Menyusui Bayi dengan Gagal Tumbuh (Failure To Thrive), Tongue Tie Posterior, Upper Lip Tie Grade 3, dan Luka Lecet Puting

Ditulis oleh dr Fiha Seratin

Bayi Z, perempuan, merupakan anak pertama dari pasangan Ny N dan Tn C yang lahir pada tanggal 12 Desember 2016 di RSUD di wilayah Banjarnegara. By Z datang ke poli laktasi pada tanggal 27 Februari 2017 dengan keluhan bayi terlihat semakin kurus dan terasa berat badan tidak naik.

Berat badan saat lahir 3300 gram, saat datang ke poli laktasi di klinik pratama Dwi Asih dengan usia 2 bulan 15 hari berat bayi Z 3400 gram. Berat badan bayi tidak mengalami kenaikan sesuai dengan usia, hanya 1,3 gram per hari. Bayi berada pada kondisi gizi buruk menurut standar antropometri World Health Organization (WHO), yaitu <-3 SD. Pada pemeriksaan saat di poli laktasi bayi Z terdapat selaput lidah memanjang di belakang lidah (tipe posterior) dan selaput bibir atas menebal grade 3, serta ibu bayi mengalami luka lecet pada kedua puting grade 4 dan produksi ASI menurun (low milk supply).

Bayi Z mendapatkan nutrisi dari ASI dan susu formula. Susu formula diberikan sebanyak 2 kali lalu ibu menghentikan pemberian susu formula karena ingin meneteki langsung. Bayi Z menetek terus menerus dengan durasi  lebih dari 1 jam, jika dilepas bayi Z akan menangis kembali, seperti tidak kenyang. Selama menetek hisapan sering lepas, terdengar suara mengecap, dan ada ASI yang keluar dari sudut bibir. Pada pemeriksaan fisis didapatkan tanda vital dalam batas normal, berat bayi hanya naik 100 gram selama 2,5 bulan, tulang iga menonjol, kulit keriput dan kering. Bagian mulut terdapat tongue tie tipe posterior dan upper lip tie grade 3. Bayi Z kami diagnosis gizi buruk dengan failure to thrive (FTT) dan kesulitan menetek akibat tongue tie dan upper lip tie.

Dilakukan edukasi kepada orang tua mengenai kondisi bayi dan rencana terapi yang akan diberikan. Orang tua menegerti dan menyetujui semua terapi yang akan diberikan. Bayi Z kami terapi simple frenotomy pada tongue tie dan upper lip tie untuk memperbaiki perlekatan saat menyusu. Suplementasi menggunakan naso gastric tube (NGT) nomor 5F dan spuit 50 ml (seperti pada gambar dibawah) berisi ASI donor yang di pasteurisasi atau susu formula hipoalergenik jika ASI donor tidak mencukupi. Suplementasi diberikan 6 kali sehari @ 60 ml. Suplementasi dilakukan dengan tujuan untuk membantu mempercepat kenaikan berat badan bayi Z dan menambah produksi ASI ibu. Orang tua diajarkan tongue and lip exercise 5 kali sehari untuk mencegah perlengketan kembali luka pasca frenotomi dan kontrol rutin setiap 2 minggu di Klinik Laktasi Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Dompet Dhuafa oleh dokter spesialis anak IBCLC. Ibu diberikan terapi salep untuk puting lecet yang berisi miconazole 2%, mupirosine 2%, dan betamethasone 0,1% dan domperidone dengan dosis 20 mg 3 kali sehari untuk membantu meningkatkan produksi ASI.

BANNER 728 x 90
                 Gambar 1. Suplementasi bayi Z

 

Kontrol pertama kali setelah frenotomi (usia 3 bulan 5 hari) berat bayi Z naik menjadi 4200 gram, mengalami kenaikan 57,1 gram per hari. Berat badan bayi Z masih berada pada kondisi gizi kurang menurut standar antropometri WHO, yaitu Z score antara -2 SD dan -3 SD. Suplementasi dikurangi menjadi 6×45 ml sehari. Ibu diajari meneteki dengan posisi football pada payudara kiri agar lebih nyaman. Luka lecet pada kedua puting ibu mulai mengalami perbaikan dari grade 4 menjadi grade 3 dan ASI ibu masih low milk supply. Terapi untuk ibu dilanjutkan.

Kontrol kedua (usia 3 bulan 16 hari) berat badan bayi Z naik menjadi 4400 gram, mengalami kenaikan 14,3 gram per hari. Kenaikan berat badan bayi tidak optimal karena persediaan  ASI donor telah habis dan susu formula hipoalergenik sulit didapat di wilayah tempat tinggal keluarga bayi Z. Berat badan bayi Z masih berada pada kondisi gizi kurang menurut standar antropometri WHO, yaitu Z score antara -2 SD dan -3 SD. Suplementasi tetap diberikan sebanyak 6×45 ml sehari. Luka lecet pada kedua puting ibu mengalami perbaikan dari grade 3 menjadi grade 2 dan ASI ibu mulai normal low milk supply. Terapi untuk ibu dilanjutkan.

