Bayi Tounge Tie dengan Kenaikan Berat Badan Kurang Baik (Slow Weight Gain) yang Menjadi Pencetus Ibu Mengalami Depresi Berat

Kasus Pasien

Ditulis oleh dr. Novita Adelina

Bayi MG, laki-laki, usia 1 bulan 22 hari, datang bersama tante (kakak dari ibu Pasien, ibu susu Pasien) Ny. S dan ayah Tn. F ke poliklinik dengan keluhan kenaikan berat badan kurang baik. Bayi MG merupakan anak kedua dari pasangan Tn F dan Ny I. Saat ke poliklinik, Ny. I, ibu bayi, tidak ikut ke poliklinik. Bayi MG lahir dengan persalinan pervaginam di sebuah rumah sakit.  Anak I, kakak bayi, perempuan, saat artikel ditulis berusia lima tahun. Kakak bayi sukses disusui hingga dua tahun dan mendapat asi eksklusif selama enam bulan dengan tidak mendapat tambahan susu formula sama sekali.

Kenaikan berat badan bayi sehat usia 0-3 bulan adalah 25-30 gram/hari. Dari anamnesis, saat bayi usia satu bulan kenaikan BB bayi hanya 700 gram. Berat badan bayi MG usia satu bulan adalah 4320 gram dengan berat lahir 3620 gram. Saat itu, bayi, ayah dan ibu bayi kontrol ke dokter spesialis anak, dikatakan kenaikan berat badan bayi kurang. Dokter spesialis anak tersebut menambahkan, apabila di usia dua bulan kenaikan berat badan bayi masih kurang, maka bayi harus mendapat tambahan susu formula.

Saat itu, ibu bayi merasa depresi dan stress karena merasa gagal menjadi ibu. Ibu merasa apabila bayi mendapatkan susu formula tambahan maka ibu adalah ibu yang gagal. Awalnya ibu hanya murung saja dan sedih. Akhirnya ibu marah dan menyakiti suami. Ibu juga mengatakan kalau dia merasa iri dengan kakak ibu, Ny S (ibu susu bayi), yang saat itu juga sedang menyusui bayi dengan perbedaan usia satu minggu dengan pasien. Ibu bayi sempat menyakiti dengan mencakar dan memukul Ny. S. Ibu mulai memiliki halusinasi. Ibu tidak menyakiti bayi dan tidak memiliki keinginan bunuh diri.

BANNER 728 x 90

Ayah bayi dan keluarga ibu, akhirnya memutuskan untuk  membawa ibu ke rumah sakit jiwa dan akhirnya ibu dirawat dirawat di RS tersebut. Ibu didiagnosis mengalami depresi berat dengan gejala schizophrenia. Ibu mendapat obat untuk penyakitnya yaitu Clozapine, Olanzapine dan Triheksilphenidil (THP). Semua obat ini aman digunakan selama menyusui. 1

Oleh karena sebab inilah saat datang ke poliklinik, bayi tidak didampingi oleh ibu. Bayi akhirnya dirawat sementara oleh Ny. S (kakak ibu) dan bayi disusui sementara oleh Ny. S. Sebelum ibu sakit, ibu sangat dekat dengan Ny. S dan Ny. O (adik ibu). Hubungan ketiganya sangat baik.

Ibu dikenal sebagai orang yang perfeksionis. Selama ibu bersekolah, ibu selalu mendapat juara umum di sekolah. Ibu berkuliah di sebuah universitas dengan jalur penerimaan Penelusuran Minat dan Bakat (PMDK). Sebelum menikah, ibu sempat bekerja. Saat bekerja, ibu sering menangis apabila ada masalah di kantor. Saat kakak bayi berusia dua tahun, kakak bayi sempat dirawat dengan diagnosis diare dan dehidrasi. Ibu mengalami depresi berat dan akhirnya dirawat. Ibu mendapatkan terapi berupa obat-obatan dan sudah dinyatakan sembuh dan obat-obatan sudah tidak digunakan lagi.

 

Ny. O (adik ibu), yang memiliki anak pertama dengan tongue tie dan liptie yang mendapatkan tatalaksana berupa frenotomi dan akhirnya sukses mendapatkan ASI  ASI dengan kenaikan berat badan yang baik. Saat pasien MG baru lahir, Ny.O mengatakan pasien memiliki tongue tie dan liptie tapi ibu pasien MG menyangkal. Oleh sebab ini, saat bayi berusia satu bulan, kenaikan berat badan bayi kurang baik.

