Menyusui bayi dengan Celah Bibir dan/atau Langit-langit: Bagaimana Melakukannya?

Penulis: dr. Asti Praborini, SpA, IBCLC; dr. Ria Subekti; dr. Shella Riana; dr. Aini; dr. Wilda

 

Apa itu Celah (Sumbing) Bibir dan/atau Langit-langit?

Celah (sumbing) bibir dan/atau langit-langit adalah sebuah kelainan bawaan (kongenital) yang terjadi akibat kegagalan penyatuan prominensia frontonasal (tonjolan bakal hidung, langit-langit, dan bibir) yang terjadi pada minggu-minggu pertama kehamilan. Pembentukan wajah, rahang, langit-langit, hidung, dan bibir dimulai pada minggu ke-4 kehamilan. Pada saat tersebut, terjadi perpindahan sel-sel dalam lekukan primitif (bakal hidung, bibir, rahang, dan langit-langit) yang menyebabkan bagian-bagian tersebut menyatu dan membentuk bibir, hidung, rahang, dan langit-langit yang sempurna. Jika terjadi kegagalan penyatuan bagian-bagian tersebut, maka akan terbentuk celah abnormal (sumbing).

 

Celah (sumbing) dapat dijumpai pada bibir atas (labioschizis), langit-langit mulut (palatoschizis). Celah bibir merupakan bukaan yang abnormal pada bibir atas yang menyebabkan kedua sisi bibir atas tidak menyatu. Celah ini bisa terjadi di satu sisi saja (unilateral), dan bisa juga terjadi di kedua sisi (bilateral). Celah langit-langit merupakan bukaan abnormal yang terdapat pada langit-langit mulut, baik pada langit-langit keras (palatum durum) maupun langit-langit lunak (palatum molle). Bukaan abnormal ini menyebabkan rongga mulut dan rongga hidung terhubung lewat suatu lubang dengan derajat keparahan yang berbeda-beda. Celah yang terbentuk dapat berupa lubang kecil atau sempit, dan dapat pula berupa lubang yang lebar dan memanjang dari tulang rahang atas bagian depan sampai belakang.

 

Berapakah Angka Kejadian Celah Bibir dan/atau Langit-langit?

Angka kejadian celah bibir dan/atau langit-langit di dunia ini bervariasi, yaitu dalam rentang 0,8 sampai 2,7 per 1000 kelahiran hidup. Variasi angka kejadian ini dipengaruhi oleh ras. Angka kejadian yang paling rendah dijumpai pada kelompok ras Afrika, Amerika, dan ras kulit putih (Kaukasian), sedangkan angka kejadian yang lebih tinggi dijumpai pada kelompok penduduk asli Amerika dan Asia. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat tahun 2001, celah bibir dan/atau langit-langit merupakan kelainan kongenital kedua yang paling banyak dijumpai di dunia ini setelah Sindrom Down.

BANNER 728 x 90

 

Sekitar 50% dari keseluruhan kasus celah bibir dan/atau langit-langit merupakan kasus kombinasi celah bibir dan langit-langit, dan sekitar 30% dari keseluruhan kasus merupakan celah langit-langit saja, dan sisanya sekitar 20% merupakan celah bibir saja. Sebagian besar kasus celah bibir dan/atau langit-langit adalah celah di satu sisi (unilateral), dan sekitar 10% sisanya merupakan celah kedua sisi (bilateral).

 

Apa Saja Masalah yang Terjadi pada Bayi dengan Celah Bibir dan/atau Langit-langit?

Bayi yang mempunyai celah bibir dan/atau langit-langit mempunyai beberapa keterbatasan terutama dalam hal pemberian makan atau menyusu (feeding problem). Celah yang terdapat pada bibir menyebabkan bibir bayi tidak mampu membuat keadaan vakum yang diperlukan agar bayi bisa menyusu langsung di payudara dengan efektif. Adanya celah langit-langit juga menyebabkan tekanan dalam rongga mulut berkurang, sehingga bayi sulit untuk menghisap payudara secara langsung.

