Pengalaman Menyusui Bayi Dengan Tongue Tie

Saya ingin membagi kisah saya menyusui bayi dengan tongue tie. Walaupun saya telah menjadi seorang konselor laktasi sebelum melahirkan, namun ternyata proses menyusui yang saya alami tidak semudah teori yang telah saya miliki.

 

Anak pertama saya lahir 6 tahun yang lalu dengan persalinan normal. Bayi perempuan itu lahir di siang hari dengan berat lahir 2500 gr. Saya melahirkan di RS yang sudah menerapkan 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui, sehingga setelah bayi lahir dilakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Rasanya bahagia sekali saat bayi diletakkan skin to skin di atas dada saya dan mulai menyusu. IMD dilakukan selama lebih dari satu jam, sampai bayi saya puas menyusu. Setelah itu bayi selalu berada satu kamar, bahkan satu tempat tidur dengan saya dan menyusu kapan pun dia mau.

 

Malam hari, belum 24 jam bayi saya lahir, dimulailah drama menyusui itu. Bayi mungil itu menangis terus menerus seperti tidak puas menyusu. Padahal selalu saya susui kapanpun dia mau. Payudara saya mulai terasa nyeri di bagian puting, tapi belum terlihat lecet. Saya mulai berpikir, “Jangan-jangan bayi saya ini tongue tie.” Saya raba bagian bawah lidahnya dan memang terasa ada hambatan di dasar mulutnya. “Wah, benar ini tongue tie,” pikir saya saat itu. Saya pun memberi tahu suami tentang keadaan bayi dan meminta persetujuannya bila nanti perlu dilakukan tindakan frenotomi. Alhamdulillah, suami menyetujui. Suami sendiri kurang tidur semalaman karena mendengar tangisan bayi yang tak kunjung henti.

 

Keesokan paginya saya minta bayi saya dicek oleh dokter anak yang merawat bayi saya. Seperti yang sudah saya duga, beliau mengatakan anak saya tongue tie dan perlu frenotomi.

Tindakan frenotomi berlangsung cepat, bayi saya hanya menangis sebentar. Setelah itu langsung saya susui. Terasa memang perbedaan menyusunya setelah dilakukan tindakan frenotomi. Bayi saya terlihat dapat memasukkan lebih banyak areola ke dalam mulutnya, hisapannya lebih dalam, dan menyusu dengan lebih tenang. Malam hari pun saya dan suami bisa tidur lebih nyaman karena bayi kami juga lebih tenang. Keesokan harinya kami sudah diperbolehkan pulang.

BANNER 728 x 90

 

Di rumah, ternyata drama menyusui itu masih berlanjut. Puting saya masih terasa nyeri sekali saat menyusui. Mulai terlihat kulit yang mengelupas setiap bayi selesai menyusu. Rasa nyeri bertambah saat terkena air dan handuk saat mandi. Kelelahan menjadi ibu baru membuat saya hampir menyerah. Saat itu saya terpikir untuk memberikan ASI perah saja. “Mau pakai dot juga tidak apa-apa deh,” kata saya saat itu pada suami. Padahal saya tahu dot sama sekali tidak dianjurkan karena memiliki banyak risiko.

 

Untungnya suami terus mendukung untuk menyusui saja langsung. Ada masanya saya menangis menahan sakit bersamaan dengan bayi saya menangis kehausan. Bayangan saya akan masa-masa menyusui yang indah sepertinya buyar.

Di saat itulah teman saya, yang juga seorang konselor laktasi, datang menjenguk. Anak yang dilahirkannya beberapa bulan lebih dulu juga tongue tie dan dilakukan frenotomi saat awal kelahirannya. Dia memberi dukungan yang sangat besar artinya buat saya. “Tenang Nis, nanti juga sembuh kok. Lima hari deh, paling lama seminggu sakitnya, setelah itu pasti sembuh,” katanya dengan yakin.

Kata-kata itu membuat saya semangat kembali, karena dia sudah lebih dulu mengalami apa yang saya alami saat itu. Saya seperti berada di sebuah lorong panjang yang gelap, namun mulai terlihat cahaya di ujung lorong itu. “Seminggu lagi berakhir,” ucap saya berkali-kali setiap rasa sakit itu muncul. Dan ternyata benar saja, perlahan rasa sakit itu mulai berkurang sampai seminggu kemudian benar-benar hilang.

 

Saya mulai bisa beradaptasi menjadi ibu baru dan menikmati indahnya rasa menyusui. Saya beruntung karena memiliki berbagai macam dukungan untuk bisa sukses menyusui. Sampai tak terasa akhirnya saya berhasil menyusui bayi saya dua tahun penuh.

 

Oh iya, saat bayi pertama saya lahir belum dikenal tongue exercise seperti sekarang ini. Belum juga dikenal Salep Puting Serbaguna (salep racikan) untuk mengatasi puting lecet. Itu yang mungkin menyebabkan rasa sakit saat menyusui masih bertahan bahkan setelah frenotomi. Saat anak kedua saya lahir, dan ternyata juga tongue tie, rasa sakit akibat puting lecet tidak terlalu terasa karena saya kerjakan tongue exercise setelah tindakan frenotomi. Anak kedua pun berhasil saya susui sampai 2 tahun dengan dukungan penuh dari keluarga dan lingkungan.

my two angels

 

 

Demikian cerita saya, semoga dapat membantu ibu-ibu lain yang mengalami hal serupa

 

Sumbawa, 9 Juni 2017

Drg. Annisa Wiraprasti

 

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.