Ibu dan Sosial Media

Oleh : drg. Danar Sekartaji

 

Kemajuan teknologi saat ini telah  memudahkan promosi kesehatan dan informasi pencegahan penyakit menjadi sederhana dan dapat diakses dari mana saja khususnya melalui telepon selular. Masyarakat dengan latar belakang edukasi, penghasilan , lokasi tempat tinggal apapun pasti memiliki smartphone atau paling tidak, memiliki perangkat untuk dapat mengakses media sosial. Tidak terkecuali para ibu muda atau first time mother, dapat dengan mudah mengakses informasi mengenai menyusui, parenting, dan informasi lainnya hanya melalui media sosial.

Berdasarkan Oxford Dictionary (2014)6, media sosial didefinisikan sebagai situs web dan aplikasi yang memungkinkan pengguna membuat dan berbagi konten atau berpartisipasi dalam jejaring sosial. Sosial media juga didefinisikan sebagai segala bentuk komunikasi elektronik (misal : situs web dan microblogging) tempat pengguna membuat komunitas online untuk berbagi informasi, gagasan, pesan pribadi, dan konten lainnya (video, foto, dll).

Beberapa ibu selama masa sebelum persalinan (antepartum) dan setelah persalinan (postpartum), merasakan terbatas/minimnya dukungan yang diterima dari keluarga maupun teman. Beberapa dari mereka merasa kesepian, terisolasi, dan sedih karena sedikitnya kunjungan ataupun ketertarikan orang sekitar pada masa antepartum & post partum tersebut. Padahal periode tersebut merupakan masa yang sangat penting bagi ibu ataupun orangtua baru untuk mendapatkan dukungan. Masa transisi menjadi orang tua baru merupakan masa dimana seseorang merasa memiliki penghargaan sekaligus tantangan bagi dirinya. Hadirnya bayi dikeluarga memberi aktifitas dan kebahagiaan baru, tetapi masa transisi sebagai orang tua berpotensi menyebabkan “parental stress”, yang bisa memberikan efek negatif untuk ibu maupun bayi. Untuk melewati fase tersebut, dan mencegah efek buruknya, ibu harus mendapatkan dukungan sosial. Pada jaman berteknologi seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya, perasaan terdukung didapat dengan mudah melalui media sosial. Dengan cepat dan nyata ibu bisa tetap memperbaharui pengetahuan dan dukungan dari dunia luar.5

Berdasarkan penelitian diketahui bahwa 83% dari orang tua baru mengalami “moderate to severe crisis” ditahun saat bayi lahir. Hal ini menunjukkan bahwa banyak pasangan muda mendapat kesulitan bertransisi menjadi orang tua baru. Masa transisi ini terjadi sejak bayi dalam kandungan hingga setelah bayi lahir, atau sejak kehamilan, setelah persalinan, dan 18 bulan setelah persalinan.

BANNER 728 x 90

Parental stress adalah masa terjadinya peningkatan kesulitan selama transisi menjadi orang tua baru, seperti depresi, kesulitan berinteraksi antara orang tua dan anak, berperan sebagai orang tua sehari-hari, dan terus berlanjut sampai menjadi orang tua berpengalaman.

Penelitian menunjukkan tingkat parental stress pada ibu baru meningkat dari hamil enam bulan sampai paling tidak delapan bulan setelah bayi lahir. Ibu baru memiliki tingkat stress yang lebih tinggi dibandingkan ayah baru. Keadaan stress ini dapat mempengaruhi emosi, tingkah laku dan psikologis ibu dalam melewati masa transisi sebagai orang tua. Maka, adaptasi yang baik bagi ibu baru sangat diperlukan untuk menurunkan tingkat stress mereka. Salah satu cara adalah adanya dukungan sosial yang adekuat.5

Dukungan sosial diantaranya tersedia pada media sosial yang memiliki fungsi sebagai berikut5 :

  1. Dukungan penilaian (Appraisal support) : kemampuan untuk berbicara dengan orang lain
  2. Integrasi sosial : kemampuan jaringan dari beberapa individu yang memiliki ketertarikan dan pandangan yang sama
  3. Dukungan harga diri (Self esteem support) : kemampuan untuk membandingkan diri sendiri dan orang lain secara positif

Pada penelitian lain, dengan menggunakan media sosial seorang ibu mengharapkan1 :