Untuk membantu mentatalaksana depresi ibu, bayi juga harus ditatalaksana. Atas inisiatif ayah dan keluarga ibu, bayi dibawa ke poliklinik untuk mendapatkan tatalaksana. Bayi didiagnosis mengalami slow weight gain dan didapatkan dari pemeriksaan fisik bayi memiliki tongue tie dan lip tie yang merupakan penyebab slow weight gain. Bayi mendapat tatalaksana berupa tindakan frenotomi tongue dan lip tie. Sesudah mendapatkan tindakan, ibu susu bayi mengatakan, bayi menyusu dengan hisapan yang lebih kuat dan mulut bayi terbuka lebih lebar sehingga bayi menghisap dengan lebih efektif.

Sesudah tindakan, pasien tidak kontrol ke poli laktasi. Kami mendapatkan info terbaru dari pasien melalui ibu susu pasien. Saat ini, pasien sudah tidak menetek. Pasien mendapat susu formula dengan dot. Ibu dikatakan tidak boleh meneteki karena sedang minum obat. Pasien sudah tidak mau menetek dengan ibu susu atau ibu kandung atau mendapatkan ASI Donor dari ibu susu.

 

PEMBAHASAN:

Saat bayi mengalami kesulitan menyusui, depresi pada ibu bisa terjadi. Ibu memiliki kebutuhan dasar untuk menyusui bayinya, apabila hal ini terganggu maka ibu dapat mengalami gangguan secara psikologis. Sebuah penelitian mengatakan bahwa angka depresi postpartum (PPD) terendah terdapat pada kelompok ibu yang ingin menyusui dan berhasil menyusui bayinya. Sebaliknya, angka PPD tertinggi terdapat pada ibu yang ingin menyusui bayinya, namun gagal menyusui.2

Penelitian lain mengatakan penyapihan dini terjadi pada ibu yang memiliki gejala depresi saat bayi berusia dua bulan, yang didapatkan dari hasil pemeriksaan Edinburg Postnatal Depression Scale (EPDS) dengan hasil lebih dari atau sama dengan 13. Oleh karena itulah, keluarga dan tenaga kesehatan harus dapat mengetahui gejala dan mentatalaksana ibu yang memiliki gejala depresi. 3

                        Pada pasien ini kesulitan menyusui pada bayi diketahui dari kenaikan berat badan yang kurang baik. Setelah dilakukan pemeriksaan fisik pada bayi, bayi diketahui memiliki tongue tie dan lip tie yang merupakan salah satu penyebab kenaikan berat badan bayi kurang baik.

Sesudah tindakan, pasien tidak datang untuk kontrol hasil tindakan dan memantau kenaikan berat badan. Sayangnya bayi mengalami penyapihan dini dan mendapatkan susu formula. Sudah saatnya tenaga kesehatan memiliki pengetahuan lebih mengenai ilmu laktasi dan melihat proses menyusui bayi sebagai proses tumbuh dan kembang bayi, bukan hanya proses memberi makan bayi. Sehingga, memberikan asi pada bayi sebaiknya didahulukan untuk kesehatan ibu dan bayi. Dengan menambah pengetahuan mengenai ilmu laktasi, tenaga kesehatan dapat mengetahui obat-obatan apa saja yang aman digunakan selama menyusui.

 

Bayi yang tidak disusui memiliki kadar kortisol yang tinggi.4 Kortisol adalah hormon yang mudah diukur dan merupakan suatu penanda adanya stress pada tubuh manusia. Angka korrtisol pada bayi yang tidak disusui sama dengan kortisol pada bayi yang diabaikan ibunya. Hal ini mungkin berdampak pada gangguan emosi di usia dewasa. Pernyataan ini memerlukan penelitian lebih lanjut.

Ibu bayi saat masih kecil diketahui juga mengalami penyapihan dini. Hal ini mungkin berhubungan dengan depresi yang dialami ibu. Oleh karena itulah, sebaiknya ibu dengan bayi yang memiliki bayi dengan kesulitan menetek, mendapat tatalaksana yang terintegrasi, sehingga penyapihan dini dapat dihindari untuk kebaikan ibu dan bayi di masa menyusui dan saat bayi dewasa nantinya

 

Daftar Pustaka

  1. Hale, T. Medication and Mother’s Milk. 2019. Spencer Publication Company
  2. MA, et. Al. Prevalence and Risk Factors for Early, Undesired Weaning Attributed to Lactation Dysfunction. Journal of Woman’s Health. 2014 23:5. 404-12
  3. C, Iacovou. M, Sevilla, A. New Evidence on Breastfeeding and Postpartum Depression: The Importance of Understanding Women’s Intentions. Maternal Child Health Journal. 2015. 19. 897-907
  4. W, Granger.DA, Goldberg.WA, Nathans. L. Asynchrony of Mother-Infant Hypothalamic-Pituitary-Adrenal Axis Activity Following Extinction of Infant Crying Responses Induced During the Transition to Sleep. Early Human Development Journal. 2012. 88:4. 227-32

admin

Lorem ipsum dolor sit amet

Leave a Reply

Your email address will not be published.