Menyusui Bayi dengan Sindrom Down

Ditulis oleh : dr. Agusnawati, M.Epid, IBCLC, CIMI

Sindrom Down (DS) atau Trisomi 21 adalah kelainan genetik akibat adanya kesalahan dalam pembelahan sel di mana terdapat 3 salinan pada kromosom 21 (normalnya hanya ada dua salinan) sehingga bayi memiliki 47 kromosom (normalnya 46 kromosom) 1–8. Kelainan ini merupakan kelainan kromosom terbanyak pada bayi hidup 5. Angka kejadian DS adalah satu kelahiran pada 1.000 kelahiran di seluruh dunia (WHO 2016)6. Di Ingris terdapat 700 kelahiran dengan DS setiap tahunnya9, di Australia 270 kelahiran pertahun 10, di Amerika 6000 kelahiran pertahun11. Di Indonesia sendiri angka kejadian DS adalah 210 kelahiran pertahun dari data Riskesdas 20186.

Bayi dengan DS memilik beberapa ciri fisik yaitu hipotoni (kelemahan otot), bentuk muka datar, bentuk mata ke atas, bentuk telinga abnormal, lidah yang besar, kelainan pada persendian, jarak yang jauh antara ibu jari dan telunjuk kaki, dan terdapat satu garis saja pada telapak tangan (simian crease)1,5,6,11. Bayi dengan DS juga rentan terhadap infeksi, gangguan makan dan bicara, serta kelainan jantung1,6. Diantara ciri fisik ada yang berperan dalam proses menyusu yaitu hipotoni, lidah yang besar dan kelainan jantung serta seringnya bayi terpisah dengan ibu karena harus rawat inap akibat gangguan kesehatan yang sering terjadi pada bayi DS2–4,6,12–35. Bayi dengan DS memiliki durasi menyusui yang lebih singkat dibandingkan dengan bayi normal10. Hal ini disebabkan karena hipotoni pada bayi menyebabkan bayi jadi sulit menghisap dan nantinya akan berimbas pada menurunnya produksi air susu ibu (ASI)8–10,36,37. Karena kesulitan menyusu inilah banyak bayi dengan DS akhirnya mendapatkan nutrisi dengan botol dot atau bahkan dengan selang lambung (nasogastric tube/NGT)36–38.

Menyusu langsung ke payudara memiliki banyak manfaat kepada bayi DS, walau butuh dukungan lebih dan mungkin tidak akan lancar perjalanannya. ASI sendiri memiliki banyak manfaat kesehatan, sehingga bayi DS yang dikatakan rentan akan masalah kesehatan bisa lebih terlindungi. Sudah banyak penelitian yang mengatakan bahwa ASI melindungi bayi dari resiko penyakit leukemia, hal ini ternyata efeknya sangat signifikat pada bayi DS39,40. Proses menyusu atau menghisap ke payudara dapat melatih otot-otot bayi DS sehingga nantinya akan lebih kuat dan matang sehingga dapat membantu dalam proses makan dan mengunyah serta bicara9,27,40–43. Efek bonding atau ikatan batin yang tercipta saat menyusui, juga dapat mengurangi tingkat stress ibu dalam menerima  memiliki bayi dengan kebutuhan khusus43. Dari beberapa penelitian hal-hal yang dapat membantu keberhasilan proses menyusui pada ibu dengan bayi DS adalah kesiapan ibu, riwayat menyusui sebelumnya, dukungan keluarga dan dukungan tenaga kesehatan yang dapat membantu ibu menyusui9,21,34,36,37,43.

Pada bayi DS harus dilakukan pendampingan dalam proses menyusui, karena rentan jauh ke dalam status gizi kurang atau gizi buruk. Untuk memenuhi nutrisi bayi, proses menyusui akan dibantu dengan penggunaan alat suplementasi pada payudara. Berdasarkan penelitian oleh Praborini, dkk didapatkan bahwa bayi-bayi yang mengalami gizi kurang atau gizi buruk dapat dibantu dengan penggunaan alat suplementasi pada payudara. Didapatkan 100 % subjek (n=55) pada penelitian ini bisa mencapai gizi baik setelah dilakukan terapi holistik yaitu menyusu dengan alat suplementasi di payudara, frenotomi kepada bayi dan sebagian mendapat makanan pendamping ASI (MPASI) dini di usia 4 bulan (11 subjek), lalu pemberian laktogog dan terapi akupunktur kepada ibu. Pada akhirnya semua penggunaan alat bantu suplementasi dihentikan, kemudian 100 % subjek bisa tumbuh normal (gizi baik) dengan menyusui saja atau menyusui dan MPASI44. Dengan bantuan alat suplementasi ini, bayi akan terus menyusu ke payudara sehingga berat badan akan naik dengan baik dan produksi ASI ibu dapat terjaga dengan baik.  Pada makalah ini akan disajikan kasus ibu yang berhasil menyusu bayi DS dengan bantuan alat suplementasi.

