Menyusui bayi dengan kondisi Gagal Tumbuh, Tongue Tied Sub-mukosa dan Lip Tie grade 4 (Bagian 1)

Oleh : dr. Hazwani Fadhillah Nasution

 

Bayi AR adalah anak pertama dari pasangan Ny. RA dan Tn. A yang lahir di salah satu RSIA kota Medan pada tanggal 18 januari 2021. Ny. RA datang Bersama nenek (orang tua ny. RA) membawa bayi AR untuk konsultasi menyusui. Bayi AR lahir melalui proses persalinan SC diusia kehamilan cukup bulan dengan berat lahir 2820gr. Sejak lahir di RS bayi AR langsung diberi sufor memakai dot karena alasan asi ibu belum keluar. Selama 1 minggu bayi AR mendapat asupan sufor saja. Setelah itu baru ny. AR belajar menyusui bayi AR karena merasa asi sudah ada. Ny. AR mengeluhkan bayi AR menetek lama, sulit menangkap payudara, mudah lepas dari payudara, menghisap sebentar-sebentar lalu terdiam/tertidur didepan payudara dan setelah menetek bayi AR tetap rewel menangis seolah tidak puas menyusu. Oleh karena itu Ny. AR selalu menambahkan 30cc sufor memakai dot setelah bayi AR menetek, agar ia bisa puas dan tidur lelap.

 

Pada kunjungan pertama di tanggal 16 Februari 2021, bayi AR berusia 29 hari. Saat ditimbang, berat badannya adalah 2590gr. Bayi AR tidak mengalami kenaikan berat badan sama sekali justru turun sekitar 230gr. Karena di umur 29 hari bayi AR belum mencapai berat lahir dan berdasarkan kurva pertumbuhan standar menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), berat badan bayi AR menunjukkan kondisi gagal tumbuh (Failure to Thrive) dan Gizi buruk (berat <-3SD).

Dari pemeriksaan fisik ditemui payudara ny. RA dalam batas normal dan produksi asi ibu menurun. Pada bayi ditemui adanya tali lidah pendek  tersembunyi dibelakang lidah yang disebut dengan tongue tie sub-mukosa serta lip tie derajat 4. Saat pemeriksaan proses menyusui, tampak bayi AR sangat sulit diposisikan untuk menyusu dengan nyaman, tubuhnya kaku dengan kedua tangan cenderung menekuk didepan dada. Dalam posisi cross cradle, bayi melekat hanya di puting ibu, menghisap kontinyu dan hanya beberapa kali terdengar menelan, kemudian payudara gampang terlepas dari mulut bayi. Ny. RA juga merasa nyeri saat bayi menyusu walau tidak dijumpai adanya lecet pada kedua putting.

Kemudian kami menjelaskan kondisi bayi AR dan rencana terapi yang akan dijalankan kepada Ny. AR, termasuk rencana Tindakan frenotomi, penggunaan supplementer, fisioterapi untuk bayi AR, serta terapi tambahan untuk ny. AR. Akhirnya ny. AR sepakat untuk dilakukan pemasangan supplementer pada ibu dan fisioterapi pada bayi terlebih dahulu dan ibu meminta waktu untuk berdiskusi dengan suami untuk pelaksanan Tindakan frenotomy.

BANNER 728 x 90

Pada kunjungan pertama ini, ibu diajarkan menyusui langsung dengan terpasang alat supplementer berisi susu formula yang ibu bawa dari rumah. Alat supplementer berupa NGT fr5 dan spuit 50cc, kami isi dengan 30cc susu formula. Saat bayi AR melekat dipayudara, ibu mendorong susu formula di alat supplementer untuk memancing agar bayi mau menghisap. Selanjutnya ibu akan menggunakan alat supplementer ini sebanyak minimal 6x30cc sehari. Kami juga menyampaikan bahwa pada kasus ini dimana bayi AR sudah dalam kondisi gizi buruk, diawal-awal bayi AR mungkin hanya mampu menghabiskan sedikit susu formula di alat suplementernya, namun kemungkinan besar dosis susu formula nya akan meningkat lebih dulu seiring gizi bayi AR semakin membaik. Ny. RA juga diberi laktogog serta diberi kontak fisioterapis untuk segera dihubungi.

 

Saat kunjungan kedua, di tanggal 23 Februari 2021, ny. RA datang hanya berdua dengan bayi AR. Saat ditimbang, berat badan bayi AR 2870gr. Di umur 36 hari, bayi AR sudah melampaui berat badan lahir dan meningkat sebesar 40gr/hari sejak 1minggu terakhir (dipasang supplementer). Status gizi bayi AR berdasarkan kurva pertumbuhan standar WHO telah meningkat diatas garis -3SD yang artinya sudah beranjak dari status gizi buruk menjadi gizi kurang. Namun ny. RA masih mengeluhkan proses menyusui yang dia rasa kurang optimal. Bayi AR sudah tidak menggunakan dot lagi namun ia menyusu per 1 jam sekali dan cenderung tidak banyak menghisap. Ibu harus selalu mendorong susu formula dalam supplementer agar bayi AR mau menghisap. Ibu juga masih merasa nyeri saat bayi menyusu, karena pelekatan yang masih dangkal serta mudah lepas. Bayi AR juga sudah difisioterapi sebanyak 3x, ibu merasa banyak kemajuan pada bayi AR, termasuk badan yang sudah tidak terlalu kaku dan mudah untuk diposisikan menyusui dengan nyaman.

