MPASI Yang Baik Untuk Menyusui Hingga 2 Tahun

Ditulis oleh dr. Ratih Ayu Wulandari, IBCLC

Makanan Pendamping ASI yang baik sangat penting untuk menjaga agar ibu bisa menyusui hingga dua tahun. Sayangnya, di Indonesia, hanya 36 % bayi yang mendapatkan MPASI yang baik, dan 9.5 juta anak di Indonesia mengalami kekurangan gizi. (1) Dampak kurang gizi bagi bayi adalah bayi dapat mengalami gagal tumbuh (kecil, pendek, kurus), hambatan perkembangan kognitif (berpengaruh terhadap sekolah dan keberhasilan pendidikan sehingga menurunkan produktivitas pada usia dewasa) dan gangguan penyakit metabolik pada saat usia dewasa seperti diabetes, penyakit jantung, kanker dan lainnya. (2)

Kunci keberhasilan pemberian MPASI yang optimal adalah 3T yaitu Tepat waktu, Tepat jumlah dan frekuensi, serta Tepat penggunaan bahan pangan lokal yang sesuai dengan budaya di tempat ibu tinggal. (2)

Dengan tetap menyusui hingga 2 tahun dan pemberian MPASI yang baik, bayi ibu akan terhindar dari penyakit, tumbuh dan berkembang dengan sehat.

10 prinsip dalam pemberian MPASI

BANNER 728 x 90

WHO (Badan kesehatan dunia) telah mengatur pemberian MPASI khusus untuk bayi ASI. Agar bayi terus tumbuh baik. Berikut prinsip prinsip yang perlu diketahui : (3)

1) Menyusui selama 6 bulan, kemudian memperkenalkan MPASI sambil terus menyusui bayi.

Semakin besar dan semakin aktif bayi, ASI saja setelah 6 bulan tidak dapat lagi mencukupi kebutuhannya. Ada selisih yang besar yang tidak dapat dipenuhi lagi oleh ASI sejak 6 bulan, yaitu kebutuhan energi, protein, zat besi dan vitamin A. Sehingga bayi perlu makan yang sarat gizi agar terpenuhi kebutuhannya.


Sehingga sejak usia 6 bulan, bayi sudah perlu mendapatkan Makanan Pendamping ASI yang baik, yang dapat memenuhi kebutuhan energi, protein, zat besi dan vitamin A tersebut. Sistem pencernaan bayi usia 6 bulan sudah siap untuk mencerna karbohidrat, protein dan lemak selain lemak dari ASI.
2) Lanjutkan menyusui hingga bayi berusia 2 tahun

Tenaga yang didapat dari ASI adalah setengah atau lebih pada saat bayi berusia 6-12 bulan, dan hanya sepertiga pada usia 12-24 bulan. Dengan MPASI yang baik, menyusui dapat dipertahankan hingga bayi berusia 2 tahun. Setelah mendapatkan MPASI, bayi tetap disusui semaunya tidak perlu ditakar atau dibatasi waktunya. Menyusui sampai 2 tahun akan memberikan manfaat yang baik untuk ibu dan bayi seperti yang sudah dijelaskan dalam bab I.
3) Menerapkan responsive feeding (merespon keinginan bayi)

Dalam memberikan MPASI, tidak hanya menu makan saja yang perlu dibuat dengan baik, tetapi hal lain juga perlu diperhatikan, yaitu cara pemberian, kapan MPASI diberikan, dimana MPASI diberikan, dan oleh siapa MPASI diberikan.

