GALAKTOKEL PADA IBU MENYUSUI DENGAN TONGUE TIE DAN LIP TIE: SEBUAH LAPORAN KASUS

dr. Aini, CIMI dan dr. Dyah Febriyanti, IBCLC

Pemberian ASI yang direkomendasikan oleh WHO adalah meneteki 2 tahun.1 Akan tetapi, beberapa kondisi pada payudara dapat mengganggu proses menyusui bahkan membuat ibu takut2 dan berpikir untuk berhenti menyusui. Kelainan payudara pada ibu menyusui yang cukup mengganggu adalah benjolan pada payudara. Benjolan pada payudara ini bervariasi mulai dari stasis ASI, galaktokel, mastitis, abses mammae, hingga tumor jinak maupun keganasan.2,3 Tiap-tiap kondisi tersebut memiliki sebab, perjalanan penyakit, dan penanganan yang berbeda-beda. Salah satu kondisi yang sebenarnya ‘jinak’ dan tidak berbahaya namun sering kali menyerupai dan terdiagnosis sebagai keganasan adalah galaktokel. Meskipun tergolong tidak berbahaya dan tidak mengganggu proses menyusui, galaktokel dapat terinfeksi dan berlanjut menjadi abses dan memerlukan pembedahan4. Diperlukan tatalaksana awal dan menyingkirkan sebab-sebab dan faktor resiko agar galaktokel tidak berkembang atau menimbulkan masalah yang lain.
Galaktokel merupakan kista berisi ASI pada payudara ibu menyusui, dapat pula disebut dengan ‘kista retensi ASI’.2,3 Galaktokel merupakan benjolan yang bersifat jinak, dapat digerakkan,5 dan tidak nyeri6 yang paling sering ditemui pada ibu menyusui, meskipun sering juga terjadi setelah penyapihan dan beberapa kasus tidak biasa di luar proses menyusui4. Benjolan ini awalnya berisi ASI tapi dapat berubah mengental membentuk seperti keju atau berminyak.3 Galaktokel timbul oleh adanya stagnasi ASI di dalam payudara yang disebabkan oleh adanya peradangan atau sumbatan pada saluran ASI.5 Proses menyusui hendaknya tetap diteruskan karena galaktokel tidak berbahaya.3,7 Justru menghentikan proses menyusui akan memperparah keadaan5. Galaktokel dapat menyerupai kondisi lain baik jinak maupun keganasan dan untuk membedakannya, diperlukan pemeriksaan penunjang berupa USG dan aspirasi dengan jarum. Selain untuk diagnostik, aspirasi dengan jarum juga bernilai terapeutik bagi galaktokel.2,5 Apabila tidak ada komplikasi lain seperti infeksi, tindakan bedah umumnya tidak diperlukan.5,6

 

Stagnasi ASI pada payudara yang dapat menimbulkan galaktokel terutama disebabkan pengosongan ASI oleh bayi yang tidak efektif. Salah satu kondisi yang menyebabkan bayi tidak dapat melekat baik pada payudara sehingga pengosongan payudara menjadi kurang baik adalah lip tie (tali bibir) dan tongue tie (tali lidah).6 Bayi dengan tongue tie dan lip tie ini tidak dapat mempertahankan perlekatan menyusui karena gerak lidah yang terbatas.7 Untuk mengatasi hal ini, dapat dilakukan insisi atau sedikit pemotongan pada tongue tie dan lip tie ini sehingga bayi dapat menyusu dan mengosongkan payudara dengan lebih efektif. Prosedur ini sederhana dan dapat dilakukan di unit rawat jalan saja.7
Berikut ini merupakan sebuah kasus dimana galactocele telah berbulan-bulan menetap di payudara ibu. Telah dilakukan beberapa kali USG dan salah satunya memunculkan dugaan keganasan. Ternyata, bayi mempunyai tongue tie dan lip tie dan perlekatan saat menyusui kurang baik. Setelah dilakukan insisi oleh dokter spesialis anak konsultan laktasi, bayi dengan segera dapat menetek baik dan benjolan jauh mengecil setelah bayi menetek.

