Relaktasi Saat Usia MPASI

Oleh: dr. Devi Farhana, CIMI

 

Menyusui adalah proses alami memberikan nutrisi berupa Air Susu Ibu (ASI) kepada bayi. Keuntungan menyusui bukan hanya sekedar membuat perut bayi kenyang ataupun memuaskan dahaganya, tetapi ada ikatan batin dan nutrisi perkembangan emosional bayi yang menjadi dasar tumbuh kembangnya sebagai makhluk sosial. Proses menyusui tidak hanya melibatkan ibu dan bayi tetapi juga ayah, keluarga besar serta dukungan lingkungan. Dukungan yang maksimal dari orang sekitar dan tenaga kesehatan akan membantu ibu dan bayi menikmati proses menyusui yang nyaman.

 

ASI adalah salah satu anugerah Tuhan yang telah dikenal sejak zaman purba sebagai makanan istimewa dan hingga saat ini tetap menjadi nutrisi yang tak tergantikan bagi bayi. Komposisi ASI sejak dahulu kala hingga sekarang tetap yang paling berkualitas. Selain nutrisi yang lengkap, ASI mengandung zat kekebalan tubuh dan zat anti kuman yang tidak di dapatkan pada susu manapun. Dalam beberapa literatur telah disebutkan bahwa 100% kebutuhan bayi dapat dipenuhi oleh ASI saja, 6 bulan dan di atas 12 bulan sebanyak 50% dan 30% dan sisanya didapatkan dari Makanan Pendamping ASI (MPASI). Hal ini menunjukkan, seorang bayi dapat bertahan hidup 6 bulan pertama hanya dari nutrisi yang diberikan seorang Ibu.

Keuntungan dari ASI yang begitu banyak bagi kesehatan Ibu dan Bayi tidak lantas membuat praktik pemberian ASI begitu mudah terutama di Indonesia.

 

STUDI KASUS

BANNER 728 x 90

Ibu NL datang membawa Bayi A bersama suami ke poli laktasi RS Permata Bekasi. Ibu NL ingin mencoba meneteki kembali bayi A yang sudah berusia 9 bulan 6 hari. Ibu tinggal bersama suami di daerah Bekasi.

 

Riwayat Kehamilan dan Persalinan

Bayi A merupakan anak pertama, berjenis kelamin perempuan dengan berat badan lahir 2730 gram. Tidak ada penyulit selama kehamilan dan persalinan secara spontan pervaginam dengan bantuan bidan.

 

Asupan Nutrisi usia 6 bulan Pertama

Selama 6 bulan pertama bayi mendapatkan ASI ekslusif. Pemberian ASI didapatkan dari menyusu langsung dan dengan bantuan dot. Hari-hari pertama pasca melahirkan, ibu NL memerah ASI sebanyak kurang lebih 200 ml tiap payudara per 2 jam sesi perah dan bayi A mampu menghabiskan kurang lebih 60 ml ASI perah (ASIP) dengan media dot. Ibu NL merasa puting yang pendek menyebabkan bayi A kesulitan untuk menetek langsung sehingga ibu NL berinisiatif menggunakan media nipple shield sebagai alat bantu. Penggunaan nipple shield ternyata tidak menyelesaikan masalah menyusuinya karena bayi A tetap tidak mau menyusu langsung ke payudara ibu NL. Pada akhirnya, ibu NL menyerah untuk menyusui bayi langsung tetapi tetap memberikan ASIP melalui media dot.

 

Kenaikan berat badan bayi A naik baik sesuai grafik pertumbuhannya, ibu tetap rajin memerah asi dengan menggunakan pompa ASI. Memasuki bulan kelima, produksi ASI ibu mulai menurun menjadi 60-80 ml/per payudara. Kebutuhan bayi A yang semakin meningkat seiring dengan bertambah usia bayi sempat membuat ibu NL khawatir. Nenek bayi A mengingatkan ibu NL bahwa produksi ASI akan berkurang jika hanya di pompa saja, namun tidak menyusui langsung oleh bayinya.

