MENETEKI DENGAN COVID-19 POSITIF

Ditulis oleh dr Nisa Uswatun Karimah

 

KASUS

By S, perempuan, anak pertama,  lahir cukup bulan secara sesar dengan administrasi BPJS dari ibu F di salah satu RSSayang Ibu dan Bayi (RSSIB) di daerah D pada tanggal 7 November 2020 dengan berat lahir 3230 gram, lahir langsung menangis, langsung rawat gabung dan sangat didukung untuk meneteki langsung. Ibu F adalah salah seorang karyawan yang bekerja di RSSIB tersebut. Sebagai karyawan RSSIB ternama di daerah D, ibu pernah mengikuti edukasi laktasi bagi karyawan yang setiap tahunnya diselenggarakan oleh tim laktasi di RSSIB tersebut,  sehingga ibu sangat ingin meneteki hingga 2 tahun.

 

Keesokan harinya setelah melahirkan, ibu dan bayi dikunjungi oleh dokter laktasi, yaitu dokter O, dilakukan konseling menyusui dan praktek langsung di ruangan rawat inap. Ibu mengeluh perih meneteki. Setelah pemeriksaan, pada bayi ditemukan adanya tongue tie dan lip tie yang mengganggu proses meneteki. Ibu dan ayah pun segera memutuskan untuk frenotomi tongue tie dan lip tie oleh dokter R keesokan harinya saat bayi berusia 3 hari. Saat dilakukan frenotomi, BB bayi sudah turun banyak, yaitu sebesar 8% menjadi 2970 gr. Setelah tindakan frenotomi, konselor mengajarkan senam lidah dan bibir kepada orang tua. Senam lidah dan bibir ini disarankan untuk dikerjakan 5 kali sehari sampai 3 minggu ke depan. Selain itu, bayi disarankan untuk sering melakukan tummy time setiap hari di dada orang tua. Bayi juga diberi jellyuntuk dioles di bawah lidah dan bibir atas dan disarankan untuk kontrol 1 minggu setelah frenotomi.

 

Karena tidak ada keluhan sama sekali dan meneteki dirasa lancar, ibu tidak kontrol paska insisi. Ibu baru kontrol hampir 2 bulan kemudian karena BB bayi sulit naik. Ibu datang pada tanggal 29 Desember 2020. Di usia 1 bulan 22 hari BB bayi 3715 gr, hanya naik 9,7 gr/hari sejak insisi. Untuk usianya, status gizi bayi sudah memasuki status gizi kurang di bawah -2SD (standar deviasi). Ibu bertemu dokter N di poli laktasi. Dari anamnesis diketahui bahwa senam lidah tidak dikerjakan sebagaimana mestinya, sehingga ditemukan adanya penempelan kembali  (reattached) tongue tie yang menjadi penyebab BB sulit naik. Bayi kemudian dilakukan reinsisi (pemotongan kembali) reattached tongue tie sehingga bayi dapat menetek baik kembali. Namun karena bayi terlanjur mengalami masalah pertumbuhan, maka segera dipasangkan suplementasi dengan Supplemental Nursing System (SNS) sesuai dosis yang telah ditentukan.

BANNER 728 x 90

 

Sejak reinsisi dan berbekal pengalaman sebelumnya, ibu selalu rutin kontrol sesuai jadwal yang ditentukan, BB bayi selalu naik baik dan dosis SNS dapat diturunkan bertahap hingga dapat diberhentikan setelah BB bayi naik baik sesuai kurva pertumbuhan dan memasuki status gizi baik. Ibu juga diberikan tambahan cuti kerja agar mendukung kelancaran meneteki hingga 2 tahun dan pihak RS langsung menyetujui cuti tambahan karyawannya yang ingin menyusui. Kemudian dijadwalkan kontrol di akhir bulan berikutnya, yaitu pada tanggal 26 Januari 2021.