LAPORAN KASUS:

Pada 27 Februari 2016, Ny. A (38 tahun), melahirkan bayi G, perempuan, di sebuah RS A di, Jakarta Selatan, melalui operasi caesar atas indikasi usia resiko tinggi oleh dokter kandungan. Bayi lahir langsung menangis dengan berat lahir bayi 3100 gram. Sejak lahir hingga usia 3 bulan, bayi full menetek. Usia 3-4 bulan mix susu formula dengan dot karena anjuran dari DSA. Usia 4 bulan sampai saat ini (usia 1 tahun 10 bulan) full menetek, karena bayi tidak suka susu tambahan dan lebih memilih menetek. Ibu tidak bekerja.
Di awal proses meneteki, puting ibu mengalami lecet selama 2 minggu, lalu membaik. Kenaikan berat badan bayi baik, namun di usia 3 bulan karena kenaikan berat bayi kurang baik, DSA menganjurkan ditambah susu formula dengan dot. Bayi awal makan (usia 6 bulan) tidak bermasalah. Bayi mulai bisa mengeluarkan kata “papa” saat berusia 15 bulan, selebihnya berceloteh namun tidak jelas. Hanya dimengerti oleh ayah dan ibu.
Di usia bayi 1 tahun 19 hari, ibu mengeluhkan terdapat benjolan di payudara kiri. Ibu menceritakan keluhan tersebut ke dokter kandungan di RS A. Ibu dikonsulkan untuk USG payudara. Selanjutnya, ibu beberapa kali USG dan ke beberapa dokter spesialis kandungan di RS lain karena benjolan tak kunjung hilang:

BANNER 728 x 90

16 Maret 2017 – bayi 1 tahun 19 hari
Hasil USG ke-1 di RS A: gambaran galactocele di mamae kiri. Tidak terlihat lesi benigna (jinak) maupun maligna (ganas) di mamae kanan.

20 Maret 2017 – bayi 1 tahun 23 hari
Hasil USG ke-2 di RS A:
Galactocele terinfeksi dengan gambaran kalsifikasi pada jam 12 mamae kiri. Limfadenopati aksila kiri. Anjuran untuk mammografi atau MRI Payudara untuk evaluasi kalsifikasi.
Hasil USG ke-3 di RS B:
Complex cyst di arah jam 12 mamae kiri DD/ galactocele. Tidak tampak massa kistik maupun solid pada mamae kanan. Kelenjar limfe aksila kanan dan kiri.

21 Juli 2017 – bayi 1 tahun 4 bulan 24 hari
Keluhan menetap. Hasil USG di ke-4 RS C:
Hasil USG adalah complex cyst di arah jam 12 mamae kiri. DD/ galactocele, calcified cystic mass. Tidak tampak massa kistik maupun solid pada mamae kanan. Kelenjar limfe aksila kanan dan kiri, morfologi masih dalam batas normal.

5 Januari 2017 – bayi 1 tahun 10 bulan 9 hari
Ibu ke poliklinik laktasi RS D. BB 11,5 kg (gizi baik). Pada pemeriksaan fisik teraba benjolan, massa padat berukuran 3×3 cm, eritem samar (+), nyeri tekan (+), undulasi (-). Diagnosis kerja: ibu premastitis sinistra. Diagnosis banding: mastitis sinistra. Tatalaksana: Ibu diberikan obat minum ibuprofen 3 x 400mg, cefixime 2×500 mg, saran USG payudara ulang dan kontrol ulang setelah USG payudara.

 

Hasil USG ke ke-5 di RS E:
massa padat highly suspicious malignancy (dugaan keganasan/kanker) mammae sinistra (payudara kiri) di arah jam 11-1 berjarak 2-3 cm dari papilla mammae (putting) dengan ukuran 2,43×1,95 cm serta jam 2-3 berjarak 3-4 cm dari puting diameter kecil-kecil disertai multiple limfadenopathy sugestif malignancy (keganasan) axilla sinistra. Saran konfirmasi biopsi. Tidak tampak lesi payudara kanan dan tidak tampak tanda-tanda keganasan payudara kanan.

8 Januari 2018 – bayi 1 th 10 bulan 12 hari
Oleh dokter laktasi, ibu dirujuk ke dokter spesialis anak konsultan laktasi. Berat bayi 12 kg. Bayi terdeteksi tongue tie (tali lidah pendek) tipe medial. Dilakukan frenotomi (pengguntingan tali lidah pendek) pada bayi lalu disusui di payudara kiri. Keluhan payudara melunak namun masih teraba benjolan pada payudara kiri. Ukuran benjolan mengecil setelah meneteki bayi pasca tindakan frenotomi. Ibu tetap disarankan biopsi payudara kiri.

10 januari 2018 – bayi 1 th 10 bulan 14 hari
Hasil sitopatologi:
Tumor jinak, kearah fibrocystic disease of the breast. Tidak ditemukan sel ganas. Ibu mendapat terapi obat nutriflam dan univoxy. Bayi tetap aman menetek langsung ke ibu.
Pasca tindakan frenotomi:
Bayi makan lebih banyak jumlahnya dan lebih sering.
Bicara bayi lebih jelas (kata-kata yang diucapkan terdengar lebih jelas).
Benjolan di payudara kiri mengecil.