 

Asupan Nutrisi di atas usia 6 bulan (MPASI)

Memasuki bulan keenam, bayi A mulai diperkenalkan MPASI sesuai dengan anjuran Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan pemberian ASIP tetap dilanjutkan. Bayi A mampu menghabiskan 100 ml ASIP sedangkan hasil ASIP ibu semakin berkurang menjadi 60-80 ml tiap payudara. Rasa cemas akan ketidakcukupan ASIP membuat produksi ASI Ibu NL semakin turun. Sehingga ibu mulai mencari informasi untuk memenuhi kebutuhan asi bayi yang semakin meningkat. Segala jenis pemacu produksi asi komersil (ASI Booster) dikonsumsi tetapi produksi ASI tidak meningkat. Akhirnya salah seorang teman Ibu NL menyarankan untuk relaktasi.

 

“ASImu akan berkurang jika hanya di pompa saja“- Nenek Bayi A

 

Proses Relaktasi

Memasuki usia 7 bulan 14 hari, bayi A di bawa oleh ibu NL untuk mengikuti Ayah yang berdomisili di Bekasi. Sesuai anjuran teman, Ibu NL segera menghubungi tim laktasi di RS Permata Bekasi.

 

“Besok Kami mau ke RS, A mau belajar netek ya Mas“- Ibu NL kepada Suami

 

Pengambilan informasi mengenai latar belakang dan dukungan dari keluarga pun dilakukan. Tidak ditemukan konflik internal maupun eksternal (rumah tangga/sosial) yang berpotensi menghambat proses relaktasi. Pemeriksaan fisik dilakukan secara menyeluruh pada ibu dan bayi untuk mengidentifikasi masalah relaktasi. Pada ibu didapatkan bentuk payudara dan puting dalam batas normal serta produksi ASI kesan dalam batas normal. Status gizi bayi baik dengan berat badan 7720 gram usia 9 bulan 6 hari,  namun didapatkan tali lidah (tongue tie) grade 3 dan tali bibir (lip tie) grade 3, tidak ditemukan penyulit lain pada rongga mulut, serta pemeriksaan fisik lainnya dalam batas normal. Observasi menyusui secara langsung dilakukan, bayi menolak mengisap payudara ibu, dengan bantuan alat suplementasi observasi menyusui dilakukan kembali, bayi mulai mengisap sesekali payudara ibu. Ibu dan Ayah setuju untuk dilakukan proses relaktasi.

 

Ibu dan bayi melakukan proses relaktasi dengan metode rawat inap (Metode Praborini) dan pemberian MPASI tetap diberikan sesuai anjuran WHO. Selama relaktasi, kunjungan laktasi dilakukan tiap hari oleh dokter laktasi untuk menilai kemajuan proses relaktasi.

 

Hari pertama perawatan, ibu sangat senang dan optimis bisa kembali meneteki bayi. Dengan bantuan alat suplementasi, observasi menyusui dilakukan oleh dokter dan bayi dapat menetek langsung pada Ibu, tetapi bayi tampak kesulitan untuk mempertahankan hisapan secara kontinyu. Bayi mudah terdistraksi saat menyusui sehingga proses menyusui tidak efisien. Ibu sangat fokus menjalani relaktasi.

 

Hari kedua perawatan, berat badan bayi naik secara signifikan menjadi 8060 gram, ibu dan bayi mulai nyaman dan menikmati proses menyusui, walaupun bayi masih sesekali menolak payudara. Frenotomi (insisi jaringan frenulum, Dorland) tali lidah dan tali bibir dilakukan untuk membantu bayi mempertahankan hisapannya di payudara. Kemudian ibu dan ayah diajarkan senam lidah (tongue exercise) untuk melatih mobilitas lidah bayi dan mengurangi kemungkinan menempelnya kembali frenulum yang telah dipotong. Ibu tampak sangat fokus dan yakin bayi mau menyusu ke payudara.