Dikunjungan kedua ini ny. RA sepakat untuk langsung dilakukan Tindakan frenotomy. Setelah Tindakan dilakukana, ibu dengan terpasang supplementer berisi formula sebanyak 60cc, bayi AR langsung disusui. Terlihat pelekatan lebih dalam, mulut bayi terbuka lebih lebar, menghisap kontinyu dan sering terdengar suara menelan, ibu tidak lagi merasa nyeri dan susu formula dalam supplementer terhisap oleh bayi tanpa ibu perlu mendorong spuit supplementer. Bayi menyusu hingga 60cc susu formula dalam supplementer habis, tidak lama kemudian bayi tertidur. Kemudian ibu diajarkan melakukan senam lidah-senam bibir untuk menjaga penyembuhan luka post frenotomy dengan baik. Bayi juga diberi gel untuk di oles di luka. Ibu mendapat terapi laktogog yang dikonsumsi 2x sehari. Ibu juga dianjurkan untuk mengganti susu formula menjadi yang kurang manis atau berasa cenderung pahit untuk menghindari efek sakau pada bayi saat suplementasi dihentikan nantinya.

Kunjungan ketiga, seminggu setelah Tindakan frenotomy. Tanggal 2 maret 2021. Ibu mengatakan menyusui sudah lebih nyaman dan merasa bayi semakin mudah menyusu. Pelekatan lebih dalam, tidak ada rasa nyeri dan tidak mudah lepas lagi. Diusi bayi AR yang berumur 1bulan 15 hari ini, berat badannya adalah 3050gr dengan kenaikan 25,1gr/hari. Ibu membeli SNS dan memakainya 7x sehari diisi dengan susu formula sebanyak 60 per kali menyusui. Ibu telah mengganti susu formula dengan rasa yang pahit. Ibu tetap mengonsumsi laktogog sebanyak 2 tablet sehari.

Kunjungan keempat pada tanggal 9 maret 2021.  Ibu merasa bayi AR sudah semakin pintar menyusu. SNS dipakai 7x sehari dengan isi susu formula 60-90cc per kali menyusui. Bayi tertidur setelah menyusui, kesan puas. Ny. RA juga merasa asinya semakin banyak. Disamping mengonsumsi laktogog, kami menganjurkan ibu untuk melakukan terapi akupuntur untuk mempercepat kenaikan produksi asi. Di kunjungan ini, umur bayi AR adalah 1 bulan 22 hari dengan berat badan 3270gr, meningkat sebanyak 31,4gr/hari.

Pada kunjungan kelima ditanggal 23 maret 2021, berat badan bayi AR adalah 3720gr dimana meningkat sebanyak 32,1gr/hari. Status gizi bayi AR berada di gizi kurang (<-2SD). Ibu menggunakan SNS 7x sehari berisi 60-90ml susu formula. Konsumsi laktogog untuk ibu masih dilanjutkan dan Ibu belum melakukan terapi akupuntur.

Kunjungan keenam ditanggal 6 April 2021, berat badan bayi AR sudah 4210gr meningkat sebanyak 35gr/hari. Penggunaan SNS masih berkisar 6-7x sehari berisi 60-90ml susu formula. Ibu masih rutin minum laktogog dan tampak semakin percaya diri karena asinya semakin meningkat.

Di kunjungan ketujuh pada tanggal 20 April 2021, berat badan bayi AR adalah 4570gr dan meningkat sebanyak 25,7gr/hari. Saat ini diusia bayi AR 3bulan 2 hari ia telah kembali ke status gizi baik berdasarkan kurva pertumbuhan standar WHO (berat badan > – 2SD). Ibu sudah melakukan terapi akupuntur sebanyak 2x dan pada pemeriksaan fisik kami temukan produksi asi ibu meningkat secara signifikan. Penggunaan SNS dilanjutkan dengan dosis 6x60cc per hari. Laktogog dan terapi akupuntur pada ibu dilanjutkan sampai penggunaan SNS dapat dihentikan.

 

DISKUSI

Sepanjang masa terapi, ny. RA menunjukkan semangat positif untuk terus bisa menyusui bayi AR. Ny. RA juga mendapat dukungan penuh dari suami dan keluarga terdekat sehingga ia merasa terbantu dalam menjalani seluruh rangkaian terapi. Dalam membantu pasangan ibu dan bayi agar berhasil menyusui, kita harus mampu menilai keadaan secara menyeluruh. Pada kasus ini, dikunjungan awal saat ibu telah dipasang alat supplementer yang menambah asupan nutrisi bayi (terbukti dengan kenaikan BB yang signifikan) namun hal tersebut tidak serta merta memperbaiki proses menyusuinya. Ibu tetap merasa bayi tidak menghisap dengan aktif dan susu formula didalam supplementer bisa masuk ke tubuh bayi kebanyakan karena ibu yang mendorong alat supplementer tersebut. Hal ini diakibatkan adanya tongue tie sub-mukosa dan lip tie grade 4 pada bayi AR sehingga proses menyusui menjadi tidak efektif. Pada kunjungan berikutnya setelah dilakukan Tindakan frenotomy, ibu merasakan perbedaan yang signifikan dalam proses menyusui bayi AR. Bayi AR menghisap lebih baik dan nyeri yang ibu rasakan menghilang sehingga proses menyusui berjalan nyaman bagi keduanya. Pada beberapa kasus kami menemukan bahwa tongue tie tidak hanya mampu mempengaruhi lidah tapi juga seluruh tubuh. Pada bayi AR kami mendapati tubuhnya menjadi sangat kaku dan sulit diposisikan untuk menyusui dengan nyaman. Oleh karena itu kami menambahkan fisioterapi sebagai bagian dari tatalaksana pada bayi ini.  Perlahan lahan status gizi bayi AR meningkat menuju gizi baik, ASI ibu juga semakin banyak hingga akhirnya pemakaian SNS dan laktogog pada ibu dapat dihentikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.