Frenotomi di Usia Sekolah karena Gangguan Artikulasi pada Anak dengan Ankyloglossia

Ditulis oleh dr.  Dewi Kurnia Lestari dan dr. Nisa Uswatun Karimah

 

LATAR BELAKANG

Gangguan artikulasi atau biasa disebut disartria mengacu pada gangguan di dalam tatalaksana pola motorik wicara yang mengarah kepada kelumpuhan, kelemahan, atau kesalahan dalam mengorganisasikan otot – otot wicara. Dapat dikatakan bahwa cadel adalah salah satu bentuk disartria yang disebabkan oleh gangguan pola motorik wicara. Pola motorik wicara tersebut disebabkan oleh gangguan struktur pada otot yang terdapat di bawah lidah (frenulum lingualis). Adanya kelainan pada otot tersebut dapat menyebabkan gerakan lidah menjadi kurang baik.1

Rhotacism denotes the imperfect sounding of [r] as by making it [l], yang berarti rhotacism adalah ketidaksempurnaan bunyi [r] menjadi bunyi [l]. Oleh karena itu rhotacism ini perlu ditinjau secara psikolinguistik karena memungkinkan adanya dampak pada perkembangan kemampuan kognitif penderita yang disebabkan oleh ketidaksempurnaan dalam pelafalan kata yang berdampak pada ketidakpercayaan diri dalam berbahasa.2

Ankyloglossia atau tongue tie adalah suatu kondisi patologis dimana frenulum lingualis tidak melekat dengan tepat ke lidah. Keadaan kongenital ini ditandai oleh frenulum lingualis yang pendek dan salah posisi, serta lidah yang tidak dapat dijulurkan atau ditarik masuk. Ankyloglossia menyebabkan gangguan ketika berbicara, terutama pada saat pengucapan bunyi [r] karena pada saat pengucapan bunyi tersebut membutuhkan aktivitas lidah yang tinggi.3

BANNER 728 x 90

 

KASUS 1

Anak Q, laki-laki, usia 8 tahun 7 bulan 29 hari, datang bersama ibunya, Ny. N, dan ayah, Tn. E, ke poliklinik laktasi dengan keluhan bicara cadel. Pasien adalah anak pertama dari 2 bersaudara. Ibu merupakan seorang dokter konselor laktasi yang bekerja di klinik laktasi salah 1 RS Sayang Ibu dan Bayi di Depok dan ayah merupakan pegawai swasta.

Dari anamnesis didapatkan riwayat anak lahir prematur secara sesar di salah satu RS di daerah P pada tanggal 26 Februari 2012 dengan berat lahir 2800 gram, lahir langsung menangis. Sejak awal menyusui, kedua puting ibu nyeri sampai berdarah, bayi juga menetek terus-menerus seperti tidak kenyang-kenyang, payudara sering bengkak dan grenjel, serta mengalami radang hingga infeksi. Saat masa ASI eksklusif BB naik baik, walaupun ibu selalu kesakitan saat meneteki. Saat itu ibu belum menjadi konselor laktasi dan menganggap semua yang dialami adalah hal yang wajar.

Saat memasuki masa MPASI di usia 6-9 bulan, berupa makanan lumat, anak masih makan dengan lahap dan tidak pilih-pilih. BB masih dapat naik baik walaupun meneteki tetap nyeri dan anak jadi suka menggigit. Saat mulai memasuki MPASI konsistensi bubur lembik atau kasar di usia 9 bulan, anak mulai sulit makan. Makan sering diemut, dilepeh-lepeh, bahkan sering tersedak. MPASI sering menjadi drama bagi ibu, walaupun sudah mengikuti panduan MPASI 4* (bintang) rumahan sesuai WHO (World Health Organization). BB mulai naik lambat walaupun menetek masih sangat sering dan lama. Saat memasuki usia 1 tahun, peralihan ke MPASI bentuk padat, anak makin sulit makan, bahkan sampai GTM (Gerakan Tutup Mulut). Anak mulai pilih-pilih makanan, hanya mau yang lembut dan kenyal. Makanan seperti daging-dagingan yang keras (seperti ayam, bebek, sapi, dll), tidak mau ia makan kecuali dengan dicincang atau disuwir sangat halus. Dan itu berlanjut sampai saat ini. Alhamdulillah ibu berhasil meneteki anak hingga 2 tahun 4 bulan, walaupun sering menangis karena puting berdarah dihisap atau bahkan digigit kuat oleh anak.

