Mastitis dan Abses Payudara

Ditulis oleh dr.Yudith Angeline Hardjadinata, IBCLC

Mastitis adalah kondisi peradangan payudara, dapat disertai maupun tidak disertai infeksi. Kondisi ini paling sering terjadi pada minggu kedua dan ketiga setelah melahirkan, namun tetap dapat terjadi kapanpun pada saat masa meneteki. 1-3

Mastitis

Penyebab terjadinya mastitis: 1
Dua penyebab utama terjadinya mastitis adalah stasis ASI dan infeksi. Stasis ASI menjadi salah satu media pertumbuhan bakteri.
Stasis ASI dapat terjadi apabila ASI tidak dikeluarkan secara efisien dari payudara. Hal ini dapat disebabkan oleh hisapan bayi di payudara yang tidak efektif, pembatasan frekuensi dan atau durasi meneteki, dan sumbatan saluran ASI.
Pada awal melahirkan, terutama pada hari ketiga dan keempat, dapat terjadi bendungan ASI, namun jika disusukan segera, maka kondisi ini dapat dicegah.
Frekuensi menetek yang dibatasi, misalnya tidak tidur bersama dengan bayi (bayi di dalam box), semalaman tidak menyusui bayi, akan meningkatkan risiko terjadinya bendungan ASI yang berujung pada mastitis.
Hisapan bayi yang tidak efisien di payudara, bahkan beberapa juga terjadi nyeri bahkan luka pada puting. Nyeri atau luka ini menjadi penyebab ibu menyusui sering kali menghindari menetek dari sisi sakit, sehingga bendungan ASI terjadi. ASI tidak keluar secara efektif sekalipun ibu melakukan pengeluaran ASI dengan cara memerah payudara. Luka di puting menjadi tempat masuk dari kuman yang akan berkembang biak pada kondisi ASI yang terbendung ini.
Berbagai jenis bakteri dapat menjadi penyebab infeksi pada mastitis, penyebab tersering adalah bakteri Staphilococcus aureus. Hal ini dapat dihindarkan dengan melakukan kontak kulit ke kulit segera setelah bayi lahir, dilanjutkan dengan rawat gabung. Ibu memindahkan organisme saluran napas dan kulit kepada bayinya, sehingga flora baik berkembang di saluran napas dan mulut bayi. 2
Penyebab hisapan yang tidak baik, antara lain:
1. Frenulum lidah pendek (tongue tie). Kondisi ini menyebabkan gerakan lidah memerah daerah areola untuk pengosongan ASI menjadi tidak efektif. Gerakan lidah hanya mengenai puting, sehingga dapat terjadi nyeri hingga luka di puting.
2. Penggunaan dot maupun empeng pada usia berapapun, dapat menyebabkan cara menghisap menjadi salah dan frekuensi menyusu langsung di payudara juga berkurang, sehingga menyebabkan terjadinya bendungan ASI.
3. Pemberian makanan dan minuman lain pada bulan awal, terutama dari botol dot.
4. Pakaian dan bra yang ketat ataupun posisi tidur telungkup, dapat menekan saluran ASI sehingga menyebabkan bendungan ASI.
5. Tidak menyusui di malam hari, tidak tidur bersama bayi (bayi tidur di dalam box). Sebaiknya bayi tidur di tempat tidur yang sama dengan ibunya (bedding in).
Tanda dan gejala mastitis: 1-3
– Kondisi ‘flu like syndrome’, demam, meriang
– Teraba keras di area payudara, disertai rasa nyeri dan warna kulit mulai memerah.

Abses

Abses payudara adalah kondisi perburukan peradangan payudara yang berakibat terbentuknya nanah di dalam payudara. Nanah bisa terkumpul di dalam payudara lalu bisa keluar melalui puting atau hanya terkumpul di dalam payudara dan berakhir dengan menipis dan robeknya kulit payudara dan nanah mengalir keluar .

Pencegahan:
1. Melakukan kontak kulit ke kulit segera setelah melahirkan (Inisiasi Menyusu Dini).
2. Menyusui bayi tanpa batasan durasi maupun frekuensi (on demand).
3. Memastikan bayi menghisap dengan baik di payudara.
4. Menyusui eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan hingga usia 2 tahun.
5. Segera mencari bantuan ahli jika mendapati proses menyusu yang nyeri dan tidak nyaman (durasi menyusu sangat lama, bayi kesulitan menangkap payudara, sering terlepas-lepas, nyeri di puting, lecet puting, dll).
6. Jangan menunda dan segera konsultsikan permasalahan di payudara Anda.

