Frenotomi Ankyloglossia pada Bayi Usia 8 Hari

Ditulis oleh dr. Krisna Dewi – dokter laktasi, Jakarta

Bayi SKA adalah bayi perempuan, anak pertama dari pasangan NY D dan TN I. Ny D bekerja sebagai PNS dan TN I adalah seorang dokter umum. Bayi lahir di RS swasta daerah BSD pada tanggal  21 September 2023 melalui proses SC (Sectio Caesarea) cito atas indikasi Preeklampsia, KPD (Ketuban Pecah Dini) dan IUGR (Intrauterine Growth Restriction) pada kehamilan usia 38 minggu. Bayi SKA lahir dengan BB (Berat badan) 2365 gr dan PB (Panjang badan) 48 cm. Bayi lahir langsung menangis dan dilakukan skin to skin selama beberapa menit saja (5 menit), lalu bayi diobservasi dan ibu baru bersama bayi setelah 6 jam. Ibu pernah melakukan kunjungan laktasi saat hamil atau ANC (antenatal care) laktasi ke dokter konselor laktasi di daerah BSD

Selama perawatan, ibu dikunjungi oleh dokter laktasi sebanyak 3 kali. Dari awal proses menyusui, ibu merasa pelekatan menyusuinya masih kurang tepat karena puting ibu selalu lecet. Ibu sudah diperiksa oleh DSA (dokter spesialis anak) dan dokter laktasi dikatakan tounge tie dan lip tie aman dan tidak bermasalah. Ibu sangat ingin bisa menyusui bayinya sampai 2 tahun, suami mendukung ibu. Karena merasa masalah dalam menyusui tidak menemukan solusi, ibu memutuskan untuk konsultasi ke dokter anak laktasi di RS wasta daerah depok atas rekomendasi teman.

Pada tanggal 29 september 2023 ketika usia bayi 8 hr, ibu menemui  dokter anak konsultan laktasi, ibu mengeluhkan putingnya selalu lecet, puting kiri lebih pendek dan bayi sulit melekat, bayi menetek lama, lepas-lepas, dan ada bunyi clicking. Saat ditimbang BB bayi 2210 gr. Berdasarkan kurva pertumbuhan standar menurut WHO (World Health Organization), berat badan bayi SKA menunjukkan kondisi gagal tumbuh atau FTT (Failure to thrive) dan gizi kurang mendekati gizi buruk, dimana batas -2 SD (standar deviasi) adalah 2613 gr dan batas -3 SD adalah 2187 gr. Selama 8 hari bayi turun 155 gr, atau 19,3 gr per hari (6,5 %)

Setelah dijelaskan mengenai perintah menyusui sesuai perintah agama dan anjuran WHO, keinginan Ny D untuk mneyusui 2 tahun semakin kuat dan didukung oleh suami. Pada  pemeriksaan  fisik didapatkan bayi memiliki tounge tie posterior dan lip tie grade 3, bayi sulit melekat terutama di payudara kiri dan terlihat kesal menolak menyusu. Dinilai produksi ASI (Air susu ibu) normal. Puting kiri lebih pendek daripada kanan.

BANNER 728 x 90

Dokter menjelaskan kepada orang tua bayi untuk dilakukan tindakan pada bayi SKA agar proses menyusui dan berat badan bayi bertambah optimal. Dokter menyarankan untuk tindakan pada tounge tie saja dulu karena terlihat bayi kadang masih menolak/kesal menyusu. Setelah dilakukan persetujuan, dokter melakukan frenotomy tounge tie dan bayi langsung menyusu pada payudara ibu. Ibu merasa bayi lebih mudah melekat.

Selanjutnya ibu dikirim ke dokter laktasi untuk belajar melakukan senam lidah pada bayi 3x sehari, mengoles  gel lidah buaya pada bawah lidah  bayi, skin to skin dan suplementasi dengan  NGT (nasogastric tube) dan spuit . Ibu disarankan kontrol kembali tanggal 3 Oktober 2023.

