Frenektomi di usia 28 tahun

Ditulis oleh dr Reica Aprilyana

 

Tongue tie atau biasa dikenal sebagai ankyloglossia, mungkin akhir-akhir ini banyak di dengar di kalangan masyarakat Indonesia. Terutama pada ibu-ibu yang sedang hamil atau ibu menyusui. Biasanya tongue tie menyebabkan sulitnya bayi menyusu kepada ibu, sehingga bayi tidak mendapatkan asupan ASI yang optimal.

Selain mengganggu proses menyusui pada bayi, tongue tie juga berefek pada kualitas hidup orang dewasa. Seperti, kesulitan makan sehingga terkesan seperti picky eater, durasi makan yang lama karena kesulitan dalam mengunyah makanan, oral hygiene yang kurang, berbicara tidak jelas, nyeri pada leher dan menjalar hingga ke punggung. Bahkan ada juga orang yang menjadi tidak simetris dalam postur tubuhnya.

Lidah merupakan organ yang kompleks terdiri dari 8 otot yang dilibatkan dalam makan, bernapas, berbicara, tidur, postur dan fungsi esensial lainnya. Fungsi lidah yang ideal dan postur otot saat istirahat juga membentuk pertumbuhan yang baik dan perkembangan lengkung gigi dan perkembangan wajah/saluran napas.2

Tongue tie merupakan hasil dari gagalnya jaringan yang ada di bawah lidah untuk apoptosis (program matinya jaringan/sel) sekitar usia kehamilan 12 minggu. Ketika lidah bergerak ke belakang dari primitive jawbone terbentuklah frenum, dan itu menyangga lidah di posisi yang tepat. Dan ini seharusnya menghilang. Contoh apoptosis yang tersering adalah hilangnya tadpole like tail secara bertahap yang terjadi pada perkembangan embrio manusia. Kesalahan proses apoptosis dapat meninggalkan tali di bawah lidah yang perlekatannya terlalu tinggi atau di bawah permukaan lidah. Variasi lainnya dari apoptosis yang salah terjadi ketika tali hampir tidak terlihat namun jaringannya menjadi lebih kaku atau tidak elastis dari seharusnya. Jaringan ini lebih bersifat terbatas dan dapat menjadi masalah yang sama dengan tongue tie klasik. Contoh dari yang disebutkan di atas adalah jari berselaput (webbed fingers) atau yang biasa dikenal dengan syndactyl, yang merupakan hasil dari gagalnya apoptosis jaringan. 2

BANNER 728 x 90

Kasus

Saya seorang dokter dan seorang ibu dari seorang anak berumur 14 bulan yang hidup dengan tongue tie selama 28 tahun. Saya memutuskan dilakukan frenektomi karena selama ini saya merasakan kesulitan dalam mengunyah makanan. Saya hanya dapat mengunyah makanan di mulut sebelah kiri saja dan tidak dapat memindahkan makanan ke mulut sebelah kanan. Sehingga saya merasa lelah jika makan dan makan dalam waktu yang lama kurang lebih mencapai 30 menit paling cepat. Setiap makan saya selalu merasa kesulitan karena lidah atau pipi bagian dalam selalu tergigit dan hasil gigitannya itu pun menjadi sariawan dan saya selalu mengalami gingivitis (radang gusi) karena tidak dapat membersihkan sisa makanan di sekitar gusi. Karena saya merasa kesulitan dalam mengunyah makanan sehingga saya malas makan dan akhirnya IMT saya underweight.  Selain itu, saya juga tidak dapat melafalkan abjad dengan baik, khususnya huruf R dan L, sehingga jika berbicara terdengar tidak jelas, selama beraktivitas seperti menyetir kendaraan saya selalu merasa leher  terasa kaku dan nyeri menjalar hingga ke bahu. Tidur saya pun dirasa tidak berkualitas karena setiap bangun dari tidur leher saya sakit dan tenggorokannya terasa kering karena saat tidur kondisi mulut saya terbuka.

Gambar 1. Sebelum tindakan Frenektomi

Saat saya diperiksa oleh Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut ternyata ukuran lidah saya sudah mengecil (atrofi), frenektomi dilakukan oleh Spesialis Bedah Mulut tersebut. Tindakan frenektomi dilakukan dengan cara yang sederhana tidak perlu dilakukan di ruangan operasi. Tindakan dilakukan di atas kursi gigi. Sebelum dilakukan tindakan, saya di berikan anastesi local dengan injeksi lidocaine di sekitar frenulum dan lidah. Kemudian tindakan frenektomi pun dilakukan dengan skalpel. Setelah dilakukan pemotongan tali lidah, bekas luka tindakan dijahit sebanyak 7 jahitan dan dioleskan Gengi gel yang berisi asam hyaluronat. Kemudian saya disarankan untuk memakan es krim, sering menggerakan lidah dan diberikan obat Pereda rasa nyeri dan Aloclair plus oral gel. Kontrol ulang untuk buka jahitan hari ke-8.

