KASUS BAYI DENGAN KENAIKAN BERAT BADAN LAMBAT (SLOW WEIGHT GAIN) AKIBAT TERLALU LAMANYA SENAM LIDAH DAN BIBIR (PROLONGED TONGUE AND LIP EXERCISE) SETELAH FRENOTOMI TONGUE TIE DAN LIP TIE

Artikel

 

KASUS BAYI DENGAN KENAIKAN BERAT BADAN LAMBAT (SLOW WEIGHT GAIN)  AKIBAT TERLALU LAMANYA SENAM LIDAH DAN BIBIR (PROLONGED TONGUE AND LIP EXERCISE) SETELAH FRENOTOMI TONGUE TIE DAN LIP TIE

 

Ditulis oleh dr Nisa Uswatun Karimah

 

 

KASUS

 

By H, Perempuan, usia 1 bulan 16 hari, datang bersama ibunya, Ny. U, dan ayah, Tn. B, ke poliklinik laktasi dengan keluhan berat badan naik lambat. Ibu merupakan seorang ibu rumah tangga dan ayah merupakan pegawai swasta.

BANNER 728 x 90

 

Dari anamnesis didapatkan riwayat bayi lahir cukup bulan secara sesar di salah satu RS di daerah B pada tanggal 28 November 2017 dengan berat lahir 3200 gram, lahir langsung menangis. Sejak awal menyusui, kedua puting ibu nyeri sampai berdarah. Karena berniat sukses menyusui hingga 2 tahun, ibu dan ayah melakukan konseling laktasi saat kehamilan dengan dokter konselor laktasi, yaitu dr. N, sehingga ibu dan ayah menyadari bahwa kesulitan menyusui yang dialami kemungkinan karena adanya tongue tie dan lip tie. Ibu pun segera konsultasi kembali dengan dr.N dan dirujuk ke dr. A spesialis anak konsultan laktasi di RS Permata Depok dengan diagnosis ibu nipple cracked karena bayi tongue tie dan lip tie.

 

Ibu kemudian datang ke poliklinik anak dr.A spesialis anak konsultan laktasi di RS Permata Depok saat bayi berusia 9 hari dan dilakukan frenotomi tongue tie dan lip tie pada bayi. Saat itu berat badan bayi 3210 gram. Setelah tindakan frenotomi, konselor mengajarkan senam lidah dan bibir kepada orang tua. Senam lidah dan bibir ini disarankan untuk dikerjakan 5 kali sehari sampai 3 minggu ke depan. Selain itu, bayi disarankan untuk sering melakukan tummy time setiap hari, baik di dada orang tua maupun di alas yang rata dan nyaman. Ibu juga diberi salep untuk puting lecet dan disarankan untuk kontrol 1 minggu setelah frenotomi.

 

5 hari kemudian, saat usia bayi 14 hari, ibu datang untuk kontrol setelah tindakan frenotomi, berat badan bayi naik baik sejak dilakukan frenotomi, yaitu naik 40 gram/hari menjadi 3410 gram. Puting lecet ibu pun berangsur sembuh. Ibu dan bayi menyusui dengan sangat nyaman. Ibu disarankan melanjutkan senam lidah dan bibir sampai genap 3 minggu, serta melanjutkan tummy time senyaman bayi. Ibu dan bayi dianjurkan untuk kontrol kembali saat selesai senam lidah dan bibir, yaitu 3 minggu setelah tindakan frenotomi, namun ibu dan bayi tidak datang karena ibu merasa bayi sudah menetek dengan baik dan sudah tidak ada keluhan menyusui.

 

Saat ini, saat usia bayi 1 bulan 16 hari, ibu datang ke poliklinik laktasi dengan keluhan berat badan bayi naik lambat setelah timbang di posyandu dekat rumah. Dari anamnesis yang tajam didapatkan bahwa ternyata  senam lidah dan bibir masih terus dilakukan sampai saat ini, yaitu selama 5 minggu sejak frenotomi.

 

Dalam pemeriksaan antropometri bayi, ditemukan bahwa berat badan bayi saat ini 3600 gram, dengan status gizi baik. Kenaikan berat badan sejak kontrol paska frenotomi usia 14 hari adalah 5,9 gram/hari, dimana masuk dalam kategori kenaikan berat badan lambat atau slow weight gain. Pada pemeriksaan mulut tidak ditemukan adanya sisa jaringan tongue tie dan lip tie paska frenotomi.

