Kasus Menyusui Eksklusif Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) oleh Ibu dengan Riwayat Myxoma dan Bentuk Puting Tidak Biasa

Oleh : dr. Viranda Putri Mariska

 

Ny. H melahirkan anak keduanya, By. A, berjenis kelamin perempuan di sebuah rumah sakit di Depok dengan proses persalinan SC pada usia kandungan 37 minggu. Indikasi section caesaria pada kasus ini adalah pertumbuhan janin terganggu (PJT) dan riwayat operasi cardiac myxoma 3 tahun yang lalu. Berat badan bayi kedua Ny. H saat lahir adalah 2320 g. Di awal kelahiran, bayi sempat menjalani pemantauan di ruang perinatologi dan akhirnya dapat sekamar dengan ibu setelah 24 jam.

 

Ny. H melahirkan anak pertamanya, yang kini berusia 4 tahun, secara normal, dan menyusuinya secara eksklusif selama 6 bulan. Karena bentuk puting kanan yang besar dan sulit ditangkap bayi, ibu hanya menyusui di sebelah kiri. Ibu melanjutkan menyusui hingga usia 1 tahun 2 bulan, yaitu setelah terdiagnosis myxoma, sebuah tumor jantung. Saat itu ibu mengeluh cepat lelah, jantung berdebar-debar, tangan dan bibir pucat sampai kebiruan. Diagnosis Myxoma ditegakkan dengan ekokardiografi dan dilakukan tindakan operasi 2 minggu kemudian karena kondisi kesehatan ibu menurun. Menyusui disarankan dihentikan oleh dokter spesialis jantung karena ibu harus mengonsumsi obat jantung, yaitu bisoprolol 1 x 2,5 mg. Setelah operasi, ibu tetap rutin mengkonsumsi obat tersebut. Namun sebelum ibu diketahui hamil, ibu sudah menghentikan obat-obatan atas keinginan sendiri karena merasa kesulitan minum obat setiap hari dalam jangka panjang. Saat diketahui hamil, dokter kandungan mengkonsultasikan kepada dokter jantung dan bedah jantung tentang kondisi ibu. Kedua dokter spesialis yang dikonsulkan mengizinkan ibu menjalani kehamilan tanpa konsumsi bisoprolol. Sebelumnya, Ibu adalah seorang ibu yang bekerja penuh waktu dan sedang mendapat cuti melahirkan selama 3 bulan.

 

Konselor laktasi mengunjungi Ny. H dan bayi di ruang rawat inap. ibu mengeluhkan kesulitan untuk menyusui anaknya. Anak sulit untuk menangkap puting ibu. Pada pemeriksaan fisik ibu, ditemukan bekas luka vertikal di tengah dada ibu berukuran 13 cm. Tampak payudara berukuran sedang simetris dan kolostrum mulai keluar. Puting ibu menonjol dan berukuran besar. Pada payudara kanan, tampak areola dengan diameter 3 cm dan puting dengan diameter 2 cm. bentuk puting melandai di sisi atas dan terkesan menyatu dengan areola, sementara sisi bawah putting lebih menonjol dengan panjang 1 cm. Pada payudara kiri,ditemukan areola dengan diameter 4 cm. Puting payudara kiri lebih menonjol, dengan diameter 1,5 cm dan panjang sisi atas puting sepanjang 1,5 cm serta sisi bawah puting sepanjang 2 cm. Tidak ditemukan lecet pada kedua puting. Pada pemeriksaan fisik bayi, ditemukan tongue tie medial dan lip tie grade 3. Refleks hisap bayi baik. Dilakukan observasi menyusui, dan ditemukan bayi tampak lepas-lepas saat menetek. Setelah dibantu untuk memperbaiki posisi dan perlekatan bayi, bayi masih sulit menetek dan cenderung menetek di puting. Pada ibu diedukasi tentang manfaat menyusui, bahaya susu formula dan dot, tongue tie dan lip tie sebagai penyebab kesulitan menyusui, dan konseling sekaligus praktek Perawatan Metode Kanguru (PMK). Ibu dan bayi juga disarankan kontrol laktasi segera ke poli.

 

Saat usia 2 hari, ibu dan bayi kontrol ke poli anak dan bertemu dengan dr. A spesialis anak konsultan laktasi. Saat kontrol, BB bayi 2210 gram, atau turun 5,1% dari berat lahir. Puting ibu lecet dan kedua payudara ibu bengkak. Bayi masih sulit menetek. Pada pemeriksaan fisik, ditemukan puting kanan ibu lebar dan tidak simetris sehingga sulit dihisap bayi. Payudara ibu bengkak dan keras walaupun ibu terus berusaha menyusui bayi. Bayi menetek lepas-lepas di kedua payudara dan sangat sulit menangkap puting kanan. Di poliklinik, dilakukan tindakan double frenotomy. Setelahnya, ibu diajarkan meneteki bayi dengan bantuan nipple shield agar bayi bisa latch stabil terutama di payudara kanan. Ibu tetap disarankan untuk belajar meneteki tanpa nipple shield. Ibu dan bayi dikonsultasikan ke poli laktasi untuk diajarkan tongue and lip exercise yang dikerjakan hingga 3 minggu ke depan, serta terapi Theurapeutic Breast Massage in Lactation (TBML). PMK dilanjutkan rutin setiap hari selama 24 jam sehari hingga berat badan bayi 2500 g.