 

Gambar 2. Hari pertama setelah tindakan

Hari pertama setelah tindakan saya sudah dapat makan seperti biasa namun gerakan lidah masih terbatas, karena luka bekas operasi masih terasa nyeri. Luka bekas anastesi pun menjadi sariawan. Namun, hal pertama yang langsung dirasakan setelah tindakan adalah posisi lidah saya dalam keadaan mulut tertutup dapat menyentuh langit-langit (palatum) dan saat terbangun dari tidur leher terasa lebih relax dibandingkan sebelum tindakan. Selama di rumah saya rutin mengoleskan aloclair dan melatih lidah agar dapat bergerak dengan lentur dengan cara mengangkat lidah ke atas, menggerakan lidah ke kanan – kiri, menjulurkan lidah ke depan, bernyanyi, melafalkan alfabet, mengaji dan memakan es krim.

Gambar 3. 2 minggu setelah tindakan frenectomy

Hari ke – 8 jahitan sudah dibuka, gerakan lidah dirasakan lebih lentur. Durasi makan dirasa juga lebih cepat dari sebelumnya. Dokter menambahkan resep obat kumur untuk sariawan.

Dua minggu setelah tindakan saya merasakan tidur lebih berkualitas, makan juga lebih cepat, lidah dan pipi bagian dalam tidak pernah tergigit lagi dan pada saat makan rahang kiri dirasa tidak pegal ataupun nyeri karena saat ini saya sudah bisa menggerakan lidahnya dengan baik.

Gambar 4. 1 bulan pasca tindakan frenektomy

Sebagai tambahan, adik kandung saya juga mengalami hal yang sama. Adik saya tersebut (laki-laki, 24 tahun) dikerjakan frenektomi di hari yang sama oleh Spesialis Bedah Mulut yang sama. Pada adik saya terdapat tongue tie anterior dengan komplikasi berupa rahang yang asimetris dan gangguan pada sendi temporomandibular (TMJ, Temporomandibular Joint).

Anak saya pun lahir dengan tongue tie anterior dan terdapat kesulitan menetek yaitu puting payudara saya lecet dan dilakukan tindakan frenotomy pada usia 1 hari. Anak saya berhasil saya susui sampai dengan sekarang (14 bulan), tumbuh kembang normal.

Gambar 5. Lip Tie grade 4 dan Tongue tie anterior Pre Frenotomy

Diskusi Kasus

Gejala yang ditimbulkan pada Tongue tie tidak hanya muncul pada bayi, biasanya keluhan yang muncul pada ibu yang sedang menyusui anaknya dengan tongue tie adalah berupa puting lecet, nyeri saat menyusui, pengosongan payudara yang tidak efektif, infeksi payudara. Gejala yang timbul pada bayi berupa berat badan yang tidak naik atau berat badan naiknya lambat, tertidur saat menyusui (karena biasanya bayi dengan tongue tie, akan membutuhkan energi ekstra untuk menyusu dibandingkan bayi tanpa tongue tie, sehingga dia menjadi mudah lelah), kualitas perlekatan yang buruk, reflux dan gejala kolik, gumming atau mengunyah puting, lip blisters, episode tidur yang sebentar.1

Tongue tie akan mempengaruhi kualitas hidup hingga dewasa, biasanya saat anak sudah mulai makan anak akan mengalami gejala seperti kesulitan dalam mengunyah makanan karena pada saat makan anak cenderung akan mengemut makannannya. Sehingga orang tua melabeli anaknya dengan ‘susah makan’, ‘picky eater’. Tongue tie juga mempengaruhi dalam proses bicara, biasanya anak akan cenderung mengalami speech delay, kesulitan melafalkan beberapa abjad seperti, T,D,N,L,R,S,Z.2

Rasa nyeri dirasakan di sekitar leher juga diakibatkan karena adanya gerakan lidah yang terbatas akan menarik tulang hyoid pada leher ke atas dan meninggalkan tekanan pada seluruh jaringan ikat atau fascia pada leher, yang mana semuanya berhubungan dengan seluruh tubuh. Ketegangan dan nyeri pada leher dan rentang gerakan akan meningkat secara signifikan setelah penggutingan tongue tie. 2

Pengalaman saya sebagai seorang ibu yang menyusui bayi dengan tongue tie dan sebagai seseorang yang sudah dewasa dan hidup dengan tongue tie, menjadikan hal ini sebagai pembelajaran dalam hidup saya. Bahwa selaput tipis atau tali yang berada di bawah lidah tidak dapat dianggap hal yang sepele. Karena, selaput kecil itu dapat mengganggu kualitas hidup seseorang sejak bayi hingga dewasa. Di saat bayi masih menyusu kepada ibu, ibu tidak dapat merasakan kenyamanan dalam menyusui dan bayi pun tidak dapat menghisap payudara secara optimal. Akibatnya, ibu menjadi stress saat menyusui dan berat badan bayi tidak naik baik, dan akhirnya gagal menyusui hingga 2 tahun. Saat bayi mulai makan bayi akan kesulitan dalam mengunyah makanan, hingga beranjak dewasa keluhan pun dirasa terus berlanjut. Saya merasa bersyukur dan beruntung sekali karena anak saya terdeteksi tongue tie lebih dini dan dilakukan tindakan frenotomy sejak dini.

 

“It’s Never Too Late to Have A Tongue Tie Released” – Richard Baxter

 

Referensi :

  1. https://www.drghaheri.com/blog/2014/2/20/a-babys-weight-gain-is-not-the-only-marker-of-successful-breastfeeding
  2. Baxter, Richard. 2018. Tongue Tied – How a Tiny String Under the Tongue Impacts Nursing, Speech, Feeding and More. Alabama: United States of America

Leave a Reply

Your email address will not be published.