 

Namun sayang, ternyata sebelum jadwal kontrol berikutnya, yaitu pada tanggal 23 Januari 2021, ayah bayi terdeteksi positif covid-19 dari hasil swab karena habis melakukan perjalanan dinas keluar kota. Ayah bergejala demam dan batuk. Setelah penelusuran penularan penyakit (tracing), ibu dan bayi juga positif, namun tanpa gejala (OTG). Karena ayah bergejala, orang tua dan bayi memutuskan melakukan perawatan isolasi di RSSIB di tempat ibu bekerja dan tetap memilih untuk rawat gabung dan meneteki langsung semau bayi. Ibu juga didukung oleh seluruh tenaga kesehatan yang menangani ibu dan bayi karena seluruh tenaga kerja di RSSIB tersebut pro ASI. Ibu pun sempatkan menghubungi dokter laktasi (via whats App), yaitu dokter R untuk menanyakan panduan meneteki lancar hingga 2 tahun walaupun dalam keadaan pandemi dan terdeteksi positif covid. Ibu tetap dimotivasi untuk meneteki langsung seperti biasa, tentu dengan pengendalian pencegahan penularan penyakit infeksi, seperti memakai masker, sering cuci tangan, dan penggunaan disinfektan.

 

Setelah perawatan selama 7 hari, yaitu tanggal 23-29 Januari 2021, ayah sudah tanpa gejala, sehingga orang tua dan bayi melanjutkan isoman (isolasi mandiri) di rumah. Di rumah, ibu tetap meneteki bayi seperti biasa dengan pengendalian pencegahan penularan penyakit. Setelah 1 minggu di rumah, tanggal 5 Februari 2021 bayi dinyatakan negatif swab, namun ibu dan ayah masih positif. Ibu tetap meneteki bayi seperti biasa, namun dengan protokol kesehatan pencegahan penularan penyakit. Seminggu kemudian, yaitu pada tanggal 12 Februari 2021, ayah dan ibu diswab ulang dengan hasil negatif dan sekeluarga dinyatakan sembuh dari covid. Bayi kemudian dijadwalkan untuk kontrol segera setelah semua keluarga negatif.

 

Pada tanggal 19 Februari 2021, saat usia 3 bln 14 hari, bayi kembali kontrol setelah negatif dan hasil pemeriksaan semua baik. BB naik baik walaupun tanpa suplementasi dan ASI ibu juga tetap banyak. Ibu juga sudah menjelang masuk bekerja lagi setelah tambahan cuti yang diberikan. Pada ibu dan ayah diajarkan manajemen laktasi pada ibu bekerja.

 

Setelah itu, berikutnya pun bayi selalu kontrol teratur, berat badan bayi selalu naik baik setiap bulannya, hingga saat ini. Tidak ada masalah meneteki dan bayi juga sudah memasuki masa MPASI (Makanan Pendamping ASI), tentu berbekal konseling MPASI 4 bintang yang baik sesuai panduan WHO (World Health Organization). Bayi sehat, dengan status gizi baik, masih meneteki dengan lancar secara langsung atau DBF (direct breastfeeding) dan akan melanjutkan menyusui sampai 2 tahun. Saat ini bayi berumur 6 bulan dengan BB 6800 gram.

 

 

DISKUSI DAN PEMBAHASAN

Frenotomi adalah sebuah prosedur yang digunakan untuk mengkoreksi kondisi kongenital dimana frenulum lidah atau frenulum bibir atas terlalu ketat sehingga menyebabkan restriksi atau terbatasnya gerakan yang dapat menyebabkan kesulitan menyusui. Dan dalam beberapa kasus juga menyebabkan masalah kesehatan lain seperti gigi yang bercelah atau berjarak, kesulitan bicara, dan masalah digestif atau pencernaan. Bila terjadi pada frenulum lidah, maka kondisi ini biasa disebut tongue tie (istilah medisnya adalah ankyloglossia) dan angka kejadian dari ankyloglossia yang dilaporkan berkisar hingga 10,7 %.1,2

 