BANNER 728 x 90

 

Saat kontrol ke poli anak usia 9 hari, berat badan bayi naik menjadi 2250 gram, atau naik 14,3 g per hari. Ibu kadang-kadang masih meneteki dengan nipple shield. Saat dicoba, bayi bisa menetek tanpa nipple shield. Ibu disarankan untuk meneteki bayi tanpa nipple shield dan melanjutkan tongue and lip exercise, serta PMK.

Pada saat kontrol usia 14 hari, berat badan bayi turun 35 gram menjadi 2215 gram. Ternyata, ibu sudah tidak melakukan PMK karena merasa repot mengurus anak sambil mengurus kakak bayi. Bayi tampak ikterik, sehingga dilakukan pemeriksaan bilirubin bayi. Hasil tes bilirubin adalah 15,7 g/dL.Ibu diedukasi ulang oleh dr. A untuk rutin melakukan PMK hingga berat badan bayi 2500 gram. Ibu pun mengerti dan bersedia melakukan PMK dengan rutin.

Sembilan hari kemudian, saat usia bayi 23 hari, BB bayi akhirnya naik baik 25 gram per hari menjadi 2440 gram.Status gizi bayi masih gizi kurang.  PMK dilakukan rutin setiap hari. Ibu pun merasakan perbaikan dalam proses menyusui bayi. Dilakukan pengecekan ulang bilirubin bayi ulang dan didapatkan hasil 14,3 g/dL. Ibu diminta tetap melakukan PMK. Tongue and lip exercise dihentikan karena sudah genap 3 minggu.

Selanjutnya, saat ibu dan bayi kontrol di usia 1 bulan 5 hari, BB bayi naik 27 gram per hari menjadi 3316 g. PMK dihentikan karena BB bayi sudah lebih dari 2500 g. Status gizi bayi masih gizi kurang, namun, karena kenaikan BB baik, ASI eksklusif dilanjutkan dan kenaikan BB bayi dipantau secara berkala. Ibu dan bayi diberikan konseling persiapan bekerja pada usia 1 bulan 21 hari, dan mulai bekerja saat bayi berusia 3 bulan. BB bayi mencapai status gizi baik saat kontrol di usia 3 bulan 22 hari, yaitu 5080 g (batas -2SD anak perempuan usia 3 bulan 22 hari adalah 4866 g). BB bayi terus naik baik dengan ASI eksklusif dan mendapatkan MPASI di usia 6 bulan.

Kenaikan berat badan bayi A sejak lahir dan kontrol berikutnya dijabarkan dalam tabel berikut:

Usia BB bayi Batas BB -2SD Status Gizi Kenaikan BB Keterangan
0 hari 2320 g 2400 g Gizi kurang NCB KMK, diajarkan PMK
2 hari 2150 g Gizi kurang Turun 5,1% dari BB lahir Dilakukan double frenotomy, PMK, pakai nipple shield
9 hari 2250 g 2620 g Gizi kurang Naik 14,3 gr per hari Nipple shield kadang dipakai, saran hentikan penggunaan nipple shield.
14 hari 2215 g 2773 g Gizi kurang Turun 7 gram per hari PMK tidak dikerjakan
23 hari 2440 g 3013 Gizi kurang Naik 25 gram per hari PMK dikerjakan setiap hari
1 bulan 5 hari 2765 g 3316 g Gizi kurang Naik 27 gram per hari PMK dihentikan
1 bulan 21 hari 3300 g 3690 g Gizi kurang Naik 33,4 gram per hari ASI eksklusif diteruskan, persiapan bekerja
2 bulan 19 hari 4135 g 4280 g Gizi kurang Naik 31 gram per hari ASI eksklusif
3 bulan 22 hari 5080 g 4866 g Gizi baik Naik 27,7 gram per hari ASI eksklusif, ibu sudah mulai bekerja.
6 bulan 3 hari 6315 g 5730 g Gizi baik Naik 17,67 gram per hari Bayi sudah mendapat MPASI

 

Tinjauan pustaka

Cardiac myxoma merupakan jenis tumor jantung primer jinak yang paling sering ditemukan.1,2,3 Prevalensi tumor jantung adalah antara 0,001% hingga 0,3%, dengan 50% dari tumor jinak adalah myoma.1 tumor ini umumnya tidak memiliki predisposisi kelainan genetic, namun ada 7% dari tumor tersebut yang memiliki penyebab genetic.1,2 Cardiac myxoma paling sering ditemukan pada wanita dewasa dengan median usia 49 tahun, walau ditemukan pula pada pasien di bawah 20 tahun dan di atas 90 tahun.2 Myxoma terjadi 2x lebih sering pada wanita daripada pada pria.3 Umumnya myxoma terjadi di atrium kiri.2 Myxoma berbentuk globular, memiliki konsistensi lembut seperti gelatin, berwarna kuning coklat lehijauan, dan sering memiliki area perdarahan dan nekrosis. Umumnya myxoma memiliki perlekatan pendek yang luas namun dapat juga terlokalisir.2