 

Hari ketiga perawatan, berat badan bayi naik menjadi 8075 gram, ibu dan bayi sudah mulai mau menetek langsung tanpa bantuan alat suplementasi. Pemeriksaan fisik pada ibu didapatkan payudara teraba padat, ASI menetes pada kedua payudara. Saat observasi menyusui dilakukan tanpa bantuan alat suplementasi, bayi mengisap langsung ke payudara ibu, hisapan dalam dan kontinyu, bayi melepas sendiri payudara dan tampak kenyang, payudara ibu yang telah disusui teraba lebih lembek. Ibu sangat semangat untuk belajar meneteki bayi pada kedua payudara. Ibu mencoba menggendong bayi sambil menawarkan payudara kanan dan bayi tersenyum ke ibu dan mencium payudara ibu NL, kemudian mulai mengisap. Bayi dan Ibu terlihat sangat nyaman kembali menyusui. Proses relaktasi di nilai berhasil, ibu dan bayi diperbolehkan untuk pulang dan kontrol sesuai jadwal.

 

Saat kontrol, pada ibu didapatkan produksi ASI meningkat dan pengosongan payudara baik. Pada bayi didapatkan berat badan naik 460 gram dalam 7 hari menjadi 8380 gram. Perawatan pasca frenotomi baik. Kontrol pasca frenotomi terakhir berat badan naik 32 gram per hari menjadi 9000 gram. Saat kontrol, Ibu selalu didampingi Ayah, ibu NL terlihat lebih ceria dan percaya diri, bayi A juga tetap bisa menyusu langsung pada ibu walaupun di tempat ramai.

 

 

Relaktasi

Definisi

Relaktasi adalah usaha untuk mengembalikan bayi menyusu kembali ke payudara, setelah sebelumnya bayi pernah menyusu lalu berhenti dan ibu yang sebelumnya menyusui berhenti menyusui[1]. Proses relaktasi tidak mudah, ibu yang ingin melakukan relaktasi karena ingin mendapatkan keuntungan emosional (bonding) dengan bayinya akan lebih sukses dibandingkan ibu yang fokus meningkatkan produksi ASI. Dalam beberapa survey, 75% ibu mengatakan relaktasi memberikan hasil yang positif.[2]

 

Kapan perlu melakukan Relaktasi?[3]

  • Bayi/Ibu yang sakit dan memerlukan perawatan terpisah.
  • Bayi berat badan lahir rendah yang belum mampu mengisap secara efektif pada hari-hari awal kehidupan.
  • Bayi yang mengalami permasalahan menyusui khususnya di bawah 6 bulan, ibu dengan produksi ASI yang berkurang karena teknik menyusui yang kurang tepat ataupun manajemen laktasi yang kurang tepat.
  • Kasus adopsi, untuk membentuk ikatan dan mendapatkan manfaat dari menyusui
  • Pada kasus dimana ibu tidak dapat menyusui anaknya karena mengidap ataupun meninggal karena penyakit lemahnya sistem kekebalan tubuh karena virus / Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS). Salah satu anggota keluarga, seperti nenek boleh melakukan relaktasi untuk bayi.
  • Pada kasus kegawatdaruratan seperti bencana alam.

 

Gambar 1. Respon Prolaktin ( Sumber: WHO “Relactation: Review of experience and recommendations for practice”)

 

Kapan memulai relaktasi? [4],[5]

Bayi-bayi kecil memiliki keinginan yang lebih mudah untuk kembali menyusui pada ibunya. Bayi di bawah 3 bulan memiliki rasio kesuksesan yang paling baik begitu pun bayi yang pernah menyusui saja sebelumnya. Bayi di atas 6 bulan mempunyai kecenderungan untuk menolak menyusui kembali.

 

Kunci keberhasilan relaktasi2,[6]

Bayi dan Ibu harus menikmati proses relaktasi, terutama Bayi harus merasa nyaman berada di dekat ibu. Sangatlah penting untuk menghindari segala sesuatu yang membuat payudara menjadi tempat yang paling tidak diinginkan oleh bayi.