Kontrol pertama tanggal 3 oktober 2023 usia bayi 12 hari, ibu sudah memakai SNS (Supplemental Nursing System) dengan isi ASIP (ASI perah). Bayi SKA ditimbang BB bayi 2250 gr, naik 40 gr dalam 4 hari, kenaikan BB per hari 10 gr. Status gizi bayi masuk dalam kondisi gizi buruk dengan batas <-3SD (2280 gr). Dokter menyarankan untuk dilakukan tindakan pada lip tie bayi.

Setelah melakukan persetujuan, bayi dilakuan frenotomi  lip tie dan bayi langsung menyusu. Ibu dikirim ke konselor laktasi untuk diajarkan senam bibir. Dokter menyarankan senam bibir atas,  tetap menetek semau bayi, suplementasi dengan SNS sebanyak 5x sehari dengan 2x diisi ASIP dan 3x diisi sufor (susu formula) dengan rasa tawar, roborantia, dan bayi dan kontrol tanggal 10 Oktober 2023.

Kontrol ke 2 tanggal 10 Oktober 2023 usia bayi 19 hari, BB bayi 2500gr, naik 250 gr dalam 7 hari, kenaikan BB perhari 35,7 gr. pertambahan BB semakin membaik. Ibu merasa menyusui lebih nyaman, tidak nyeri puting . Status gizi membaik menjadi gizi kurang dengan batas <-2SD. Dokter meyarankan tetap menetek semau bayi, melanjutkan  SNS 5×30 cc dengan 2x isi ASIP dan 3x isi sufor, roborantia dan kontrol tanggal 24 Oktober 2023.

Kontrol ke 3 tanggal 24 Oktober 2023 usia bayi 1 bln 3 hari, BB bayi 2955gr, naik 455 gr dalam 14 hari, kenaikan BB perhari 32,5 gr. Status bayi gizi kurang dengan batas <-2SD. Dokter menyarankan melanjutkan  SNS 5×30 cc dengan 2x isi ASIP dan 3x isi sufor. Ibu mengeluh bayi sering kolik menggunakan sufor dan dokter menyarankan utk mengganti sufor dengan ASID (ASI donor), lalu kontrol tanggal 7 November 2023.

Kontrol ke 4 tanggal 7 November 2023 usia bayi 1 bln 3 hari, BB bayi 3420gr, naik 465 gr dalam 14 hari, kenaikan BB perhari 32,5 gr. Status bayi gizi kurang dengan batas <-2SD. Dokter meyarankan tetap menetek semau bayi, melanjutkan SNS 5×30 cc dengan 3x isi ASIP dan 2x isi sufor. Roborantia diteruskan, dan kontrol kembali tanggal 21 Novemver 2023.

Kontrol ke 5 tanggal 21 November 2023 usia bayi 2 bln 1 hari, BB bayi 3825gr, naik 405 gr dalam 14 hari, kenaikan BB per hari 28,9 gr. Status bayi gizi kurang dengan batas <-2SD. Dokter meyarankan tetap menetek semau bayi, melanjutkan SNS 5×30 cc dengan 3x isi ASIP dan 2x isi sufor. Roborantia diteruskan, kontrol Kembali tanggal 5 Desember 2023.

Kontrol ke 6 tanggal 14 desember 2023 usia bayi 2 bln 24 hari, BB bayi 4410gr, naik 585 gr dalam 23 hari, kenaikan BB perhari 25,4 gr. Status bayi sudah gizi baik melebihi batas -2SD. Dokter meyarankan tetap menetek semau bayi, melanjutkan SNS dengan ASIP 3x 30cc sehari, sudah tidak menggunakan sufor lagi, roborantia stop. Kembali tanggal 5 januari 2024.

Kontrol ke 7 tanggal 9 januari 2024. usia bayi 3 bln 20hari, BB bayi 5260gr, naik 850 gr dalam 26 hari, kenaikan BB perhari 32,7 gr. Status bayi gizi baik melewati batas -2SD. Dokter meyarankan stop SNS, hanya DBF (direct breastfeeding) saja dan konseling persiapan ibu bekerja ke dokter laktasi.