Ibu ataupun pengasuh bayi perlu memahami responsive feeding saat memberi makan bayi, panduannya adalah sebagai berikut:

• Suapi bayi dan bantu anak yang lebih besar saat anak makan sendiri.
• Suapi bayi dengan pelan dan sabar, bujuk untuk makan tetapi jangan dipaksa.
• Bila bayi menolak makan, bereksperimenlah dengan kombinasi makanan lain, tekstur, rasa dan berbagai cara pendekatan agar bayi mau makan.
• Minimalkan gangguan pada saat makan (misalnya, hindari makan di depan televisi karena akan membuat bayi lebih memilih melihat televisi dibandingkan makan)
• Ingat bahwa waktu makan adalah periode belajar dan penuh kasih sayang , bicaralah dengan bayi dan lakukan kontak mata

Gunakan piring atau mangkuk bayi agar ibu tahu berapa banyak bayi makan. Ibu dapat menyuapi bayi dengan tangan yang sudah dicuci bersih atau menggunakan alat makan seperti sendok. Alat makan disesuaikan dengan umur bayi, sendok kecil dulu baru kemudian dengan sendok besar atau garpu.

 

MPASI dapat diberikan kapan saja, pada waktu yang nyaman untuk ibu dan bayi. Apabila bayi ibu mau menyusu dulu baru kemudian makan, atau sebaliknya, tidak apa apa. Menyusui bayi tetap semau bayi, tidak perlu dibatasi hanya beberapa kali dalam sehari, atau ditakar jumlah dan frekuensinya.

4) Kebersihan makanan dan cara menyimpan makanan

Kontaminasi bakteri dalam MPASI adalah penyebab diare terutama pada anak dibawah 2 tahun. (4) Kebersihan dalam menyiapkan makanan dan penyimpanan yang baik akan mencegah dan mengurangi risiko diare. Pemberian ASI perah, air minum atau jus sebaiknya menggunakan gelas, penggunaan dot atau sippy cup dapat menjadi media penularan infeksi karena tidak tercuci bersih.

Perangkat makan seperti sendok, gelas, mangkuk harus dicuci bersih. Bila makan menggunakan tangan pastikan cuci tangan, terutama bila bayi memegang makanan selingan dengan tangan.

Gunakan bahan makanan yang baik dan aman, cuci bahan makanan dengan air bersih, jaga kebersihan saat memasak, dan masak sampai matang. Bakteri akan lebih banyak tumbuh dalam cuaca panas dan lambat bila di dalam kulkas. Apabila makanan tidak dapat dimasukkan ke dalam kulkas, makanan harus dimakan cepat dan tidak lebih dari 2 jam.

5) Memulai dengan jumlah sedikit lama lama bertambah banyak

MPASI yang baik adalah makanan yang kental, sehingga tinggi kalori dan bayi kenyang. Makanan yang encer membuat bayi lapar dan mau terus menyusu. Apabila kalori yang diberikan tidak cukup, bayi menjadi kurus atau tidak naik berat badannya.


6) Tingkatkan tekstur makanan seiring dengan pertumbuhan bayi

Seperti sudah dituliskan pada tabel sebelumnya, bayi 6 bulan sudah bisa makan makanan yang dilumat kemudian ditingkatkan menjadi makanan lembik dan usia 1 tahun sudah bisa makan makanan keluarga. Makanan yang bisa membuat bayi tersedak seperti kacang utuh, harus dihindari.

7) Tingkatkan frekuensi makan seiring dengan pertumbuhan bayi

Semakin bayi besar, porsi makan bayi akan semakin besar pula. Makanan ini dapat dibagi menjadi beberapa porsi dalam satu hari. Seperti yang telah dituliskan dalam tabel diatas, bayi usia 6 bulan sudah bisa 5x makan dalam sehari dan bisa lebih setelah usia 1 tahun. Bila porsi makanan baik, bayi semakin jarang menyusu atau minum ASI perah, hal ini sangat normal. Payudara ibu juga terasa lebih kempes dan tidak sepenuh dulu, waktu bayi baru lahir.

8) Berikan berbagai variasi makanan untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi

Tidak ada satu bahan makanan yang dapat memenuhi semua kebutuhan bayi, sehingga makanan yang diberikan harus bervariasi setiap harinya. Diagram berikut menunjukkan bahan makanan apa saja yang sudah boleh diberikan kepada bayi sejak memulai MPASI.


