Sleepy baby in early breastfeeding

Ditulis oleh drg Retno Anggraeni

 

Definisi
Sleepy baby adalah bayi yang mengantuk atau tidak aktif, sehingga sulit untuk menyusu. Cara bayi lahir sangat mempengaruhi awal menyusui. Persalinan normal dan alami dapat membuat lancarnya proses menyusui. Secara alamiah tubuh mempersiapkan diri untuk menyusui. Payudara yang membesar, areola menghitam dan puting yang menjadi lentur. Saat usia kehamilan 4 bulan kolostrum mulai diproduksi. Namun produksi dan keluarnya asi akan menunggu sampai perubahan hormon yang terjadi setelah bayi dan plasenta keluar. Bayi secara alamiah mempunyai reflex mencari dan menghisap.

 
Patofisiologi
Pada proses persalinan normal dan alami, hormon yang bekerja pada proses persalinan juga bekerja untuk mempersiapkan proses menyusui pada ibu dan bayi. Selama proses persalinan oksitosin bertanggung jawab untuk kontraksi yang kuat. Dengan meningkatnya oksitosin dan rasa sakit selama kontraksi, hormon endorfin akan dilepas. Bersamaan dengan keluarnya bayi melalui jalan lahir, katekolamin dilepas. Katekolamin memberikan dorongan tenaga untuk ibu. Ketika bayi lahir dengan kadar katekolamin yang tinggi maka ia adalah bayi yang aktif. Saat skin to skin, maka hisapan bayi akan merangsang oksitosin.
Fisiologi pola tidur bayi sehat adalah bayi akan alert dalam waktu 2 jam setelah lahir dan selanjutnya bayi akan tidur kurang lebih 20 jam tapi bayi masih terbangun untuk menetek.
Pada sleepy baby, bayi akan tidur berkepanjangan dan tidak akan terbangun untuk menetek.

 
Penyebab sleepy baby
Bayi yang mengantuk atau tidak aktif disebabkan adanya Intervensi dalam proses persalinan seperti induksi, anestesi epidural dan pemisahan bayi dari ibunya setelah bayi lahir.
Intervensi dalam proses persalinan ( penyebab pada ibu)
Induksi oleh pitocin, pitocin tidak masuk ke dalam darah sehingga kelenjar hipofisis tidak terangsang untuk mengeluarkan endorfin.
Anestesi epidural membuat turunnya kadar hormon oksitosin.
Tanpa endorfin dan oksitosin, maka katekolamin tidak akan dilepaskan. Hal ini yang membuat ibu dan bayi jadi kurang responsif. Bayi yang terekspos oleh obat anestesi epidural reflex hisap dan menelannya akan terganggu sehingga membuatnya sulit menyusu dalam beberapa jam atau hari.
Pemisahan bayi dari ibunya setelah lahir (penyebab pada bayi)
Bayi yang tidak melakukan skin to skin contact setelah lahir mengganggu kemampuan bayi untuk menemukan payudara dan melekat.
Bayi yang dirawat gabung bersama ibunya akan mendapatkan respon yang cepat saat menunjukkan tanda2 ingin minum. Kedekatan secara fisik juga membuat suhu, detak jantung dan pernafasan lebih stabil sehingga bayi akan lebih aktif menyusu.

 

Tatalaksana
Tatalaksana atau terapi yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya sleepy baby yaitu
Persalinan dilakukan sebisa mungkin secara normal dan alami, sebisa mungkin menghindari intervensi dalam persalinan
Pentingnya Inisiasi Menyusu Dini (IMD) selama minimal 1 jam dan dalam 1 jam pertama setelah lahir
Pentingnya rooming in atau rawat gabung untuk mencegah masalah dalam menyusui

BANNER 728 x 90

 