  1. Mendapat informasi yang relevan mengenai periode perinatal
  2. Mengedukasi diri sendiri mengenai topik yang berkaitan dengan kesehatan (contoh : diet, latihan, dan info mengenai kehamilan dan pengasuhan)
  3. Mendapatkan dukungan sosial dan saran dari ibu lain dan wanita lain yang memiliki situasi yang sama

Menurut Meadows, dukungan sosial yang baik pada Ibu baru dapat memberikan keuntungan yaitu meningkatnya kualitas hubungan dengan pasangan, memberi efek positif pada perilaku, meningkatkan kepuasan sebagai orang tua baru dengan kualitas interaksi orangtua dan anak yang baik.4 Terlebih, menurut McDaniel, Coyne, and Holmes, dukungan sosial dapat menurunkan konflik rumah tangga dan menurunkan stress sebagai orang tua.3

Maka dari itu, dukungan sosial yang adekuat dapat menurunkan tingkat parental stress. Media sosial  sebagai salah satu sarana dukungan sosial dapat menjadi hal yang mendukung tetapi dapat pula memberi efek negatif  pada perilaku orang tua baru.

Peran dan tanggung jawab selama masa transisi menjadi orang tua baru menjadikan para ibu aktif menggunakan teknologi online dengan tujuan dapat berkomunikasi dengan orang lain. Penelitian oleh McDaniel’s et al, menemukan bahwa 61% ibu baru dari sampel (n=157) menulis blog mereka sendiri.3 Selain itu Bartholomew’s et al melakukan penelitian yang menyimpulkan bahwa penggunaan Facebook pada ibu baru meningkat setelah bayi lahir.2 Menurut penelitian Edison dari sampel yang mereka teliti, 90% ibu memiliki kemampuan untuk mengakses internet dari lokasi manapun, 95% ibu memiliki telepon selular dan rata-rata mereka menghabiskan waktu 15 menit atau lebih untuk menggunakan internet setiap harinya. Peneliti menyatakan bahwa hal ini dilakukan oleh para ibu untuk mendapatkan serta menjaga perasaan mereka untuk terus mendapatkan dukungan sosial.

Penelitian mengenai penggunaan media sosial pada ibu baru dan pengaruhnya pada dukungan sosial dan parental stress memberikan hasil yang berbeda-beda. Efek sosial media pada ibu baru dengan parental stress menunjukkan bahwa penggunaan Facebook secara umum dapat meningkatkan perasaan seorang ibu mendapatkan dukungan sosial dan kemudian menjadikan perilaku baik, menurunkan stress, dan kepuasan. Di sisi lain juga terdapat pendapat bahwa jaringan sosial dapat menurunkan self esteem dan perilaku.

Ibu baru yang aktif memuat posting di sosial media dan kemudian mendapatkan tanggapan dari followernya dapat membuat ibu tersebut merasa menerima appraisal support. Pada masa transisi menjadi orang tua, yang dapat sangat sulit untuk banyak wanita, berbagi informasi di sosial media dapat berefek positif. Karena merasa bahwa diluar sana banyak orang yang peduli pada dirinya saat awal memiliki peran dan tanggung jawab sebagai seorang ibu. Tetapi penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan sosial media selain dapat meningkatkan dapat juga menurunkan dukungan sosial.

 

Contoh Kasus :

Ny. A usia 26 tahun (primipara) dan By.A usia 1 bulan datang ke klinik laktasi dengan keluhan saat menyusui puting payudara ibu sangat sakit seperti diiris. Ibu baru dioperasi payudara kiri nya satu minggu yang lalu oleh karena abses di rumah sakit tempat ibu melahirkan. Saat datang ke poli laktasi di payudara kiri masih ada perban bekas insisi abses. Sebelum insisi abses, ibu selalu pompa ASI dan ASI perah diberikan ke bayi dengan dot. Ibu tidak bekerja. Ibu pompa ASI agar produksi ASI ibu banyak, karena ibu lihat di media sosial banyak ibu-ibu lain dengan stok ASI perah (ASIP) yang banyak hingga beberapa kulkas. Selain itu ibu menggunakan dot dengan bentuk anatomis yang paling menyerupai payudara menurut iklan di media sosial. Ibu jadi termotivasi untuk melakukan hasil yang sama yaitu perah-perah ASI agar produksi meningkat dan memperbanyak stok ASIP padahal ibu tidak bekerja.

