui langsung juga berfungsi melatih lidah agar semakin lentur dan juga memiliki efek analgesik dan antiseptik.[6]
 
Relaktasi adalah proses di mana seorang wanita yang telah melahirkan tetapi tidak menyusui atau telah berhenti menyusui selama beberapa hari hingga beberapa minggu didorong untuk menyusui kembali.[7] Tiga hal penting yang diperlukan untuk relaksasi adalah keinginan yang kuat dari ibu, stimulasi pada puting payudara, dan sistem pendukung yang kuat.[8] Relaktasi yang dicapai dapat berhasil secara komplit atau parsial. Relaktasi komplit didefinisikan ketika bayi tumbuh dengan baik hanya dengan menyusui secara langsung saja. Relaktasi parsial didefinisikan ketika bayi masih memerlukan makanan buatan untuk mendukung pertumbuhan yang memadai (pada kasus kegagalan laktasi / lactation failure) atau lebih dari 50% pemberian suplementasi susu formula digantikan dengan menyusui secara langsung (pada kasus suplai ASI kurang / low milk supply). Jika tidak ada sekresi ASI bahkan setelah dua minggu usaha berkelanjutan, maka ini dianggap sebagai kegagalan relaktasi.[9]
 
Kegagalan laktasi didefinisikan sebagai kurangnya aliran susu atau sekresi hanya beberapa tetes ASI setelah bayi mengisap secara teratur selama setidaknya 7 hari. Suplai ASI kurang didefinisikan ketika ibu mengeluh bahwa ASInya tidak memadai dan bayi membutuhkan suplementasi dari susu formula.[10]
 
Semakin muda usia bayi pada saat intervensi, semakin baik pencapaian relaktasi. Telah ditemukan bahwa jika durasi pemberian susu buatan lebih pendek, kemungkinan tercapainya relaktasi komplit lebih besar.[8] Penelitian lain juga menyebutkan bahwa semakin pendek jarak berhenti menyusui dengan proses relaktasi, semakin baik hasil relaktasi.[11,12] Untuk mencapai keberhasilan menyusui, payudara harus sering dikosongkan, baik dengan menyusui langsung atau dengan memerah payudara secara manual, dan bayi harus disusui terus menerus, untuk menstimulasi produksi ASI di payudara.[13,14]
 
Hal ini juga ditemukan bahwa pada ibu yang masih menyusui bayinya secara langsung, relaktasi dapat dicapai lebih cepat (7 hari vs 17 hari) dibandingkan dengan ibu yang bayinya mendapat nutrisi melalui infus, karena bayi ini sakit dan tidak dapat mengisap dengan kuat. Studi saat ini menunjukkan bahwa bayi yang diberi minum melalui botol dot membutuhkan waktu lebih lama untuk relaktasi (29 hari vs. 21 hari) dibandingkan dengan bayi yang diberi minum menggunakan cangkir. Bayi yang diberi minum melalui botol dot mungkin mengalami bingung puting karena mekanisme menyusunya berbeda antara menyusu langsung dan menyusu dari botol.[8] Studi lain juga menyatakan bahwa untuk mencapai relaktasi komplit, dibutuhkan rata-rata 15-20 hari.[15]
 
KESIMPULAN
Dari bukti yang saat ini tersedia, dapat disimpulkan bahwa frenotomi dapat dilihat sebagai pendekatan yang aman, efektif, dan praktis dalam penatalaksanaan kesulitan menyusui pada bayi dengan ankyloglossia di mana penjelasan lain untuk praktek pemberian makan bayi yang buruk dan kegagalan pertumbuhan telah dinilai dengan benar.
 
Manajemen holistik dari Metode Relaktasi Praborini untuk bayi dengan tongue tie dan lip tie, dengan pertmbahan berat badan lambat atau gagal tumbuh, yang terdiri dari frenotomi, suplementasi menggunakan SNS, penggunaan laktagog dan akupunktur, telah terbukti meningkatkan status gizi bayi dan suplai ASI ibu. Bayi yang menjalani frenotomi dapat menyusu tanpa menggunakan suplementer setelahnya dan mengalami kenaikan berat badan.[16] Rawat inap untuk kasus bingung puting dengan manajemen laktasi multimodal juga terbukti efektif.[17]
 