Saat ini ibu sudah menjadi konselor laktasi sejak 5 tahun yang lalu. Pasien sudah memiliki adik berumur 3,5 tahun yang disusui dengan lancar oleh ibu setelah adik riwayat dilakukan frenotomi saat usia 3 hari. Adik disapih tepat usia 2 tahun, dan ibu akhirnya dapat merasakan pengalaman menyusui yang nyaman dan membahagiakan, tanpa rasa nyeri dan air mata. Adik juga makan lahap hingga saat ini dan kenaikan BB selalu baik dengan ASI dan MPASI 4*. Bicara pun sangat lancar. Karena pengalaman inilah ibu menjadi dokter konselor laktasi yang pro frenotomi karena sangat merasakan banyak manfaatnya.

Berbeda dengan sang adik, saat kakak memasuki masa berbicara, anak dapat berbicara dengan lancar karena stimulasi orang tua yang aktif dan mendukung. Namun semakin besar, anak mulai mengeluh lelah bicara, terutama saat mengaji. Anak mengaku sering diejek teman mengaji karena cadel dan dikatakan guru ngajinya kalau kurang fasih dalam mengucar huruf “R” saat menyetor hafalan. Anak juga mengeluh lelah bila makan, sehingga makan bisa lama berjam-jam baru habis. Sebenarnya ibu sudah lama menyadari jika kemungkinan itu pengaruh tali lidah yang terlihat di bawah lidahnya. Ibu sudah coba membujuk si anak agar mau ditangani, namun anak selalu menolak karena takut tindakannya menyakitkan.

Tiba-tiba, seminggu sebelum tindakan, anak mendatangi ibunya dan dengan mantap berkata “Mama, kakak ingin potong aja tongue tienya, kakak ingin bisa ngaji yang benar dan gak cadel”. Ibu pun segera membuat janji kemudian datang ke RS saat anak berusia 8 tahun 7 bulan 29 hari.

Setelah dilakukan pemeriksaan, didapatkan tongue tie tipe medial. Anak didiagnosis dengan speech and feeding problem ec tongue tie. Kepada ibu dan ayah dilakukan konseling mengenai efek jangka pendek dan jangka panjang tongue tie pada anak besar dan dilakukan frenotomi tongue tie pada anak. Saat itu berat badan anak 22,5 kg. Setelah tindakan frenotomi, konselor mengajarkan senam lidah untuk anak besar yang diadaptasi dari Jepang kepada orang tua. Senam lidah ini disarankan untuk dikerjakan 5 kali sehari sampai 3 minggu ke depan. Anak juga diberi jelly untuk dioles di bawah lidah dan disarankan untuk kontrol 1 minggu setelah frenotomi.

Satu minggu kemudian, saat usia anak 8 tahun 8 bulan 6 hari, ibu datang untuk kontrol setelah tindakan frenotomi, berat badan anak naik baik sejak dilakukan frenotomi, yaitu naik hampir 500 gram dalam 1 minggu menjadi 23 kg. Anak menjadi lebih lahap makan, sampai bisa nambah-nambah. Makan juga menjadi lebih cepat selesai dibandingkan dahulu. Dan yang paling membahagiakan untuk si anak adalah dia sudah bisa mengucap lafal huruf “Rrrr” dengan lancar, bahkan sejak sore hari setelah tindakan frenotomi, di hari yang sama dimana tindakan dilakukan pagi harinya. Anak mengaku tidak sakit saat digunting, namun sangat tidak nyaman saat didorong tumpul di bagian lukanya. Senam pun dilakukan di rumah dengan senang dan ceria. Karena hasil kontrol baik, Ibu disarankan menurunkan frekuensi senam lidah menjadi 3 kali sehari sampai genap 3 minggu, serta melanjutkan penggunaan jelly di bawah lidah. Ibu dan anak dianjurkan untuk kontrol kembali saat selesai senam lidah, yaitu 3 minggu setelah tindakan frenotomi.