Konsep makanan Empat Bintang (2), akan mempermudah ibu untuk mengingat bahan makanan apa saja yang perlu diberikan untuk bayi setiap hari. Selain menu empat bintang , bayi juga perlu mendapatkan tambahan lemak dan minum cukup air agar terlengkapi gizinya.

Makanan hendaknya dibuat lezat dengan menggunakan bumbu dapur / rempah dan sedikit gula garam merica. Bayi sudah mengenal rasa sejak dini, sehingga apabila diberikan makanan yang lezat, bayi akan suka makan. (5) Indonesia memiliki banyak bumbu seperti bawang merah, bawang putih, bawang bombay, daun salam, lengkuas, sereh, daun jeruk, daun kunyit, ketumbar, merica, kluwek, kapulaga, jinten, cengkeh kayu manis, dan lainnya. Bumbu dapur ini juga dapat ditumis dengan minyak agar sedap.
Sedikit gula dan sedikit garam boleh untuk menambah cita rasa makanan, misalnya menambahkan gula merah ke dalam bubur sumsum atau kolak, menambahkan sedikit garam ke nasi lumat bayi. Rasa yang diharapkan adalah enak, tidak terlalu asin atau terlalu manis, tetapi juga tidak hambar.


Makanan atau minuman yang harus dihindari adalah, jus kemasan, jajanan kemasan, karena terlalu asin, terlalu manis dan tidak sehat. Minuman seperti teh, kopi dan soda harus dihindari dan tidak direkomendasikan untuk bayi dan anak. Lebih baik menggunakan bumbu dapur alami dibandingkan bumbu kemasan. Lambung bayi masih kecil, sehingga makanan yang masuk sebaiknya adalah makanan yang sarat gizi, makanan yang terlalu banyak gula mengenyangkan tetapi sedikit nutrisinya.

Pada saat memulai MPASI, dapat dipertimbangkan masa pengenalan terlebih dahulu selama 1 minggu agar bayi mengenal rasa. Memulainya adalah dengan menu tunggal 4 bintang dan sudah bisa 3-4 kali makan dalam sehari kemudian dilanjutkan dengan bahan bahan MPASI yang sudah bisa dicampur.
9) Gunakan makanan yang terfortifikasi atau suplemen vitamin dan mineral sesuai kebutuhan
Apabila keluarga tidak dapat memenuhi kebutuhan zat besi bayi dengan sumber zat besi yang berasal dari protein hewani, MPASI buatan pabrik yang mengandung zat besi tambahan atau suplemen perlu dipertimbangkan agar bayi tidak kekurangan zat besi. Zat besi penting untuk mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Perlu diingat bahwa MPASI kemasan ini tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhan gizi bayi dan hanya digunakan apabila ada indikasi. Tetap berikan MPASI dari bahan buatan rumah yang kental, yang mengandung karbohidrat, protein nabati, sayuran hijau, buah, dan minyak.

10) Pemberian makanan saat bayi sakit
Selera makan bayi dapat menjadi petunjuk seberapa banyak makanan yang bisa diberikan untuk bayi; tetapi bila sakit bayi bisa kehilangan selera makan, sehingga ia makan lebih sedikit dari yang dibutuhkan. Apabila bayi ibu sakit, tawarkan makanan yang lebih lunak, minum dan menyusu lebih sering. Pergilah ke dokter dan obati penyakitnya. Bila sudah sembuh selera makannya akan menjadi lebih baik, tawarkan makanan lebih banyak agar bisa memenuhi kebutuhannya yang berkurang saat sakit.
Persiapan dan cara memasak MPASI

Memasak Makanan Pendamping ASI sangat mudah dan tidak perlu membeli alat- alat yang mahal dan canggih. Peralatan yang dibutuhkan hanya panci, mangkuk, sendok, parutan, saringan, dan ulekan. Ibu tidak perlu menggunakan blender, karena apabila makanan di blender, akan terlalu lembut dan bayi tidak mengunyah. Hal ini tidak merangsang gigi bayi untuk tumbuh. Blender juga membuat makanan kurang kalori karena ibu perlu menambah air yang banyak agar pisau blender berputar. Selain itu, bayi yang terbiasa makan makanan yang di blender akan mengalami kesulitan saat ibu menaikkan tekstur makanan. Akibatnya sampai besar bayi hanya makan makanan lunak dan sulit makan makanan yang keras; Ibu akan mengalami kesulitan kalau bepergian dengan bayi dan ingin makan diluar karena bayi tidak bisa ikut makan menu keluarga.