Pembahasan

Pada kasus ini, keluhan berupa benjolan muncul pertama kali setelah bayi berumur 1 tahun 19 hari dan menetap hingga hampir 10 bulan. Ukuran dan konsistensi benjolan tetap dan tidak bertambah. Hal ini menunjukkan bahwa benjolan tersebut bersifat jinak. Dalam kurun waktu tersebut, ibu masih meneteki bayi di kedua payudara. Ibu beberapa kali ke tenaga medis saat benjolan tersebut menunjukkan keluhan yang mengarah pada tanda radang. dan telah dilakukan beberapa kali pemeriksaan USG serta pemberian tatalaksana medikamentosa berupa antiradang dan antibiotik sehingga tanda radang reda. Akan tetapi benjolan tidak kunjung mengecil.

Apabila dirunut dari awal meneteki, terdapat beberapa keluhan menyusui lain yang dialami ibu dan bayi. Ibu mengalami puting lecet selama 2 minggu sedangkan bayi mengalami masalah kenaikan berat badan pada usia 3 bulan sehingga harus mendapat susu tambahan, dalam hal ini susu formula. Setelah berat badan bayi sudah naik dan sudah mulai mendapat makanan pendamping, ibu meneteki langsung bayinya. Ibu tidak bekerja sehingga bayi dapat menetek semau bayi. Selain keluhan sehubungan dengan menetek, bayi juga menunjukkan keluhan lain yaitu bicara yang terbatas hanya suku kata ‘pa-pa’ saat berusia 22 bulan.

Saat dilakukan evaluasi baik pada ibu dan bayi pada saat ibu datang ke klinik laktasi kami, didapatkan adanya benjolan kesan jinak yang mulai menunjukkan tanda radang, perlekatan meneteki yang kurang baik, dan adanya tongue tie dan lip tie pada bayi. Setelah bayi dirujuk ke dokter anak yang sekaligus konsultan laktasi, dilakukan insisi atau pemotongan tali lidah tongue tie dan tali bibir lip tie. Setelah tindakan tersebut, bayi dengan segera dapat menetek lebih efektif dan ukuran benjolan yang telah menetep 10 bulan tersebut jauh mengecil. Akan tetapi, karena ada hasil USG yang mengarah ke gambaran keganasan atau cancer, tetap dilakukan pemeriksaan sitopatologi oleh dokter spesialis yang kompeten di bidangnya (bedah onkologi). Hasilnya, sesuai dengan pemeriksaan klinis yang didapatkan sebelumnya, tidak ditemukan sel ganas.

Keluhan-keluhan tersebut di atas menunjukkan pengosongan payudara yang kurang efektif saat bayi menetek yang disebabkan adanya keterbatasan gerak lidah bayi terutama saat menetek ke payudara ibu. Hal ini dapat menjelaskan mengapa setelah dilakukan insisi atau pemotongan tali lidah tongue tie dan tali bibir lip tie dan bayi menetek beberapa saat, benjolan tersebut dapat mengecil. Selain itu, dari follow up didapatkan perbaikan pada hal lain yakni proses makan dan berbicara.

  1. Pustaka:
    World Health Organization.Infant and young child feeding: model chapter for textbooks for medical students and allied health professionals.2009.p 1-9,77
    Riordan, Jan., Wambach, Karen. Breastfeeding and Human Lactation, Enhanced Fifth Edition. Burlington, Jones & Bartlett Learning.2016. Hlm 344-346
    International Lactation Consultant Association.Core Curriculum for Lactation Consultant 3rd Edition.Jones & Bartlett Learning.2013.
    Bevin TH, Pearson CK.Breastfeeding difficulties and a breast abscess associated with a galactocele: a case report.1993. J Hum Lact. 9(3):177-8.
    Čačala,S R. Breast Conditions During Pregnancy and Lactation: An Understanding Of Unique Breast Conditions Associated With Pregnancy and Lactation is Essential for Evaluation and Management of Breast Problems in Pregnant or Lactating Women. 2010. CME Vol.28 No.11: 508-510
    Wilson-Clay&Hoover.The Breastfeeding Atlas.Fifth edition.2013. Texas: Latctnews Press.
    Newman, Jack., Pitman, Teresa. 2016. Dr. Jack Newman’s Guide To Breastfeeding, Revised Edition Revised Edition.

Leave a Reply

Your email address will not be published.