Saat kontrol 3 minggu setelah frenotomi, semua hasil pemeriksaan baik. BB juga naik menjadi 23,5 kg. Makan lancar, sudah mulai lahap makan ayam utuh tidak disuwir-suwir. Bicara pun tidak cadel lagi. Bahkan lidah yang dapat dibentuk meliuk-liuk di dalam mulut menjadi kesenangan yang baru bagi si anak.

 

Sebelum frenotomi
Setelah frenotomi

 

Setelah selesai senam

 

KASUS 2

Ny D datang pada tanggal 3 september 2020 ke RS bersama anaknya, anak R yang berusia 7 tahun dengan keluhan Anak kalau berbicara masih cadel dan artikulasinya masih kurang jelas. Selama bayi (Berat lahir 2750 gr)tidak menyusu langsung pada Ibu, dulu menggunakan dot isi ASIP (ASI Perah). Selama proses makan anak tampak pintar, memang agak memilih makanan diawal memulai makan namun semakin besar R mau makan apa saja, makan tidak diemut dan tidak tersedak. Namun, R mulai bicara memang terlambat sekitar usia 3-4 tahun dan saat ini R masih belum bisa mengucapkan huruf R dan artikulasinya masih tidak jelas. Saat ini Ayah sedang bekerja dan Ny. D datang ke poli ditemani nenek beserta Adik perempuan yg kebetulan seorang dokter. Pada pemeriksaan saat ini, saat ditimbang berat badan R adalah 36 Kg.

Dokter melakukan pemeriksaan fisik dan menemukan gerakan lidah dan rahang terbatas, serta tali lidah pendek. Ny. D menyetujui tindakan frenotomi pada R. Setelah dilakukan frenotomi, R meminum air putih dingin dan tidak dijumpai perdarahan yang bermakna. Selanjutnya R diajarkan senam lidah (tongue exercise) untuk dilakukan selama 3 minggu kedepan. Ketika sedang diajarkan senam lidah, R langsung bisa menyebutkan namanya dengan jelas dan huruf “R”nya terdengar dengan jelas. Satu minggu kemudian R datang kembali untuk evaluasi hasil frenotomi. Pemeriksaan fisik menunjukkan R sangat baik kemajuannya, luka operasi baik, dan bisa menunjukkan sudah bisa menyebutkan “R”.

 

Tanggal Umur BB (gram) Perkembangan bicara Senam lidah Terapi
3 sept 7 th 5 bln 36 kg Tidak bisa R dan artikulasi masih ada yang tidak jelas Rutin dilakukan sehari 5 kali Frenotomi dan tongue exercise
14 sept 7 th 5 bln 36 kg Sudah mulai bisa bilang R, mengaji lebih baik dan artikulasi lebih baik Rutin dilakukan sehari 5 kali Tongue exercise lanjut sampai dengan 2 minggu ke depan

 

Senam lidah dan peregangan otot-otot lidah dan wajah selama 1 menit

  

Senam wajah menggunakan otot-otot wajah, seluruh wajah melakukan peregangan mulut dan mengucapkan (A,I,U,E,O)

 

 

DISKUSI DAN PEMBAHASAN

Frenotomi adalah sebuah prosedur yang digunakan untuk mengkoreksi kondisi kongenital dimana frenulum lidah atau frenulum bibir atas terlalu ketat sehingga menyebabkan restriksi atau terbatasnya gerakan yang dapat menyebabkan kesulitan menyusui, dan dalam beberapa kasus menyebabkan masalah kesehatan lain seperti gigi yang bercelah atau berjarak, kesulitan bicara, dan masalah digestif atau pencernaan. Bila terjadi pada frenulum lidah, maka kondisi ini biasa disebut tongue tie (istilah medisnya adalah ankyloglossia) dan angka kejadian dari ankyloglossia yang dilaporkan berkisar hingga 10,7 %.4,5

