Menyusui pada ibu bekerja. Bagaimana caranya?

Penulis : dr. Dyah Febriyanti, IBCLC

Pemberian makanan yang direkomendasikan oleh UNICEF dan WHO adalah meneteki bayi segera setelah lahir, ASI eksklusif sampai umur 6 bulan, makanan pendamping ASI yang tepat dan adekuat sejak usia 6 bulan, dan meneruskan pemberian ASI sampai umur 2 tahun atau lebih. Cara menyusui paling ideal adalah meneteki bayi secara langsung. Akan tetapi, tidak semua ibu memiliki waktu dan kesempatan penuh untuk menyusui secara langsung, termasuk ibu bekerja. Adakalanya ibu harus kembali bekerja saat jatah cuti sudah habis, misalkan 3 bulan pasca melahirkan. Agar dapat terus menyusui, ibu bekerja hendaknya mengetahui cara memerah, menyimpan, dan memberikan ASI kepada bayi selama ibu bekerja.

Pada saat ibu bekerja dan tidak bersama bayi, perah ASI merupakan cara untuk menggantikan kegiatan menyusui bayi. Perah asi dengan tangan merupakan cara perah asi yang paling umum di dunia. Cara ini tidak memerlukan alat khusus, listrik, dan biaya tambahan. Sebaiknya semua ibu menyusui belajar cara memerah ASI dengan tangan. Meskipun ibu lebih nyaman dengan pompa/alat, pada situasi tertentu dimana keadaan tidak mendukung ibu akan membutuhkan perah dengan tangan. Contohnya adalah ketika listrik tidak tersedia, sanitasi tidak mendukung untuk membersihkan alat, alat rusak atau ada bagian yang hilang atau tertinggal di rumah. Selain itu, cara perah ASI dengan tangan dapat dipakai tersendiri maupun dikombinasikan dengan pompa. Perah dengan tangan sebelum memerah dengan alat (pumping) dapat membantu merangsang MER (Milk Ejection Reflex) atau refleks keluarnya air susu. Sedangkan setelah pumping, perah dengan tangan dapat membantu mengosongkan payudara dengan mengeluarkan ASI yang tidak terperah dengan pompa/alat.

Berikut cara memerah dengan tangan:

Cara Memerah ASI

 

  • Cuci tangan
  • Letakkan ibu jari dan telunjuk 3-5cm dari puting dengan arah “jam 6” dan “jam12”
  • Ibu jari dan telunjuk ditekan ke arah dinding dada, tidak terlalu dalam.
  • Lalu tekan dan lepas sampai aliran ASI berkurang.
  • Pindahkan ke bagian lain, jari di sekitar “jam 9” dan “jam 3”. Tekan dengan cara yang sama, tapi dari samping.
  • Memerah satu payudara sampai aliran ASI melambat, lalu perah payudara yang lain.
  • Memerah Payudara biasanya sekitar 20-30 menit

Keuntungan memerah dengan alat antara lain lebih mudah, cepat, nyaman dan tidak melelahkan. Akan tetapi banyak yang perlu diperhatikan dalam pemilihan pompa atau alat yakni: (ILCA)

BANNER 728 x 90

 

breastpump
  • Kebersihan pompa harus terjaga, pompa asi dengan gelembung karet tidak lagi disarankan untuk dipakai karena besar kemungkinan untuk kontaminasi bakteri pada ASI.
  • Pompa elektrik dengan tekanan negatif yang tetap lebih mudah menimbulkan putting lecet atau trauma pada payudara. Sebaiknya tekanan dimulai dari minimum dan perlahan ditingkatkan.
  • Ukuran corong yang melekat pada payudara
  • Pompa yang telah lama dipakai atau dipakai bersama-sama terus menerus dapat berkurang daya hisapnya atau spare part sudah perlu diganti

Sebelum ibu mulai masuk kerja, ibu dapat mulai memerah saat bayi berusia sekitar 4 minggu. Waktu mmerah sebaiknya setelah bayi puas menyusu. ASI perah saat ibu belum bekerja dapat disimpan di freezer untuk CADANGAN pada saat ibu bekerja nanti.