BANNER 728 x 90

 

Presentasi Kasus

Ny. D (40 tahun) datang pertama kali ke poli anak dengan dokter spesialis anak bersertifikasi International Board of Certified Lactation Consultant (IBCLC) dengan membawa By. A saat berusia 1 bulan 16 hari. By. A merupakan anak ke tiga dari Ny.D, dimana kedua kakak By. A berhasil disusui sampai 2 tahun. By. A lahir secara spontan pervaginam dengan berat badan lahir (BL) 2850 gram (gr) pada kehamilan cukup bulan. Tidak ada masalah yang terjadi selama kehamilan dan persalinan. Setelah lahir dilakukan IMD dan rooming in ditempat ibu melahirkan. Ibu sudah mencoba menyusui bayi sejak lahir namun kesulitan karena bayi menyusu hanya sebentar-sebentar dan lebih banyak tidur di payudara saat menyusu, sehingga durasi menyusu jadi lama. Ibu merasa isapan bayi kurang kuat dan sering lepas-lepas dari payudara. Karena khawatir dengan asupan minum, bayi kemudian diberikan ASI perah (ASIP) dengan media gelas. Namun itu pun sulit dan hanya bisa masuk sedikit-sedikit. Ibu memutuskan untuk ke poli laktasi di rumah sakit (RS) dimana kedua kakak dulu melakukan frenotomi. Ibu ingin cek apakah bayi ada tongue tie dan lip tie seperti kakak-kakak dan apakah diperlukan tindakan frenotomi. Lalu ibu dirujuk ke dokter spesialis anak IBCLC karena sejak lahir bayi dicurigai dengan sindrom down dan saat ini sedang menanti hasil pemeriksaan kromosom.

Empat hari setelah dari poli laktasi tersebut ibu datang ke poli anak di RS Puri Cinere. Lalu dilakukan tindakan frenotomi dan diajarkan penggunaan alat suplementasi di payudara yaitu Supplemental Nursing System (SNS) yang nantinya akan diisi dengan ASIP atau ASI donor (ASID). Ibu juga diajarkan cara pasteurisasi rumahan untuk ASID. Saat datang di usia 1 bulan 16 hari berat badan (BB) bayi 2210 gr dimana masih turun 640 gr dari BL sehingga bayi masuk dalam kategori bayi gagal tumbuh. Pada observasi menyusui menggunakan SNS setelah frenotomi didapatkan masih ada kesulitan menyusu yaitu masih suka lepas dan masih banyak tidur di payudara. Bayi belum terlalu semangat menyusu dan SNS hanya habis 30 ml.

Kontrol 12 hari kemudian (usia 1 bulan 28 hari), BB bayi 2320 gr hanya naik 110 gr (9,2 gr/hari), SNS (ASIP/ASID) bisa habis 200 ml/hari. Ibu merasa bayi sudah lebih aktif walau kadang masih malas saat menyusu. Dilakukan titrasi ulang SNS habis 40 ml saja, bayi dan ibu diberikan vitamin D. Kontrol berikutnya usia 2 bulan 10 hari BB bayi 2275 gr, turun 45 gr dari terakhir kontrol dan belum kembali ke BL. Hasil pemeriksaan kromosom menyatakan bayi dengan sindrom down atau trisomi 21. Bayi dikonsulkan ke dokter anak subspesialisasi jantung untuk melihat apakah ada kelainan jantung pada bayi. Menyusui tetap dengan SNS isi ASIP atau ASID. Kontrol berikutnya usia 2 bulan 19 hari, BB bayi naik hanya sedikit (2280 gr) dan hasil ekokardiografi jantung didapatkan Patent Ductus Arteriosus (PDA) kecil yang tidak mengganggu. SNS bisa masuk 250-300 ml/hari. Karena dikhawatirkan BB yang tidak naik baik, disarankan kepada orang tua untuk pemasangan NGT namun saat dipasang bayi menolak dan sulit masuk. Akhirnya diputuskan tetap menyusui saja dengan SNS dan bayi terapi oral motor dengan fisioterapi.

Kontrol berikutnya usia 3 bulan 2 hari, BB 2625 gr naik 345 gr dalam 14 hari (rata2 naik 24,6 gr/hari). Ibu merasa menyusu makin lebih baik sejak fisioterapi, SNS habis 270-375 ml/hari. Bayi diberikan terapi piracetam 2×30 mg dan fisioterapi diteruskan. Ibu diminta untuk menambah cuti sebanyak 2 bulan lagi. Kontrol berikutnya usia 3 bulan 22 hari BB 2780 gr naik 155 gr namun belum kembali ke BL. SNS bisa habis 400 ml/hari dengan ibu merasa isapan bayi lebih kuat lagi dan dari pemeriksaan fisik didapatkan kontrol leher dan kepala sudah lebih kuat. Bayi teruskan fisioterapi dan piracetam, ibu dapat laktogog 1×1 tablet. Kantor ibu menyetujui surat permohonan tambah cuti ibu. Kontrol berikutnya usia 4 bulan 6 hari, BB 2965 gr sudah melampaui BL, naik 185 gr dari terakhir kontrol dengan SNS yang masuk sekitar 400 ml/hari. Bayi dikonsulkan ke poli laktasi untuk MPASI dini. Terapi pada ibu dan bayi tetap sama. Kontrol berikutnya usia 4 bulan 20 hari, BB 3315 gr naik 350 gr dari terakhir kontrol. Bayi sudah MPASI, tidak ada masalah, bayi senang makan. Ekokardiografi ulang tidak didapatkan kelainan pada jantung bayi. Bayi diberikan suplementasi zat besi dan SNS sedapatnya saja karena bayi sudah makan. Ibu akan masuk kerja dalam 20 hari lagi, bayi sudah bisa minum ASIP dengan gelas.