 

Pada pemeriksaan ibu, ditemukan payudara simetris, areola normal, puting normal menonjol lentur. ASI kesan normo milk supply. Tidak ditemukan adanya lecet, sumbatan, atau peradangan pada payudara. Ibu tampak stress dan gelisah karena memikirkan kondisi bayi yang berat badannya naik lambat.

 

Saat dicoba menetek, bayi menetek lancar di kedua payudara, pelekatan dalam di areola, bibir atas dower, menetek kontinu hingga tertidur, melepas payudara sendiri, dengan kondisi tangan terbuka rileks yang merupakan tanda kenyang bayi, puting tidak gepeng, serta tidak dirasakan nyeri saat menyusui.

 

Bayi didiagnosis dengan slow weight gain karena stressed baby akibat prolonged tongue and lip exercise paska frenotomi dengan status gizi baik. Ibu didiagnosis dengan normo milk supply.

 

Kepada ibu dan ayah dilakukan konseling laktasi mengenai masalah menyusui ibu dan bayi. Disarankan untuk segera menghentikan senam lidah dan bibir karena sudah melewati batas yang dianjurkan, melakukan skin to skin 24 jam untuk mengembalikan bonding ibu dan bayi, melakukan pijat bayi untuk mengurangi keadaan stress bayi, melakukan pijat ibu oleh ayah untuk mengurangi kegelisahan ibu, tetap melanjutkan menyusui semau bayi, dan kontrol setelah 1 minggu.

 

Saat ibu dan bayi kontrol, bayi berusia 1 bln 23 hari. Berat badan bayi naik baik sebanyak 28,6 gram/hari menjadi 3800 gram. Terapi skin to skin pun dapat dihentikan, namun tetap boleh dilanjutkan jika memang ibu dan bayi menginginkan dan tidak perlu kontinu 24 jam. Pijat ibu dan bayi pun boleh tetap diteruskan senyaman ibu dan bayi. Ibu disarankan menyusui semau bayi dan tidur di tempat tidur yang sama (bedding in) dengan bayi. Ibu kemudian dianjurkan untuk kontrol kembali setelah 1 bulan.

 

Saat ibu dan bayi kontrol kembali usia 3 bulan, berat badan bayi naik baik, yaitu 32,4 gram/hari menjadi 5000 gram. Dan bulan-bulan berikutnya pun berat badan bayi selalu naik baik setiap bulannya, hingga saat ini bayi berusia 1,5 tahun dengan berat badan 10,3 kg. Bayi sehat, dengan status gizi baik melebihi rata-rata, sukses menyusui ASI eksklusif sampai 6 bulan, makan MPASI dengan lahap mulai usia 6 bulan, serta ibu dan ayah bahagia bisa tetap lancar menyusui hingga saat ini dan akan melanjutkan menyusui sampai 2 tahun.

 

 

PEMBAHASAN

 

Frenotomi adalah sebuah prosedur yang digunakan untuk mengkoreksi kondisi kongenital dimana frenulum lidah atau frenulum bibir atas terlalu ketat sehingga menyebabkan restriksi atau terbatasnya gerakan yang dapat menyebabkan kesulitan menyusui, dan dalam beberapa kasus menyebabkan masalah kesehatan lain seperti gigi yang bercelah atau berjarak, kesulitan bicara, dan masalah digestif atau pencernaan. Bila terjadi pada frenulum lidah, maka kondisi ini biasa disebut tongue tie (istilah medisnya adalah ankyloglossia). Sekitar rata-rata 5% dari populasi memiliki kondisi ini, sehingga konsultan laktasi atau dokter laktasi akan merasa perlu melakukan prosedur frenotomi untuk memperbaiki gejala yang timbul.1

 

Lidah merupakan organ yang kompleks terdiri dari 8 otot yang dilibatkan dalam makan, bernapas, berbicara, tidur, postur, dan fungsi esensial lainnya. Fungsi lidah yang ideal dan postur otot saat istirahat juga membentuk pertumbuhan yang baik, perkembangan lengkung gigi, serta perkembangan wajah dan saluran napas.2

 