 

Selain itu, bayi dengan celah langit-langit juga menjadi lebih rentan untuk terjadi infeksi telinga. Lubang abnormal yang menghubungkan rongga mulut dan rongga hidung menyebabkan cairan yang masuk melalui rongga mulut dapat berbalik arah masuk ke lubang hidung (regurgitasi). Di rongga hidung bagian dalam juga terdapat muara tuba Eustachius yang berhubungan langsung dengan telinga tengah. Oleh karena itu, adanya celah langit-langit dapat meningkatkan risiko terjadinya radang telinga tengah (otitis media) pada bayi. Masalah lain yang lebih mengkhawatirkan pada bayi dengan celah bibir/dan langit-langit adalah risiko terjadinya gagal tumbuh (failure to thrive). Hisapan yang kurang efektif dan terjadinya infeksi berulang dapat meningkatkan risiko bayi mengalami gagal tumbuh.

 

Pada bayi yang lebih besar, masalah yang timbul dapat berupa kesulitan menelan makanan, gangguan artikulasi bicara, gangguan pertumbuhan gigi, dan masalah estetika. Mengingat banyak masalah yang dapat timbul akibat celah bibir dan/atau langit-langit, penanganan kasus celah bibir dan/atau langit-langit membutuhkan perhatian yang cukup tinggi dari berbagai disiplin ilmu.

 

Menyusui Bayi dengan Celah Bibir dan/atau Langit-langit: Bagaimana Melakukannya?

Menyusui bayi dengan celah bibir dan/atau langit-langit memang bukan merupakan hal yang mudah, tetapi tetap bisa diupayakan. Satu hal yang perlu digarisbawahi dari kasus bayi dengan celah bibir dan/atau langit-langit adalah pemberian air susu ibu (ASI), baik menyusui secara langsung (direct breastfeeding) maupun melalui alat tertentu, tetap lebih baik daripada pemberian susu formula.

 

Zat-zat antiinfeksi yang terkandung dalam ASI akan meminimalisir risiko infeksi pada bayi dengan celah bibir dan/atau langit-langit, terutama infeksi saluran napas dan infeksi telinga. Pemberian ASI juga dapat meningkatkan respon kekebalan tubuh dan dapat mengurangi risiko infeksi pada luka pascaoperasi jika bayi akan dilakukan koreksi celah bibir dan/atau langit-langit di kemudian hari. Hal ini bertolak belakang dengan pemberian susu formula yang justru akan meningkatkan risiko terjadinya infeksi saluran napas, infeksi telinga tengah, alergi, asma, dan penyakit lainnya yang dapat meningkatkan angka kesakitan pada bayi dengan celah bibir dan/atau langit-langit. Oleh karena itu, setiap orang tua yang mempunyai bayi dengan celah bibir dan/atau langit-langit perlu diberikan motivasi dan bantuan untuk bisa memberikan ASI kepada bayinya.

 

Pemberian ASI pada bayi dengan celah bibir dan/atau langit-langit perlu dilakukan evaluasi kasus per kasus. Walaupun dapat kita temui kemiripan antara satu kasus dengan kasus lainnya, perlu dilakukan evaluasi per individu mengenai kemampuan menghisap bayi, ketersediaan alat bantu, status nutrisi, dan status hidrasi bayi.

 

Menyusui Bayi dengan Celah Bibir dan/atau Langit-langit secara Langsung: Apakah Mungkin?

Pada kasus tertentu, bayi dengan celah bibir dan/atau langit-langit bisa menyusu langsung (menetek), tentunya setelah dilakukan berbagai evaluasi dari berbagai disiplin ilmu. Bayi dengan celah bibir saja di satu sisi (labioschizis unilateral) kemungkinan besar dapat menetek langsung. Bayi menetek dalam posisi straddle atau posisi koala (bayi diposisikan agak duduk dan menghadap ke badan ibu) dan ibu jari tangan ibu menutup celah bibir bayi pada saat menetek untuk membantu bayi membuat kondisi vakum agar hisapan bayi menjadi lebih efektif.

 

Bayi dengan celah langit-langit lunak (palatum molle) berukuran kecil terkadang juga dapat menetek langsung. Akan tetapi, berbeda dengan bayi dengan celah bibir saja, bayi dengan celah langit-langit walaupun berukuran kecil seringkali lebih sulit untuk membuat keadaan vakum dalam rongga mulut. Oleh karena itu, walaupun bayi dapat menetek langsung, perlu dilakukan evaluasi yang lebih mendalam mengenai efektivitas hisapan bayi dan status gizinya. Dalam kondisi tertentu mungkin bayi bisa menetek langsung dan dibantu dengan alat suplementer yang dipasang di payudara ibu.