Kontrol berikutnya usia 5 bulan 18 hari, BB 4055 gr, naik 740 gr dari terakhir kontrol. Dapat dilihat sejak makan, kenaikan BB bayi sudah lebih banyak lagi. SNS hanya 1x/hari karena ibu sudah bekerja, selebihnya bayi makan dan minum ASIP saat ibu bekerja. Fisioterapi masih dilakukan. Kontrol selanjutnya usia 6 bulan 25 hari, BB 5600 gr, naik 1545 gr dalam 1 bulan 7 hari dan sudah mulai masuk ke kriteria tumbuh lambat (slow weight gain) atau gizi kurang. Bayi pintar makan dan SNS hanya 1x/hari karena ibu sudah masuk kerja, SNS lalu dihentikan penggunaanya. Kontrol selanjutnya usia 8 bulan 17 hari, BB 7540 gr, naik 1940 gr dalam 2 bulan. Di mana grafik BB sudah masuk ke kurva normal (gizi baik) pada bayi perempuan di usia 8 bulan 17 hari. Ibu senang karena bayi pintar makan dan menyusu juga makin pintar. Bayi disarankan tetap fisioterapi 1x /bulan.

 

Grafik 1 Perkembangan Berat Badan Bayi

Usia Berat Badan (BB) dalam gram Kenaikan BB Grafik pertumbuhan Terapi Keterangan
Lahir 2850 Menyusui saja Lahir spontan cukup bulan
1 bulan 16 hari 2210 Turun 640 gr dari BL <-3SD (gagal tumbuh) –        Bayi frenotomi

–        Menyusui dengan SNS isi ASIP/ASID 6×30 ml/hari

 

Sedang menunggu hasil pemeriksaan kromosom dengan dugaan sindrom down
1 bulan 28 hari 2320 –        Naik 110 gr dalam 12 hari

–        Rata-rata naik 9,2 gr/hari

–        Masih turun 530 gr dari BL

<-3SD (gizi buruk) –        SNS lanjutkan

–        Ibu dan bayi dapat vit D

Titrasi ulang SNS habis 40 ml
2 bulan 10 hari 2275 –        Turun 45 gr dalam 12 hari

–        Turun 575 gr dari BL

<-3SD (gizi buruk) –        SNS lanjutkan

–        Konsul ke dokter anak subspesialis jantung untuk ekokardiografi

–        Hasil pemeriksaan kromosom bayi dengan sindrom down atau Trisomi 21
2 bulan 19 hari 2280 –        Naik hanya 5 gr dalam 9 hari

–        Turun 570 gr dari BL

<-3SD (gizi buruk) –        SNS masuk 250-300 ml/hari

–        SNS lanjutkan

–        Fisioterapi oral motor

 

–        Hasil ekokardiografi jantung : PDA kecil tapi tidak mengganggu

–        Awal disarankan pemakaian NGT namun bayi menolak

3 bulan 2 hari 2625 –        Naik 345 gr selama 14 hari

–        Rata naik 24,6 gr/hr

–        Turun 225 gr dari BL

<-3SD (gizi buruk) –        SNS lanjutkan

–        Fisioterapi lanjutkan

–        Bayi dapat piracetam 2×30 mg

–        Ibu tambah cuti kerja 2 bulan

–        Isapan bayi dirasakan semakin kuat dan menyusu semakin pintar
3 bulan 22 hari 2780 –        Naik 155 gr dalam 20 hari

–        Rata-rata naik 7,75 gr/hr

–        Turun 70 gr dari BL

<-3SD (gizi buruk) –        SNS dan fisioterapi lanjutkan

–        SNS 350-400 ml/hari

–        Ibu dapat laktogog 1×1 tablet

–        Cuti kerja ibu disetujui

–        Kontrol kepala dan leher bayi sudah lebih kuat

4 bulan 6 hari 2965 –        Naik 185 gr dalam 14 hari

–        Naik rata-rata 13,21 gr/hr

–        Sudah melampaui BL 115 gr

<-3SD (gizi buruk) –        SNS dan fisioterapi lanjutkan

–        SNS 400 ml/hari

–        MPASI dini

Bayi mulai MPASI
4 bulan 20 hari 3315 –        Naik 350 gr dalam 14 hari

–        Naik rata-rata 25 gr/hr

–        Naik 465 gr dari BL

<-3SD (gizi buruk) –        Bayi pintar makan tidak ada kendala dalam makan

–        SNS lanjutkan sedapatnya saja karena bayi sudah MPASI

–        Ekokardiografi ulang dengan hasil normal

–        Ibu masuk kantor 20 hari lagi

5 bulan 18 hari 4055 –        Naik 740 gr dalam 18 hari

–        Naik rata-rata 41,11 gr/hr

–        Naik 1205 gr dari BL

<-3SD (gizi buruk) –        SNS hanya 1x sejak ibu bekerja

–        Bayi pintar makan

–        SNS semau bayi

–        Fisioterapi lanjutkan

–        Ibu sudah masuk kerja

–        ASIP dengan gelas saat ibu kerja

6 bulan 25 hari 5600 –        Naik 1545 gr dalam 1 bulan 7 hari

–        Naik rata-rata 41,75 gr/hr

–        Naik 2750 gr dari BL

<-2SD (gizi kurang) –        Bayi MPASI

–        SNS Stop

–        Bayi pintar makan

–        Ibu senang bayi sudah mulai terlihat berisi

8 bulan 17 hari 7540 –        Naik 1940 gr dalam 54hari

–        Naik rata-rata 35,92 gr/hr

–        Naik 4690 gr dari BL

-2SD–1SD (gizi baik) –        Bayi MPASI

–        Menyusu langsung saat ibu di rumah

–         Fisioterapi satu bulan sekali

–        Ibu senang BB bayi sudah baik

–        Bayi makan dan menyusu lebih baik lagi

 