Ankyloglossia atau tongue tie adalah frenulum lidah yang pendek dan ketat, sehingga menyebabkan keterbatasan gerak lidah.3 Menurut International Affiliation of Tongue Tie Professionals (IATP), tongue tie adalah jaringan sisa dari proses embriologi di garis tengah tubuh (midline) antara bagian bawah lidah dan dasar mulut yang menghambat pergerakan lidah.4 Prevalensi dari ankyloglossia adalah 0,1% sampai dengan 10,7%. Ankyloglossia ditemukan lebih banyak pada bayi laki-laki dibandingkan perempuan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tongue tie diturunkan secara autosomal dominan dengan incomplete penetrance atau tidak selalu muncul.5,6. Namun, beberapa penelitian, di antaranya dari penelitian Han SH, dkk (2012), yang meneliti penurunan genetik ankyloglossia dengan analisis pedigree, ankyloglossia terkait dengan kromosom X resesif (X-linked recessive), dan ibu dari pasien perempuan adalah karier (pembawa sifat).7 Mayoritas ankyloglossia muncul sebagai suatu masalah tunggal. Namun, tongue tie juga dapat ditemukan berhubungan dengan kejadian lainnya, seperti X-linked cleft palate, Kindler syndrome, van der woude syndrome, Opitz Syndrome3, Orofaciodigital syndrome, Beckwith-Wiedemann syndrome, Simpson-Golabi-Behmel syndrome8, dan Pierre Robin Syndrome9.


Ankyloglossia muncul ketika tidak terjadi apoptosis yang baik selama perkembangan embriologi.10 Jaringan lidah berkembang pada sekitar minggu keempat kehamilan. Pada fase ini, terbentuk lekukan di tepi jaringan lidah, sehingga lidah dapat bergerak bebas, kecuali sisi frenulum lidah yang berada sampai di ujung lidah. Seiring perkembangan, sel-sel pada frenulum mengalami apoptosis dan bermigrasi ke sisi medial lidah. Pada saat ini, bila terjadi gangguan pada kontrol sel dan tidak terjadi migrasi yang sempurna atau bahkan tak muncul, maka akan menyebabkan kondisi ankyloglossia.11

 

Faktor genetik, epigenetik, lingkungan, dan jejas fisik selama perkembangan embrio dapat mengganggu kematian sel terprogram atau apoptosis sehingga menyebabkan malformasi.10 Terkait mutasi genetik, dilaporkan ada 2 gen yang berhubungan dengan kondisi ankyloglossia anak: 1) mutasi gen TBX22, yang menyebabkan tongue tie yang tidak disertai sindrom. 2) gen G-protein-coupled receptor (Lgr5). Tidak adanya gen G-protein-coupled receptor (Lgr5) pada tikus menyebabkan fenotip tongue tie dan menyebabkan kematian dalam 24 jam karena kesulitan makan, namun diperlukan penelitian lebih lanjut pada manusia.5,6

 

Faktor epigenetic yang berhubungan dengan ankyloglossia di antaranya adalah proses metilasi DNA. Proses ini berpengaruh terhadap pembentukan wajah normal saat pembentukan embrio. Proses tersebut sangat sensitif terhadap stressor, seperti virus, zat kimia, obat-obatan, nutrisi, dan stres.10 Contoh nutrisi yang diperlukan metilasi DNA adalah Folat.5 Namun, belum terdapat studi yang membuktikan dengan pasti tentang hubungan defisiensi folat dengan terjadinya ankyloglossia. Folat dapat didapat dari suplementasi berupa asam folat (folic acid) dan dari bentuk alami, yaitu 5-methyltetrahydrofolate. Bentuk terakhir lebih mudah diserap dan memiliki bioavailibilitas yang lebih baik. Untuk metabolisme asam folat menjadi 5-methyltetrahydrofolate, diperlukan enzim MTHFR. Pada populasi dengan polimorfisme MTHFR, dapat terjadi kendala metabolism asam folat, sehingga diduga mengganggu proses metilasi DNA.5 Sehingga, penggunaan bentuk alami 5-methyltetrahydrofolate lebih disarankan daripada asam folat.12 Namun, menurut Center for Disease Control and Prevention (CDC), pasien dengan polimorfisme MTHFR tetap dapat menggunakan asam folat, namun dengan cara yang lebih lambat, sehingga tetap disarankan menggunakan suplementasi asam folat.13

 

Gejala yang ditimbulkan pada tongue tie tidak hanya muncul pada bayi, namun juga dapat muncul gejala pada ibu. Biasanya keluhan yang muncul pada ibu yang sedang menyusui anaknya dengan tongue tie diantaranya nyeri saat menyusui, puting lecet, pengosongan payudara yang tidak efektif, dan infeksi payudara. Gejala yang mungkin timbul pada bayi berupa berat badan yang tidak naik baik, tertidur saat menyusui (dikarenakan bayi dengan tongue tie akan membutuhkan energi ekstra untuk menyusu dibandingkan bayi tanpa tongue tie, sehingga dia menjadi mudah lelah), kualitas perlekatan yang buruk, reflux dan gejala kolik, gumming atau mengunyah puting, lip blisters, serta episode tidur yang sebentar.14