Lidah merupakan organ yang kompleks terdiri dari 8 otot yang dilibatkan dalam makan, bernapas, berbicara, tidur, postur, dan fungsi esensial lainnya. Fungsi lidah yang ideal dan postur otot saat istirahat juga membentuk pertumbuhan yang baik, perkembangan lengkung gigi, serta perkembangan wajah dan saluran napas.6

Ankyloglossia atau tongue tie adalah frenulum lidah yang pendek dan ketat, sehingga menyebabkan keterbatasan gerak lidah.7 Menurut International Affiliation of Tongue Tie Professionals (IATP), tongue tie adalah jaringan sisa dari proses embriologi di garis tengah tubuh (midline) antara bagian bawah lidah dan dasar mulut yang menghambat pergerakan lidah.8 Prevalensi dari ankyloglossia adalah 3,2% sampai dengan 10,7%.5 Ankyloglossia ditemukan lebih banyak pada bayi laki-laki dibandingkan perempuan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tongue tie diturunkan secara autosomal dominan dengan incomplete penetrance atau tidak selalu muncul.9,10. Namun, beberapa penelitian, di antaranya dari penelitian Han SH, dkk (2012), yang meneliti penurunan genetik ankyloglossia dengan analisis pedigree, ankyloglossia terkait dengan kromosom X resesif (X-linked recessive), dan ibu dari pasien perempuan adalah karier (pembawa sifat).11 Mayoritas ankyloglossia muncul sebagai suatu masalah tunggal. Namun, tongue tie juga dapat ditemukan berhubungan dengan kejadian lainnya, seperti X-linked cleft palate, Kindler syndrome, van der woude syndrome, Opitz Syndrome3, Orofaciodigital syndrome, Beckwith-Wiedemann syndrome, Simpson-Golabi-Behmel syndrome12 dan Pierre Robin Syndrome13.

Ankyloglossia muncul ketika tidak terjadi apoptosis yang baik selama perkembangan embriologi.14 Jaringan lidah berkembang pada sekitar minggu keempat kehamilan. Pada fase ini, terbentuk lekukan di tepi jaringan lidah, sehingga lidah dapat bergerak bebas, kecuali sisi frenulum lidah yang berada sampai di ujung lidah. Seiring perkembangan, sel-sel pada frenulum mengalami apoptosis dan bermigrasi ke sisi medial lidah. Pada saat ini, bila terjadi gangguan pada kontrol sel dan tidak terjadi migrasi yang sempurna atau bahkan tak muncul, maka akan menyebabkan kondisi ankyloglossia.15

Faktor genetik, epigenetik, lingkungan, dan jejas fisik selama perkembangan embrio dapat mengganggu kematian sel terprogram atau apoptosis sehingga menyebabkan malformasi.10 Terkait mutasi genetik, dilaporkan ada 2 gen yang berhubungan dengan kondisi ankyloglossia anak: 1) mutasi gen TBX22, yang menyebabkan tongue tie yang tidak disertai sindrom. 2) gen G-protein-coupled receptor (Lgr5). Tidak adanya gen G-protein-coupled receptor (Lgr5) pada tikus menyebabkan fenotip tongue tie dan menyebabkan kematian dalam 24 jam karena kesulitan makan, namun diperlukan penelitian lebih lanjut pada manusia.9,10

