Abses Berulang dan Multi Drug Resistance pada Ibu dari Bayi yang Memiliki Tongue Tie dan Lip Tie  

Dr Novita Adelina dan dr. Regia Puspa Astari, CIMI

 

Ny D, 30 tahun, beralamat di kota D datang ke IGD suatu RS dengan Payudara kanan bengkak sejak kurang lebih dua minggu sebelumnya. Selain bengkak terdapat juga keluhan nyeri payudara dan demam. Ibu sedang menyusui bayi, By K, laki-laki, saat ibu bayi berusia 17 hari. Bayi menetek sering terlepas. Bayi hanya menyusu saja, namun sejak ibu masuk IGD bayi diberikan ASI perah (ASIP) ibu dengan dot.

Diagnosis ibu saat di IGD adalah abses payudara kanan. Tindakan operasi insisi abses ibu dilakukan keesokan harinya sekitar jam tiga sore. Siang hari sesudah ibu masuk IGD,  sebelum tindakan operasi abses ibu, bayi datang ke poli laktasi bersama ayah. Saat dilakukan pemeriksaan di poli, didapatkan bayi memiliki tongue tie dan lip tie yang merupakan penyebab bayi menetek sering terlepas dan juga menyebabkan puting ibu lecet dan merupakan tempat masuknya kuman ke payudara ibu dan berlanjut menjadi abses payudara ibu.

Untuk menghindari terjadinya bingung puting dan kerugian-kerugian lain dari penggunaan dot, bayi diajarkan minum dengan gelas atau cupfeeding oleh ayah. Pemberian ASIP dengan cara cupfeeding hanya dilakukan selama ibu menjalani tindakan. Sesudah tindakan selesai, bayi yang ikut di rawat inap bersama ibu,  dapat menetek kembali ke ibu baik di payudara sehat atau di payudara yang sakit. Payudara dengan abses pasca operasi harus tetap disusukan ke bayi. Hal ini merupakan salah satu cara untuk mempercepat penyembuhan abses ibu pasca operasi.1

Saat di rawat inap sesudah tindakan operasi abses pertama ibu, untuk tatalaksana ibu dan bayi secara holistik, dilakukan tindakan insisi (frenotomi atau pengguntingan) tongue tie dan lip tie pada bayi. Sesudah tindakan, bayi langsung disusukan ke ibu. Sesudah dilakukan tindakan frenotomi, bayi menetek dengan baik di areola dan tidak terlepas-lepas. Ibu dan bayi dirawat selama tiga hari.

BANNER 728 x 90

Foto Payudara Ibu Pasca Operasi Abses Pertama Tertutup Kassa

 

Foto Payudara Ibu Pasca Operasi Abses Pertama

 

Setelah 1 bulan pasca operasi abses, ny D datang ke poli laktasi dengan keluhan bengkak dan nyeri di payudara kanan. Pasca operasi ibu tidak rutin kontrol bekas operasi ke dokter bedah yang melakukan operasi melainkan ke RS lain karena dokter bedah tersebut cuti. Dilakukan USG payudara dan hasilnya kesan mastitis kanan dengan formasi abses kuadran inferomedial pada payudara kanan.

 

 

Foto Payudara Ibu Saat Datang ke Poliklinik dengan Abses Payudara yang Kedua

 

Ny D beserta suami dan keluarga setuju untuk rawat inap. Selama perawatan Ny D beserta By K dalam perawatan bersama spesialis anak konsultan laktasi, spesialis bedah dan konselor laktasi. Selama perawatan ibu diberikan antibiotik Ceftriaxon, antinyeri dan tetap menyusui secara langsung  (direct breastfeeding) pada kedua payudara.

Obat yang diberikan secara intravena selama empat hari tidak memperbaiki keluhan ibu secara total. Pada perawatan hari ke empat hasil kultur resistensi antibiotik terhadap pus atau nanah pada perawatan abses payudara pertama baru selesai, dan hasilnya ibu memiliki resistensi terhadap beberapa antibiotik, MRSA (Methicilin-resistant Staphylococcus Aureus). Kondisi resistensi terhadap beberapa antibiotik ini dapat menyebabkan keluhan tidak membaik secara optimal. Antibiotik Ceftriaxon di ubah menjadi Levofloxacin (yang masih sensitip) dan disarankan untuk operasi karena abses tidak membaik dan meradang.