Lidah merupakan organ yang kompleks terdiri dari 8 otot yang dilibatkan dalam makan, bernapas, berbicara, tidur, postur,dan fungsi esensial lainnya. Fungsi lidah yang ideal dan postur otot saat istirahat juga membentuk pertumbuhan yang baik, perkembangan lengkung gigi, serta perkembangan wajah dan saluran napas.3

 

Ankyloglossia atau tongue tie adalah frenulum lidah yang pendek dan ketat, sehingga menyebabkan keterbatasan gerak lidah.4 Menurut International Affiliation of Tongue Tie Professionals (IATP), tongue tie adalah jaringan sisa dari proses embriologi di garis tengah tubuh (midline) antara bagian bawah lidah dan dasar mulut yang menghambat pergerakan lidah.8 Prevalensi dari ankyloglossia adalah 3,2% sampai dengan 10,7%.2 Ankyloglossia ditemukan lebih banyak pada bayi laki-laki dibandingkan perempuan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tongue tie diturunkan secara autosomal dominan dengan incomplete penetrance atau tidak selalu muncul.6,7. Namun, beberapa studi, di antaranya dari penelitian Han SH, dkk (2012), yang meneliti penurunan genetik ankyloglossia dengan analisis pedigree, ankyloglossia terkait dengan kromosom X resesif (X-linked recessive), dan ibu dari pasien perempuan adalah karier (pembawa sifat).8 Mayoritas ankyloglossia muncul sebagai suatu masalah tunggal. Namun, tongue tie juga dapat ditemukan berhubungan dengan kejadian lainnya, seperti X-linked cleft palate, Kindler syndrome, van der woude syndrome, Opitz Syndrome3, Orofaciodigital syndrome, Beckwith-Wiedemann syndrome, Simpson-Golabi-Behmel syndrome9 dan Pierre Robin Syndrome10.

Ankyloglossia muncul ketika tidak terjadi apoptosis yang baik selama perkembangan embriologi.11 Jaringan lidah berkembang pada sekitar minggu keempat kehamilan. Pada fase ini, terbentuk lekukan di tepi jaringan lidah, sehingga lidah dapat bergerak bebas, kecuali sisi frenulum lidah yang berada sampai di ujung lidah. Seiring perkembangan, sel-sel pada frenulum mengalami apoptosis dan bermigrasi ke sisi medial lidah. Pada saat ini, bila terjadi gangguan pada kontrol sel dan tidak terjadi migrasi yang sempurna atau bahkan tak muncul, maka akan menyebabkan kondisi ankyloglossia.12

 

Faktor genetik, epigenetik, lingkungan, dan jejas fisik selama perkembangan embrio dapat mengganggu kematian sel terprogram atau apoptosis sehingga menyebabkan malformasi.7 Terkait mutasi genetik, dilaporkan ada 2 gen yang berhubungan dengan kondisi ankyloglossia anak: 1) mutasi gen TBX22, yang menyebabkan tongue tie yang tidak disertai sindrom. 2) gen G-protein-coupled receptor (Lgr5). Tidak adanya gen G-protein-coupled receptor (Lgr5) pada tikus menyebabkan fenotip tongue tie dan menyebabkan kematian dalam 24 jam karena kesulitan makan, namun diperlukan penelitian lebih lanjut pada manusia.6,7

 

Faktor epigenetic yang berhubungan dengan ankyloglossia di antaranya adalah proses metilasi DNA. Proses ini berpengaruh terhadap pembentukan wajah normal saat pembentukan embrio. Proses tersebut sangat sensitif terhadap stressor, seperti virus, zat kimia, obat-obatan, nutrisi, dan stres.11 Contoh nutrisi yang diperlukan metilasi DNA adalah Folat.6 Namun, belum terdapat studi yang membuktikan dengan pasti tentang hubungan defisiensi folat dengan terjadinya ankyloglossia. Folat dapat didapat dari suplementasi berupa asam folat (folic acid) dan dari bentuk alami, yaitu 5-methyltetrahydrofolate. Bentuk terakhir lebih mudah diserap dan memiliki bioavailibilitas yang lebih baik. Untuk metabolisme asam folat menjadi 5-methyltetrahydrofolate, diperlukan enzim MTHFR (Methylenetetrahydrofolate Reductase). Pada populasi dengan polimorfisme MTHFR, dapat terjadi kendala metabolism asam folat, sehingga diduga mengganggu proses metilasi DNA.6 Sehingga, penggunaan bentuk alami 5-methyltetrahydrofolate lebih disarankan daripada asam folat.13 Namun, menurut Center for Disease Control and Prevention (CDC), pasien dengan polimorfisme MTHFR tetap dapat menggunakan asam folat, namun dengan cara yang lebih lambat, sehingga tetap disarankan menggunakan suplementasi asam folat.14

