Kasus : Menyusui Bayi dengan Celah Langit-langit Keras dan Lunak

Ditulis oleh dr. Aini B Bachtiar

Bacaan terkait :

Menyusui bayi dengan Celah Bibir dan/atau Langit-langit: Bagaimana Melakukannya?

 

Bayi H, laki-laki, usia 29 hari datang ke poliklinik dokter anak sekaligus konsultan laktasi di salah satu RS di Jakarta Selatan dengan keluhan bayi sejak lahir tidak bisa menetek. Bayi lahir melalui bedah Caesar karena letak sungsang di rumah sakit daerah Bogor, dan dikatakan mempunyai celah pada langit-langit sejak lahir. Sejak lahir dan selama dirumah, bayi dibantu pemberian ASI perah (ASIP) dengan Haberman feeder (atas saran dari dokter bedah plastik tempat ibu berkonsultasi). Ibu rutin memerah ASI dan tetap berusaha menempelkan bayi ke payudara. Saat kedatangan, bayi tidak bisa menetek langsung dan ibu ingin bayi bisa menetek langsung ke payudara sampai usia 2 tahun.

Berat badan bayi saat lahir 3715 gram, saat datang (usia bayi 29 hari) berat badan 3620 gram (berat badan bayi turun 2,55% dari berat badan lahir). Bayi berada pada gizi baik menurut standar antropometri WHO. Pada pemeriksaan fisik ditemukan celah pada langit-langit lunak dan keras memanjang sampai dekat uvula. Serta ditemukan selaput bibir atas menebal grade 3 dan selaput lidah memanjang sampai ke tengah dasar lidah (tipe medial). Ibu dengan over-normo milk supply. Ibu dan bayi dirawat laktasi oleh Tim Laktasi Praborini selama 4 hari sehingga bayi bisa menetek kembali dengan bantuan feeding tube device sampai usia bayi 9 bulan. bayi dirujuk ke dokter spesialis bedah mulut dan disarankan pasang obturator (langit-langit buatan untuk menutup celah pada langit-langit) diusia 1 bulan 19 hari. Bayi dijadwalkan kontrol rutin ke poliklinik laktasi untuk evaluasi proses menyusui dan kenaikan berat badan (BB)secara berkala.

BANNER 728 x 90

Pasa saat bertemu dengan dokter anak sekaligus konsultan laktasi, ibu diberikan 2 pilihan dalam memberikan ASI pada bayi :

  • Pilihan 1

Menetek langsung dengan cara dirawat laktasi sebagai pasien bingung puting, lalu menetek dibantu feeding tube device.

  • Pilihan 2

Celah langit-langit bayi dipasang obturator dulu, sementara diberi ASIP dengan Haberman feeder. Setelah itu baru belajar menetek dengan dirawat laktasi.

 

Ayah dan ibu memilih pilihan ke 1. Ibu dan bayi dilakukan rawat inap laktasi dengan diagnosa bingung puting selama 4 hari 3 malam. Ibu dan bayi diminta melakukan kontak kulit ke kulit selama 24 jam dengan bantuan gendongan kain jarik dan boleh bergantian dengan ayah sesekali. Bila bayi masih belum bisa menetek, beri ASIP dengan spuit posisi badan bayi tegak, per 60 cc dan akan diberikan oleh tenaga kesehatan. Ibu diminta perah ASI per 4 jam. Bila bayi sudah bisa menetek, dibantu suplementasi dengan feeding tube device berupa SNS (Supplemental Nursing System) sebanyak 6×60 cc perhari. Sebelum masuk rawat, bayi dilakukan double frenotomy pada tongue tie dan lip tie dengan persetujuan kedua orang tua. Sehingga bayi akan lebih mudah melekat pada saat disusui ibu. Posisi menyusu dengan cradle position,football position dan straddle position. Bayi dapat menyusu ke payudara ibu setelah dilakukan perawatan bingung puting dan tetap dibantu dengan Haberman feeder isi ASIP selain suplementasi dengan SNS. Ibu dan bayi akan datang untuk kontrol rutin.

Kontrol pertama setelah perawatan bingung puting, berat badan bayi saat ini 3800 gram di usia 1 bulan 4 hari (gizi baik, mendekati -1SD). Berat badan bayi naik 30 gram per hari. Saat ini pemberian ASID (ASI Donor) yang telah dipasteurisasi, dengan Haberman Feeder 3x120cc dan suplementasi SNS isi ASIP 3×100 cc.

Kontrol ke-2 diusia bayi 1 bulan 19 hari dengan berat badan 4230 gram (gizibaik, -1 SD/ median). Berat badan bayi naik 28,6 gram perhari. Obturator sudah terpasang, pemakaian Haberman Feeder tetap lancar dan menetek dengan SNS tanpa memasang obturator (alat ini dapat dilepas pasang).

Kontrol ke-3 diusia 3 bulan 29 hari dengan berat badan 6170 gram (gizi baik, mendekati -1 SD). Berat badan naik 23,6 gram perhari. Beritahu ibu untuk perah ASI per 3 jam kecuali malam hari saat ibu beristirahat.

Kontrol ke-4 diusia 4 bulan 18 hari dengan berat badan 6430 gram (gizibaik, -2/-1 SD). Berat badan naik 14 gram perhari. Bayi mulai direncanakan untuk MPASI. Ibu dikonseling MPASI oleh dokter laktasi dan diberitahukan cara penyajian serta alat-alat yang dipakai.

Usia 9 bulan, bayi sudah tidak menetek lagi. Pemberian ASIP rutin dengan Haberman Feeder.

Kontrol ke-5 diusia 11 bulan 2 hari dengan berat badan 8915 gram (gizi baik, -1 SD/ median). MPASI bayi lancar, sesuai dengan ketentuan World Health Organization (WHO). Ibu eksklusif pumping. Ibu rutin memerah payudara. Dot silikon Haberman Feeder  perlu diganti tiap 2 minggu. Ibu masuk kerja kembali di usia bayi 6 bulan (bayi sudah mulai MPASI 4*).

Kontrol ke-6 diusia 1 tahun 7 hari dengan berat badan 8970 gram (gizi baik, -1 SD/ median). Saat ini, tanpa obturator bayi dapat makan dan minum dengan lancar.

Pada kasus ini, ibu mempunyai tekad yang kuat dalam pemberian ASI pada bayinya walaupun dengan kelainan bawaan. Ayah dan keluarga memberikan support yang baik, sehingga ibu dapat berhasil memberikan ASI pada bayinya sampai saat ini tanpa bantuan susu formula. Bayi direncanakan operasi untuk menutup celah pada langit-langit, bila berat badan bayi mencapai 10 Kg. Saat ini usia bayi 1 tahun 7 bulan dan berat badan bayi 9,5 Kg.

 

FOTO KOLEKSI PASIEN (dengan izin)

  1. Obturator ( celah langit-langit buatan)

Obturator terpasang pada mulut bayi

 

2. Celah pada langit-langit keras dan lunak (palatoschizis)

Digambar oleh dr. Dyah Febriyanti IBCLC

 

 

3.Posisi menyusui football (cocok pada bayi dengan cleft palate)

 

Digambar oleh dr. Dyah Febriyanti IBCLC

 

 

4. Posisi menyusui straddle (cocok pada bayi dengan cleft palate)

 

Digambar oleh dr. Dyah Febriyanti IBCLC

 

Referensi :

  1. World Health Organization Child growth standard for boys http://www.who.int/childgrowth/standards/cht_wfa_boys_p_0_2.pdf?ua=1

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.