Pada saat ibu sudah mulai bekerja, hendaknya ibu rutin perah di kantor tiap 3-4 jam sekali hingga payudara benar-benar terasa kosong. Tujuan dari perah ini adalah menjaga pengosongan payudara dan menggantikan sesi penyusuan pada bayi. Akan tetapi perah tidak dapat menggantikan mutlak sesi menyusu oleh bayi seterusnya (tanpa ibu menyusui sama sekali). Karena itu hanya dilakukan saat ibu di kantor saja, saat malam hari ibu tetap menyusui bayi secara langsung. Hasil perahan ibu selama di kantor kemudian disimpan di lemari es (bukan freezer) untuk diberikan kepada bayi keesokan harinya. Bila kurang, ibu dapat memberikan ASIP beku cadangan yang telah disimpan sejak ibu belum bekerja.

Wadah yang ideal untuk menyimpan asi adalah botol kaca atau plastik polypropylene (dengan tanda 5PP) dengan tutup. Sebaiknya wadah diisi tidak penuh atau hanya ¾ penuh saja,sisakan ruang sekitar 2.5 cm dari tutup botol karena volume ASI akan meningkat pada saat beku. Wadah penyimpanan harus dipastikan bersih. Ibu boleh menggunakan plastik es mambo, disarankan dirangkap dua untuk menghindari pecah karena pemuaian ASI saat dibekukan. Jangan mencampur ASI yang telah dibekukan dengan ASI yang masih baru pada wadah penyimpanan. Selain itu, hendaknya ibu tidak menyimpan ASI pada bagian pintu lemari Es atau pintu Freezer.

Menurut HMBANA (Human Milk Banking Association of North America), penyimpanan ASI adalah sebagai berikut: (ILCA)

Penyimpanan Waktu
Suhu ruang (250C) <6 jam
ASI segar yang disimpan di lemari es (bukan freezer) <8 hari
ASI segar dalam cooler bag dengan frozen gel packs <24 jam
ASIP beku yang sudah dicairkan dan disimpan di lemari es (bukan freezer) <24 jam
Freezer pada lemari es 1 pintu 2 minggu
Freezer pada lemari es 2 pintu (bukan pada bagian pintu) <6 bulan
Deep freezer <12 bulan

 

Sebelum memberikan ASIP pada bayi, beberapa hal perlu diperhatikan di antaranya:

  • Cek tanggal pada label wadah ASI. Gunakan ASI yang paling baru.
  • ASI tidak harus dihangatkan. Beberapa ibu memberikannya dalam keadaan dingin.
  • Untuk ASI beku, pindahkan wadah ke lemari es selama 1 malam sampai mencair. Bila akan dipakai, hangatkan tanpa merebus.
  • Untuk ASI dalam lemari es, hangatkan wadah ASI dalam bak berisi air hangat atau di bawah kran selama beberapa menit. Jangan menghangatkan ASI dengan api kompor secara langsung.
  • Jangan menaruh wadah dalam microwave. Microwave tidak dapat memanaskan ASI secara merata dan justru dapat merusak komponen ASI dan membentuk bagian panas yang melukai bayi. Botol juga dapat pecah bila dimasukkan ke ·dalam microwave dalam waktu lama.
  • Goyangkan botol ASI
  • Jangan membekukan ulang ASI yang sudah dihangatkan.
  • Jangan menyimpan sisa ASI yang sudah di konsumsi untuk pemberian berikutnya.
  • Putarlah kontainer ASI agar bagian yang mengandung krim pada bagian atas tercampur merata.
  • Jangan mengocok ASIP