 

Selain tongue tie, masalah menyusui juga dapat disebabkan oleh lip tie. Lip tie adalah tali atau frenulum pada bagian atas bibir yang menempel pada rahang atas. Frenulum ini tidak memiliki otot dan hanya berupa membran saja. Bila frenulum ini menempel pada bagian tulang atau gusi atas maka bisa menyebabkan adanya gerakan yang terbatas untuk bibir saat menyusu. Posisi bibir yang dower dibutuhkan dalam proses menyusu agar mulut bayi dapat membuat vakum atau tekanan negatif tinggi sehingga bayi dapat menghisap dengan baik dan transfer asi bisa optimal. Bibir yang dower juga merangsang adanya rantai oksitosin yang menyebabkan keluarnya asi dari payudara ibu optimal. Bibir bayi yang tidak dower pada saat menyusu ke payudara dapat menimbulkan keluhan menyusui, seperti nyeri,  dan puting lecet.10

 

Dalam menangani pasien laktasi, perlu pendekatan yang holistik atau menyeluruh. Artinya, seorang konselor harus mampu melihat kasus laktasi sebagai suatu rangkaian kejadian yang saling berhubungan dan sebagai sebuah proses yang melibatkan ibu, bayi dan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, dalam menyelesaikan masalah laktasi, ketiga komponen tersebut harus selalu diperhatikan dan dievaluasi. Sebagai contoh, kasus tongue tie dan lip tie tidak selesai begitu saja dengan frenotomi, kita harus melihat berat badan bayi (kenaikan dan status gizinya), produksi ASI ibu, profesi ibu, cuti melahirkan, dukungan dari keluarga dan tempat bekerja, serta evaluasi proses senam lidah dan bibir pasca tindakan. Kontrol pasca frenotomi yang berkesinambungan dan sesuai jadwal sangat dibutuhkan untuk menentukan langkah yang perlu diambil selanjutnya.

 

Yang diharapkan dari luka frenotomi adalah 1) Release sempurna, yaitu keadaan dimana pada insisi lip tie semua frenulum lepas dari gusi dan pada insisi tongue tie didapatkan diamond shaped. Dan yang 2) bekas insisi tidak menyambung kembali. Agar penyembuhan luka frenotomi terjadi dengan baik, maka perlu dilakukan senam yang benar dengan memaksimalkan gerakan vertikal dan tidak perlu gerakan kuat atau lama, namun sebaiknya gerakan cepat dan tepat.1

 

Frekuensi senam yang dianjurkan adalah 5 kali sehari dan boleh ditambahkan 1 sesi di tengah malam dengan jarak senam kurang dari 6 jam. Lama dilakukannya senam lidah dan bibir adalah maksimal 4 minggu, dimana 3 minggu dilakukan 6 kali sehari dan minggu terakhir dilakukan penurunan frekuensi bertahap (tapering off) dari 6 kali sehari, 5 kali sehari, 4 kali sehari, 3 kali sehari, 2 kali sehari, 1 kali sehari, dan kemudian berhenti.1

 

Senam bibir dilakukan dengan cara menggerakkan bibir atas keatas setinggi mungkin sampai ada tahanan dengan menggunakan 2 jari telunjuk. Selanjutnya adalah menyelipkan jari diantara luka, sapu dengan lembut luka dengan gerakan vertikal (berlawanan arah antara bibir dan gusi) selama 1-2 detik. Senam lidah dikerjakan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Masukkan 2 jari telunjuk ke bawah lidah, angkat lidah ke atas arah langit-langit, tahan selama 1-2 detik, kemudian rileks.
  2. Satu telunjuk menopang lidah, telunjuk yg lain letakkan di tengah diamond shape, gerakkan ke atas (lifting), kemudian horizontal. Gerakan jangan terlalu dipaksakan.
  3. Pijat diluar atau sekitar diamond shaped untuk melonggarkan otot dasar mulut.
  4. Sucking exercise dimulai hari ketiga dengan durasi 30-45 detik.
  5. Gerakan  seal break, yaitu dengan meletakkan jari di langit-langit mulut bayi sampai dihisap, kemudian tekan ke bawah lidah bayi dengan kuku. gerakan ini akan membuat jari telunjuk lepas dari lidah bayi. Ulangi beberapa kali senyaman bayi.
  6. Terakhir dengan 1 telunjuk di dalam mulut bayi, ibu jari yg di luar memijat pipi bayi untuk menghilangkan tegangan.1

 

Bila senam lidah dan bibir paska tindakan frenotomi tongue tie dan lip tie dilakukan dengan mengikuti anjuran yang telah ditetapkan, maka diharapkan tindakan frenotomi dan senam berakhir dengan cara yang menyenangkan dan dengan hasil yang sesuai harapan, tanpa menimbulkan masalah lain pada ibu maupun bayi. 