BANNER 728 x 90

Penanganan: 1-2
– Memastikan bayi memiliki hisapan yang baik. Menghentikan pemakaian dot dan empeng. Jika terdapat tongue tie maka dilakukan tindakan pengguntingan tali lidah bayi (frenotomy).
– Bayi dapat diposisikan menetek dengan posisi dagu ke arah payudara yang tersumbat, karena posisi ini dapat membantu pengosongan payudara.
– Tidak melakukan pemijatan pada payudara yang sudah terjadi mastitis.
– Tetap menyusu dari payudara yang nyeri sekalipun terdapat darah ataupun nanah. Darah akan keluar lewat feses bayi dengan warna gelap kehitaman, sementara bakteri di dalam nanah akan mati saat terkena asam lambung bayi.
– Mengkonsumsi obat radang, kadang memerlukan antibiotik, bahkan pada beberapa kasus memerlukan rawat inap untuk pemberian obat-obatan lewat infus, untuk mencegah mastitis berkembang menjadi abses.
– Pada kondisi abses payudara, maka perlu dilakukan pengeluaran nanah dengan prosedur operasi oleh dokter spesialis bedah.
Terjadinya mastitis atau abses menyebabkan penurunan produksi ASI untuk sementara pada sisi yang meradang. Hal ini dapat menyebabkan bayi menjadi rewel karena aliran ASI tidak sederas biasanya. Pada kondisi tertentu, perlu dilakukan pemasangan alat suplementasi untuk sementara waktu, sehingga aliran di payudara, kembali deras, sehingga bayi bisa menyusu nyaman dan kenyang.

Segera periksakan payudara yang mengalami nyeri maupun kemerahan sebelum terlambat. Jika Anda mengalami mastitis maupun abses payudara, tidak perlu berkecil hati karena Anda masih tetap dapat menyusui!

Referensi:
1. World Health Organisation. Mastitis: Cause and Management. Publication Number WHO/FCH/CAH/00.13. World Health Organisation, Geneva, 2000.
2. Amir LH. Mastitis. ABM Clinical Protocol. Breastfeeding Medicine, 2014;4:239-243.
3. Lawrence RA, Lawrence RM. Breastfeeding : A Guide for the Medica Profession, 7th edition. Mosby, St.Louis, 2011.
4. Usatine RP, Smith MA, Mayeaux EJ, Chumley HS: The Colour Atlas of family Medicine, Second Edition. www.accessmedicine.com

Contoh Kasus:
Ny.C, By.M, bayi perempuan, lahir dalam persalinan spontan, usia kehamilan 40 minggu. Bayi lahir dengan berat 3190 gr. Sejak hari kedua sudah mulai memerah asi karena selalu merasa bayi tidak mampu mengosongkan payudara, dan Dari RS tempat ibu melahirkan diminta untuk mengerjakan demikian. Bayi menetek langsung di kedua payudara. Beberapa kali bayi akhirnya diberikan minum dengan gelas atau sendok jika sudah sangat kewalahan meneteki.
Pada hari kelima setelah melahirkan, ibu mengalami meriang dan demam hingga 39 derajat Celsius. Ibu kemudian ke UGD dan dilakukan massage dan ibu hanya mendapat terapi pengurang demam.
Pada hari ketujuh, ibu konsultasi ke dokter laktasi karena payudara kiri sangat nyeri dan bengkak, serta tampak kemerahan hampir di seluruh payudara, teraba juga benjolan yang cukup besar, teraba sangat nyeri. Dokter laktasi melakukan observasi posisi dan perlekatan bayi saat menetek. Dengan posisi menetek yang baik, bayi masih tampak gelisah saat menetek. Bayi hanya mengulum puting ibu. Bibir atas bayi juga tampak melipat kedalam saat bayi menetek. Kedua puting lecet minimal. ASI dari payudara kanan keluar cukup deras, sementara dari payudara sisi sakit hanya menetes. Pada pemeriksaan fisis, tampak bayi hanya bisa menjulurkan lidah sampai batas gusi bawah. Ujung lidah bayi terbelah seperti membentuk hati (tongue tie tipe anterior). Pada bibir atas juga terdapat frenulum bibir grade 4. Dokter Laktasi melakukan pengguntingan tali lidah bayi yang sangat ketat, juga pada tali bibir atas (double frenotomy). Setelah itu hisapan bayi menjadi lebih optimal hingga ke areola ibu. Nyeri puting ibu saat menetek juga dirasakan minimal. Ibu mendapat antibiotik minum dan obat pengurang radang. Ibu diberikan pengantar USG payudara. Ibu mulai stop memerah payudara atau hanya boleh perah hingga nyaman bukan untuk pengosongan dan bayi menetek langsung dari kedua payudara.
Pada hari kesembilan dilakukan USG payudara dan hasil USG adalah peradangan payudara (mastitis).
Pada hari kesepuluh, Ibu akhirnya memutuskan untuk dirawat inap dan diberikan antibiotik infus. Bayi ikut rawat inap di RS, supaya bisa menetek langsung. BB bayi saat itu 2990 gram. Ibu kemudian dikonsultasikan ke dokter bedah, dan dokter bedah melakukan aspirasi dengan jarum suntik dan dari hasil pemeriksaan ditemukan nanah kuning kental dari payudara sisi kiri. Ibu dijadwalkan untuk dilakukan operasi pengeluaran nanah.
Setelah operasi insisi drainase abses payudara kiri, payudara ibu jauh merasa nyaman dan nyeri berkurang. Setelah operasi, bayi masih lanjut menetek dari kedua payudara secara bergantian. Ibu boleh pulang dari RS 4 hari kemudian. Hari ke-14 BB bayi sudah menjadi 3175 gram dengan menetek saja dari kedua payudara.
1 minggu setelah pulang dari RS (usia 21 hari, ibu kontrol ke dokter bedah dan hasil operasi baik. Ibu juga kontrol bayi ke dokter anak, BB mulai naik menjadi 3500 gr.
Saat usia 1 bulan BB bayi naik menjadi 3750 gram. Jumlah ASI di payudara ibu juga sudah makin meningkat.
Saat usia 2 bulan BB bayi 4580 gram, 3 bulan BB bayi 5400 gram, 4 bulan 5950 gram.
Saat ini payudara ibu sudah sembuh total dan bayi masih menetek langsung dari kedua payudara dan perkembangannya selalu baik.