Faktor epigenetic yang berhubungan dengan ankyloglossia di antaranya adalah proses metilasi DNA. Proses ini berpengaruh terhadap pembentukan wajah normal saat pembentukan embrio. Proses tersebut sangat sensitif terhadap stressor, seperti virus, zat kimia, obat-obatan, nutrisi, dan stres.14 Contoh nutrisi yang diperlukan metilasi DNA adalah Folat.9 Namun, belum terdapat studi yang membuktikan dengan pasti tentang hubungan defisiensi folat dengan terjadinya ankyloglossia. Folat dapat didapat dari suplementasi berupa asam folat (folic acid) dan dari bentuk alami, yaitu 5-methyltetrahydrofolate. Bentuk terakhir lebih mudah diserap dan memiliki bioavailibilitas yang lebih baik. Untuk metabolisme asam folat menjadi 5-methyltetrahydrofolate, diperlukan enzim MTHFR (Methylenetetrahydrofolate Reductase). Pada populasi dengan polimorfisme MTHFR, dapat terjadi kendala metabolism asam folat, sehingga diduga mengganggu proses metilasi DNA.9 Sehingga, penggunaan bentuk alami 5-methyltetrahydrofolate lebih disarankan daripada asam folat.16 Namun, menurut Center for Disease Control and Prevention (CDC), pasien dengan polimorfisme MTHFR tetap dapat menggunakan asam folat, namun dengan cara yang lebih lambat, sehingga tetap disarankan menggunakan suplementasi asam folat.17

Gejala yang ditimbulkan pada tongue tie tidak hanya muncul pada bayi, namun juga dapat muncul gejala pada ibu. Biasanya keluhan yang muncul pada ibu yang sedang menyusui anaknya dengan tongue tie adalah nyeri saat menyusui, puting lecet, pengosongan payudara yang tidak efektif, dan infeksi payudara. Gejala yang mungkin timbul pada bayi berupa berat badan yang tidak naik baik, tertidur saat menyusui (karena bayi dengan tongue tie akan membutuhkan energi ekstra untuk menyusu dibandingkan bayi tanpa tongue tie, sehingga dia menjadi mudah lelah), kualitas pelekatan yang buruk, reflux dan gejala kolik, gumming atau mengunyah puting, lip blisters, serta episode tidur yang sebentar.5,18

Selain mengganggu proses menyusui pada bayi, tongue tie juga berefek pada kualitas hidup orang dewasa. Seperti, kesulitan makan sehingga terkesan seperti picky eater, durasi makan yang lama karena kesulitan dalam mengunyah makanan, oral hygiene yang kurang, berbicara tidak jelas, nyeri pada leher dan menjalar hingga ke punggung. Bahkan ada juga orang yang menjadi tidak simetris dalam postur tubuhnya.6

Dalam menangani pasien laktasi, perlu pendekatan yang holistik atau menyeluruh. Artinya, seorang konselor harus mampu melihat kasus laktasi sebagai suatu rangkaian kejadian yang saling berhubungan dan sebagai sebuah proses yang melibatkan ibu, bayi dan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, dalam menyelesaikan masalah laktasi, ketiga komponen tersebut harus selalu diperhatikan dan dievaluasi. Sebagai contoh, kasus tongue tie dan lip tie tidak selesai begitu saja dengan frenotomi, kita harus melihat berat badan bayi (kenaikan dan status gizinya), produksi ASI ibu, profesi ibu, cuti melahirkan, dukungan dari keluarga dan tempat bekerja, serta evaluasi proses senam lidah dan bibir pasca tindakan. Kontrol pasca frenotomi yang berkesinambungan dan sesuai jadwal sangat dibutuhkan untuk menentukan langkah yang perlu diambil selanjutnya. Pada kasus tongue tie anak besar, selain menanyakan riwayat laktasi, kita juga perlu menggali masalah makan, bicara dan kualitas hidupnya sehari-hari.

Cadel adalah salah satu bentuk disartria yaitu sebutan untuk gangguan artikulasi (pengucapan kata) yang disebabkan oleh gangguan struktur atau gangguan fungsi dari organ artikulasi. Disartria adalah gangguan bicara yang diakibatkan cidera neuromuscular. Gangguan bicara ini diakibatkan luka pada sistem saraf, yang pada gilirannya mempengaruhi bekerja baiknya satu atau beberapa otot yang diperlukan untuk berbicara. Cadel dapat disebabkan oleh gangguan struktur kelainan pada otot yang terdapat di bawah lidah. Adanya kelainan otot tadi dapat menyebabkan gerakan lidah menjadi kurang baik.19