Tabel1. Pertumbuhan Berat Badan dan Status Gizi pada bayi SKA

Tabel1. Pertumbuhan Berat Badan dan Status Gizi pada bayi SKA

Bayi SKATanggalusiaBerat badanPerubahan BBStatus GiziTindakan
29 September 20238 hrBBL 2365 gr   BB 2210 grTurun 155 gr dalam 8 hari   Turun (19,3 gr perhari)<-2SD Gizi kurangFrenotomi tongue tie Edukasi senam lidah 3x dan gel SNS 5x30cc
3 Oktober 202312 hrBB 2250gr  Naik 40 gr dlam 4 hari   (10gr  per hari)<-3SD Gizi  burukFrenotomi lip tie Senam bibir 3x sehari dan gel 3x SNS 5×30 Roborantia
10 Oktober 201319 hrBB 2500grNaik 250gr dalam 7 hr   (35,7gr perhari)Satus gizi membaik dari gizi buruk menjadi gizi kurang)   <-2SDSNS 5x 30cc (ASIP +sufor) Disarankan ASI donor karena keluhan kolik Roborantia
24 Oktober 20231 bulan 3 hrBB 2955 grNaik 455 gr dalam 14 hr   (32,5 gr perhari)<-2 SD Gizi kurangSNS 5x 30cc (ASIP +sufor) Disarankan ASI donor karena keluhan kolik Roborantia
7 November 20231 bulan 17 hrBB 3420 grNaik 465 gr dalam 14 hr   ( 33,2 gr perhari)<-2SD Gizi kurangSNS 5x 30cc (ASIP + ASID)   Roborantia
21 November 20232 bulan 1 hrBB 3825 grNaik 405 gr dalam 14 hr   (28,9 gr per hari)<-2SD Gizi kurangSNS 5x 30cc (ASIP + ASID)   Roborantia
14 desember 20232 bulan 24 hrBB 4410grNaik 585 gr dalam 21 hr     ( 25,4 gr per hari)-2SD Gizi baikSNS terus   Roborantia stop
9 januari 20243 bulan 20 hrBB 5260 grNaik 850 gr dalam 26 hr   (32,7 gr per hr)-2SD Gizi baikSNS stop DBF saja Persiapan ibu bekerja
Gambar 1. Grafik Pertumbuhan Berat Badan terhadap Usia (BB/U) bayi SKA (WHO)

Diskusi

Keberhasilan  menyusui tergantung pada pelekatan yang tepat. Pada bayi baru lahir dagu harus menempel pada payudara dibawah puting, bibir harus terlipat keluar dan setidaknya bibir bawah harus terlipat keluar .1  Faktor anatomi dapat mencegah mulut bayi mendapatkan transfer ASI yang optimal, contohnya bibir yang terlalu menonjol merupakan tanda pelekatan yang dangkal dan dapat menyebabkan penggunaan bibir yang berlebihan untuk menekan keluar payudara, frenulum labial superior yang ketat dapat membuat pelekatan lebih sulit dipertahankan.2

Tounge tie adalah lidah terikat dikenal sebagai penyebab kesulitan menyusu yang dapat mencegah bayi melekat dengan baik, menyebabkan nyeri dan trauma puting, menghambat kenaikan berat badan, dan dalam beberapa kasus menurunkan supply ASI .3

Bila ada tali lidah dan tali bibir, dan bayi sulit melekat terus menerus, tindakan yang terbaik adalah frenotomi (insisi/pengguntingan tali lidah dan tali bibir). Tujuannya adalah membuat proses menyusui antar ibu dan bayi lebih baik.4

Frenotomi adalah prosedur bedah sederhana dimana frenulum dibelah di garis tengah atau di bagian bawah lidah menggunakan gunting tajam berujung tumpul. Selama prosedur, bayi dibedong dalam selimut, umumnya tidak ada anestesi yang diberikan dan dilaporkan terdapat sedikit perdarahan atau sedikit komplikasi setelah prosedur.5

Frenotomi dini sebelum hari ke 8, tampaknya mempunyai dampak yang lebih besar terhadap penambahan berat badan dan kinerja laktasi, sehingga meningkatkan hasil keberhasilan menyusui. 6

