Bingung Puting dan Tongue Tie Posterior, Upper Lip Tie Grade 2

Ditulis oleh: dr. Erika Agustianti

 

Ilustrasi Kasus

Nama                          : Ny. R

Riwayat Kelahiran   : P2A0

Nama Bayi                 : Bayi R

BANNER 728 x 90

Jenis Kelamin           : Laki-laki

Usia                             : 1 bulan 29 hari

BB Lahir                     : 3700 gram

BB Sekarang              : 6150 gram

Status Gizi                  : Gizi baik

Riwayat Menyusui Anak Sebelumnya     : Anak 1,6 tahun sejak awal mix SF + dot, disapih usia 2th 3bln

Awalnya pada tanggal 7 Oktober 2017, Bayi R ke Klinik Laktasi RSIA lain, lalu disarankan ke Poli Laktasi RSSH.

Pada tanggal 10 Oktober 2017, Bayi R ke Poli Laktasi RSSH dengan keluhan menolak menetek sejak 5 hari yang lalu, terutama pada malam hari. Menurut ibu sebelumnya 6 hari yang lalu Bayi R diberi dot karena ibu sudah mulai bekerja, 2 hari kemudian Bayi R tidak mau menetek dan Bayi R terus rewel hampir tiap jam. Menurut ibu tidak ada masalah memberi asi perah (ASIP)  + Dot karena pengalaman anak pertama. Bayi R sebelumnya sudah dilatih cupfeeding tetapi ASI banyak terbuang. Selama ibu bekerja Bayi R diasuh oleh pengasuh.

Pada observasi menyusui ketika di Poli Laktasi RSSH, bayi menyusu di payudara kanan cukup lama dan tiba-tiba bayi rewel, kemudian menolak menyusu. Lalu dipasang suplementer Orogastric tube (OGT)  Spuit isi ASIP 20cc bayi mau melekat tetapi gelisah. Pada pemeriksaan fisik juga ditemukan Tongue Tie (TT)  Posterior dan Lip Tie (LT) Grade 2. Bayi R kami diagnosa dengan breastfeeding difficulties ec dot dan ankyloglossia. Dilakukan edukasi kepada orang tua mengenai kondisi Bayi R dan rencana terapi yang akan diberikan. Orang tua mengerti dan menyetujui semua terapi yang akan diberikan. Bayi R kami rencanakan untuk dirawat inap, skin to skin 24 jam dengan Perawatan Metode Kangguru (PMK)  yaitu dengan menempatkan bayi pada posisi tegak di dada ibu, diantara kedua payudara ibu tanpa busana, hanya mengenakan popok, posisi bayi diamankan dengan kain panjang dan kepala bayi dipalingkan ke sisi kanan atau kiri dengan posisi sedikit tengadah . Ujung pengikat tepat berada di bawah kuping bayi. Lalu diberikan OGT Spuit isi ASIP 6 × 40cc bila sudah mau menyusu, jika belum maka menggunakan cupfeeder 8 × 40cc, stop dot, CTM 3 × 0,6mg dan jika Bayi R sudah mau menyusu kembali, direncanakan untuk frenotomi.

Pada tanggal 11 Oktober 2017, Bayi R datang untuk dirawat inap. Menurut ibu bayi masih mengamuk setiap menyusu langsung ataupun dengan suplementer. Lalu Bayi R kami rawat sesuai dengan rencana terapi yang telah disarankan sebelumnya. Pada saat divisit, OGT dipasang. Awalnya Bayi R melekat sekitar 2 menit, lalu tiba-tiba Bayi R rewel kembali. Dicoba skin to skin, bayi tenang dan tertidur. Pada visit yang kedua, bayi juga masih rewel ketika menyusu dengan OGT maupun cupfeeder.

Pada tanggal 12 Oktober 2017, bayi sudah mulai tenang, ibu semalaman skin to skin, sesekali bila ibu ingin ke toilet skin to skin dengan jarik digantikan oleh ayah. Pada saat visit selanjutnya, ibu baru saja selesai menyusui Bayi R dan Bayi R sudah bisa menetek tanpa OGT. Dilakukan frenotomi pada Bayi R dan mengajarkan Tongue Excercise (TE) dan Lip Excercise (LE) yang merupakan latihan setelah frenotomi  untuk mencegah perlekatan kembali, hal yang perlu diperhatikan adalah tangan ibu dalam keadaan bersih, minimal 5 kali sehari selama 3 minggu , setiap gerakan 10 hitungan. Waktu yang tepat untuk melakukan TE dan LE ini adalah sebelum bayi lapar, ngantuk dan mengamuk, tunda jika bayi menangis. Terdapat 14 gerakan pada TE dan LE ini yaitu:

  1. Gerakan melingkar pada tulang pipi
  2. Gerakan memijat bagian atas bibir
  3. Gerakan memijat bagian bawah bibir
  4. Gerakan memijat bagian dagu
  5. Gerakan memijat bagian dagu ke arah tulang rahang
  6. Tarik bibir atas ke arah luar, tahan, lakukan berulang
  7. Pijat lembut di titik pasca frenotomi
  8. Gerakan telunjuk menyapu pada bibir atas
  9. Gerakan telunjuk masuk ke langit-langit bibir atas, tarik pelan ke arah luar
  10. Gerakan telunjuk memutar di gusi bawah kiri dan kanan
  11. Gerakan menekan lidah naik ke atas langit-langit mulut, tahan
  12. Gerakan telunjuk menyapu lidah bawah pasca frenotomi
  13. Gerakan menyapu gusi bagian bawah
  14. Gerakan menyapu gusi bagian atas

Setiap gerakan ini divideokan oleh orang tua bayi,  sehingga dapat melanjutkan TE dan LE di rumah dan disarankan untuk kontrol 1 minggu kemudian, jika luka insisi bagus, kontrol 2 minggu kemudian. Bayi R sudah bisa pulang hari ini juga dengan melanjutkan skin to skin minimal 2 jam di rumah.

 

Pada pasien ini dapat diambil tinjauan positif yaitu ibu dan ayah sangat kooperatif dan mendukung pemberian ASI dan menjadi paham efek dari pemberian dot, salah satunya adalah dapat menyebabkan bingung puting.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.