 

Gejala yang ditimbulkan pada tongue tie tidak hanya muncul pada bayi, namun juga dapat muncul gejala pada ibu.Biasanya keluhan yang muncul pada ibu yang sedang menyusui anaknya dengan tongue tie adalah nyeri saat menyusui,puting lecet, pengosongan payudara yang tidak efektif, dan infeksi payudara. Gejala yang mungkin timbul pada bayi berupa berat badan yang tidak naik baik, tertidur saat menyusui (karena bayi dengan tongue tie akan membutuhkan energi ekstra untuk menyusu dibandingkan bayi tanpa tongue tie, sehingga dia menjadi mudah lelah), kualitas pelekatan yang buruk, reflux dan gejala kolik, gumming atau mengunyah puting, lip blisters, serta episode tidur yang sebentar.2,15,16

 

Selain tongue tie, masalah menyusui juga dapat disebabkan oleh lip tie. Lip tie adalah tali atau frenulum pada bagian atas bibir yang menempel pada rahang atas. Frenulum ini tidak memiliki otot dan hanya berupa membran saja. Bila frenulum ini menempel pada bagian tulang atau gusi atas maka bisa menyebabkan adanya gerakan yang terbatas untuk bibir saat menyusu. Posisi bibir yang dower dibutuhkan dalam proses menyusu agar mulut bayi dapat membuat vakum atau tekanan negatif tinggi sehingga bayi dapat menghisap dengan baik dan transfer asi bisa optimal. Bibir yang dower juga merangsang adanya rantai oksitosin yang menyebabkan keluarnya asi dari payudara ibu optimal. Bibir bayi yang tidak dower pada saat menyusu ke payudara dapat menimbulkan keluhan menyusui, seperti nyeri,  dan puting lecet.11

 

Dalam menangani pasien laktasi, perlu pendekatan yang holistik atau menyeluruh. Artinya, seorang konselor harus mampu melihat kasus laktasi sebagai suatu rangkaian kejadian yang saling berhubungan dan sebagai sebuah proses yang melibatkan ibu, bayi dan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, dalam menyelesaikan masalah laktasi, ketiga komponen tersebut harus selalu diperhatikan dan dievaluasi. Sebagai contoh, kasus tongue tie dan lip tie tidak selesai begitu saja dengan frenotomi, kita harus melihat berat badan bayi (kenaikan dan status gizinya), produksi ASI ibu, profesi ibu, cuti melahirkan, dukungan dari keluarga dan tempat bekerja, serta evaluasi proses senam lidah dan bibir pasca tindakan. Kontrol pasca frenotomi yang berkesinambungan dan sesuai jadwal sangat dibutuhkan untuk menentukan langkah yang perlu diambil selanjutnya. Pada kasus tongue tie anak besar, selain menanyakan riwayat laktasi, kita juga perlu menggali masalah makan, bicara dan kualitas hidupnya sehari-hari.