 

 

Diskusi

Berdasarkan kasus di atas beberapa ciri fisik yang dimiliki bayi sesusi dengan literatur 1,5,6,11 yaitu hipotoni (kelemahan otot), bentuk muka datar, bentuk mata ke atas, bentuk telinga abnormal, lidah yang besar, jarak yang jauh antara ibu jari dan telunjuk kaki. Pada kasus ini penegakkan diagnosa DS didapatkan dengan pemeriksaan kromosom dengan hasil trisomi 21. Pada kasus di atas didapatkan sejak lahir bayi sudah sulit menyusu sehingga ibu mencari alternatif lain dalam memberikan asi kepada bayi. Dengan riwayat menyusui sebelumnya ibu lebih percaya diri bisa menyusui dan memberikan asi. Proses menyusui dapat berjalan walau dengan perjuangan dan tidak bisa murni dengan menyusui langsung saja. Adanya hipotoni pada bayi DS menyebabkan bayi sulit menghisap dan mendapatkan nutrisi sehingga bayi harus disusui dengan bantuan SNS berisikan ASIP atau ASID. Hipotonia adalah salah satu penyebab sulitnya bayi DS untuk menyusui langsung sehingga metode alternatif yang digunakan adalah dengan botol dot atau dengan pemasangan NGT9,10,20,34,36–38. Penggunaan alat bantu suplementasi pada payudara sudah terbukti dapat membantu dalam proses menyusui sehingga bayi dapat tetap tumbuh dengan baik atau berat badan naik dengan baik serta dapat membantu mempertahankan produksi asi ibu29,44. Untuk membantu proses menyusu, pada bayi dilakukan tindakan frenotomi sederhana karena didapatkan adanya ankyloglossia posterior pada bayi. Setelah frenotomi bayi lebih bisa stabil menyusu walau masih banyak tertidur di payudara ibu. Ada beberapa penelitian yang menyatakan bahwa tindakan frenotomi dapat membantu meningkatkan keberhasilan menyusui45–50. Pada bayi-bayi pasca fernotomi didapatkan kenaikan berat badan yang signifikat 45,51–53.

Hal lain yang dapat mengganggu proses memyusui adalah masalah kesehatan pada bayi DS, diantaranya masalah kesehatan atau kelainan jantung5,20,38. Kelainan jantung yang sering didapatkan pada bayi DS antara lain atrium septal defect (ASD), ventricular septal defect (VSD), Tetralogi Fallot (ToF) dan PDA54–58. Karena kelainan-kelainan jantung ini bayi biasanya membutuhkan perawatan lebih lanjut sehingga dipisahkan dari ibu dan menggangu proses menyusui5,20,38. Pada bayi didapatkan kelainan jantung berupa PDA kecil nanum berdasarkan penilaian dokter anak spesialisasi jantung, PDA ini tidak akan mengganggu kesehatan bayi dan diharapkan akan menutup sendiri seiring dengan bertambahnya usia bayi. Hal ini terbukti pada saat pemeriksaan jantung ulang di usia 4 bulan PDA tersebut sudah menutup.

Pada kasus ini bayi juga mendapatkan terapi latihan oral motor oleh fisioterapi. Dengan bantuan fisioterapi, kemampuan oral motor bayi semakin meningkat. Berdasarkan beberapa penelitian didapatkan bahwa latihan oral motor ini dapat membantu dalam menguatkan otot-otot yang digunakan untuk menyusu dan nantinya akan digunakan untuk makan dan berbicara59–61. Hal ini lagi-lagi berhubungan dengan karakteristik bayi DS yaitu adanya hipotoni. Kombinasi antara fisioterapi dan proses menyusui membantu otot-otot bagian mulut dan wajah bayi menjadi lebih kuat62,63. Semakin dini dilakukan fisioterapi maka efeknya akan semakin baik dalam memperkuat otot bayi59,61,64. Latihan oral motor ini juga membantu bayi saat mulai MPASI.  Setelah MPASI terlihat kenaikan berat badan yang signifikat, secara global kita bisa menilai bahwa proses menyusui dan fisioterapi membuat kemampuan otot-otot bayi lebih baik dan bertambah kuat sehingga tidak ditemukan adanya gangguan makan.

Pemberian MPASI dini pada usia 4 bulan berdasarkan referensi dari WHO65. Dimana pada bayi yang mengalami gangguan pertumbuhan walau dengan proses menyusui yang adekuat maka bisa dianjurkan pemberian MPASI dini di usia 4 bulan66–68. Pada kasus ini setelah MPASI, terlihat kenaikan BB yang adekuat dan juga penggunaan SNS dapat dihentikan sehingga bayi hanya menyusu saja dan makan. Terlihat juga dari testimoni ibu, bayi sangat menikmati makan sehingga tidak didapatkan masalah pada saat pemberian makan.