Agar lebih mudah, samakan menu MPASI bayi dengan menu keluarga di hari itu. Sehingga akan memudahkan ibu untuk berbelanja bahan dasar makanan. Ibu bisa memasak MPASI dengan 2 cara yaitu yang pertama memasak dari bahan mentah dan yang kedua memasak dari bahan matang. Ini tergantung apakah ibu bekerja atau tidak. Biasanya ibu bekerja ingin memasak untuk bayinya sebelum berangkat ke kantor, sementara masakan keluarga dirumah dikerjakan oleh orang lain. Bila ibu bekerja di rumah dan sekaligus memasak untuk keluarga, memasak MPASI dari bahan matang akan lebih mudah.

Memasak dari bahan lauk dan sayuran mentah

Misalnya ibu ingin memasak nasi, ikan tuna, bayam, dan tahu. Untuk nasi, ibu bisa mengambil nasi yang sudah matang dan tidak perlu membuat dari beras karena waktu memasak lebih lama. Yang ibu perlu lakukan adalah mencuci semua bahan mentah agar bersih, potong ikan tuna, bayam dan tahu kecil-kecil. Iris atau parut bawang merah dan putih secukupnya. Gunakan panci kecil, dan sendok kayu. Masukkan minyak goreng 1 sendok makan ke dalam panci, gunakan api kecil, masukkan bawang parut, tumis sampai harum, kemudian masukkan ikan tuna, tahu, dan bayam, tumis sampai matang. Masukkan air matang 2 takar, kemudian masukkan nasi matang 1 takar. Masak sampai air habis. Makanan ini bisa dilumat dengan saringan bila bayi berusia 6-9 bulan atau langsung diberikan bila bayi berusia diatas 9 bulan.

Memasak dari bahan lauk dan sayuran matang

Misalnya ibu memasak sup ayam dan tahu goreng untuk keluarga. Sisihkan sedikit untuk bayi sebelum diberi banyak garam atau penyedap. Ambilkan kuah sup 2 takar, ayam, sayuran, kacang merah dan tahu gorengnya. Dengan menggunakan panci kecil, dan api kecil, masukkan kuah sup 2 takar dan bahan lainnya, masukkan nasi 1 takar, masak sampai air habis, kemudian tambahkan minyak mentah 1 sendok makan. Makanan ini bisa dilumat dengan saringan bila bayi berusia 6-9 bulan atau langsung diberikan bila bayi berusia diatas 9 bulan.

Contoh menu MPASI

Contoh menu MPASI pada masa pengenalan makanan ( 1 minggu pertama )
(bahan makanan bisa dilumat dengan saringan atau diulek)

Hari Senin :
Tahu putih goreng dengan bumbu bawang putih dan sedikit garam dilumat
Ikan tuna goreng dengan bumbu bawang merah dan sedikit garam dilumat
Pisang kerok
Air putih semau bayi
Menyusui / ASI perah semau bayi

Hari selasa
Kentang goreng mentega tambah merica sedikit dilumat
Tempe goreng dengan bawang merah dan sedikit garam dilumat
Sup jagung parut dengan keju
Air putih semau bayi
Menyusui / ASI perah semau bayi

Hari rabu :
Bubur kacang hijau dengan santan dan gula merah dilumat
Buah melon parut
Ati ayam bacem dilumat
Air putih semau bayi
Menyusui / ASI perah semau bayi

Makan dengan tiga variasi menu seterusnya hingga 1 minggu kemudian dilanjutkan dengan nasi lumat campur. Setelah masa pengenalan, frekuensi makan sudah boleh ditambah menjadi 5x makan.
Hari Senin :