Gejala dan tanda Cardiac myxoma dapat berupa sesak saat aktivitas, sesak saat berbaring (orthopnea), sesak pada malam hari (paroxysmal nocturnal dyspnea), edema paru, batuk, hemoptisis, edema, dan kelelahan. Gejala dapat memberat dengan posisi tubuh tertentu, karena pergerakan tumor dalam atrium.1 Pada pemeriksaan fisik, dapat terdengar “tumor plop” khas yang terdengar di awal diastolic, anemia, demam, nyeri otot, nyeri sendi, murmur diastolik mitral, murmur sistolik mitral, hipertensi pulmonal, gagal jantung kanan, clubbing, fenomena raynauds, fibrilasi, gejala saraf, seperti kelemahan dan kelumpuhan.1,2 Komplikasi cardiac myxoma dapat berupa gagal jantung, regurgitasi, aritmia, gangguan kontraktilitas, blok jantung, efusi pericardial dengan atau tanpa tamponade, gejala paru, dan embolisasi.1

Diagnosis non invasif paling utama untuk cardiac myxoma adalah ekokardiografi dengan sensitivitas 100%, dapat dengan transthoracic maupun transesophageal. Selain itu, dapat juga dilakukan diagnosis dengan CT scan, MRI, dan, sangat jarang, angiokardiografi.1,2 Pada 35% pasien dapat ditemukan kelainan laboratorium seperti anemia, peningkatan LED, CRP, atau level globulin.1

Tata laksana cardiac myxoma umumnya dengan tindakan bedah jantung terbuka dengan cardiopulmonary bypass.2,5 Setelah diagnosis ditegakkan, tindakan bedah harus segera dilakukan tanpa ditunda karena risiko komplikasinya.4 Sangat jarang yang ditangani dengan terapi obat, yaitu bila ada kontraindikasi bedah.1 Rekurensi lokal terjadi pada 3-4% pasien terutama pasien usia muda.2 Komplikasi paling umum dari post-operasi jantung pada myxoma adalah atrial fibrilasi dan infeksi luka. Selain itu, dapat terjadi komplikasi low cardiac output syndrome, blok atrioventrikuler komplit, perdarahan otak, kekasaran suara, pneumonia, dan kolangitis akut. 4

Diskusi

Pada pasien Ny. H memiliki riwayat menjalani tindakan bedah jantung terbuka dengan cardiopulmonary bypass 3 tahun lalu karena myxoma, saat usai anak pertama 1 tahun 2 bulan. Saat itu Ny. H diminta menyapih anaknya karena konsumsi obat bisoprolol. Bisprolol termasuk dalam kategori keamanan menyusui L3 (limited data, probably compatible). Pada suatu laporan kasus, pada hasil perahan ASI seorang ibu yang diambil pada hari ke-11 sampai dengan ke 18 sejak awal rutin meminum bisoprolol tidak terdeteksi adanya kandungan bisoprolol. Belum ada data mengenai bayi yang mengonsumsi ASI ibu yang meminum bisoprolol.5 Saat ini Ny. H sudah tidak mengalami keluhan terkait jantung dan sudah tidak meminum obat jantung. Kontrol terakhir Ny. H paska operasi jantung adalah saat dinyatakan hamil anak kedua.

Ibu melahirkan anak dengan BBLR pada usia kandungan 37 minggu. Terdapat kendala menyusui berupa puting dengan ukuran besar dan bentuk yang tidak biasa yang membuat ibu sulit menyusui bayinya di sebelah kanan. Ibu terus berusaha menyusui, rutin kontrol ke poli laktasi dan poli anak, menggunakan nipple shield di hari-hari pertama menyusui dengan bimbingan dokter konsultan laktasi, dan melakukan metode PMK. Ibu akhirnya dapat berhasil menyusui bayinya secara eksklusif dengan kedua payudaranya dan berniat melanjutkan menyusui hingga usia anak 2 tahun. Pada kasus ini, Ibu dengan riwayat operasi jantung karena cardiac myxoma, bentuk puting tidak biasa, dan bayi BBLR dengan riwayat PJT dapat dibantu untuk tetap menyusui dengan pemantauan yang ketat dan teratur.

Referensi

  1. Cohen R. Atrial myxoma: a case presentation and review. Cardiol res. 2012 Feb: 3(1): 41-4.
  2. Mir IA, Ahangar AG. Atrial myxoma: a review. Int J Community Med Public Health. 2016 Jan: 3(1):23-9.
  3. Lee KS, et al. Surgical resection of cardiac myxoma—a 30-year single institutional experience. J Cardiothoracic Surg. 2017 Mar: 12:18.
  4. Samanidis G. Surgical treatment of primary intracardiac myxoma: 19 years of experience. Interactive cardiovascular and thoracic surgery. 2011 Dec: 13 (6): 597-600
  5. Hale T, Rowe HE. Medications and mother’s milk. 17th ed. Springer publishing company. 2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published.