Terapi lain yang diberikan kepada bayi adalah pemberian obat piracetam. Obat piracetam banyak digunakan pada kasus dengan gangguan neurologi seperti pada bayi DS69–71. Obat ini digunakan untuk dapat merangsang sistem saraf sehingga bayi lebih alert terhadap lingkungan. Namun belum ada penelitian yang dengan signifikat menyatakan bahwa piracetam memiliki efek yang baik dalam perkembangan sistem saraf pada bayi DS69,72. Pada kasus ini juga diberikan suplemetansi vitamin D pada ibu dan bayi. Berdasarkan rekomendasi WHO, bayi yang menyusu dan ibu menyusui bisa diberikan suplementasi vitamin D73–75. Kegunaan dari suplementasi vitamin D ini adalah untuk kesehatan tulang, membantu sistem imun, melindungi dari penyakit metabolic seperti diabetes dan hipertensi serta melindungi dari penyakit kanker 74,76–78. Lalu pada ibu juga diberikan lactogog untuk membantu dalam meningkatkan produksi ASI ibu. Pemberian laktogog ini sudah sering dilakukan pada ibu menyusui walau tidak ada standar baku untuk obat yang digunakan79–82.

Faktor-faktor yang mendukung ibu dan bayi dalam keberhasilan menyusui antara lain riwayat keberhasilan menyusui sebelumnya, dukungan keluarga terutama ayah bayi dan dukungan tenaga kesehatan yang mengerti tentang menyusui 9,21,34,36,37,43. Dengan hal in ibu terlihat percaya diri untuk dapat menyusui bayinya dan bersemangat untuk dapat memberikan ASI bagi bayinya. Kedua orang tua sangat patuh dengan terapi yang diberikan dan patuh juga melakukan kontrol rutin sehingga proses tumbuh kembang bayi dapat terpantau dengan baik. Semua yang ibu lakukan dengan dukungan keluarga dan tenaga kesehatan yang mendukung menyusui memperlihatkan bahwa bayi DS bisa tetap menyusu dan mendapatkan ASI.

 

Kesimpulan

Menyusui bayi dengan DS sangatlah memungkinkan walau dengan perjuangan. Dibutuhkan kesabaran dan motivasi yang tinggi dari orang tua dan tenaga kesehatan yang mendukung proses menyusui ini. Diharapkan efek baik menyusui dan ASI untuk kesehatan ibu dan bayi dapat optimal didapatkan pasangan ibu dan bayi. Penulis berharap dengan laporan kasus ini lebih banyak pasangan ibu dan bayi DS yang bisa menikmati proses menyusui dan berhasil dalam menjalaninya walau dengan perjuangan.

 

 