Diskoordinasi antara gerakan otot-otot pernapasan, otot-otot pita suara dan lidah bermanifestasi pada pengucapan kata-kata dalam kalimat yang tersendat-sendat, kurang jelas dan banyak kata yang ditelan. Gangguan artikulasi kata-kata dan gangguan irama berbicara itu dinamakan disartria. Daerah serebral (hemisferium serebri) berhubungan erat dengan korteks serebri, terutama mengenai gerakan tangkas otot-otot di kepala dan leher. Karenanya disartria dapat disebabkan juga oleh kerusakan hemisferium serebri. 20

Untuk dapat mengucapkan kata dengan baik, bahasa yang didengar dapat ditangkap dengan jelas, dan tiap suku kata dapat terdengar secara rinci, maka mulut, lidah, bibir, palatum dan pita suara serta otot-otot pernafasan harus melakukan gerakan tangkas.

 

Yang diharapkan dari luka frenotomi adalah 1) Release sempurna, yaitu keadaan dimana pada insisi lip tie semua frenulum lepas dari gusi dan pada insisi tongue tie didapatkan diamond shaped. Dan yang 2) bekas insisi tidak menyambung kembali. Agar penyembuhan luka frenotomi terjadi dengan baik, maka perlu dilakukan senam yang benar dengan memaksimalkan gerakan vertikal dan tidak perlu gerakan kuat atau lama, namun sebaiknya gerakan cepat dan tepat.4

Frekuensi senam yang dianjurkan adalah 5 kali sehari dan boleh ditambahkan 1 sesi di tengah malam dengan jarak senam kurang dari 6 jam. Lama dilakukannya senam lidah dan bibir adalah maksimal 4 minggu, dimana 3 minggu dilakukan 6 kali sehari dan minggu terakhir dilakukan penurunan frekuensi bertahap (tapering off) dari 6 kali sehari, 5 kali sehari, 4 kali sehari, 3 kali sehari, 2 kali sehari, 1 kali sehari, dan kemudian berhenti.4

Pada bayi, senam lidah dikerjakan dengan langkah-langkah sebagai berikut4:

  1. Masukkan 2 jari telunjuk ke bawah lidah, angkat lidah ke atas arah langit-langit, tahan selama 1-2 detik, kemudian rileks.
  2. Satu telunjuk menopang lidah, telunjuk yg lain letakkan di tengah diamond shape, gerakkan ke atas (lifting), kemudian Gerakan jangan terlalu dipaksakan.
  3. Pijat diluar atau sekitar diamond shaped untuk melonggarkan otot dasar mulut.
  4. Sucking exercise dimulai hari ketiga dengan durasi 30-45 detik.
  5. Gerakan seal break, yaitu dengan meletakkan jari di langit-langit mulut bayi sampai dihisap, kemudian tekan ke bawah lidah bayi dengan kuku. gerakan ini akan membuat jari telunjuk lepas dari lidah bayi. Ulangi beberapa kali senyaman bayi.
  6. Terakhir dengan 1 telunjuk di dalam mulut bayi, ibu jari yg di luar memijat pipi bayi untuk menghilangkan tegangan.

Pada anak besar, senam lidah dilakukan dengan cara yang menyenangkan, yaitu sebagai berikut21:

  1. Ajak anak bicara atau mengobrol
  2. Menyanyikan lagu atau mengaji bagi yang beragama islam
  3. Teriak “aaahhhh…” selama 10 detik
  4. Menyebut “a.. i… u.. e.. o..: dengan cara regang maksimal
  5. Membuat wajah seribu mimik, seperti tertawa, manyun, melet, senyum, menyengir, dan lain-lain
  6. Meniup-niup, seperti sedotan, seruling, terompet, balon, gelembung sabun, dan lain-lain
  7. Menjilat-jilat lolipop atau es krim sampai lidah bergerak ke segala arah
  8. Peregangan otot dalam mulut dengan lolipop, stik es krim, atau sikat gigi
  9. Kumur-kumur pindahkan air atau udara dalam mulut

Dan kami menambahkan olesan jelly dari tanaman lidah buaya atau madu.

Bila senam lidah paska tindakan frenotomi tongue tie dilakukan dengan mengikuti anjuran yang telah ditetapkan, maka diharapkan tindakan frenotomi dan senam berakhir dengan cara yang menyenangkan dan dengan hasil yang sesuai harapan, tanpa menimbulkan masalah lain pada ibu maupun anak.