Sarapan bubur sumsum gulali
Selingan buah alpukat kerok
Makan siang nasi cah daging sapi lumat
Selingan sore puding santan
Makan sore nasi lumat orak arik
Air putih semau bayi
Menyusui / ASI perah semau bayi
Bubur sumsum gulali

Bahan:
tepung beras 2 sdm
Santan 1 mangkuk kecil
Gula merah parut ½ sendok teh
Air matang 2 sdm

Cara membuat
Masak santan sampai mendidih
Aduk tepung beras dengan air matang kemudian masukkan ke dalam santan
Aduk terus sampai mengental, angkat
Untuk bayi sajikan dengan parutan gula merah diatasnya
Bila ibu ingin membuat bubur sumsum untuk keluarga, boleh ditambahkan gula merah cair saat keluarga menyantap.

Nasi cah daging sapi (Contoh bila memasak MPASI dari bahan mentah)

Bahan:
Daging cincang 1 sendok makan
Brokoli 1 tangkai dicincang
Bawang putih 1
Lada hitam sedikit
Garam sedikit
Minyak goreng 1sdm
Nasi putih 1 mangkuk kecil
Air matang 2 mangkuk kecil (bila nasi putih dimasak pulen, air matang cukup 1-1.5 mangkuk kecil)

Tumis bawang putih sampai harum, masukkan daging cincang dan brokoli, masak sampai layu. Masukkan air matang, nasi, lada hitam dan garam sedikit, masak sampai air asat (habis) sehingga menjadi nasi lembik. Masukkan minyak, sajikan.

Untuk bayi 6-9 bulan nasi ini kemudian dilumat dengan saringan. Untuk bayi diatas 9 bulan bisa langsung disajikan.

Puding santan (resep ini bisa untuk seluruh keluarga)

1 bungkus agar agar putih
600 ml santan
75 gram gula pasir
1/2 sdt garam
1/2 sdt extract vanili
2 lembar daun pandan

Masukkan semua bahan kedalam panci, masak hingga mendidih, sambil terus diaduk, angkat dan masukkan dalam cetakan agar. Setelah dingin bisa dimasukkan ke dalam kulkas. Bila ingin diberikan ke bayi keluarkan dulu dari kulkas sebentar agar tidak terlalu dingin, cacah sedikit dengan sendok dan suapi bayi.

Nasi Lumat Orak Arik

Bahan :
Nasi matang 1 takar
Air matang / air kaldu 2 takar
Wortel diparut
Daun bawang iris tipis
1 butir telur
Sedikit garam, lada putih atau lada hitam
Minyak goreng 1sdm

Cara membuat :
Masukkan air dan nasi ke dalam panci, gunakan api sedang. Masukan wortel parut dan daun bawang, masukkan garam dan merica, masak sampai air habis. Kecilkan api, masukkan 1 butir telur, masak terus sambil diaduk aduk sampai telur benar-benar matang. Masukkan minyak goreng, sajikan.

Masalah Dalam Pemberian MPASI

Bayi tidak mau makan dan menutup mulut saat disuapi.

Ada beberapa kemungkinan, coba ibu observasi hal hal berikut :

Bayi memiliki selera makan. Pastikan makanan yang ibu tawarkan adalah makanan yang enak, sesuai dengan standar WHO.

Coba ibu perhatikan waktu pemberian makan ; Makan sebaiknya saat bayi sedang senang, tidak rewel karena mengantuk, atau terlalu capek.

Mungkin bayi masih kenyang. Apabila bayi memilih untuk menyusu, silahkan saja tidak perlu ibu batasi. Beri jarak waktu kemudian tawarkan makanan kembali.

Apakah yang menyuapi bayi berganti orang? Kadang kadang bayi sudah terbiasa dengan satu pengasuh, kemudian berganti pengasuh dan bayi tidak mau makan. Beritahu pengasuh baru untuk menyuapi bayi sesuai dengan responsive feeding.