Akibatnya produksi Ibu menjadi berlebih, bayi tidak mampu mengosongkan payudara Ibu. Terjadi stasis ASI, dan berlanjut menjadi mastitis dan abses. Dilakukan operasi untuk mengeluarkan nanah dari abses payudaranya, oleh dokter spesialis bedah umum. Dilakukan konseling bahwa Ibu tidak perlu memompa payudara, dan tidak perlu memberi dot pada bayi, karena Ibu tidak bekerja, sehingga cukup dengan meneteki langsung.  Pemberian ASI dengan alat lain (bukan payudara) dan memerah ASI (tidak meneteki langsung) hanya bagi Ibu-Ibu yang terpisah dari bayi. Memerah payudara itu fungsinya menggantikan hisapan bayi, sehingga tidak perlu dikerjakan oleh Ibu yang setiap saat bersama bayi. Ibu dapat mengerti  dan saat ini hanya meneteki saja tanpa memerah payudara lagi. Penggunaan dot dihentikan sama sekali.

Diskusi :

Dari kasus Ny. A dan By. A dapat dipelajari beberapa hal yaitu :

  • A sudah berusaha mencari informasi agar dapat memberikan ASI untuk bayinya. Namun, sumber informasi yang didapatkan dari media sosial yang dilihat tidak valid. Selain itu dengan melihat produksi ASI ibu menyusui lainnya yang berkulkas-kulkas memotivasi Ny. A untuk bisa mencapai hal yang serupa. Sehingga apa yang dilakukan Ny.A untuk meningkatkan produksi ASI dengan pompa payudara menyebabkan produksi ASI menjadi berlebih (oversupply). Terjadi penumpukkan ASI yang kemudian menjadi penyebab abses karena ASI tidak dapat dihabiskan bayi.
  • Karena sudah memiliki stok ASIP yang banyak, Ny.A memberikan ASIP ke By.A dengan dot. Jika bayi minum dengan dot seringkali jumlah ASI yang diminum melebihi kebutuhannya. Sehingga ibu merasa ASI perahannya tidak pernah cukup. Padahal apabila bayi menyusu langsung pada payudara ibu, bayi akan melepas sendiri payudara ketika kenyang. Ibu yang tinggal di rumah bersama bayinya, akan menghasilkan ASIP yang “sedikit”, karena sebagian besar ASI sudah diminum bayi saat menetek. Jumlah perahan tersebut tidak mencerminkan jumlah ASI di payudara ibu.
  • Sebaiknya setiap Ibu menyusui sudah mendapatkan edukasi serta konseling laktasi sejak masa kehamilan. Agar Ibu bisa mengetahui sejak awal apa saja yang perlu dipersiapkan serta membuka wawasan mengenai proses menyusui yang belum diketahui sebelumnya. Konseling laktasi ini bukan hanya diperuntukkan bagi Ibu menyusui saja, melainkan keluarga disekitarnya yaitu Ayah, Nenek, Kakek, dan/atau orang terdekat lainnya. Tujuannya adalah agar proses menyusui dapat berjalan lancar tanpa ada intervensi dari pihak yang berbeda pendapat karena semuanya telah mengetahui bagaimana proses menyusui seharusnya berjalan dari konseling laktasi tersebut. Selain itu, agar nantinya ibu dapat memilah informasi yang dibaca dari media sosial karena sebelumnya telah mendapatkan informasi yang tepat langsung dari ahlinya.

 

Referensi :

  1. Asiodu IV., Waters CM., Dailey DE., Lee KA., Lyndon A. “Breastfeeding and Social Media Among First Time African-American Mothers”. J Obstet Gynecol Neonatal Nurs. 2015 March ; 44(2) : 268-278
  2. Bartholomew, M. K., Schoppe-Sullivan, S. J., Glassman, M., Dush, C. M. K., & Sullivan, J. M. (2012) New Parents’ Facebook use at the transition to parenthood. Family Relatioins, 61(3), 455-469.
  3. McDaniel, B. T., Coyne, S.M., & Holmes, E. K. (2012). New mothers and media use : Associations between blogging, social networking, and maternal well-being. Maternal and Child Health Journal, 16(7), 1509-1517
  4. Meadows, S. O. (2010). The association between perceptions of social support and maternal mental health : A cumulative perspective. Journal of Family Issues, 32(2), 181-208.
  5. Nielsen, Rachel Clawson. “New Mothers and Social Media : The Effects of Social Media Consumption and Production of Social Support and Parental Stress”. BYU Scholars Archive 2015.
  6. https://en.oxforddictionaries.com/definition/social_media

Leave a Reply

Your email address will not be published.