Grafik Pertambahan Berat Badan

Grafik Antropometri WHO bayi perempuan:
Pada kasus ibu C dan bayi M, beberapa hal dapat kita pelajari.
– Ibu C sebaiknya sudah mulai mendapatkan edukasi laktasi sejak sebelum melahirkan. ANC Laktasi biasanya dilakukan di kehamilan trimester 2 (28 minggu) dan trimester 3 (36 minggu). Edukasi laktasi di masa kelhamilan akan membantu ibu untuk mengetahui posisi dan cara perlekatan bayi yang baik, hingga ke beberapa permasalahan menyusui termasuk mastitis dan penyulit menyusui seperti tongue tie dan lip tie.
– Bayi M sebetulnya sudah mengalami kesulitan untuk mengosongkan payudara ibu C sejak hari awal menyusui, sehingga ASI mulai menumpuk di payudara sejak masa laktogenesis pertama. Penumpukan ASI di payudara diperberat dengan memompa ASI di masa laktogenesis 1, dan bayi diberikan ASIP via gelas, sehingga semakin jarang menetek untuk pengosongan payudara.
– Bayi M dengan tongue tie tipe anterior dan liptie gr 4, menetek di puting dan menyebabkan kedua puting lecet. Puting lecet menjadi tempat masuk kuman dan kuman berkembang biak di dalam payudara yang terus menerus mengalami penumpukan ASI, berujung pada kondisi mastitis.
– Mastitis diawali dengan gejala demam dan payudara tampak kemerahan, bengkak dan nyeri. Penanganan harus menyeluruh dan melihat ibu dan bayi sebagai suatu kesatuan. Jika hanya memberikan terapi pada ibu dan hisapan bayi di payudara tidak dinilai, biasanya mastitis tidak kunjung membaik dan mungkin sekali berulang atau bahkan berakhir pada abses payudara.
– Pada kondisi mastitis, massage payudara sebaiknya sudah tidak dikerjakan lagi, karena akan memicu radang semakin hebat. Kompres yang diberikan sebaiknya adalah kompres dingin, untuk mengurangi rasa nyeri dan proses radang.
– Early Frenotomy sangat disarankan pada bayi dengan tongue tie dan / lip tie, dengan penilaian menyusu dengan scoring khusus ibu dan bayi. Pengerjaan frenotomi di H-7 pada bayi M sebetulnya sudah sangat baik, sehingga bayi bisa melekat dengan sempurna. Namun karena sudah terjadi proses pembentukan nanah dan terjadi abses, operasi harus tetap dilakukan.
– Ibu dengan mastitis atau abses bahkan post operasi abses payudara tidak perlu khawatir karena bayi tetap dapat menetek di payudara yang sakit. Tidak perlu khawatir jikalau ada darah atau nanah yang ikut terminum bayi.
– Produksi ASI pasca mastitis dan operasi abses payudara biasanya akan mengalami penurunan, bahkan beberapa ibu membutuhkan alat suplementasi untuk membantu bayi bertahan lebih lama saat menghisap di payudara yang sakit. Seiring bertambah waktu dan selama bayi terus menetek di payudara tersebut, maka produksi ASI akan meningkat kembali seperti semula. Pada kasus ibu C, bayi M bisa tetap menetek tanpa alat suplementasi dan kenaikan berat badan bayi dalam pemantauan tiap bulan juga selalu baik.
– Penanganan yang cepat dan tepat akan membantu ibu untuk bisa tetap meneteki hingga 2 tahun, walaupun terjadi masalah menyusui. Yang sangat dibutuhkan ibu adalah dukungan keluarga besar, dan tim laktasi (dokter laktasi, dokter anak, dokter obgyn, dan dokter bedah) dan juga rumah sakit yang pro ASI dan meneteki untuk mensukseskan ASI 2 tahun.

 

 

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.