Pemberian ASIP yang dianjurkan oleh WHO adalah dengan cangkir. Pemberian dengan dot akan mempengaruhi keterampilan bayi menetek pada payudara, bahkan pada sebagian kasus akan muncul bingung puting atau bayi mulai menetek lepas-lepas dan rewel bahkan menolak payudara ibu sama sekali. Sebagaimana yang disebutkan dalam langkah ke-9 dalam 10 langkah keberhasilan menyusui menurut WHO yakni: “tidak memberikan dot atau empeng pada bayi yang sedang menetek”. Aturan untuk tidak memeberi dot/kempeng pada bayi yang sedang menetek termasuk di Peraturan Pemerintah RI no.33 tahun 2012 yang ditandatangani oleh presiden. Pemberian dengan gelas kecil atau cangkir kecil merupakan metode yang dianjurkan karena: (WHO)

  • Cangkir lebih mudah dibersihkan, dapat dibersihkan hanya dengan sabun dan air.
  • Tidak mengganggu keterampilan bayi menyusu pada ibu
  • Tidak memungkinkan bayi untuk ditinggal menyusu sendiri, harus ada pengasuh yang memegang dan berinteraksi dengan bayi dalam pemberiannya
  • Lebih mudah dan lebih baik daripada sendok. Pemakaian sendok memerlukan waktu yang lama dan merepotkan untuk memegang wadah dan sendok sekaligus.

Cara memberikan ASIP dengan cangkir:

 

Cara memberikan ASI perah
  • Posisikan bayi duduk atau setengah duduk di pangkuan, bayi bisa dibedong bila perlu agar tangan bayi tidak menghentak cangkir.
  • Taruh cangkir di bibir bawah bayi, sebagian masuk ke mulut bayi. Pinggiran cangkir menyentuh bibir atas bayi.
  • Miringkan cangkir sehingga ASIP menyentuh lidah bayi
  • JANGAN TUANG ASIP ke dalam mulut bayi!
  • Bayi baru lahir biasanya menjilat ASIP sedangkan bayi yang lebih tua ‘menyeruput’ atau menghisap ASIP, sebagian kecil ASIP akan tumpah dan ini tidak masalah
  • Bila bayi sudah tidak mau minum lagi, maka itu adalah tanda ia kenyang.

Bayi akan minum dari cangkir tidak sebanyak dari dot. Selebihnya, bayi akan mendapatkannya saat menyusui langsung pada malam hari. Selama ibu bekerja, bayi diberi ASIP dengan cangkir. Pengasuh hendaknya menawarkan ASIP saat bayi tidak terlalu lapar dan semau bayi (tidak ditakar). Pada saat ibu bekerja, bayi tidak mendapatkan kepuasan menetek pada payudara, karena itu bayi akan banyak menetek pada malam hari. Hal ini sangat bermanfaat juga bagi produksi ASI ibu. Pengosongan pada malam hari yang efektif akan mempertahankan produksi ASI ibu. Agar ibu tidak lelah, ibu dapat meneteki dengan posisi baring dan santai sambil beristirahat melepas penat setelah seharian berpisah dengan bayi. Selama bayi aktif menetek pada malam hari, kencing >6kali sehari, dan kenaikan berat badan sesuai dengan usia maka ASIP yang diberikan cukup.

Nah, bunda, mari sukseskan menyusui 2 tahun pada ibu bekerja! Bila ibu hendak melatih si kecil minum dengan cangkir dan bersiap memerah ASI, ibu dapat datang berkonsultasi dengan konselor menyusui dan konsultan laktasi di praborini lactation team. Breastfeeding and work, lets make it works!

 

REFERENSI

Gambar oleh dr. Dyah Febriyanti, IBCLC

International Lactation Consultant Association. 2013. Core Curriculum for Lactation Consultant 3rd Edition. Jones & Bartlett Learning. p621-642

Riordan & Wambach. 2016. Breastfeeding and Human Lactation, enhanced 5th edition. Jones & Bartlett Learning. p 419-468

World Health Organization. 2009. Infant and Young Child Feeding: Model Chapter for Textbooks for Medical Students and Allied Health Professionals.

Presiden Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2012 Tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif.

Leave a Reply

Your email address will not be published.