Setelah operasi ibu dibantu oleh konselor laktasi dan dokter spesialis anak konsultan laktasi untuk tetap belajar menyusui dan mengoptimalkan menyusui dikedua payudara, termasuk payudara kanan setelah operasi. Payudara terasa semakin nyaman dan menyusui pun tetap dapat dilakukan setelah operasi dengan nyaman oleh ibu dan bayi sehingga ibu diperbolehkan pulang dan rawat jalan.

Setelah perawatan paska operasi, ibu kontrol rutin ke poli bedah untuk perawatan bekas operasi dan kontrol ke dokter spesialis anak konsultan laktasi dan konselor laktasi untuk optimalisasi menyusui paska operas abses dan pantau tumbuh kembang anak.

Pada kontrol pertama, di usia anak 2 bulan 5 hari dengan berat badan 4675 gr, keluhan menyusui tidak ada. Ibu rutin kontrol perawatan pasca operasi abses. Ibu minum obat sesuai dengan anjuran dokter. Ibu masuk kerja kembali 1 bulan lagi. Dilakukan persiapan ibu bekerja dengan ibu berlatih perah asi dengan tangan dan pengasuh belajar meminumkan ASIP dengan gelas, bayi juga belajar minum ASIP dengan gelas.  Saat kontrol ke poli yang kedua, usia anak 2 bulan 21 hari, dengan berat badan 5380 (naik 44 gr/hari dari kontrol sebelumnya), ibu dan bayi tidak memiliki keluhan menyusui dan payudara terasa nyaman.

 

Pembahasan

Kebanyakan abses payudara merupakan komplikasi dari mastitis pada ibu menyusui yang tidak mendapat tatalaksana dengan baik. Tatalaksana abses payudara adalah insisi abses dan drainase pus yang terdapat pada abses. Bayi harus tetap menyusu di payudara dengan  sebelum dan sesudah menjalani tindakan insisi. Obat untuk menghentikan produksi ASI adalah kontraindikasi pada kasus abses payudara.1

Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) adalah bakteri Staphylococcus aureus yang mengalami kekebalan terhadap antibiotik jenis metisilin. MRSA mengalami resistensi karena perubahan genetik yang disebabkan oleh paparan terapi antibiotik yang tidak rasional. Transmisi bakteri berpindah dari satu pasien ke pasien lainnya melalui alat medis yang tidak diperhatikan sterilitasnya. Transmisinya dapat pula melalui udara maupun fasilitas ruangan, misalnya selimut atau kain tempat tidur (Nurkusuma, 2009).

Faktor-faktor resiko terjadinya MRSA antara lain lingkungan, populasi, kontak olahraga, kebersihan individu, riwayat perawatan, riwayat operasi, riwayat infeksi dan penyakit, riwayat pengobatan, serta kondisi medis (Biantoro, 2008).

Pada kasus ini, ibu memiliki tekad yang kuat untuk menyusui anak. Suami dan keluarga yang mendukung membuat ibu lebih semangat. Perawatan bersama dan tatalaksana yang baik secara holistik antara konselor laktasi, spesialis anak dan spesialis bedah menjadikan perawatan abses payudara dan bayi yang slow weight gain dapat berjalan baik tanpa menghentikan proses menyusui. Resistensi antibiotik dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya abses payudara berulang. Resistensi antibiotik terjadi multi kausal, antara lain karena mudahnya pembelian dan penggunaan obat secara tidak rasional dan tidak sesuai anjuran sehingga menimbulkan resistensi obat. Pada kasus ini proses waktu keluarnya hasil uji kultur yang cukup lama membuat proses peradangan dapat berulang dalam jangka waktu yang cepat sehingga kontrol evaluasi rutin sebaiknya dilakukan.

 

 

Tinjauan pustaka :

  1. Kataria. K, Srivasta. A, Dhar, A. Management of Lactational Mastitis and Breast Abscesses: Review of Current Knowledge and Practice. Indian J Surg. 2013. 75 (6): 430-5

Biantoro, I. 2008. Metichillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA). (Tesis). Universitas Gajah Mada. Yogyakarta. 7-26 pp.

 

Nurkusuma, D. 2009. Faktor yang berpengaruh terhadap Metichillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) pada kasus infeksi luka pasca operasi di ruang perawatan bedah Rumah Sakit Dokter Kariadi Semarang. Tesis. Universitas Diponegoro. Semarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published.