Daftar Pustaka

  1. USD PSIBK. Down Syndrome – Yuk Kenali Lebih Dalam – PSIBK USD Yogyakarta. Pusat studi Universitas Sanata Dharma. Published 2019. Accessed March 3, 2022. https://www.usd.ac.id/pusat/psibk/2019/03/21/down-syndrome/
  2. Schanler RJ, LeTourneau AA, American Academy of Pediatrics, American College of Obstetricians and Gynecologists. Breastfeeding Handbook for Physicians. Vol 2nd edition.; 2013.
  3. Cullen EG. Breastfeeding & Down Syndrome : A Comprehensive Guide for Mothers and Medical Professionals.; 2019.
  4. Magenis ML, de Faveri W, Castro K, Forte GC, Grande AJ, Perry IS. Down syndrome and breastfeeding: A systematic review. Journal of Intellectual Disabilities. Published online 2020. doi:10.1177/1744629520970078
  5. Diamandopoulos K, Green J. Down syndrome: An integrative review. Journal of Neonatal Nursing. 2018;24(5):235-241. doi:10.1016/J.JNN.2018.01.001
  6. Wardah. infodatin-down-syndrom-2019-1. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Pusat Data dan Informasi. Published online 2019.
  7. Lawrence RA, Lawrence RM (Robert M, Noble L, Rosen-Carole C, Stuebe AM. Breastfeeding : A Guide for the Medical Profession. Vol 9th edition.; 2021.
  8. Barros da Silva R, Barbieri-Figueiredo M do C, van Riper M. Breastfeeding Experiences of Mothers of Children with Down Syndrome. Compr Child Adolesc Nurs. 2019;42(4):250-264. doi:10.1080/24694193.2018.1496493
  9. Sooben RD. Breastfeeding patterns in infants with Down’s syndrome: A literature review. British Journal of Midwifery. 2012;20(3):187-192. doi:10.12968/BJOM.2012.20.3.187
  10. Coentro VS, Geddes DT, Perrella SL. Altered sucking dynamics in a breastfed infant with Down syndrome: a case report. Int Breastfeed J. 2020;15(1). doi:10.1186/S13006-020-00318-4
  11. Mai CT, Isenburg JL, Canfield MA, et al. National population-based estimates for major birth defects, 2010–2014. Birth Defects Research. 2019;111(18):1420-1435. doi:10.1002/BDR2.1589
  12. Aj, Watt. 837226484.
  13. Hookway L, Lewis J, Brown A. The challenges of medically complex breastfed children and their families: A systematic review. Maternal and Child Nutrition. 2021;17(4). doi:10.1111/mcn.13182
  14. Sooben D Roja. Breastfeeding Patterns in Infants with Down’s Syndrome: A Literature Review. Vol 20.; 2012:187-192.
  15. Coentro VS, Geddes DT, Perrella SL. Altered sucking dynamics in a breastfed infant with down syndrome: A case report. International Breastfeeding Journal. 2020;15(1). doi:10.1186/s13006-020-00318-4
  16. Pisacane A, Toscano E, Pirri I, et al. Down syndrome and breastfeeding. Acta Paediatrica, International Journal of Paediatrics. 2003;92(12):1479-1481. doi:10.1080/08035250310007024
  17. Bull MJ. Improvement of Outcomes for Children with Down Syndrome. Published online 2017. doi:10.1016/j.ijporl.2016.07
  18. Martin T, Smith A, Breatnach CR, et al. Infants Born with Down Syndrome: Burden of Disease in the Early Neonatal Period. Journal of Pediatrics. 2018;193:21-26. doi:10.1016/j.jpeds.2017.09.046
  19. Lewis E, Kritzinger A. Parental experiences of feeding problems in their infants with Down syndrome. Down’s syndrome, research and practice : the journal of the Sarah Duffen Centre / University of Portsmouth. 2004;9(2):45-52. doi:10.3104/reports.291
  20. Génova L, Cerda J, Correa C, Vergara N, Lizama C M. Good health indicators in children with Down syndrome: High frequency of exclusive breastfeeding at 6 months. Revista Chilena de Pediatria. 2018;89(1):32-41. doi:10.4067/S0370-41062018000100032
  21. Evangelista LG, Furlan RMMM. Fatores facilitadores, principais dificuldades e estratégias empregadas no aleitamento materno de bebês com síndrome de Down: uma revisão sistemática. Audiology – Communication Research. 2019;24. doi:10.1590/2317-6431-2019-2130
  22. Edwards Sarah. Down’s Syndrome and Breastfeeding.; 2014.
  23. Diamandopoulos K, Green J. Down syndrome: An integrative review. Journal of Neonatal Nursing. 2018;24(5):235-241. doi:10.1016/j.jnn.2018.01.001
  24. Stone J Ashlee. Breastfeeding a Baby with Down Syndrome.; 2009. www.cdss.ca
  25. Weijerman M (Michel E, Ipskamp Drukkers). Consequences of Down Syndrome for Patient and Family. [s.n.]; 2011.
  26. Enoch Nicola. Breastfeeding a Baby with Down Syndrome. Vol 29.; 2021.
  27. ABA. Breastfeeding your baby with Down syndrome _ Australian Breastfeeding Association. Australian Breastfeeding Association. Published online 2017.
  28. Cartwright A, Boath E. Feeding infants with Down’s Syndrome: A qualitative study of mothers’ experiences. Journal of Neonatal Nursing. 2018;24(3):134-141. doi:10.1016/j.jnn.2018.03.001
  29. Thomas J, Marinelli KA, Hennessy M, et al. ABM clinical protocol #16: Breastfeeding the hypotonic infant. Breastfeeding Medicine. 2007;2(2):112-118. doi:10.1089/bfm.2007.9995
  30. Barros da Silva R, Barbieri-Figueiredo M do C, van Riper M. Breastfeeding Experiences of Mothers of Children with Down Syndrome. Comprehensive Child and Adolescent Nursing. 2019;42(4):250-264. doi:10.1080/24694193.2018.1496493
  31. Aguilar-Cordero MJ, Rodríguez-Blanque R, Sánchez-López A, León-Ríos XA, Expósito-Ruiz M, Mur-Villar N. Assessment of the technique of breastfeeding in babies with down syndrome. Aquichan. 2019;19(4). doi:10.5294/aqui.2019.19.4.6
