Apa Itu Tongue Tie dan Lip Tie

Kesuksesan menyusui bergantung kepada pelekatan yang sempurna di payudara. Pada bayi baru lahir, dagunya perlu menempel di payudara dibawah puting, bibir atas dan bawah perlu dower keluar. Rahangnya biasanya terbuka antara 130 – 160 derajat. Bagian bawah areola lebih banyak tertutup oleh mulut bayi dibandingkan bagian atas.

Pelekatan yang baik membutuhkan lidah dan bibir yang melakukan fungsinya dengan maksimal. Lidah akan bergerak naik turun untuk memijat payudara, menciptakan tekanan negative tinggi dalam mulut bayi sehingga bayi dapat menghisap dengan maksimal dan transfer ASI dari payudara optimal. Variasi anatomi pada lidah, terutama yang mempengaruhi pergerakan lidah berperan penting terhadap timbulnya masalah selama menyusui.

Tongue tie atau sering kita dengar dengan istilah tali lidah pendek, sebenarnya bukanlah karena ukuran lidah yang benar-benar pendek, melainkan suatu keadaan yang menggambarkan gangguan frenulum (jaringan ikat yang menghubungkan dasar lidah dengan ujung lidah bagian bawah/tali lidah). Dalam bahasa kedokteran disebut dengan ankyloglossia.

Beberapa definisi Tongue tie antara lain :
1. IATP (International Affiliation of Tongue tie Profesionals), Tongue tie adalah sisa embriologikal dari jaringan midline antara permukaan bawah lidah dan dasar lidah yang membatasi pergerakan normal lidah.

2. Carmen Fernando SLP, Tongue tie dapat didefinisikan kelainan abnormal struktur frenulum lidah. Dalam kondisi normal lidah elastik dan tidak menghambat pergerakan lidah dalam proses menghisap, makan, membersihkan makanan dari gigi dalam proses menelan, dan tidak mengganggu proses bicara.

BANNER 728 x 90

Pengaruh tongue tie terhadap menyusui sudah menjadi perdebatan sejak lama. Bayi dengan tongue tie tidak dapat menjulurkan lidahnya melewati batas gusi rahang bawah untuk membentuk ruangan vakum yang dibutuhkan saat menyusu, dan harus menggunakan rahang bawahnya untuk mempertahankan payudara tetap dalam mulutnya. Hal ini menyebabkan bayi dengan tongue tie tidak dapat melekat pada payudara dengan baik sehingga ibu akan
cenderung untuk berhenti menyusui lebih awal.

Selain kesulitan menyusu, tongue tie dapat menyebabkan gangguan makan, gangguan perkembangan bicara, dan kebersihan mulut yang buruk. Insiden tongue tie dalam populasi secara pasti belum diketahui. Beberapa penelitian melaporkan angka yang berbeda, berkisar antara 1-10%, lebih banyak ditemukan pada bayi laki-laki dibanding perempuan (3:1).

Masih terdapat ketidaksepakatan diantara para ahli medis tentang pengaruh tongue tie
terhadap proses menyusui, penelitian oleh Messner dan Lalakea (2002) melaporkan dokter
anak (90%) berpendapat bahwa tongue tie sangat jarang menyebabkan kesulitan dalam proses
menyusui, berbeda dengan konsultan laktasi (69%), dan dokter THT (70%).
Tongue tie pada bayi berhubungan dengan 25% sampai 60% kejadian kesulitan dalam proses menyusui. Hal ini disebabkan timbulnya masalah pada ibu maupun bayinya sendiri. Pada ibu dapat menyebabkan puting lecet, payudara sakit, produksi ASI yang menurun, pembengkakan payudara, mastitis dan nipple pore. Sedangkan keluhan dari bayi berupa kesulitan untuk melekat pada payudara, suara clicking saat menyusu, durasi menyusu menjadi
lebih pendek karena bayi kelelahan saat menyusu atau lebih panjang karena bayi tidak puas, dan pertumbuhan berat badan bayi tidak baik bahkan bisa sampai gagal tumbuh (failure to thrive).

Sekitar 60-80% ibu yang menyusui bayi dengan tongue tie mengalami nyeri puting pada periode awal setelah melahirkan. Pada bayi yang normal, nyeri puting ini akan mencapai puncak pada hari ketiga dan hilang spontan dalam dua minggu. Sekitar 36 -80 % ibu dengan bayi tongue tie, nyeri ini akan bertahan lebih dari 2 minggu.

KLASIFIKASI TONGUE TIE

Tongue tie terbagi dalam beberapa derajat, hanya berupa membran mukosa saja hingga
komplit dimana lidah menyatu dengan dasar mulut.
Ada beberapa metode klasifikasi tongue tie dengan mempertimbangkan faktor-faktor berikut :
– Mengukur jarak frenulum dari ujung lidah dan mengukur tinggi lidah ketika lidah diangkat
– Melihat tampilan tepi lidah dan apakah ada indentasi lidah atau heart shape
– Menilai fungsi dan kemampuan menjulur dan mengangkat lidah
– Mengamati adakah kesulitan proses menyusui
– Masalah gangguan bicara

Klasifikasi Kotlow (2011) berdasarkan jarak antara ujung lidah dengan perlekatan frenulum:

Klasifikasi Tongue Tie Menurut Kotlow

Type I : Mild ankyloglossia (12-16 mm)
Type II : Moderate (8-11 mm)
Type III : Severe (3-7 mm)
Type IV : Complete (< 3 mm)

Klasifikasi Coryllos
Type 1 : frenulum terikat sampai ujung lidah
Type 2 : frenulum terikat 2-4 mm dari ujung lidah
Type 3 : frenulum terikat di tengah lidah dan biasanya ketat dan kurang elastik
Type 4 : Frenulum terikat di pangkal lidah, tebal, tampak mengkilat dan sama sekali tidak
elastis.