Bila bayi menutup mulut, ibu perlu sabar. Tawarkan kembali nanti bila bayi sudah mood. Coba makan bersama dengan bayi. Ingat waktu makan adalah waktu yang seharusnya menyenangkan, hindari pemaksaan pada bayi. Sabar, sabar, dan sabar..

Bayi mau mengambil makanan yang ibu makan, tetapi menutup mulut bila disuapi makanan bayi

Bayi sangat pintar dan punya rasa ingin tahu yang sangat besar. Bayi senang meniru orang lain. Apabila ini terjadi, berikan saja makanan yang ibu makan untuk bayi ( dengan catatan makanan yang ibu makan adalah makanan yang sehat). Beri kesempatan untuk bayi bereksplorasi dengan makanan ibu di tangannya dan melakukan apa yang ia inginkan dengan makanan tersebut. Ibu bisa coba menyuapi bayi sambil ia belajar dan bermain dengan makanan ibu.

Bayi mau memegang sendok sendiri saat ibu suapi

Bila ia mau mengambil sendoknya dan tidak mau disuapi, berikan sendok yang berisi nasi lumat kental itu kepada bayi. Beri kesempatan untuk bayi bereksplorasi dengan sendok tersebut dan melakukan apa yang ia inginkan dengan sendok tersebut. Ada bayi yang sudah bisa memegang sendok sendiri dan memasukkan ke dalam mulutnya sejak 6 bulan. Cara lain adalah membiarkan bayi memegang sendok yang berisi nasi lumat sambil sesekali ibu menyuapi dengan sendok yang lain. Memang akan berantakan, dan banyak alat makan terpakai, tetapi akan lebih baik daripada ibu pusing karena bayi tidak mau makan.

Bayi tidak mau duduk di kursi makan saat makan

Bayi belum bisa diajarkan sikap di meja makan (table manner), cobalah untuk lebih fleksibel dan tidak terlalu kaku dengan aturan makan. Bayi bisa makan sambil dipangku ibu, duduk lesehan di lantai atau di tikar, atau digendong. Bagi bayi hal ini akan lebih menyenangkan dibandingkan duduk diikat di kursi makan dan menunggu makanan masuk ke dalam mulut.
Bagaimana penyajian MPASI saat bepergian dengan bayi

Bepergian dengan bayi setelah bayi besar sebenarnya mudah sekali. Bayi bisa makan makanan yang sama dengan yang ibu makan. Pastikan tempat makan ibu bersih dan memasak makanan sehat. Sebagai contoh ibu makan di restoran Sunda, ibu bisa memesan nasi, tahu goreng, ikan mas goreng, dan sayur asam. Semuanya bisa ibu berikan untuk bayi. Lumatlah makanan dengan tangan ibu dan suapi bayi.

Berat badan bayi stagnant atau naik hanya sedikit sesudah MPASI

Hal ini tidak normal, bila MPASI baik maka berat badan bayi akan naik sesuai kurva. Coba ibu perhatikan makanan yang disajikan untuk bayi, apakah sudah mengandung karbohidrat, protein hewani, protein nabati, zat besi, buah sayur, lemak dari minyak atau santan, bumbu dapur dan sedikit gula atau garam? Apakah tekstur makanan kental dan tidak jatuh dari sendoknya? Bila makanan jatuh dari sendok, maka makanan tersebut kurang kental dan sedikit kalorinya, sehingga berat badan bayi hanya naik sedikit.

Cek juga di bawah lidah bayi apakah ada tongue tie (tali lidah), karena tali lidah menyulitkan bayi untuk menelan dan dapat menyebabkan gagal tumbuh. Apabila ada tongue tie, frenotomi adalah jalan keluar terbaik.
Bayi tidak bisa makan makanan kental, makanan dilepeh, makanan perlu diencerkan agar bisa tertelan, atau makan 1 sendok kemudian minum agar bisa tertelan

Bila ini terjadi, coba ibu perhatikan di bawah lidah bayi apakah terdapat tongue tie (tali lidah). Tali lidah dapat menimbulkan kesulitan menelan. Akibatnya bayi tidak bisa makan dengan baik dan berat badannya tidak naik baik. Apabila ada tongue tie, frenotomi adalah jalan keluar terbaik.