 

Coronavirus Desease (Covid-19) adalah penyakit baru yang muncul pada tahun 2019 dan disebabkan oleh infeksi Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-COV-2). Wabah virus corona baru bernama “SARS-CoV-2” menyebabkan penyakit pernapasan yang disebut penyakit coronavirus 2019 (COVID-19) yang berasal dari Wuhan, Cina. Penyakit ini telah menyebar secara global dalam 1,5 tahun terakhir dan telah dinyatakan sebagai pandemi. Penyakit ini dapat mengenai siapa saja, termasuk juga ibu menyusui dan bayi. Pada beberapa kasus wanita dengan COVID-19 dan infeksi coronavirus lainnya yang dilaporkan, hingga saat ini tidak ada bukti SARS-CoV-2 yang terdeteksi dalam ASI. 17,18,19

 

Pilihan untuk menyusui adalah pilihan Ibu dan keluarga. Mempertimbangkan manfaat menyusui bagi kesehatan bayi dan peran ASI yang hingga saat ini tidak berkaitan dalam penularan virus penyakit pernapasan melalui proses menyusui, maka Ibu dapat tetap menyusui. Sambil menerapkan semua tindakan pencegahan yang diperlukan. Ibu yang terpapar virus corona setelah melahirkan lalu menyusui bayinya dan ibu yang terkena virus saat menyusui bayinya akan memproduksi antibodi di dalam ASI yang akan melindungi bayi mereka. Sehingga tetap melanjutkan menyusui adalah salah satu cara melawan virus dan melindungi bayi. WHO menyatakan bahwa ibu dengan covid tetap dapat melakukan IMD (Inisiasi Menyusu Dini), rawat gabung, serta menyusui banyinya, dengan protokol kesehatan.20,21,22

 

Jika ibu baik-baik saja dan hanya terpapar , yaitu sebagai orang tanpa gejala (OTG) atau dengan gejala ringan, menyusui adalah pilihan yang sangat masuk akal dan diikuti dengan tindakan mengurangi risiko pemaparan residu pernapasan ibu pada sistem respirasi bayi. Hal ini juga berlaku pada ibu menyusui yang melakukan isolasi mandiri di rumah maupun yang melakukan isolasi di fasilitas kesehatan.  Pada Ibu menyusui yang menunjukan gejala sedang, ibu masih bisa menyusui. Namun hal ini harus diikuti dengan tindakan pencegahan yang diperlukan termasuk mengenakan masker ketika dekat bayi (termasuk saat menyusui), mencuci tangan sebelum dan setelah kontak dengan bayi (termasuk menyusui), dan membersihkan serta melakukan disinfeksi permukaan yang terkontaminasi.18,20,21

 

Jika seorang ibu terlalu sakit dan memerlukan perawatan di Rumah Sakit, bila ibu masih berniat untuk melanjutkan menyusui, disarankan untuk memerah ASI agar tetap terjaga produksinya dan memberikannya kepada anak melalui cangkir bersih bermulut lebar oleh seseorang yang sehat. Jika memerah ASI dengan pompa ASI, ibu harus mencuci tangan sebelum menyentuh pompa atau bagian botol apa pun dan mengikuti rekomendasi untuk pembersihan pompa yang benar setelah digunakan di setiap sesinya. Jika kondisi kesehatan ibu tidak dapat memerah atau memompa ASI, keluarga dapat disarankan untuk membantu mencari donor ASI untuk bayi. ASI donor harus dipasteurisasi sebelum diberikan ke bayi. Setelah ibu pulih, ibu dapat melakukan relaktasi (usaha untuk dapat menyusui kembali) dengan didampingi dokter atau konselor laktasi yang berkompeten.18,21

 