  32. Agostini C de O, Poloni S, Barbiero SM, Vian I. Prevalence of breastfeeding in children with congenital heart diseases and down syndrome. Clinical Nutrition ESPEN. 2021;44:458-462. doi:10.1016/j.clnesp.2021.03.023
  33. Hiller E, Lombardo A, Davidson E, Philipp B. Feeding Infants with Down Syndrome Genetic Counseling Program.; 2011.
  34. Nordstrøm M, Kolset SO, Frambu ) ;, et al. Nutritional challenges in children and adolescents with Down syndrome. Lancet Child Adolesc Health. 2020;4:455-464. www.thelancet.com/child-adolescentVol
  35. Ravel A, Mircher C, Rebillat AS, Cieuta-Walti C, Megarbane A. Feeding problems and gastrointestinal diseases in Down syndrome. Archives de Pediatrie. 2020;27(1):53-60. doi:10.1016/j.arcped.2019.11.008
  36. Pisacane A, Toscano E, Pirri I, et al. Down syndrome and breastfeeding. Acta Pædiatrica. 2003;92(12):1479-1481. doi:10.1111/J.1651-2227.2003.TB00835.X
  37. Hookway L, Lewis J, Brown A. The challenges of medically complex breastfed children and their families: A systematic review. Matern Child Nutr. 2021;17(4). doi:10.1111/MCN.13182
  38. Magenis ML, de Faveri W, Castro K, Forte GC, Grande AJ, Perry IS. Down syndrome and breastfeeding: A systematic review. J Intellect Disabil. Published online 2020. doi:10.1177/1744629520970078
  39. Ravel A, Mircher C, Rebillat AS, Cieuta-Walti C, Megarbane A. Feeding problems and gastrointestinal diseases in Down syndrome. Archives de Pédiatrie. 2020;27(1):53-60. doi:10.1016/J.ARCPED.2019.11.008
  40. Cartwright A, Boath E. Feeding infants with Down’s Syndrome: A qualitative study of mothers’ experiences. Journal of Neonatal Nursing. 2018;24(3):134-141. doi:10.1016/J.JNN.2018.03.001
  41. Aguilar-Cordero MJ, Rodríguez-Blanque R, Sánchez-López A, León-Ríos XA, Expósito-Ruiz M, Mur-Villar N. Assessment of the technique of breastfeeding in babies with down syndrome. Aquichan. 2019;19(4). doi:10.5294/AQUI.2019.19.4.6
  42. Anil MA, Shabnam S, Narayanan S. Feeding and swallowing difficulties in children with Down syndrome. J Intellect Disabil Res. 2019;63(8):992-1014. doi:10.1111/jir.12617
  43. Barros da Silva R, Barbieri-Figueiredo M do C, van Riper M. Breastfeeding Experiences of Mothers of Children with Down Syndrome. Compr Child Adolesc Nurs. 2019;42(4):250-264. doi:10.1080/24694193.2018.1496493
  44. Praborini A, Setiani A, Munandar A, Wulandari RA. A Holistic Supplementation Regimen for Tongue-Tied Babies With Slow Weight Gain and Failure to Thrive. clinical lactation. 2018;9(2):78-87.
  45. Praborini A, Purnamasari H, Munandar A, Wulandari RA. Early Frenotomy Improves Breastfeeding Outcomes for Tongue-Tied Infants. Clinical Lactation. 2015;6(1):9-15. doi:10.1891/2158-0782.6.1.9
  46. Ghaheri BA, Cole M, Mace JC. Revision Lingual Frenotomy Improves Patient-Reported Breastfeeding Outcomes: A Prospective Cohort Study. Journal of Human Lactation. 2018;34(3):566-574. doi:10.1177/0890334418775624
  47. Srinivasan A, al Khoury A, Puzhko S, et al. Frenotomy in Infants with Tongue-Tie and Breastfeeding Problems. Journal of Human Lactation. 2019;35(4):706-712. doi:10.1177/0890334418816973
  48. O’Shea JE, Foster JP, O’Donnell CPF, et al. Frenotomy for tongue-tie in newborn infants. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2017;2017(3). doi:10.1002/14651858.CD011065.PUB2
  49. Hill RR, Lyons KS, Kelly-Weeder S, Pados BF. Effect of Frenotomy on Maternal Breastfeeding Symptoms and the Relationship Between Maternal Symptoms and Problematic Infant Feeding. Global Pediatric Health. 2022;9. doi:10.1177/2333794X211072835
  50. Srinivasan A, al Khoury A, Puzhko S, et al. Frenotomy in Infants with Tongue-Tie and Breastfeeding Problems. Journal of Human Lactation. 2019;35(4):706-712. doi:10.1177/0890334418816973
  51. Wongwattana P. The effect of frenotomy on long-term breastfeeding in infants with ankyloglossia. International Journal of Pediatric Otorhinolaryngology. 2022;152. doi:10.1016/j.ijporl.2021.110983
  52. Ghaheri BA, Cole M, Fausel SC, Chuop M, Mace JC. Breastfeeding improvement following tongue-tie and lip-tie release: A prospective cohort study. Laryngoscope. 2017;127(5):1217-1223. doi:10.1002/LARY.26306
  53. Garbin CP, Sakalidis VS, Chadwick LM, Whan E, Hartmann PE, Geddes DT. Evidence of improved milk intake after frenotomy: A case report. Pediatrics. 2013;132(5). doi:10.1542/PEDS.2012-2651
  54. Benhaourech S, Drighil A, el Hammiri A. Congenital heart disease and down syndrome: Various aspects of a confirmed association. Cardiovascular Journal of Africa. 2016;27(5):287-290. doi:10.5830/CVJA-2016-019
  55. Khokhar AM, Ali DrMMM, Mahmood S, Fareed MM. THE Epidemology of down’s syndrome among congential heart disease children in Faisalabad: Epidemology of down’s syndrome among congential heart disease children in Faisalabad. European journal of volunteering and community-based projects. 2021;1(3):30-42. Accessed March 24, 2022. https://pkp.odvcasarcobaleno.it/index.php/ejvcbp/article/view/36
  56. Mughal AR, Khalid ZR, Safdar B, Mughal S. Spectrum of congenital heart disease in Down syndrome at Faisalabad institute of cardiology: A retrospective study. The Professional Medical Journal. 2020;27(03):660-666. doi:10.29309/TPMJ/2020.27.03.4490
  57. Ramphul K, Mejias SG, Joynauth J. Down syndrome predisposes to congenital cardiac malformations. EXCLI Journal. 2019;18:799. doi:10.17179/EXCLI2019-1783