  1. Faktor yang berhubungan dengan bayi
    • Keinginan bayi untuk mengisap. Proses relaktasi akan lebih mudah pada bayi-bayi yang langsung mengisap payudara saat ditawarkan kembali payudara untuk pertama kalinya. Namun, beberapa penelitian mengungkapkan 74% bayi akan menolak payudara untuk pertama kalinya jika bayi sudah tidak pernah menyusui lagi.
    • Usia bayi. Pada umumnya, bayi berusia kurang dari 3 bulan memiliki keinginan untuk menyusui lebih baik daripada bayi yang lebih besar. Bayi adopsi kurang dari 8 minggu memiliki kesempatan keberhasilan induksi laktasi sebanyak 90% dibandingkan bayi usia lebih dari 8 minggu sekitar 51%. Bayi-bayi besar tetap memiliki kesempatan untuk berhasil relaktasi selama bayi memiliki keinginan dan inisiatif untuk mengisap payudara. Semua ibu mampu melakukan relaktasi/induksi laktasi terlepas dari usia bayi.
    • Jarak terakhir kali menyusu langsung. Relaktasi akan lebih mudah jika jarak menyusui terkahir kali cukup pendek.
    • Pemberian nutrisi saat berhenti menyusui. Bayi-bayi yang terbiasa mendapatkan nutrisi melalui dot akan memiliki pola hisapan yang berbeda sehingga bayi akan lebih memilih dot daripada payudara, walaupun jika payudara memiliki ASI yang berlimpah. Kondisi ini disebut bingung puting. Oleh karena itu, sangat penting untuk menghentikan penggunaan dot/empeng. Bayi yang mengalami bingung puting tetap dapat menyusu langsung ke payudara ibu jika ibu mendapatkan penangan yang tepat. Pada bayi dengan bingung puting dibutuhkan waktu, stamina serta tenaga kesehatan yang profesional agar relaktasi dapat berhasil.
    • Kondisi khusus pada bayi. Evaluasi mengenai kondisi bayi yang menyebabkan menyusui berhenti lebih awal, terutama dari segi anatomi (Tali lidah/tongue tie, tali bibir/lip tie, celah pada bibir/gusi/langit-langit), penyakit refluks dan lain-lain.
  2. Faktor yang berhubungan dengan ibu
    • Motivasi ibu. Keberhasilan relaktasi sangat bergantung terhadap motivasi ibu. Keberhasilan relaktasi akan lebih besar jika seorang ibu melakukan relaktasi dengan alasan untuk mempererat ikatan batin dengan bayinya ataupun demi kesehatan dan nutrisi bagi bayinya.
    • Jarak terakhir kali menyusui langsung. Semakin pendek jarak ibu terakhir kali menyusui bayinya semakin besar kemungkinan relaktasi berhasil.
    • Kondisi payudara. Beberapa ibu memiliki kondisi yang berisiko menganggu proses menyusui, seperti puting rata/masuk ke dalam, jaringan parut pada payudara pasca operasi dan infeksi payudara. Selama bayi memiliki posisi dan perlekatan yang baik, isapan yang efektif akan membuat relaktasi/ induksi laktasi berhasil.
    • Kemampuan ibu untuk merespon kebutuhan bayi. Ibu perlu membina hubungan dengan bayi dengan membaca isyarat dan keinginan bayi untuk menyusu kapanpun. Saat relaktasi, ibu perlu melakukan kontak kulit ke kulit yang begitu intens agar bisa memahami isyarat bayi. Untuk merespons secara maksimal, ibu perlu beristirahat sejenak dari kegiatan sehari-hari bahkan cuti dari pekerjaan untuk beberapa waktu. Jika hal ini tidak dapat dipenuhi, maka konsentrasi ibu akan terpecah dan relaktasi sulit untuk dilakukan.
    • Dukungan keluarga, lingkungan dan tenaga kesehatan. Dukungan secara emosional sangat diperlukan oleh ibu-ibu yang sedang menyusui. Di negara-negara maju (Amerika, Swedia, Inggris dan lain-lain), ayah memiliki peran besar sebagai pendukung utama bagi ibu saat keluarga mungkin memiliki perbedaan pandangan mengenai menyusui. Ayah yang mendukung secara emosional dan ikut serta memberikan bantuan praktis (mengganti popok, menenangkan bayi, menyendawakan bayi) akan meningkatkan kesuksesaan pemberian ASI eksklusif sebanyak 3,737 kali lebih besar daripada ibu yang kurang mendapatkan dukungan suami.
    • Riwayat menyusui sebelumnya. Memiliki riwayat menyusui bayi sebelumnya ternyata tidak berpengaruh banyak dalam menentukan keberhasilan relaktasi. Beberapa penelitian mengungkapkan tidak ada hasil yang signifikan antara ibu yang tidak menyusui bayinya ataupun ibu yang belum pernah hamil dengan ibu yang pernah menyusui dalam keberhasilan relaktasi. Penelitian lain mengungkapkan 11 dari 12 wanita yang belum pernah menyusui sebelumnya dapat mengeluarkan ASI yang cukup pada 5-13 hari setelah protokol induksi laktasi dimulai.