Kontrol ketiga (usia 4 bulan 2 hari) berat badan bayi Z naik menjadi 4900 gram, mengalami kenaikan 35,7 gram per hari. Berat badan bayi Z berada pada kondisi gizi kurang menurut standar antropometri WHO, yaitu Z score antara -2 SD dan -3 SD. Suplementasi tetap diberikan sebanyak 6×45 ml sehari. Luka lecet pada kedua puting ibu mengalami perbaikan dari grade 2 menjadi grade 1 dan ASI ibu mulai normal milk supply. Dosis domperidone diturunkan menjadi 20 mg – 20 mg – 10 mg dan salep untuk puting lecet dilanjutkan.   

Kontrol keempat (usia 4 bulan 18 hari) berat badan bayi Z naik menjadi 5285 gram, mengalami kenaikan 24,6 gram per hari. Berat badan bayi Z berada pada kondisi gizi baik menurut standar antropometri WHO, yaitu Z score tepat di -2 SD. Suplementasi tetap diberikan sebanyak 6×45 ml sehari. Bayi Z juga diberikan Makanan Pendamping ASI (MPASI) dini sesuai dengan pedoman MPASI Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Bayi Z menderita demam selama 3 hari dan dilakukan pemeriksaan laboratorium dengan hasil Hb 7,6 gr/dl, Ht 23%, Tr 245.000, Leu 10.240, LED 19, chest X Ray dengan hasil dalam batas normal, dan Tes Mantoux dengan hasil negatif. Dari hasil pemeriksaan tersebut, bayi Z diberikan suplementasi zat besi (Fe) sebanyak 2×1 ml, Vit C 2×25 mg sehari, profilaksis TB INH 10 mg/kg BB selama 6 bulan, dan Vit B6. Profilaksis TB tetap diberikan pada bayi Z walau hasil Tes Mantoux negatif dan chest X Ray dalam batas normal karena pada riwayat sebelumnya bayi Z dalam kondisi gizi buruk dimana hasil Tes Mantoux bisa memberikan hasil negatif palsu dan kontak terhadap penderita TB diduga positif. Luka lecet pada kedua puting ibu mulai sembuh dan ASI ibu normal milk supply. Salep untuk puting lecet di hentikan penggunaannya dan dosis domperidone diturunkan menjadi 20 mg – 10 mg – 10 mg.

Kontrol kelima (usia 5 bulan 8 hari) berat badan bayi Z naik menjadi 6080 gram, mengalami kenaikan 39,7 gram per hari. Saat ini berat badan bayi Z berada pada kondisi gizi baik menurut standar antropometri WHO, yaitu Z score tepat di -1 SD. Suplementasi di hentikan karena gizi sudah baik dan ASI ibu sudah dalam kondisi normal milk supply. MPASI tetap diberikan dan dosis domperidone diturunkan menjadi 10 mg 3 kali sehari selama 2 minggu, lalu diturunkan lagi menjadi 10 mg 2 kali sehari selama 2 minggu, lalu 10 mg sehari sekali selama 5 hari dan penggunaan dihentikan.

Kontrol keenam (7 bulan 2 hari) berat badan bayi Z naik menjadi 7300 gram dengan mengalami kenaikan 48,8 gram per hari. Berat badan bayi Z berada pada kondisi gizi baik menurut standar antropometri WHO, yaitu Z score antara -1 SD dan Median. Bayi Z tetap menetek langsung dan MPASI.

Pada kasus ini, ibu memiliki tekad dan keinginan yang kuat untuk tetap meneteki bayi Z walau pun ibu mengalami luka lecet pada kedua puting. Ibu tetap bersemangat untuk meneteki agar bayi Z bertambah berat badannya. Ayah, kakek, nenek, dan keluarga mendukung sikap ibu untuk terus meneteki. Proses kenaikan berat badan bayi Z dapat dilihat pada grafik 1.

                                            Grafik 1. Proses kenaikan berat badan bayi Z

 

 

                                       Grafik 1. Proses kenaikan berat badan bayi Z dan Tahapan Terapi

 

Referensi:

  1. International Standards for Tuberculosis Care: Diagnosis Treatment Public Health 2nd Edition 2009
  2. Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia: Rekomendasi Praktik Pemberian Makan Berbasis Bukti pada Bayi dan Batita di Indonesia untuk Mencegah Malnutrisi. UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik IDAI 2015
  3. Newton SM, Brent AJ, Anderson S, Whittaker E, Kampmann B. 2008. Paediatric Tuberculosis. Lancet Infect Dis august 8(8): 498-510
  4. Su Jin Jeong. 2011. Nutritional Approach to Failure To Thrive. Korean J Pediatric;54(7): 277-281
  5. WHO Child Growth Standard for Girls

2 Comments

  • Vina de Saire berkata:

    Anak saya tongue tie dan sudah dilakukan frenotomi. Frenotomi dilakukan 2 kali karena ternyata bekas luka yang pertama melekat kembali. Setelah menjalani frenotomi yang kedua saya perhatikan lidah anak saya masih kelihatan ada bentuk hati pada ujung lidahnya. Apakah itu normal? Apakah bentuk hati itu akan berangsur hilang setelah dilakukan senam lidah? Atau insisi yang dilakukan kurang dalam sehingga masih kelihatan bentuk hati pada ujung lidahnya? Mohon pencerahannya dok… terima kasih

Leave a Reply to Vina de Saire Cancel reply

Your email address will not be published.