Kasus : Menyusui Bayi dengan Celah Bibir dan/atau Langit-langit

Ditulis Oleh dr. Shella Riana

 

Bayi V, laki-laki, dengan labiognatopalatoskizis bilateral (atau yang dikenal dengan istilah bibir sumbing), lahir spontan di bidan pada tanggal 23 Juli 2017. Bayi merupakan anak pertama dan cukup bulan pada usia kehamilan 38 minggu. Bayi lahir dengan berat badan 3300 gr, panjang badan 48 cm, lingkar kepala 31 cm, dan lingkar dada 35 cm. Saat hamil, Ibu, yaitu Ny.W, rutin melakukan pemeriksaan kehamilan di bidan tersebut. Ny. W pernah melakukan USG sebanyak satu kali di rumah sakit dengan dokter kandungan saat usia kehamilan 24 minggu.

Saat usia kurang dari 24 jam, bayi dirujuk oleh bidan karena kondisi bibir sumbingnya. Bayi dirawat oleh dan dokter spesialis anak dan dikonsulkan ke dokter laktasi untuk tata laksana di bidang laktasi pada bayi.

Setelah berdiskusi dengan keluarga, dokter, dan tim laktasi sepakat bahwa bayi akan memakai “alat pemberian nutrisi khusus” atau yang disebut “Haberman feeder”. Haberman feeder tersebut akan diisi dengan asi perah Ibu. Saat observasi hari pertama, dilakukan pengenalan haberman feeder oleh dokter laktasi dan juga perawat kepada bayi. Bayi pintar minum, tidak tersedak, tidak mengalami aspirasi dan dapat menghabiskan 15 cc susu formula (saat itu asi perah belum tersedia). Selanjutnya, keluarga diedukasi agar Ibu memerah asi tiap 3-4 jam sekali. Dalam satu hari dilakukan dua kali visit konselor laktasi

Hari kedua, dilakukan konseling laktasi oleh konsultan laktasi kepada orang tua pasien. Hal-hal yang disampaikan dalam konseling tersebut di antaranya adalah tentang manfaat ASI dan bahaya susu formula sesuai Al-Quran dan WABA (World Alliance of Breastfeeding Action), termasuk diskusi keagamaaan sesuai kepercayaan pasien bahwa anak merupakan anugrah sekaligus cobaan dari Allah SWT, memberikan pandangan tentang tahapan pengobatan, dan menyarankan orang tua untuk membuat BPJS. Kemudian, konselor mengajarkan cara pemberian nutrisi dengan Haberman feeder kepada ayah bayi dan keluarga. Ayah bayi tampak pintar dan bayi pun pintar minum, tidak tersedak, minum secara kontinyu, dan dapat menghabiskan 35 cc asi perah.

BANNER 728 x 90

Hari ketiga dilakukan visit konselor dan pengulangan materi konseling laktasi. Disampaikan bahwa ASI dapat mencegah infeksi sebelum dan sesudah tindakan operasi yang diperlukan pada kasus ini, serta memberikan outcome yang lebih baik dibandingkan susu formula. Konselor juga menyampaikan ulang cara penggunaan Haberman feeder dan cara pencuciannya. Bayi dipulangkan hari itu oleh dokter spesialis anak dan diminta kontrol enam hari kemudian ke poliklinik.

Saat kontrol berikutnya berat badan bayi baik, klinis baik, bayi minum asi dengan Haberman feeeder berisi asi perah Ibu. Dan dirujuk untuk penanganan bibir sumbing ke dokter bedah.

Artikel lain mengenai “Bagaimana Menyusui Bayi dengan Celah Bibir dan/atau Langit-langit” : http://www.praborinilactationteam.com/2017/08/19/menyusui-bayi-dengan-celah-bibir-danatau-langit-langit-bagaimana-melakukannya/

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.