Dalam kasus ini, ibu dan bayi keduanya positif covid-19. Ibu memilih tetap melanjutkan menyusui dan tetap rawat gabung dalam perawatan di RS tempat ibu bekerja, dimana RS tersebut merupakan salah satu RS Sayang Ibu dan Bayi (RSSIB) yang sangat mendukung menyusui. Ibu dan bayi dirawat oleh dokter dan tenaga kesehatan yang juga sangat mendukung menyusui. Dengan tetap menyusui, bayi ternyata sembuh lebih cepat dibanding kedua orang tuanya, terbukti dengan keluarnya hasil swab yang negatif lebih dahulu. Walaupun ibu masih terdeteksi positif, ibu tetap melanjutkan menyusui bayinya yang sudah negatif dan bayinya tetap sehat. Pada akhirnya ibu sekeluarga pun sehat kembali tanpa terganggu proses menyusuinya sama sekali. Hal ini dapat terjadi karena ibu berbekal ilmu dan keyakinan bahwa ASI dan menyusui tetap yang terbaik bagi ibu dan bayi, serta didukung oleh fasilitas serta tenaga kesehatan yang sangat mendukung menyusui.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Ghaheri Tongue Tie, Tongue Tie and Breastfeeding, Tongue Tie Laser Surgery. Diunduh dari: Drghaheri.com
  2. Geddes DT, et al. Frenulotomy for Breastfeeding Infants with Ankyloglossia: Effect on Milk Removal and Sucking Mechanism as Images by Ultrasound. 2008 July; American Academy of Pediatrics, vol 122: 188-194.
  3. Baxter, Richard. 2018. Tongue Tied – How a Tiny String Under the Tongue Impacts Nursing, Speech, Feeding and More. Alabama: United States of America
  4. Chaubal TV. Ankyloglossia and its management. J Indian Soc Periodontol. 2011 Jul-Dec; 6(2): 49-54
  5. Murphy JG. Ankyloglossia and it’s significance for breastfeeding. Powerpoint presentation. 2013 Jan 31.
  6. Sari LN, Auerkari EI. Molecular Genetics and Epigenetics of Ankyloglossia. 2018 Jan; Advances in Health Sciences Research, vol. 4:103-14.
  7. Morowati S, et al. Familial Ankyloglossia (Tongue-tie): A Case Report. Acta medica Iranica. 2010 Apr; 48(2):123-4
  8. Han S-H, Kim M-C, Choi Y-S, Lim J-S, Han K-T. A Study on the Genetic Inheritance of Ankyloglossia Based on Pedigree Analysis. Archives of Plastic Surgery. 2012;39(4):329-332.
  9. Kupietzky A, Botzer E. Ankyloglossia in the Infant and Young Child: Clinical Suggestions for Diagnosis and Management. Pediatric Dentistry. 2005:27(1)
  10. Charisi C, et al. Etiology, diagnosis, and treatment of ankyloglossia. Balk J Dent Med, 2017;141-145
  11. Cole M. Tongue and Lip Tie: A Comprehensive Approach to Assessment and Care. Powerpoint presentation. 2017.
  12. Pompeia et al. Ankyloglossia and its influence on growth and development of the stomatognatic system. Rev Paul Pediatr. 2017 Apr-Jun; 35(2): 216–221
  13. Scaglione F, Panzavolta G. Folate, folic acid and 5-methyltetrahydrofolate are not the same thing. Xenobiotica. 2014 May; 44(5):408-8.
  14. https://www.cdc.gov/ncbddd/folicacid/about.html
  15. https://www.drghaheri.com/blog/2014/2/20/a-babys-weight-gain-is-not-the-only-marker-of-successful-breastfeeding.
  16. Praborini A, Purnamasari H, Munandar A, Wulandari RA. Early Frenotomy Improves Breastfeeding Outcomes for Tongue-Tied Infant. United States Lactation Consultant 2015; 6(1): 9-15.
  17. Centers for Disease Control and Prevention (CDC): Interim Guidance on Breastfeeding for a Mother Confirmed or Under Investigation for COVID-19.
  18. Academy of Breastfeeding Medicine (ABM): Statement on COVID-19. March, 10, 2020.
  19. International Baby Food Action Network (IBFAN). 2020. Infant and Young Child Feeding in the Context of Covid-19.
  20. UNICEF Coronavirus-19 Disease (COVID-19): What Parents Should Know. How to protect yourself and your children.
  21. 2020. Breastfeeding and Covid-19.
  22. American Academy of Pediatrics Committee on Fetus and Newborn. 2020. Initial Guidance: Management of Infants Born to Mothers with Covid-19.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.