 

Bayi dengan celah bibir saja di dua sisi (labioschizis bilateral) mempunyai tingkat kesulitan yang lebih berat untuk menetek langsung. Berdasarkan literatur, bayi dengan celah bibir saja bilateral tetap bisa menetek langsung dengan posisi straddle dan bayi menghadap ke payudara ibu, akan tetapi dalam praktiknya tidak semudah yang tertulis dalam literatur. Bayi dengan kondisi ini biasanya membutuhkan alat bantu untuk menyusu berupa botol khusus yang dirancang untuk bayi dengan celah bibir dan/atau langit-langit, seperti Haberman Feeder®. Ibu perlu diajarkan cara memerah ASI sejak hari pertama bayi lahir, kemudian ibu dan keluarga lainnya diajarkan cara memberikan minum dengan menggunakan Haberman Feeder®.

 

Bayi dengan celah langit-langit keras (palatum durum) mempunyai kesulitan menetek yang paling berat dibandingkan kasus-kasus yang lain. Bayi dengan celah langit-langit keras dapat disertai dengan celah bibir dan celah tulang alveolar (labiognatopalatoschizis) atau dapat berupa celah langit-langit saja (palatoschizis). Celah di langit-langit ini membuat bayi sulit untuk membuat keadaan vakum di rongga mulut, sehingga seringkali pada kasus ini bayi tidak dapat menetek langsung. Baik bayi dengan celah langit-langit saja maupun celah bibir dan langit-langit umumnya memerlukan alat bantu khusus untuk pemberian ASI, yaitu Haberman Feeder®. Seperti halnya bayi dengan celah bibir bilateral, ibu perlu diajarkan cara memerah ASI sejak hari pertama bayi lahir, kemudian ibu dan keluarga lainnya perlu diajarkan cara memberikan minum dengan Haberman Feeder ®.

 

Baik menyusui secara langsung atau memberikan ASI dengan menggunakan alat, perlu dilakukan penilaian status gizi bayi dengan celah bibir dan/atau langit-langit secara berkesinambungan. Bayi perlu direncanakan kunjungan rutin setiap bulan ke poliklinik anak atau klinik laktasi untuk menilai kenaikan berat badan bayi, produksi ASI ibu, evaluasi kinerja alat bantu, dan pemberian motivasi secara berkala kepada orang tua bayi karena menyusui bayi dengan celah bibir dan/atau langit-langit bukanlah hal yang mudah. Seringkali orang tua mengalami demotivasi sehingga berhenti untuk menyusui atau memberikan ASI untuk bayinya.

 

Pemakaian Prosthesis (Palatal Obturator) pada Celah Bibir dan/atau Langit-langit: Seberapa Perlu?

Prosthesis atau palatal obturator adalah alat yang khusus dibuat untuk menutup celah langit-langit untuk sementara waktu. Alat ini umumnya terbuat dari bahan akrilik dan kawat ortodontik yang telah dicetak terlebih dahulu sesuai dengan bentuk dan lebar celah yang akan ditutup. Obturator ini kemudian dipasang pada bagian langit-langit yang bercelah untuk mencegah terjadinya regurgitasi, meningkatkan kemampuan menghisap dan menelan pada bayi, dan kemampuan artikulasi bicara.

 

Obturator ini dapat dibuat oleh dokter spesialis bedah mulut yang sering menangani kasus celah bibir dan/atau langit-langit. Setelah alat tersebut dipasang di langit-langit bayi, perlu dilakukan kembali evaluasi menyusu. Bayi yang baru dipasang palatal obturator akan kembali belajar teknik menghisap yang benar, sehingga diperlukan penilaian dan bantuan lebih lanjut dari konselor menyusui. Setiap satu bulan perlu dilakukan pencocokan ulang (readjustment) terhadap pemakaian alat ini mengingat rahang bayi yang terus tumbuh dari waktu ke waktu.