 

Hal-hal yang perlu diperhatikan saat relaktasi2,6,[7]

  • Alasan menyusui? Ibu dapat berkonsultasi ke konselor menyusui, teman terdekat yang seperjuangan sebelum memulai perjalanan relaktasi
  • Perubahan fisik, payudara, menstruasi akan terjadi ketika relaktasi
  • Perubahan emosi. Sangat penting untuk berbicara dengan orang yang ibu percaya selama menjalani proses relaktasi
  • Proses relaktasi akan memakan waktu/menguras waktu dan sulit, tapi ini adalah hal yang mungkin dilakukan. Dengan dukungan yang tepat, informasi, dedikasi, relaktasi dapat dilakukan pada setiap wanita dan menghasilkan pengalaman yang membahagiakan dan berharga bagi ibu dan bayi. Kepercayaan diri dan keyakinan akan sangat membantu dalam perjalanan relaktasi ini.

 

Daftar Pustaka

  1. Praborini Asti, Wulandari A. Ratih. Anti Stres Menyusui. Kawan Pustaka. Jakarta. 2018. Hal.192-193
  2. World Health Organization. Relactation ; Review of Experience and recommendation for practice. Geneva. 1998
  3. Kayhan-Tetik Burcu et al. A Case Report of Successful relactation. Turkish Journal of Pediatric [Internet]. 2013Nov [Diakses pada 2019Okt20];55:641-4. Dari https://pdfs.semanticscholar.org/701f/f5aad32df00f3a15e2b8e35640f7d710e0b1.pdf
  4. Lommen Amy et al. Experiential Perceptions of Relactation: A phenomenological Study. Journal of Human Lactation. [Internet]2015 [Diakses pada 2019Okt20]; dari https://www.researchgate.net/publication/260431059_A_case_report_of_successful_relactation
  5. Association of Breastfeeding Mothers. Relactation: restarting breastfeeding after a gap.[Internet] 2019 [Diakses pada 2019Okt23]; dari https://abm.me.uk/breastfeeding-information/relactation/
  6. Mehta Anita et al. Relactation in lactation failure and low milk supply. Sudanese Journal of Paediatrics. [Internet] 2018Apr2 [Diakses pada 2019Okt23]; 18(1):39-47. Dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6113782/
  7. Seema et al. Relactation: An Effective Intervention to Promote Exclusive Breastfeeding. Journal of Tropical Pediatrics [Internet]. 1997Aug [Diakses pada 30 Okt 2019];43:213–6. Dari https://academic.oup.com/tropej/article-abstract/43/4/213/1661166

[1] Asti Praborini, Ratih Ayu W. Anti Stress Menyusui ( Jakarta: Kawan Pustaka, 2018) hal 192-193

[2] WHO “Relactation: Review of experience and recommendations for practice” ( https://www.who.int/maternal_child_adolescent/documents/who_chs_cah_98_14/en/

Diakses pada 20 Oktober 2019

[3] Burcu Kayhan-Tetik. A case report of successful relactation.The Turkish Journal of Pediatrics. Vol 55, 2013, hal. 641-644

[4] Amy Lommen. Experential Perceptions of Relactation: A phenomenological Study. Journal of Human Lactation. 2015

[5] Association of Breastfeeding Mothers. Relactation: restarting breastfeeding after a gap. 2019

[6] Anita Mehta, Arvind Kumar Rathi. Relactation in lactation failure and low milk supply. Sudanese Journal of Paediatrics. Vol: 18, 2018, hal 39-47

[7] Seema. Relactation: An effective intervention to promote exclusive breastfeeding. Journal of Pediatrics. Vol.43, 1997, hal 213-216

Leave a Reply

Your email address will not be published.