 

Pada kasus ini, sangat mungkin kenaikan berat badan bayi lambat (slow weight gain) disebabkan oleh stressed baby dikarenakan terlalu lamanya senam lidah dan bibir (prolonged tongue and lip exercise) paska frenotomi yang dilakukan oleh sang ibu. Ibu pun ikut merasa stress karena memikirkan masalah yang terjadi pada bayinya. Sehingga, setelah dilakukan terapi dengan segera berhenti senam, skin to skin, serta pijat ibu dan bayi, maka berat badan bayi pun kembali naik dengan baik. Dalam kasus ini, skin to skin bermanfaat untuk mengembalikan bonding antara ibu dan bayi yang telah merenggang akibat terlalu lamanya senam, yang menyebabkan bayi stress karena ibu terlalu memaksakan senam yang melampaui batas yang ditentukan, dan ibu pun akhirnya stress karena merasa harus melakukan senam dengan sangat sempurna dan memikirkan berat badan bayi naik lambat. Stress pada ibu tersebut dapat diredakan dengan dilakukannya pijat oksitosin oleh suami kepada ibu. Pijat oksitosin ini akan menghasilkan sebuah hormon cinta, yaitu hormon oksitosin, yang akan membuat ibu menjadi rileks dan pengeluaran ASI menjadi lancar. Sedangkan stress pada bayi dapat diatasi dengan dilakukannya pijat bayi oleh ibu yang sudah merasa rileks, bahagia, dan dicintai. Dengan semua terapi itu, maka bonding yang erat kembali terjalin antara ibu dan bayi, ibu dan bayi bahagia, serta berat badan bayi pun kembali naik dengan baik.

 

  1. Ghaheri B. Tongue Tie, Tongue Tie and Breastfeeding, Tongue Tie Laser Surgery. Diunduh dari: Drghaheri.com
  2. Baxter, Richard. 2018. Tongue Tied – How a Tiny String Under the Tongue Impacts Nursing, Speech, Feeding and More. Alabama: United States of America
  3. Chaubal TV. Ankyloglossia and its management. J Indian Soc Periodontol. 2011 Jul-Dec; 6(2): 49-54
  4. Murphy JG. Ankyloglossia and it’s significance for breastfeeding. Powerpoint presentation. 2013 Jan 31.
  5. Sari LN, Auerkari EI. Molecular Genetics and Epigenetics of Ankyloglossia. 2018 Jan; Advances in Health Sciences Research, vol. 4:103-14.
  6. Morowati S, et al. Familial Ankyloglossia (Tongue-tie): A Case Report. Acta medica Iranica. 2010 Apr; 48(2):123-4
  7. Han S-H, Kim M-C, Choi Y-S, Lim J-S, Han K-T. A Study on the Genetic Inheritance of Ankyloglossia Based on Pedigree Analysis. Archives of Plastic Surgery. 2012;39(4):329-332.
  8. Kupietzky A, Botzer E. Ankyloglossia in the Infant and Young Child: Clinical Suggestions for Diagnosis and Management. Pediatric Dentistry. 2005:27(1)
  9. Charisi C, et al. Etiology, diagnosis, and treatment of ankyloglossia. Balk J Dent Med, 2017;141-145
  10. Cole M. Tongue and Lip Tie: A Comprehensive Approach to Assessment and Care. Powerpoint presentation. 2017.
  11. Pompeia et al. Ankyloglossia and its influence on growth and development of the stomatognatic system. Rev Paul Pediatr. 2017 Apr-Jun; 35(2): 216–221
  12. Scaglione F, Panzavolta G. Folate, folic acid and 5-methyltetrahydrofolate are not the same thing. Xenobiotica. 2014 May; 44(5):408-8.
  13. https://www.cdc.gov/ncbddd/folicacid/about.html
  14. https://www.drghaheri.com/blog/2014/2/20/a-babys-weight-gain-is-not-the-only-marker-of-successful-breastfeeding

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.