 

LIP TIE
Lip tie adalah tali atau frenulum pada bagian atas bibir yang menempel pada rahang atas. Frenulum ini tidak memiliki otot dan hanya berupa membran saja. Bila frenulum ini menempel pada bagian tulang atau gusi atas maka bisa menyebabkan adanya gerakan yang terbatas untuk bibir dower saat menyusu.

Posisi bibir yang dower dibutuhkan dalam proses menyusu agar mulut bayi dapat membuat vakum atau tekanan negatif tinggi sehingga bayi dapat menghisap dengan baik dan transfer asi bisa optimal. Bibir yang dower juga merangsang adanya rantai oksitosin yang menyebabkan keluarnya asi dari payudara ibu optimal. Bibir bayi yang tidak dower pada saat menyusu ke payudara dapat menimbulkan keluhan menyusui, seperti nyeri,  dan puting lecet.

 

Klasifikasi Lip Tie Menurut Kotlow

 

DAFTAR PUSTAKA
1. Wilson-Clay, Hoover. Ankyloglossia. In : The breastfeeding atlas. Fourth edition. Texas.
BWC/KH joint venture. 2008. p139-146
2. Lawrence RA, Lawrence RM. Normal growth, failure to thrive and obesity in breastfed
infant. In : Breastfeeding, a guide for the medical profession. 7th edition. Missouri,
2011.
3. Horton CE, Crawford HH, Adamson JE, Ashbell TS (1969). “Tongue-tie”. The Clef palate
Journal 6 : 8-23. PMID 5251442
4. Kotlow AL. Ankyloglossia (tongue-tie): a diagnostic and treatment quandary.
Quintessence Int 1999; 30: 259-62
5. Wight NE. Ankyloglossia & frenotomy. Available from : hTongue
tiep.www.cpqcc.org/documents/858/download. cited on January 20th, 2012
6. Forlenza GP, Black NM, McNamara EG, Sullivan SE. Ankyloglossia, exclusive
breastfeeding and failure to thrive. Pediatrics. 2010; 125(6);e1500-e1504
7. Lalakea ML, MessnerAH. Ankyloglossia does it maTongue tieer?PediatrClin North Am.
2003; 50(2):381-397
8. Messner AH, Lalakea ML, Aby J, Macmahon J, Bair E. Ankyloglossia: incidence and
associated feeding difficulties. Arch Otolaryngal Head Neck Surg. 2000;126(1):36-39
9. Ballard JL, Auer CE, Khoury JC. Ankyloglossia, incidence and effect of frenuloplasty on
the breastfeeding dyad. Pediatrics 2002;110(5)
10. Marmet C, ShellE, Marmet R. Neonatal Frenotomy may be necessary to correct
breastfeeding problems. J Hum Lact. 1990;6(3):117-121
11. Masaitis N, Kaempf J. Developing a frenotomy policy at one medical center: a case study
approach. J Hum Lact. 1996:12(30):229-32
12. Messner AH, Lalakea ML (2002). The effect of ankyloglossiaon speech in children.
Otolaryngology-head and neck surgery: official journal of American Academy of
Otolaryngology-Head and Neck Surgery 127(6): 539-45. Doi:
10.1067/mhn.2002.1298231. PMID 12501105
13. Tait P. Nipple pain in breastfeeding women: cause, treatment and prevention strategies.
J Midwifery Womens Health 2000;45(3):212-5
14. Notestine GE. The importance of the identification of ankyloglossia (short lingua
frenulum) as a cause of breastfeeding problems. J Hum Lact. 1990;6(3): 113-115
15. Messner AH, Lalakea ML (2000). “Ankyloglossia: controversies in management”.
IntPediatr. Otorhinolaryngol. 54 (2-3): 123-31
16. Duffy E, Percival P, Kershaw E. Positive effects of an antenatal group teaching session on
postnatal nipple pain, nipple trauma and breastfeeding rates. Midwifery
1997;13(4):189-96
17. Henderson A, Stamp G, Pincombe J. Postpartum positioning and aTongue tieachment
education for increasing breastfeeding: a randomized trial. Birth. 2001;28(4):236-42
18. Powers NG. Low intake in the breastfeeding infant: maternal and infant considerations.
In : Riondan J, Wambach K editors. Breastfeeding and human lactation. Fourth edition.
Ontario, 2010. p 325-363.
19. Geddes DT, Langtoon DB, Gollow I, Jacobs LA, Hartmann PE, Simmer K. Frenulotomy for
breastfeeding infants with ankyloglossia: effect on milk removal and sucking mechanism
as imaged by ultrasound. Pediatrics 2008; 122(1). Available at :
www.pediatrics.org/cgi/content/full/122/1/e188
20. Academy of Breastfeeding Medicine. ABM clinical protocol 11: guidelines for the
evaluation and management of neonatal ankyloglossia and its complications in the
breastfeedeing dyad. Available at : www.bfmed.org/Resources/rotocols.aspx
21. Lalakea ML, MessnerAH. Ankyloglossia does it maTongue tieer?PediatrClin North Am.
2003; 50(2):381-397
22. Kotlow AL. Using the erbium: YAG laser to correct an abnormal lingual frenum aTongue
tieachment in nalnewborns. The Journal of the academy of laser dentistry. 2004;12(3):
22-23
23. Griffiths DM. Do Tongue ties affect breastfeeding? J Hum Lact. 2004. 20(4):409-414.

Leave a Reply

Your email address will not be published.