Bayi yang menjalani frenetomi dini tidak hanya menyusu pada payudara secara efektif dan efisien, meningkatkan transfer ASI dan produksi ASI, namun juga memiliki volume ASI yang cukup dari produksi ASI laktogenenis tahap 2 (intrinsik) untuk meningkatkan berat badan bayi secara signifikan. Namun, frenotomi terlambat (setelah hari ke 8), selain memperbaiki pelekatan bayi, hanya sedikit meningkatkan berat badan. Hal ini kemungkinan besar terjadi karena terlambatnya tindakan pelepasan tounge tie (frenotomi) menyebabkan rendahnya respon terhadap permintaan (demand), sehingga menyebabkan rendahnya transfer ASI dan produksi ASI yang tidak mencukupi. Para ibu mengalami supply ASI yang rendah, sehingga hanya terjadi sedikit penambahan berat badan pada bayi yang hanya disusui.6

Kesimpulan

ASI adalah makanan yang terbaik  bayi. ASI manusia mengandung komposisi paling tepat untuk manusia yang tumbuhnya paling lambat tetapi memiliki otak paling canggih diantara makhluk mamalia lainnya.4

Menyusui langsung di payudara merupakan cara terbaik untuk memberi makan bayi, namun pemindahan ASI dan kenaikan berat badan bayi secara optimal tergantung pada pelekatan yang baik.7

Bayi SKA memiliki tounge tie posterior dan lip tie grade 3. Adanya tounge tie dan lip tie pada bayi SKA dapat mengganggu proses menyusui bayi sehingga bisa menimbulkan gejala pada ibu seperti puting lecet, dan pada bayi yaitu BB tidak naik optimal  bahkan menjadi gizi buruk, meyusu lama, dan sulit melekat hingga frustasi menyusu. Pada kasus ini produksi ASI ibu banyak tapi kenaikan BB bayi masih sangat kurang bahkan belum kembali ke BB lahir. Hal ini menunjukkan adanya proses transfer ASI yg buruk karena adanya tounge tie dan lip tie.

Tindakan frenotomi dilakukan pada bayi SKA usia 8 hari saat ibu fase laktogenesis ke 2. Pembentukan ASI yang tinggi terjadi selama fase lactogenesis 2 walaupun tidak ada hisapan bayi atau pengeluaran ASI .6

Dengan dilakukannya frenotomi pada fase laktogenesi ke 2 (<= hari ke 8), pertambahan kenaikan BB bayi terlihat sangat signifikan meningkat, produksi ASI ibu masih terjaga, pelekatan bayi membaik dan memberikan transfer ASI yg optimal.  Selain itu kualitas proses menyusui ibu juga membaik, keluhan ibu seperti puting lecet, menyusu lama, dan bayi menolak menyusu berkurang bahkan sampai sudah tidak ada lagi. Kini ibu hanya menyusui bayi langsung tanpa mengunakan SNS ataupun obat ASI booster. Ibu merasakan perubahan proses menyusu yang sangat  berbeda saat sebelum dengan sesudah frenotomi. Sesudah frenotomi ibu sangat menikmati proses menyusui dan bahagia dengan perkembangan bayinya.

Daftar Pustaka

  1. Kotlow, L.2011. Infant reflux and aerophagia associated with the maxillary lip tie (Maxillary Frenum). Clinicacal lactation,2-4,25-29.
  2. Genna, C. W.2013. Supporting sucking skills (2nd ed), MA: Jones and Bartlett.
  3. Garbin, C. P., Sakalidis, V. S., Chadwick, L.M., Whan, E., Hartmann, P. E., & Geddes, D. T.2013. Evidence of improved milk intake after frenotomy: A case report. Pediatrics, 132(5), e1413-e1417. http://dx.doi.org/10.1542/peds.2012-2651.
  4. Praborini A, Wulandari RA. 2019. Anti Stres Menyusui. Kawan pustaka.Jakarta.
  5. Muldoon K,et al.2017. Effect of frenotomy on breastfeeding variables in infants with ankyloglossia (tongue-tie): a prospective before and after cohort study. BMC Birth and ChildBirth doi: 10.1186/s12884-017-1561-8
  6. Praborini A, et al.2015. Early improves Breastfeeding Outcome for Tounge Tied Baby. Clinical Lactation. Vol 6 issue 1.
  7. Praborini A , et al.2018.Holistic supplementation Regimen for Tonge Tied Babies With Slow Weight Gain and Failure to Thrive. Clinical Lactation. Vol 9 issue 2.

Leave a Reply

Your email address will not be published.