Ilustrasi kasus
Kasus 1
Seorang ibu baru melahirkan anak keduanya dengan berat 4000gr melalu persalinan normal. Setelah bayi lahir dilakukan skin to skin hanya 10 menit karena bayi besar. Anak pertamanya berusia 2 tahun 9 bulan dan berhasil disusui sampai usia 2 tahun. Ibu adalah seorang ibu rumah tangga.
Pada visite laktasi pertama di usia belum 24 jam, ibu ini mengeluh karena bayinya menyusu lepas-lepas dan banyak tidur. Konselor laktasi memeriksa kedua payudara ibu dalam batas normal dan puting ibu normal. Ibu dibantu untuk menyusui, bayinya rewel. Lalu dilakukan finger feeding bayi tidak menghisap. Dicoba tawarkan payudara bayi hanya mengulum puting lalu diam, bayi terlihat mengantuk dan malas menyusu. Kemudian dilakukan skin to skin contact. Setelah 1 jam divisite ulang, bayi sedang tidur dalam posisi skin to skin. Ibu dibantu untuk menyusui, dilakukan finger feeding bayi menghisap. Pindah ke payudara bayi hanya menghisap 3x lalu lepas dan rewel. Sampai beberapa kali dicoba tapi tetap seperti itu. Akhirnya dilakukan skin to skin contact lagi. Dokter konselor laktasi meminta ibu agar bedding in dan sesering mungkin melakukan skin to skin contact. Pada hari kedua bayi sudah mulai aktif, sudah mau menyusu walaupun awal masih lepas2 tapi kemudian bisa menyusu kontinyu. Visite hari terakhir di rumah sakit bayi sudah bisa menyusu dengan kontinyu walaupun di awal sempat rewel.
Kasus 2
Seorang bayi dilahirkan secara SC, saat dibius dengan narkose spinal satu kali ibu masih merasa sakit maka dilakukan anestesi spinal kedua. Ibu riwayat mendapat obat-obat psikiatrik.
Bayi lahir tidak menangis dan tidur, tetapi bayi berhasil dibangunkan dengan pengeringan dan perangsangan. Bayi berhenti menangis lalu tidur lagi, bernafas spontan cukup baik. Denyut jantung stabil. Segera dilakukan IMD di dada ibu yang sedang tidur, ayah menemani. Ayah mengadzani bayi, lalu bayi mulai bergerak-gerak semakin lama semakin aktif. IMD berhasil dilakukan selama 1 jam tigapuluh menit. Ibu terbangun di menit ke 30, mengusap bayi dan berbicara pada bayi. Bayi ini selanjutnya dapat menetek dengan baik, dengan selalu berada satu tempat tidur dengan ibu dan skin to skin sesering mungkin.

 

Kesimpulan
Masalah yang terjadi di awal menyusui seperti sulit membuat pelekatan, puting yang nyeri, bayi yang malas atau mengantuk, serta engorgement jarang terjadi jika ibu menjalani persalinan yang normal dan alami. Menjaga ibu dan bayi selalu bersama terutama dalam posisi skin to skin merupakan solusi dari masalah yang akan timbul disamping dikerjakannya Inisiasi Menyusu Dini (IMD), rawat gabung, tidur bersama ibu dan bayi (bedding in).

Referensi
Judith A, Lothian. The Birth of a Breastfeeding Baby and Mother. J Periant Educ 2005
Elizabeth RM, Gene CA, Nils B, Therese D. Early Skin to Skin Contact for Mother and their Healthy Newborn Infants (Cochrane Review) 2003. In The Cochrane Library, 3.
Baumgarder DJ, Muehl P, Fischer M, Pribbenow B. Effect of Labor Epidural Anesthesia on Breastfeeding on Healthy Full Term Newborn Delivered Vaginally. Journal of the American Board of Family Practitioners 2003;16(1):7-13
Ransjo-Arvidson AB, Matthiesen S, Lilja G, Nissen E, Widstrom AM, Uvnas-Moberg K. Maternal Analgesia During Labor Disturbs Newborn Behavior. Effects on Breastfeeding, Temperature and Crying. Birth 2001; 28(1):5-12

Leave a Reply

Your email address will not be published.