  58. Alhuzaimi AN, Alotaibi NM, Alsuhaibani GI, Alanazi RK, Temsah MH. Congenital Heart Defect and Pulmonary Hypertension in Children With Down Syndrome: Clinical Profile Over Two Decades. Cureus. 2021;13(2). doi:10.7759/CUREUS.13212
  59. Ruiz-González L, Lucena-Antón D, Salazar A, Martín-Valero R, Moral-Munoz JA. Physical therapy in Down syndrome: systematic review and meta-analysis. Journal of Intellectual Disability Research. 2019;63(8):1041-1067. doi:10.1111/JIR.12606
  60. Dincer S, Dogan D, Kivilcim M, Canaloglu S. Developmental assessment of children with down syndrome. Annals of Medical Research. 2019;(0):1. doi:10.5455/ANNALSMEDRES.2018.12.284
  61. de Oliveira Pianezzola Renata, Ilha Azambuja Daniela, Mugnol Maria Carolina, et al. Effect of early intervention in an interdisciplinary group of children with Down syndrome in a special integration center. Fisioterpia Brasil. 2018;19(5):651-659. doi:10.33233/fb.v19i5.2711
  62. Pinto FM, Saccomanno S, Silvia C, et al. A specific protocol of myo-functional therapy in children with Down syndrome. A pilot study View project Hypercapnia on healthcare professionals: an evaluation survey View project 243. Article in European Journal of Paediatric Dentistry. 2018;19. doi:10.23804/ejpd.2018.19.03.14
  63. Amăricăi E, Cățan L, Leorinți F. The necessity of rehabilitation in children with Down syndrome. Timişoara Physical Education and Rehabilitation Journal. 2019;12(23):7-10. doi:10.2478/tperj
  64. Bimstein E, Miskovich C. The need of interdisciplinary approach for the treatment of children with down syndrome with severe caries unintentionally facilitated by hypotonia therapy. Journal of Clinical Pediatric Dentistry. 2018;42(4):299-302. doi:10.17796/1053-4628-42.4.11
  65. WHO. Complementary Feeding. Published online 2000.
  66. Abeshu MA, Lelisa A, Geleta B. Complementary Feeding: Review of Recommendations, Feeding Practices, and Adequacy of Homemade Complementary Food Preparations in Developing Countries – Lessons from Ethiopia. Frontiers in Nutrition. 2016;3:1. doi:10.3389/FNUT.2016.00041
  67. Monte CMG, Giugliani ERJ. Recommendations for the complementary feeding of the breastfed child. Jornal de Pediatria. 2004;80(8):131-141. doi:10.2223/JPED.1245
  68. Krebs NF, Hambidge KM, Mazariegos M, et al. Complementary feeding: A Global Network cluster randomized controlled trial. BMC Pediatrics. 2011;11. doi:10.1186/1471-2431-11-4
  69. Leslin Len. Piracetam and Down Syndrome. DS Health. Published 2003. Accessed March 24, 2022. http://ds-health.com/piracet.htm
  70. Moran TH, Capone GT, Knipp S, Davisson MT, Reeves RH, Gearhart JD. The effects of piracetam on cognitive performance in a mouse model of Down’s syndrome. Physiol Behav. 2002;77(2-3):403-409. doi:10.1016/S0031-9384(02)00873-9
  71. Dorfman Kelly. Piracetam: A Powerful Tool for Learning Disabilities and Dyspraxia. Developmental Delayed Resources. Published 2009. Accessed March 24, 2022. http://devdelay.org/newsletter/articles/html/308-piracetam.html
  72. Lobaugh NJ, Karaskov V, Rombough V, et al. Piracetam Therapy Does Not Enhance Cognitive Functioning in Children With Down Syndrome. Arch Pediatric Adolescen Medicine. 2001;155:442-448.
  73. CDC. Vitamin D | Breastfeeding | CDC. CDC. Published 2021. Accessed March 24, 2022. https://www.cdc.gov/breastfeeding/breastfeeding-special-circumstances/diet-and-micronutrients/vitamin-d.html
  74. O’Callaghan KM, Taghivand M, Zuchniak A, et al. Vitamin D in Breastfed Infants: Systematic Review of Alternatives to Daily Supplementation. Advances in Nutrition. 2020;11(1):144-159. doi:10.1093/ADVANCES/NMZ098
  75. Heo JS, Ahn YM, Kim ARE, Shin SM. Breastfeeding and vitamin D. Clinical and Experimental Pediatrics. Published online December 14, 2021. doi:10.3345/CEP.2021.00444
  76. National Institute of Health. Vitamin D – Health Professional Fact Sheet. National Institute of Health. Published 2021. Accessed March 24, 2022. https://ods.od.nih.gov/factsheets/VitaminD-HealthProfessional/
  77. del ARCO C, RIANCHO JA, LUZURIAGA C, GONZALEZ‐MACIAS J, FLÓREZ J. Vitamin D status in children with Down’s syndrome. J Intellect Disabil Res. 1992;36 ( Pt 3)(3):251-257. doi:10.1111/J.1365-2788.1992.TB00512.X
  78. Taylor SN. ABM Protocol ABM Clinical Protocol #29: Iron, Zinc, and Vitamin D Supplementation During Breastfeeding. Breastfeeding medicine. 2018;13(6). doi:10.1089/bfm.2018.29095.snt
  79. Foong SC, Tan ML, Foong WC, Marasco LA, Ho JJ, Ong JH. Oral galactagogues (natural therapies or drugs) for increasing breast milk production in mothers of non-hospitalised term infants. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2020;(5):1-150. doi:10.1002/14651858.CD011505.pub2
  80. McGuire TM. Drugs affecting milk supply during lactation. Australian Prescriber. 2018;41(1):7. doi:10.18773/AUSTPRESCR.2018.002
  81. Zuppa AA, Sindico P, Orchi C, et al. Safety and Efficacy of Galactogogues: Substances that Induce, Maintain and Increase Breast Milk Production. Journal of Pharmacy & Pharmaceutical Sciences. 2010;13(2):162-174. doi:10.18433/J3DS3R
  82. Foong SC, Tan ML, Foong WC, Marasco LA, Ho JJ, Ong JH. Oral galactagogues (natural therapies or drugs) for increasing breast milk production in mothers of non-hospitalised term infants. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2020;2020(5). doi:10.1002/14651858.CD011505.PUB2/MEDIA/CDSR/CD011505/IMAGE_N/NCD011505-CMP-005.02.SVG

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.