Bayi makan berjam-jam, makanan diemut

Hindari makan di depan televisi, terkadang bayi lupa kalau ada makanan di dalam mulutnya karena asyik menonton televisi. Bila ini terus terjadi padahal sudah tidak di depan televisi, coba ibu cek di bawah lidahnya apakah ada tongue tie (tali lidah). Tongue tie (tali lidah) akan mempersulit bayi untuk mengunyah dan menelan, makanan yang diemut akan menjadi lebih lunak sehingga lebih mudah untuk ditelan bayi. Apabila ada tongue tie, frenotomi adalah jalan keluar terbaik.

Bayi Sulit Buang Air Besar

Apabila makanan yang ibu masak sudah sesuai dengan panduan MPASI WHO, bayi akan mudah buang air besar. Periksa lagi kualitas MPASI yang ibu masak, bila perlu tambahkan minyak; minyak dalam makanan akan melancarkan pencernaan bayi.

Bayi suka menggigit puting

Dot bisa menyebabkan bayi suka menggigit puting, selain itu bayi suka menggigit gigit puting bila tekstur makanan terlelu lembik. Bila ini terjadi naikkan tekstur makanan agar bayi bisa mengunyah menggunakan gigi barunya. Apabila bayi sudah berusia 9 bulan, ibu juga bisa memberikan makanan selingan yang bisa dipegang bayi. Buah melon yang dipotong memanjang, kentang goreng, tempe goreng, atau kue bolu bisa digigit gigit bayi supaya tidak menggigit puting, dan ganti dot dengan gelas.

Payudara bengkak setelah bayi mulai MPASI
Saat memulai MPASI, ibu tidak perlu membatasi frekuensi menyusui, tetaplah susui bayi semaunya dan selama yang ia mau; Terutama bila ibu ada di rumah. Payudara akan bengkak bila ibu membatasi frekuensi menyusui, dan bayi pun akan rewel. Membatasi menyusui dengan harapan agar bayi mau makan bukanlah suatu jalan keluar yang baik.

Bayi sudah makan tapi kebutuhan ASI perah bertambah

Periksa lagi kualitas dan kuantitas makanan yang ibu buat. Makanan yang cair akan membuat kalori kurang sehingga bayi lapar sehingga banyak minum ASI perah. Buat makanan lebih kental, tambahkan minyak, sehingga tidak jatuh dari sendoknya. Bila kental, bayi kenyang dan kebutuhan ASI perah berkurang sehingga ibu yang bekerja tidak perlu kejar tayang untuk memerah ASI di kantor. Selain itu bayi yang menggunakan dot akan minum melebihi kebutuhannya, sehingga bisa minum ASI perah banyak sekali, gantilah dot dengan gelas.

Beberapa acuan MPASI mengatakan bahwa protein hewani ditunda sampai dengan bayi berumur 8 bulan. Gagasan seperti ini akan mengurangi kalori yang masuk ke bayi, sehingga bayi akan kelaparan dan pucat ; Berat badan bayi juga tidak naik baik. Sebaiknya ibu mengikuti panduan WHO dalam pemberian makan bayi.

MPASI Dini

Dalam perjalanan menyusui, ada bayi bayi yang berat badannya naik lambat pada saat bulan ke empat atau kelima. Hal ini dapat terjadi pada tongue tie yang tidak di frenotomy atau di frenotomy pada saat produksi ASI tahap tiga. Sehingga suplai ASI ibu sudah menurun dan pertambahan berat badan bayi minimal. Pada kondisi seperti ini, WHO (Badan Kesehatan Dunia) memperbolehkan diberikannya MPASI dini pada bayi yang berusia antara 4 – 6 bulan HANYA apabila (6)

1. Berat badan bayi tidak naik baik walaupun terus menyusu
2. Sering menyusu tetapi bayi masih lapar

Bagaimana bila bayi alergi makanan

Bayi yang diberi ASI, ususnya memiliki perlindungan anti alergi yang sangat poten. Sehingga bayi ASI boleh makan apa saja. Membatasi makanan tertentu tidak menjamin bayi akan kebal terhadap makanan tersebut. (3,5)