 

KESIMPULAN

Pada anak dengan gangguan artikulasi kurang jelas dan tidak dapat mengucapkan huruf R harus segera ditangani dikarenakan dapat mengganggu fungsi kognitif dan perkembangan sosial anak. Terapi multidisiplin dalam kasus ini adalah dilakukan frenotomi dan oral motor exercise rutin yang akan sangat membantu dalam meningkatkan perkembangan otot-otot wajah dan lidah, serta membantu anak dalam proses berbicara.

 

Referensi :

  1. Praborini A, et al. 2018. A Holistic Supplementation Regimen for Tongue-Tied Babies With Slow Weight Gain and Failure to Thrive. Clinical Lactation Vol 9 Issue 2, DOI: 10.1891/2158-0782.9.2.78.
  2. Garner, Bryan A. 2009. Language and Writing. Chicago: American Bar Association.
  3. Langlais, R. P., Miller, C. S., Nield-Gehrig, J. S. 2009. Color Atlas of Common Oral Diseases.
  4. Ghaheri Tongue Tie, Tongue Tie and Breastfeeding, Tongue Tie Laser Surgery. Diunduh dari: Drghaheri.com
  5. Geddes DT, et al. Frenulotomy for Breastfeeding Infants with Ankyloglossia: Effect on Milk Removal and Sucking Mechanism as Images by Ultrasound. 2008 July; American Academy of Pediatrics, vol 122: 188-194.
  6. Baxter, Richard. 2018. Tongue Tied – How a Tiny String Under the Tongue Impacts Nursing, Speech, Feeding and More. Alabama: United States of America
  7. Chaubal TV. Ankyloglossia and its management. J Indian Soc Periodontol. 2011 Jul-Dec; 6(2): 49-54
  8. Murphy JG. Ankyloglossia and it’s significance for breastfeeding. Powerpoint presentation. 2013 Jan 31.
  9. Sari LN, Auerkari EI. Molecular Genetics and Epigenetics of Ankyloglossia. 2018 Jan; Advances in Health Sciences Research, vol. 4:103-14.
  10. Morowati S, et al. Familial Ankyloglossia (Tongue-tie): A Case Report. Acta medica Iranica. 2010 Apr; 48(2):123-4
  11. Han S-H, Kim M-C, Choi Y-S, Lim J-S, Han K-T. A Study on the Genetic Inheritance of Ankyloglossia Based on Pedigree Analysis. Archives of Plastic Surgery. 2012;39(4):329-332.
  12. Kupietzky A, Botzer E. Ankyloglossia in the Infant and Young Child: Clinical Suggestions for Diagnosis and Management. Pediatric Dentistry. 2005:27(1)
  13. Charisi C, et al. Etiology, diagnosis, and treatment of ankyloglossia. Balk J Dent Med, 2017;141-145
  14. Cole M. Tongue and Lip Tie: A Comprehensive Approach to Assessment and Care. Powerpoint presentation. 2017.
  15. Pompeia et al. Ankyloglossia and its influence on growth and development of the stomatognatic system. Rev Paul Pediatr. 2017 Apr-Jun; 35(2): 216–221
  16. Scaglione F, Panzavolta G. Folate, folic acid and 5-methyltetrahydrofolate are not the same thing. 2014 May; 44(5):408-8.
  17. https://www.cdc.gov/ncbddd/folicacid/about.html
  18. https://www.drghaheri.com/blog/2014/2/20/a-babys-weight-gain-is-not-the-only-marker-of-successful-breastfeeding
  19. Perwira, Rheni Dharma. 2000. Disartria- Apraksia Verbal dan TEDYA. Jakarta: Indomedika.
  20. 1986. Anatomi Susunan Saraf Pusat Manusia. Jakarta: Dian Rakyat.
  21. Mukai S. 2020. Seminar Sertifikasi Klinis: Ankyloglossia with Deviation of Epiglottis and Larynx.

Leave a Reply

Your email address will not be published.