Proses relaktasi menjadi mungkin bagi ibu dengan kesabaran dan dukungan yang positif dan berkelanjutan dari anggota keluarga dan tenaga kesehatan profesional yang terlatih, bersama dengan konseling yang tepat dan dukungan positif untuk membangun kepercayaan diri ibu. Oleh karena itu, studi saat ini menekankan pada pentingnya konseling menyusui dan dukungan menyusui bagi ibu, mulai dari sebelum kelahiran dan setelah kelahiran, karena sebagian besar penyebab kegagalan laktasi dapat dicegah dan mudah diperbaiki.[8]
 
Pada kasus ini, tindakan frenotomi dilakukan bertahap karena bayi mengalami bingung puting, untuk mencegah terjadinya bayi menolak menyusu (nursing strike). Dengan relaktasi, status gizi bayi berhasil menjadi gizi baik dengan DBF (direct breastfeeding) saja dan pemberian MPASI yang tepat, sehingga bayi juga berhasil lepas SNS. Hal ini dapat terlaksana karena pasien ditangani oleh tim yang mumpuni dengan penanganan yang holistik.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Messner A, Lalakea M. Ankyloglossia: controversies in management. Int J Pediatr Otorhinolaryngol. 2000;54(2):123-31.
  2. Segal LM, Stephenson R, Dawes M. Prevalence, diagnosis, and treatment of ankyloglossia. Can Fam Physician. 2007 Jun; 53(6): 1027-1033.
  3. Edmunds J, Miles S, Fulbrook P. Tongue-tie and Breastfeeding : a review of the literature. Breastfeeding Review, Vol. 19, No. 1. Mar 2011 : 19-26.
  4. Schwartz K, d’Arcy H, Gillespie B, Bobo J, Longeway M, Foxman B. Factors associated with weaning in the first 3 months postpartum. J Fam Pract. 2002;51(5):439-44.
  5. Coryllos E, Genna C, Salloum A. Congenital tongue-tie and its impact on breastfeeding. Breastfeeding: Best for Mother and Baby. 2004 Summer;:1-6.
  6. Marmet C, Shell E, Marmet R. Neonatal frenotomy may be necessary to correct breastfeeding problems. J Hum Lact. 1990;6(3):117-21.
  7. Lawrence RA. 4th. St. Louis, MO: Mosby; 1994. Breastfeeding: a guide for the medical profession.
  8. Mehta A, Rathi AK, Kushwaha KP, Singh A. Relactation in lactation failure and low milk supply. Sudan J Paediatr. 2018; 18(1): 39-47.
  9. Bose CL, D’Evcole AJ, Lester AG, Hunter RS, Barrett JR. Relactation by mothers of sick and premature infant. Pediatrics. 1981;67:565-9.
  10. Rath BK, Ghai OP, Bhan MK, Arora NK, Dhar V, Thakkar D, et al. Metoclopramide in lactational failure. Ind Pediatr. 1983;20:341-4.
  11. Tomar RPS. Initiation of relactation: an Army Hospital based study of 381 cases. Int J Contemp Pediatr. 2016;3:635-8. https://doi.org/10.18203/2349-3291.ijcp20161054.
  12. Lakhkar BB. Breastfeeding in adopted babies. Ind Pediatr. 2000;37:1114-6.
  13. Mepham TB. National Childbirth Trust. Alexandra House, Oldham Terrace, Acton, London, UK: Suckling-induced stimulation of breastmilk. New Generation September 1991, 31/32.
  14. Wilde CJ, Prentice A, Peaker M. Breast-feeding: matching supply with demand inhuman lactation. Proc Nut Soc. 1995;54:401-6. https://doi.org/10.1079/PNS19950009.
  15. De NC, Pandith B, Mishra SK, Pappu K, Chaudhuri SN. Initiating the process of relactation: an institute based study. Ind Pediatr. 2002;39:173-8.
  16. Praborini A, Setiani A, Munandar A, Wulandari RA. A Holistic Supplementation Regimen for Tongue-Tied Babies With Slow Weight Gain and Failure to Thrive. Clinical Lactation. May 2018 9(2):78-87.
  17. Praborini A, Purnamasari H, Munandar A, Wulandari RA. Hospitalization for Nipple Confusion A Method to Restore Healthy Breastfeeding. Clinical Lactation. May 2016 7(2):69-76.

Leave a Reply

Your email address will not be published.