Apabila timbul kemerahan gatal pada pipi atau tubuh bayi, timbul lendir pada saluran nafas bayi, kulit bersisik setelah makan sesuatu, mungkin bayi ibu alergi. Bila ini terjadi ibu bisa mengingat ingat makanan apa yang ibu berikan pada hari itu atau hari sebelumnya dan apa yang kira kira mencetuskan alergi. Ibu bisa stop dulu pemberian bahan makanan tersebut untuk sementara waktu, tetapi tetap memberikan penggantinya, kemudian diperkenalkan kembali.

Sebagai contoh, timbul merah setelah bayi makan telur. Ibu bisa hentikan pemberian telur untuk sementara waktu, berikan protein yang lain misalnya daging atau ikan. Kemudian coba lagi berikan telur.

Bila bayi mogok menyusu setelah disuapi ibu

Yang perlu ibu lakukan adalah berkelonan dan kontak kulit ke kulit selama 24 jam, sampai bayi mau menyusu kembali. Ibu perlu minta tolong kepada orang lain untuk menyuapi bayi.

Bisakah bayi makan sendiri (Baby Led Weaning) ?

Baby Led Weaning adalah suatu pendekatan pemberian makan bayi, dimana bayi yang memegang sendiri makanannya, bila ia siap bayi akan memasukkan makanan ke dalam mulutnya dengan tangan kemudian nantinya dengan sendok garpu. Bayi bisa duduk bersama dengan keluarga saat makan, bisa dipangku ibu, duduk lesehan, atau digendong. Persiapan terbaik untuk BLW adalah bayi yang menyusu langsung ke payudara dan ibu yang menyusui.

Makanan yang diberikan kepada bayi adalah makanan yang sesuai dengan prinsip MPASI WHO, yang berbeda adalah bentuk potongan makanan yang diberikan panjang dan besar agar bisa dipegang bayi, kemudian mengecil seiring dengan perkembangan bayi. Selain itu, bayi juga bisa memegang sendok yang sudah berisi nasi lumat atau nasi lembek, namun untuk menyendok sendiri bayi belum bisa.

Saat memulai BLW, hendaknya bayi dalam kondisi sehat, status gizi baik, dan tidak memiliki kelainan anatomi seperti tali lidah (tongue tie) yang membuat bayi susah menelan. BLW bisa sukses apabila ibu pintar dan ada di rumah. Perlu konseling lebih lanjut apabila ibu ingin menerapkan BLW bagi bayi ibu, sehingga bayi tidak kekurangan gizi dan tumbuh baik.

Referensi

1. Winata, Jerry. 10 facts about malnutrition indonesia. World Food Programme. [Online] 2014 December 22. [Dikutip: 12 June 2016.] https://www.wfp.org/stories/10-facts-about-malnutrition-indonesia.
2. Manajemen Makanan Pendamping ASI. Indonesia, Direktorat Gizi Masyarakat Ditjen Kesehatan Masyarakat Kementrian Kesehatan Republik. s.l. : Direktorat Gizi Masyarakat Ditjen Kesehatan Masyarakat Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2016.
3. Organization, World Health. Infant and Young Child Feeding. Geneva : World Health Organization, 2009.
4. Complementary Foods Associated Diarrhea. Mini Sheeth, Reeta Dwivedi. January 2006, Gujarat, India : Indian Journal of Pediatrics, 2006, Vol. 73.
5. Rekomendasi Dokter Anak Indonesia, Rekomendasi Praktik Pemberian Makan Berbasis Bukti pada Bayi dan Batita di Indonesia Untuk Mencegah Malnutrisi, Unit Kerja Koordinasi Nutrisi dan Penyakit Metabolik Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2015
6. Organization, World Health. Complementary Feeding – Family Foods for Breastfed Children. s.l. : World Health Organization, 2000.

Leave a Reply

Your email address will not be published.