 

Berdasarkan literatur, ada dua pendapat ahli mengenai penggunaan palatal obturator ini. Pendapat yang pertama mengatakan pemasangan alat ini sangat dianjurkan agar bayi dapat menghisap dan menelan dengan baik; pendapat yang ke dua mengatakan pemasangan alat ini tidak dianjurkan mengingat perlunya pencocokan ulang setiap satu bulan pemakaian, adanya kemungkinan bayi tetap tidak bisa menghisap dengan baik setelah pemakaian, dan peningkatan risiko erosi rahang akibat pemakaian alat tersebut. Akan tetapi, pada praktiknya kualitas hidup bayi dengan celah bibir dan/atau langit-langit tetap harus diperhatikan. Mengingat risiko terjadinya infeksi saluran napas, infeksi telinga tengah, kesulitan menghisap dan menelan, regurgitasi berulang, dan kemungkinan terjadinya gagal tumbuh pada bayi dengan celah bibir dan/atau langit-langit, maka pemakaian palatal obturator ini perlu dipertimbangkan.

 

Berikut ini kami paparkan beberapa contoh kasus menyusui bayi dengan celah bibir dan/atau langit-langit yang telah kami tangani di tim ini.

 

Bayi dengan Celah Langit-langit Lunak Kecil

Bayi A, perempuan, usia 2 bulan 29 hari, datang ke Klinik Laktasi RS Permata Depok dengan keluhan ibu merasa ASI sedikit ketika diperah. Bayi lahir di Klinik Bersalin di Cinere, dan dikatakan mempunyai celah langit-langit kecil sejak lahir. Bayi mengalami kesulitan menetek dan sering tersedak sejak lahir. Menghisap payudara kurang kuat dan kadang lepas-lepas. Ibu biasanya memerah ASI dan diberikan dengan dot, tapi menurut ibu lama kelamaan ASI semakin sedikit ketika diperah, sehingga bayi diberikan tambahan susu formula 12 x 60 ml per hari. Saat kedatangan bayi bisa menetek langsung dan ibu ingin tetap bisa menyusui anaknya sampai 2 tahun.

 

Berat badan (BB) bayi pada saat lahir 3300 g, dan BB pada saat kedatangan 6175 g. Bayi berada pada gizi baik menurut standar antropometri WHO. Pada pemeriksaan fisik bayi ditemukan celah langit-langit lunak berukuran 1,5 x 2 cm memanjang sampai dekat uvula; ibu dengan normo to low milk supply. Bayi dicoba menetek langsung ke payudara, dengan posisi straddle bayi bisa menetek tapi masih lepas-lepas, dibantu dengan breast compression bayi bisa menetek lebih kontinu.

 

Ibu dimotivasi untuk tetap menyusui langsung, diberikan konseling mengenai manfaat ASI dan bahaya pemberian susu formula terutama pada kasus ini. Bayi direncanakan untuk menetek langsung dan dibantu dengan alat supplemental nursing system (SNS®). Bayi dijadwalkan untuk kontrol rutin ke klinik laktasi atau poliklinik anak untuk evaluasi proses smenyusui dan kenaikan BB bayi secara berkala.

Bacaan terkait :

Kasus : Menyusui Bayi dengan Celah Bibir dan/atau Langit-langit

Kasus : Menyusui Bayi dengan Celah Langit-langit Keras dan Lunak

 

Referensi:

  1. Goyal A, Jena AK, Kaur M. Nature of Feeding Practices among Children with Cleft Lip and Palate. Journal of Indian Society of Pedodontics and Preventive Dentistry 2012; 30:47-9.
  2. Hopper RA, Cutting C, Grayson B. Grab and Smith’s Plastic Surgery: Cleft Lip and Palate. Lippincott William and Wilkins; 2007:1-44.
  3. Mossey PA, et al. Cleft Lip and Palate. Lancet 2009; 374:1773–85.
  4. Reilly S, et al. ABM Clinical Protocol #17: Guidelines for Breastfeeding Infants with Cleft Lip, Cleft Palate, or Cleft Lip and Palate, Revised 2013. Breastfeeding Medicine 2013; 8:349-353.
  5. Supit L, Prasetyono TOH. Cleft Lip and Palate: Epidemiology, Risk Factors, Quality of Life, and Importance of Classifications. Med J lndones 2008; 17(4):226-239.

Leave a Reply

Your email address will not be published.