Kilas Balik Pengalaman Pertama Melakukan Frenotomi

Ditulis oleh : dr. Gracia Azra, IBCLC

 

Hari itu 19 Oktober 2017, seperti biasa saya melakukan tugas di Poli Umum sebuah di sebuah Puskesmas yang ada di kota Bogor. Dari jauh nampak seorang ibu muda berwajah cukup familiar di mata saya datang menggendong seorang balita. Dia menghampiriku. Saat saya melihat catatan rekam medisnya, segera saya ingat akan kisahnya, kisah si balita dan kedua orang tuanya yang telah memberikan efek luar biasa pada kehidupan saya dan bayi-bayi yang saya tangani setelah itu. Anak itu adalah pasien frenotomi pertama saya.

Saat itu, 2 tahun yang lalu, 22 September 2015. Si ibu datang karena bayinya, bayi Z demam sudah lebih dari 1 minggu. Tidak ada batuk dan pilek. Sejak mendalami ilmu laktasi saya selalu menanyakan status menyusui pasien-pasien bayi saya. Karena saya saat itu hanya berpraktek umum di puskesmas, praktek laktasi di rumah yang belum terlalu banyak pasiennya, dan melakukan home visit sesekali bagi klien-klien AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) Bogor maka untuk lebih mengasah keterampilan konseling, saya melakukannya pada ibu-ibu yang membawa bayinya berobat di puskesmas. Sambil menyelam minum air. Sambil melakukan tugas tetap memantau proses menyusui mereka.

Bayi Z menyusui full dari ibunya. Saat itu bayi Z berusia 1 bulan dengan berat badan 3.4 kg. Berat badan lahir 3 kg. Dan ternyata puting ibu lecet. Saat itu bayi Z menangis dan disusui oleh ibunya. Saya perhatikan mulut bayi Z mengerucut saat menyusui. Setelah menyusui aku meminta izin ibu bayi untuk memeriksa kembali bayi Z.
Saya inspeksi lidah bayi Z, terlihat tongue tie dengan perlekatan medial. Kemudian saya periksa lidah bayi Z dengan perasat Kottlow. Ada tahanan yang kuat. Saya jelaskan kepada ibu bahwa inilah penyebab puting ibu sering lecet dan berat badan bayi Z naiknya tidak optimal. Ibu tampak ragu. Saya persilahkan berfikir saja dahulu. Bisa nanti diputuskan saat bayi Z kontrol.
Dari hasil laboratorium bayi Z didapatkan hemoglobin 8,7 gram/dL, leukosit 19.400/mm3, hematokrit 27%, trombosit 697.000/mm3, laju endap darah 70 mm/jam. Terdapat hasil hemoglobin yang rendah, peningkatan leukosit sedikit, dan peningkatan laju endap darah. Bayi Z kemudian diberikan terapi.
Pada tanggal 1 Oktober 2015 bayi Z datang kontrol. Bayi Z sudah tidak demam. Ibu memutuskan untuk dilakukan frenotomi. Kemudian saya melakukan frenotomi pertama saya pada bayi Z. Bayi Z sebenarnya bukan bayi pertama yang saya frenotomi. Tapi bayi Z adalah bayi pertama yang saya frenotomi sendiri tanpa pengawasan Dr. Asti Praborini, Sp.A, IBCLC. Dari beliau dan tim laktasinyalah sebelumnya saya magang untuk praktek frenotomi di salah satu rumah sakit di Jakarta Selatan. Ada rasa khawatir, tapi saya senantiasa mengingat nasehat Dr. Rini. Kita melakukan ini semua untuk membantu ibu menyusui menjalankan perintah Allah SWT. Ya, menyusui ada di dalam Al-Quran pedoman hidup kita ummat Islam. Ayah bayi Z merupakan seorang pedagang dvd. Ibu bayi Z merupakan ibu rumah tangga. Pasien ini membayar 30 ribu rupiah untuk tindakan tersebut.
Satu jam setelah frenotomi saya ajarkan tongue and lip exercise pada ibu bayi. Ibu bayi Z memerhatikan dengan seksama dan mempraktekkannya.
Seminggu kemudian, 8 Oktober 2015 bayi Z datang kembali untuk kontrol. Saya periksa frenulumnya tidak timbul sikatrik. Berarti ibu melakukan tongue and lip exercise secara rutin di rumah. Berat badannya naik menjadi 4,1 kg. Sungguh kepuasan tersendiri saat kita bisa bermanfaat untuk orang lain.
Sejak saat itu saya mulai melakukan sendiri frenotomi pada bayi-bayi tongue tie yang ada di Bogor. Biasanya selalu saya rujuk ke Jakarta yang tentunya butuh biaya transportasi lebih dan tenaga ekstra bagi orang tua.
Alhamdulillah, dari dhuafa lah saya banyak belajar. Ilmu, keterampilan, dan keberanian saya pupuk dari mereka.
Pasien yang saya frenotomi saat berusia 2 tahun

Leave a Reply

Your email address will not be published.